Ma'ruf, Widodo Farid
Unknown Affiliation

Published : 36 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

PENGARUH LAMA PEREBUSAN KERANG DARAH (Anadara granosa) DENGAN ARANG AKTIF TERHADAP PENGURANGAN KADAR LOGAM KADMIUM DAN KADAR LOGAM TIMBAL Rachmawati, Riana; Ma'ruf, Widodo Farid; Anggo, Apri Dwi
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 2, No 4 (2013) : Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.027 KB)

Abstract

Kerang darah merupakan makanan seafood berprotein tinggi yang diminati masyarakat, juga merupakan organisme indikator pencemaran karena mempunyai sifatnya yang menetap pada substrat dan memiliki sifat mudah menyerap semua bahan yang ada di perairan termasuk logam berat. Penggunaan arang aktif selama perebusan diupayakan dapat menjaga keamanan pangan dari kerang darah yang tercemar logam berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan lama waktu perebusan kerang darah (Anadara granosa) dengan Arang Aktif dengan variasi  lama waktu 20 menit, 25 menit dan 30 menit terhadap kadar logam cadmium, timbal, kadar air, pH, kadar abu, kadar protein dan nilai organoleptik. Penelitian ini bersifat experimental laboratories. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu perebusan yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap kadar cadmium, kadar timbal, kadar air, kadar abu serta kadar protein namun tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap kadar pH. Hasil parameter uji organoleptik memberi pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap kenampakan, bau, rasa, namun tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap tekstur. Berdasarkan hasil penelitian dilihat dari banyaknya penurunan kadar logam maka dapat disimpulkan bahwa lama perebusan kerang darah (Anadara granosa) dengan arang aktif yang paling efektif adalah selama 30 menit.
KAJIAN SENYAWA BIOAKTIF EKSTRAK TERIPANG HITAM (Holothuria edulis) BASAH DAN KERING SEBAGAI ANTIBAKTERI ALAMI Sari, Evi Maya; Ma'ruf, Widodo Farid; Sumardianto, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.166 KB)

Abstract

Holothuria edulis merupakan salah satu sumber hayati laut yang mempunyai banyak manfaat dan memiliki senyawa bioaktif. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui kandungan senyawa bioaktif dan daya hambat terbaik ekstrak H. edulis basah dan kering serta  pengaruh perbedaan konsentrasi pelarut dan keadaan sempel sebagai aktivitas antibakteri Bacillus cereus dan Pseudomonas aeruginosa. Hasil dari penelitian didapatkan bahwa ekstrak etil asetat H. edulis dalam keadaan basah dengan konsentrasi 450mg/ml merupakan ekstrak terbaik. Hasil dari ekstrak H. edulis basah menunjukkan aktivitas antibakteri tertingi dengan daya hambat bakteri terluas pada bakteri B. cereus 2.8±0.2 mm dan P. aeruginosa yaitu 8.6±0.2 mm, sedangkan pada H. edulis kering pada B. cereus 1.7±0.1 mm dan P. aeruginosa yaitu 5.5 ±0.2 mm. Berdasarkan uji fitokimia dari ekstrak H. edulis basah dan kering positif mengandung alkaloid, triterpenoid, steroid, flavonoid, dan saponin. Holothuria edulis is one of marine resources that has many benefit and have bioactive compounds. The purpose of this research was to determine the content of bioactive compounds and the best extract inhibition of wet and dry H. edulis as well as the influence of the different solvent concentration and sample condition as the antibacterial activity of Bacillus cereus and Pseudomonas aeruginosa. Results of the research found that the best extracts of H. edulis is ethyl acetate extract of wet H. edulis in 450 m g/ml concentration. Results extracts of wet H. edulis show that the highest antibacterial activity with the wide blocked power on B. cereus is 2.8 ± 0.2 mm and P. aeruginosa is 8.6 ± 0.2 mm, meanwhile in dry H. edulis on B. cereus is 1.7 ± 0.1 mm and P. aeruginosa is 5.5 ± 0.2 mm. Based on phytochemicals test of wet and dry H. edulis extracts positive contains alkaloid, triterpenoid, steroid, flavonoid and saponin.
PENGARUH LAMA PEMASAKAN IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsk.) DURI LUNAK GORENG TERHADAP KANDUNGAN LISIN DAN PROTEIN TERLARUT Irawati, Andi Ayu; Ma'ruf, Widodo Farid; Anggo, Apri Dwi
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.926 KB)

