Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PENYIMPANGAN DALAM TAFSIR Setiadi, Ozi
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 3, No 01 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.414 KB) | DOI: 10.30868/at.v3i01.258

Abstract

Abstrak Tafsir merupakan cara untuk memahami Al-Qur‟an. Keberadaannyamenjadi sebuah keharusan karena ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Qur‟anbersifat umum, sehingga tidak mudah untuk dipahami. Akan tetapi, meskitafsir menjadi satu-satunya jalan untuk memahami Al-Qur‟an, bukan berartibahwa ia terbebas dari penyimpangan. Penyimpangan ini dapat berakibatsemakin jauh seseorang dari pemahaman terhadap makna Al-Qur‟an yangsesungguhnya. Oleh karenanya, berbagai faktor penyebab penyimpangandalam tafsir perlu dideteksi dan kemudian dieliminir agar penyimpanganterhadap penafsiran Al-Qur‟an dapat dihindari. Beberapa faktor penyebabpenyimpangan dalam tafsir adalah subjektifitas mufassir, kekeliruan dalammenetapkan metode atau kaidah, kedangkalan dalam ilmu-ilmu alat,kedangkalan pengetahuan tentang materi uraian (pembicaraan) ayat, tidakmemperhatikan konteks, dan tidak memperhatikan siapa pembicara danterhadap siapa pembicara itu ditujukan. Selain itu kesamaran karena jarakantara nabi dengan umat yang cukup jauh, faktor materi, dan faktor historiturut serta mendukung penyimpangan dalam tafsir.Tafseer is a way of understanding the Qur'an. Its existence becomes anecessity because the verses contained in the Qur'an are general, so it is noteasy to understand. However, while interpretation is the only way tounderstand the Qur'an, it does not mean that it is free from perversion. Thisdeviation can result in an increasingly distant person from understanding thetrue meaning of the Quran. Therefore, various factors causing deviations inthe interpretation need to be detected and then eliminated so that deviationsfrom the interpretation of the Quran can be avoided. Some of the factorscausing irregularities in the commentary are the subjectivity of the exegete,the error in setting the method or rule, superficiality in the sciences, thesuperficial knowledge of the subject matter (speech) verse, regardless of thecontext, and not paying attention to who the speaker is and to whom thespeaker is addressed. Besides the disguise because the distance between theprophet and the people who are far enough, the material factors, and thefactors of history to participate in supporting the irregularities in the tafseer.Keywords: Irregularities, Tafseer, Quran
PERSPEKTIF FETHULLAH GṺLEN TENTANG DIALOG DAN TOLERANSI SEBAGAI RESOLUSI KONFLIK Setiadi, Ozi
LEGALITE Vol 1 No 2 (2016): Volume I No. 02 Tahun 2016
Publisher : IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Conflict can not be avoided if there is no any understanding and mutual understanding of a problem. It causes the appearance of  a variety of theories dictated by scholars  relates to some efforts that must be carried out by socities in order to resolve the conflict. This writing describes how Fethullah Gulen's perspective as a peace loving-person in developing dialogue and tolerance as a conflict resolution. Gulen argues that dialogue and tolerance are two sides of inseperable coin. Dialogue becomes a media that bridges the cooperation of civilization, brotherhood and mutual understanding between each other, and appreciate the values ??that are believed together. Dialogue shows non-exclusive moderation form and open to the opinions of various circles. While tolerance becomes a very important media when a dialog can not reach an agreement or understanding, it will be the best way. It happens because the tolerance is  a way to refrain from a conflict. Even though the presence of dialogue and tolerance are essential to creating peace, it also has particular obstacles to Muslims. According to G?len, the obstacles are the Muslims? disagreement with Islam nowdays, and the historical collective memory of non-Muslim and Christians about the bloody tragedy befell them for the treatment of Muslims.
Dampak Penerapan Pendidikan Oleh Lembaga Pendidikan Asing Di Indonesia Ozi Setiadi
Al Ashriyyah Vol. 2 No. 1 (2016): Al Ashriyyah
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53038/alashriyyah.v2i1.12

