This study aims to describe the meaning of the language contained in the oral literature Tale Naek Jui and analyze its role in strengthening literacy and local cultural education of the people of Semumu Village, Kerinci Regency. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques in the form of interviews, observation, and documentation. Data analysis is carried out in stages through the process of data reduction, data presentation, and drawing conclusions, which is strengthened by the application of triangulation of sources and methods to ensure the validity of the data. The results show that the language in Tale Naek Jui contains two layers of meaning, namely denotative meaning and connotative meaning. Denotative meaning is seen in the literal meaning of the speech and events conveyed in the storyline, while the connotative meaning is reflected through the use of natural symbols, such as hills, forests, and springs, which represent moral, social, and philosophical values of life of the Kerinci people. The existence of these two types of meanings shows that Tale Naek Jui does not only function as a means of traditional entertainment, but also as an educational medium that contains teachings of values, local wisdom, and character building. In the context of local cultural education, Tale Naek Jui has the potential to be used as a cultural-based learning resource that supports the instillation of noble values, strengthening cultural identity, and developing an appreciative attitude towards regional cultural heritage in the younger generation.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna bahasa yang terkandung dalam sastra lisan Tale Naek Jui serta menganalisis peranannya dalam memperkuat literasi dan pendidikan budaya lokal masyarakat Desa Semumu, Kabupaten Kerinci. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara bertahap melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, yang diperkuat dengan penerapan triangulasi sumber dan metode untuk menjamin keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa dalam Tale Naek Jui mengandung dua lapisan makna, yaitu makna denotatif dan makna konotatif. Makna denotatif tampak pada arti harfiah tuturan serta peristiwa yang disampaikan dalam alur cerita, sedangkan makna konotatif tercermin melalui penggunaan simbol-simbol alam, seperti bukit, hutan, dan mata air, yang merepresentasikan nilai-nilai moral, sosial, dan filosofi kehidupan masyarakat Kerinci. Keberadaan kedua jenis makna tersebut menunjukkan bahwa Tale Naek Jui tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan tradisional, tetapi juga sebagai media edukatif yang mengandung ajaran nilai, kearifan lokal, serta pembentukan karakter. Dalam konteks pendidikan budaya lokal, Tale Naek Jui berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran berbasis budaya yang mendukung penanaman nilai-nilai luhur, penguatan identitas budaya, serta pengembangan sikap apresiatif terhadap warisan budaya daerah pada generasi muda.