Abstract

Bandeng duri lunak merupakan salah satu produk terkenal di Jawa Tengah. Tujuan proses bandeng duri lunak adalah untuk menghasilkan duri lunak sehingga mudah untuk dikonsumsi. Pada umumnya, masyarakat menyukai produk makanan siap saji. Namun, sebagian masyarakat masih belum mengetahui kandungan nutrisi setelah proses. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh lama pemasakan yang berbeda terhadap kandungan lisin dan protein terlarut bandeng duri lunak goreng. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan bandeng (Chanos chanos Forsk). Penelitian menggunakan desain percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan lama pemasakan berbeda yaitu 90 menit, 105 menit, dan 120 menit dengan 3 kali pengulangan. Parameter pengujian adalah kandungan lisin, protein terlarut, kadar air, protein total, uji sensori, uji kekerasan tulang. Data dianalisis menggunakan analisa ragam (ANOVA). Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan data diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) untuk data parametrik. Hasil penelitian menunjukkan pemasakan bandeng duri lunak goreng berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan lisin, protein terlarut, kadar air, protein total. Bandeng duri lunak goreng dengan lama pemasakan terbaik selama 90 menit merupakan hasil yang terbaik dengan kriteria mutu: kandungan lisin 1,73 mg/g; protein terlarut 15,96%; kadar air 37,42%; protein total 32,36% dan sensori meliputi kenampakan (8,0), bau (7,5), rasa (7,2), tekstur (7,9) dan lendir (9,0). Soft-boned milkfish is one of well known products from Central Java. The purpose soft-boned milkfish process is to produce soft-bone which is easy to eat. Commonly, people prefer a product which is ready to eat. However most people have not known the nutrition content after processing. The aimed of this study was to know the effect of different cooking duration time into lysine and dissolved protein content in fried  soft-boned milkfish. The materials used in this research was milkfish (Chanos chanos Forsk). This research using Completely Randomized Design which 3 different treatments such as cooking duration on 90 minutes, 105 minutes, and 120 minutes in triplicates. All samples were analyzed for lysine content, dissolved protein content, moisture content, total protein, sensory value and fish bone hardness. The data was analized using analysis of variant (ANOVA). Honestly Significant Difference test was used to know the differences between treatment for parametric data. This result showed that the different fried soft-boned milkfish cooking gave significantly different (p<0.05) to lysine content, dissolved protein, moisture content and total protein. The best treatment was fried soft-boned milkfish which is cooked for 90 minutes with lysine content : 1,73 mg/g; dissolved protein 15,96%; moisture content : 37,42% and total protein : 32,36%; and sensory value of visibility (8,0); smell (7,5); taste (7,2); texture (7,9); and mucus (9,0).
PENGARUH PENAMBAHAN MgCO3 DAN NaHCO3 DENGAN PERBEDAAN PENCAHAYAAN TERHADAP STABILITAS PIGMEN KLOROFIL-A MIKROALGA Chlorella vulgaris Kurniawan, Markus Prima; Ma'ruf, Widodo Farid; Agustini, Tri Winarni
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.349 KB)