Abstract

Pendidikan menjadi salah satu faktor penentu kemajuan suatu negara. Banyak negara di dunia berlomba untuk meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk di dalamnya menghadirkan lembaga pendidikan asing. Lembaga-lembaga pendidikan ini memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan dan kemajuan pendidikan nasional. Akan tetapi, tidak sedikit pertentangan yang mencul akibat maraknya lembaga pendidikan asing di Indonesia karena dinilai dapat melemahkan semangat dan memudarkan nilai-nilai nasionalisme generasi muda. Tulisan ini akan membahas mengenai dampak penerapan pendidikan oleh lembaga pendidikan asing di Indonesia dengan menggunakan perpektif hukum, politik dan perubahan sosial guna mengetahui sejauh mana dampak positif dan negatif pelaksanaan pendidikan oleh lembaga pendidikan asing. Dampak penerapan pendidikan oleh lembaga pendidikan asing bila dilihat dari perspektif hukum dan politik, maka akan terlihat adanya kepentingan asing dalam mengatur jalannya proses pembuatan undang-undang. Hal ini dapat dilihat dari Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 26 Tahun 2007, Nomor 18 Tahun 2009, dan Nomor 66 Tahun 2009 yang mengakomodir pendidikan oleh lembaga pendidikan asing. Kepentingan para pemilik modal juga terlihat semakin melebarkan pengaruh dalam bisnis perdagangan jasa pendidikan. Indonesia yang secara politis terikat pada perjanjian-perjanjian internasional tidak dapat lepas begitu saja dari kepentingan para pemilik modal, sehingga melalui undang-undang dan peraturan pemerintah berbagai kepentingan tersebut diakomodir dan diatur. Sedangkan dalam perspesktif perubahan sosial, lembaga pendidikan asing sangat jelas membawa perubahan berupa fisik maupun perubahan non fisik, seperti moral dan akhlak peserta didik hingga masyarakat luas yang mengakibatkan lunturnya nilai budaya nasional dan terkontaminasi oleh budaya global. Kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwa lembaga pendidikan asing selain bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan domestik, juga memanfaatkan pendidikan di Indonesia sebagai objek kepentingan ideologi, politik, industri dan bisnis.
Islam Dan Pergerakan Civil Society Kebudayaan Transnasional Hizmet Di Indonesia Ozi Setiadi
Al Ashriyyah Vol. 3 No. 1 (2017): Al Ashriyyah
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53038/alashriyyah.v3i1.19

Abstract

Islam Dan Per The conclusion of this study is that Islam is a religion that became one of the cultural resources contribute to the strengthening of civil society, so that religion becomes a media that plays an important role in widening the public sphere and are in a position that is in line with the civil society. The truth of this conclusion is supported by a number of findings related to the research object, which Hizmet movement in Indonsia as one Muslim civil society. First, the Hizmet movement in Indonesia as a transnational civil society movement that carries the Islamic themes emerged and developed in Indonesia using a cultural approach as their collective agenda. This movement has a set of economic independence through business people, improve education through cultural criticism, and make the dialogue as a means for conflict resolution and brotherhood. Second, is the Hizmet movement ideology ( services ), which adopts the ideology of Islamic values. This ideology popularized by Fethullah Gülen and followed by those who were inspired by his thoughts, and then establish a culture of civil society movement known as Hizmet movement. This ideology promoting ignorance, poverty, and conflict as a common enemy that must be fought. Third, ignorance, poverty, and conflict into a separate reference to the Hizmet movement in performing services for the humanitarian movement. This transnational movement then set up humanitarian agencies. It also became its own model and characterizes the movements which promote dialogue and tolerance. In Indonesia, this movement has established educational institutions, social institutions, economic institutions, and the relationship between universities. They joined in PASIAD Indonesian, Turkish Indonesian Trade Association ( TITA ), Fethullah Gülen Chair, and dershane. The existence of this growing movement and can be seen from the distribution that have established humanitarian agencies in major cities in Indonesia. It became the Hizmet movement efforts in building a civil society in Indonesian culture, and to prove that Islam is in line with the civil society.
Kematian Dalam Prespektif Al-Quran Ozi Setiadi
Al Ashriyyah Vol. 3 No. 2 (2017): Al Ashriyyah
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53038/alashriyyah.v3i2.27