Abstract

Klorofil merupakan pigmen dominan yang terdapat pada mikroalga C.vulgaris. Pigmen relatif rentan terhadap kerusakan dan kehilangan warna oleh pengaruh eksternal. Cahaya merupakan faktor yang paling merusak kandungan warna alami, penambahan bahan penstabil MgCO3 dan NaHCO3 diketahui dapat menstabilkan warna, namun belum diketahui daya stabil bahan yang lebih baik digunakan untuk mempertahankan warna. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan bahan penstabil (MgCO3 dan NaHCO3) terhadap ekstrak pigmen klorofil serta mengetahui pengaruhnya pada keberadaan cahaya yang berbeda (gelap dan terang). Penelitian tahap I bertujuan menentukan fungsi dari bahan penstabil yang digunakan dan lama waktu penyimpanan klorofil pada kondisi terpapar sinar matahari. Penelitian tahap II bertujuan untuk menentukan penstabil yang paling baik digunakan dan membandingkannya dengan kondisi tanpa paparan cahaya. Hasil penelitian tahap I didapatkan bahwa pemberian bahan penstabil pada ekstrak klorofil-a C.vulgaris memberikan pengaruh terhadap stabilitas klorofil dibuktikan dari waktu penurunan 50% konsentrasi (t½) tanpa penambahan bahan penstabil (K) selama 4 hari sedangkan pemberian MgCO3 0,01% (M) dan NaHCO3 (N) lebih lama yaitu 6 hari. Hasil penelitian tahap II didapatkan bahwa ekstrak klorofil-a yang disimpan selama 2 hari pada kondisi tanpa paparan cahaya terhadap sampel tanpa bahan penstabil (KG) turun sebsar 20%, MgCO3 (MG) 10% dan (NG) 14%. Penyimpanan 2 hari pada kondisi terpapar cahaya sampel (KT) turun sebesar 79%, sedangkan (MT) 70% dan sebesar (NT) 75%. Pengamatan pH pada sampel kondisi tanpa paparan cahaya (KG) 7,11 - 6,76 (MG) 8,02 - 7,29 (NG) 8,24 - 7,50 pada kondisi terpapar cahaya (KT) 7,11 - 6,60 (MT) 8,02 - 6,90 (NT) 8,24 - 7,00. Chlorophyll is a pigment found in microalgae dominant C.vulgaris. Pigments are relatively vulnerable to damage and color loss by external influences. Light is the most damaging factor for natural color, adding stabilizer MgCO3 and NaHCO3 is known to stabilize the color, but it is not known stable better materials are used to maintain color. The purpose of this study was to determine the effect of adding stabilizer (MgCO3 and NaHCO3) to extract chlorophyll pigments and determine the effect on the existence of different light (dark and light). The first phase aims to determine the function of a stabilizer that is used and the amount of time used in the chlorophyll sun-exposed conditions. Phase II study aims to determine the best stabilizer used and compared light exposure with conditions without exposure to light. Results of a phase I study showed that administration of a stabilizer on a chlorophyll extract C.vulgaris influence on the stability of chlorophyll demonstrated a 50% concentration time (t ½) without the addition of stabilizers (K) for 4 days while giving MgCO3 0.01% (M ) and NaHCO3 (N) is 6 days longer. Results of a phase II study showed that the extract chlorophyll a were stored for 2 days on light conditions without exposure to the sample without stabilizers (KG) sebsar down 20%, MgCO3 (MG) 10% and (NG) 14%. Storage 2 days of light exposure on the condition of the sample (KT) fell by 79%, whereas (MT) and amounted to 70% (NT) 75%. Observated  sample conditions of pH without exposure to light (KG) 7.11 to 6.76 (MG) from 8.02 to 7.29 (NG) from 8.24 to 7.50 on light exposure conditions (KT) from 7.11 to 6 , 60 (MT) from 8.02 to 6.90 (NT) 8.24 to 7.00.
AKTIVITAS ANTIJAMUR SENYAWA BIOAKTIF EKSTRAK Gelidium latifolium TERHADAP Candida albicans Lutfiyanti, Rosiska; Ma'ruf, Widodo Farid; Dewi, Eko Nurcahya
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Pengolahan dan bioteknologi hasil perikanan
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.782 KB)