Abstract

Kematian adalah muara akhir dari setiap kehidupan makhluk di dunia. Al-Quran menyebut kematian sebagai ajal, tawaffa atau istifa’. Istilah ini terdapat pada empat belas tempat dalam Al-Quran yang kesemuanya mengandung makna yang sama, yaitu kematian. Tulisan ini akan menjelaskan bagaimana kematian dalam prespektif Al Quran. Menurut Al-Quran kematian merupakan sesuatu yang pasti terjadi dan tidak dapat dihindari. Ini terjadi pada seluruh makhluk yang bernyawa, yakni makhluk yang memiliki ruh dalam jasad (fisik). Kematian dalam perspektif Al-Quran merupakan putusnya keterikatan ruh dengan badan dalam bentuk yang telah diketahui, disertai pergantian keadaan, serta perpindahan dari satu alam ke alam yang lain. Perpisahan antara ruh dan jasad ini adalah pintu gerbang untuk memasuki kehidupan yang baru. Para mufassir seperti Ibnu Katsir, Sayyid Quthb, Buya Hamka, ‘Aidh al-Qarni, dan Quraish Shihab sependapat bahwa kematian menurut Al-Quran adalah sesuatu yang pasti. Akan tetapi, tidak ada yang manusia yang dapat mengetahui kapan kematian akan terjadi. Allah Swt. dalam Al-Quran hanya menjelaskan tentang adanya perjanjian antara manusia dengan rabb-nya serta proses penciptaan manusia, namun tidak menjelaskan kapan suatu makhluk akan mati. Al-Quran juga menjelaskan tentang adanya sebab-sebab sesorang akan mengalami kematian, seperti terbunuh, sakit, dan kecelakaan. Kesemuanya menjadi cara seseorang menuju kematian.
Kepemimpinan Bani Quraisy Ozi Setiadi
Al Ashriyyah Vol. 4 No. 1 (2018): Al Ashriyyah
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53038/alashriyyah.v4i1.36

Abstract

Kepemimpinan Bani Quraisy mendapatkan perhatian khusus dari Rasulullah Muhammad Saw. Perhatian ini dituangkan dalam hadits yang banyak diriwayatkan oleh perawi hadits. Imam Ahmad, Imam Bukhari, dan Imam Muslim adalah ulama-ulama yang juga meriwayatkan hadits tersebut. Hal ini juga mendapatkan perhatian dari pemikir Islam. Al-Farabi, Ibnu Thaimiyyah, Al Farabi dan Nashiruddin Thusi memiliki pendapat yang berbeda. Secara umum dapat disimpulkan pendapat para ulama hadits dan pemikir Islam bahwa; Pertama, secara tekstual tidak terjadi perdebatan tentang hadits kepemimpinan Bani Quraisy dan pemikir Islam menerima hal ini. Kedua, Bani Quraisy menjadi ketentuan yang sunatullah, menjadi pemimpin dalam cakupan global, tetapi tidak regional. Ketiga, kepemimpinan dalam cakupan regional memberikan peluang bagi pemimpin yang berasal dari non Bani Quraisy untuk menduduki jabatan kepempimpinan. Keempat, kesempatan untuk menjadi pemimpin bagi kalangan non Bani Quraisy harus tetap memperhatikan kriteria-kriteria atau syarat-syarat menjadi pemimpin. Mulai dari siapa yang memilih kemudian siapa yang akan dipilih.
Kematian Dalam Prespektif Al-Quran Ozi Setiadi
Al Ashriyyah Vol. 6 No. 1 (2020): Al Ashriyyah
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53038/alashriyyah.v6i01.126

Abstract

This article aims to explain how death is in the perspective of the Koran. The background of this paper is that death is something that must happen and cannot be avoided. This happens to all living creatures, namely creatures that have a spirit in a (physical) body. The writing of the article uses a descriptive analysis method, where data from primary sources, namely the verses of the Koran that have been inventoried which are thought to be included in the theme of death, will be studied based on the interpretations of the commentators. This article concludes that Ibn Kathir, Sayyid Qutb, Buya Hamka, 'Aidh al-Qarni, and Quraish Shihab agree that death according to the Qur'an is something certain. However, no human can know when death will occur. Allah SWT. in the Qur'an only explains the existence of an agreement between humans and their rabb and the process of human creation, but does not explain when a creature will die. The Qur'an also explains about the reasons why a person will experience death, such as being killed, sick, and accidents. All of them become a person's way to death.
PERSPEKTIF FETHULLAH GÜLEN TENTANG DIALOG DAN TOLERANSI SEBAGAI RESOLUSI KONFLIK Ozi Setiadi
Politica: Jurnal Hukum Tata Negara dan Politik Islam Vol 4 No II (2017): POLITICA: Jurnal Hukum Tata Negara dan Politik Islam
Publisher : Prodi Tata Negara (Siyasah) IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/politica.v4iII.362

Abstract

Konflik menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari bila tidak ada kesepahaman dan saling pengertian terhadap sebuah permasalahan. Ini kemudian memunculkan berbagai teori yang dicetuskn oleh para cendekiawan berkaitan dengan upaya yang harus dilakukan oleh masyarakat guna menyelesaikan konflik tersebut. Tulisan ini menjelaskan tentang bagaimana perspektif Fethullah Gulen sebagai sosok yang cinta damai dalam mengembangkan dialog dan toleransi sebagai resolusi konflik. Gulen berpendapat bahwa dialog dan toleransi bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Dialog menjadi media yang menjembatani kerjasama peradaban, persaudaraan dan saling kesepahaman antara satu dengan lainnya, serta menghargai atas nilai-nilai yang diyakini bersama. Dialog menjadi sebuah bentuk yang menunjukkan kemoderatan yang tidak eksklusif dan terbuka terhadap pendapat berbagai kalangan. Sedangkan toleransi menjadi media yang sangat penting, bila sebuah dialog tidak menghasilkan kesepakatan atau kesepahaman, maka toleransi adalah jalan yang terbaik. Ini disebabkan toleransi menjadi sebuah cara untuk menahan diri dari terjadinya sebuah konflik. Dialog dan toleransi, meski kehadirannya sangat penting guna menciptakan perdamaian, namun hal ini juga memiliki hambatan khususnya bagi umat Muslim. Hambatan tersebut menurut Gṻlen diantaranya adalah ketidakpahaman umat Muslim itu sendiri dengan Islam saat ini, selain ingatan kolektif historis umat non Muslim, Kristen, tentang tragedi berdarah yang menimpa mereka atas perlakuan umat Muslim.
BAIAT DALAM KONTEKS KEPEMIMPINAN DI INDONESIA Ozi Setiadi
Politica: Jurnal Hukum Tata Negara dan Politik Islam Vol 7 No 1 (2020): POLITICA: Jurnal Hukum Tata Negara dan Politik Islam
Publisher : Prodi Tata Negara (Siyasah) IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/politica.v7i1.1493

Abstract

Baiat dalam Konteks Kepemimpinan di Indonesia. Baiat adalah sebuah media pemersatu dukungan, baik dalam hal politik maupun lainnya. Ia mengalami perubahan dalam praktik sejarah Islam hingga kini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa baiat dalam konteks Indonesia dengan melihat akar historis praktik baiat pada awal sejarah kepemimpinan Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada masa nabi Muhammad Saw. dan al khulafa ar rasyidun baiat diberikan dari rakyat pada pemimpinnya. Sebaliknya, pada konteks Indonesia baiat diberikan dari pemimpin pada rakyatnya. Baiat menjadi relevan dengan kondisi politik Islam Indonesia. Konsep baiat berbentuk sumpah/janji setia berbeda antara masa Rasul Saw. dan sahabat.
ISLAM DAN PERGERAKAN CIVIL SOCIETY KEBUDAYAAN TRANSNASIONAL HIZMET DI INDONESIA Ozi Setiadi
Kordinat: Jurnal Komunikasi antar Perguruan Tinggi Agama Islam Vol 16, No 1 (2017): Jurnal Komunikasi Antar Perguruan Tinggi Agama Islam
Publisher : Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kordinat.v16i1.6458

Abstract

Islam dan Pergerakan Civil Society Kebudayaan Transnasional Hizmet di Indonesia. Gerakan Hizmet di Indonesia sebagai suatu masyarakat madani Muslim. Pertama, gerakan Hizmet di Indonesia sebagai gerakan masyarakat sipil transnasional yang mengusung tema Islam muncul dan berkembang di Indonesia dengan menggunakan pendekatan budaya sebagai agenda kolektif mereka. Kedua, adalah ideologi gerakan Hizmet (jasa), yang mengadopsi ideologi nilai-nilai Islam yang mempromosikan ketidaktahuan, kemiskinan, dan konflik sebagai musuh bersama yang harus diperjuangkan. Ketiga, ketidaktahuan, kemiskinan, dan konflik menjadi referensi terpisah dari gerakan Hizmet dalam melakukan pelayanan untuk gerakan kemanusiaan. Adanya gerakan yang berkembang ini dan bisa dilihat dari adanya pendistribusian lembaga kemanusiaan di kota-kota besar di Indonesia. Ini menjadi upaya gerakan Hizmet dalam membangun masyarakat sipil dalam budaya Indonesia, dan untuk membuktikan bahwa Islam sejalan dengan masyarakat sipil.