Abstract

Abstract Gelidium sp. has bioactive compounds which is estimated has potential activity as antifungal. The aim of this study were to know bioactive compounds from Gelidium latifolium with different solvent, to know the potency of Gelidium latifolium extract as antifungal towards C. albicans and to know the effect of different concentration of Gelidium latifolium extract towards antifungal activity. The result showed that the methanol extract is able to produce inhibition zones toward Candida albicans, whereas n-hexane extract and acetone extract could not produce the inhibition zones. The highest inhibition zone was found at concentration of 12 mg/ml, that is 8 mm. The result of phytochemical screening test indicates that there were alkaloid, triterpenoids, and steroid in methanol extract. Gelidium latifolium is considered as potential source of natural antifungal agent, the antifungal agent was polar compound  
PENGARUH SENYAWA BIOAKTIF BUAH MANGROVE Avicennia marina TERHADAP TINGKAT OKSIDASI FILLET IKAN NILA MERAH O. niloticus SELAMA PENYIMPANAN DINGIN Sipayung, Bobby Septian; Ma'ruf, Widodo Farid; Dewi, Eko Nurcahya
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.294 KB)

Abstract

Fillet  adalah  salah  satu produk perikanan yang mempunyai sifat mudah rusak. Kandungan asam lemak  tak  jenuhmya mudah mengalami proses oksidasi lemak, maka diperlukan cara pengawetan  fillet ikan segar yang aman bagi masyarakat yaitu dengan pemanfaatan senyawa bioaktif buah Mangrove (A. marina). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh senyawa bioaktif buah Mangrove terhadap tingkat oksidasi  pada  fillet  ikan  Nila Merah selama penyimpanan dingin. Rancangan yang digunakan adalah pola petak terbagi oleh waktu / split plot in time, dimana main plot adalah lama penyimpanan dingin selama 12 hari pada suhu ± 50 C dan pengamatan dilakukan pada hari ke-0, ke-4, ke-8, dan ke-12. Sub plot adalah perbedaan perlakuan  yaitu  fillet tanpa penambahan buah mangrove (A) dan  fillet dengan penambahan buah mangrove (B). Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan data diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ), sedangkan untuk data uji organoleptik dengan uji Kruskall-Wallis dilanjutkan dengan uji Multiple Comparison. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan perlakuan terhadap fillet ikan Nila Merah memberikan pengaruh nyata (p<0,05) terhadap nilai organoleptik, FFA, PV, TBA, pH, Kadar air dan Aw. Secara organoleptik  pada perlakuan A pada hari ke-8 sudah ditolak oleh panelis, sedangkan pada perlakuan B pada hari ke-12 ditolak oleh panelis. Namun dilihat dari parameter FFA, PV, dan TBA kedua perlakuan sampai hari ke-12 pada perlakuan B menghasilkan nilai FFA, PV dan TBA yang lebih rendah dibandingkan perlakuan A, hal ini menunjukkan senyawa bioaktif pada buah Mangrove efektif dalam menghambat laju oksidasi, namun nilai FFA, PV, TBA pada kedua perlakuan sampai hari ke-12 masih dibawah ambang batas, hal ini menyatakan masih sedikit proses oksidasi yang terjadi. Pengaruh lama waktu penyimpanan juga berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap nilai organoleptik, FFA, PV, TBA, pH, Kadar air, dan Aw. Semakin lama penyimpanan semakin tinggi nilai FFA, PV, TBA, Kadar air, Aw dan semakin lama penyimpanan nilai pH semakin menurun. Fillet is one of fishery products which have perishable nature. The content of its unsaturated fatty acids are susceptible to oxidation of fat, so we need some ways to preserve fresh fish fillets which is safe for the people using mangrove fruit (A.marina) bioactive compounds. The purpose of this study was to determine the effect of Mangrove fruits bioactive compounds to the oxidation levels on the Red Tilapia fish fillets during cold storage. The design were using plot patterns divided by time/ split plot in time, where the main plot was the cold storage for 12 days at temperature of ± 50 C and observations were done on days 0, 4th, 8th, and 12th. Sub-plots were the diversification in treatment is fillets without addition of mangrove fruits (A) and the fillet with the addition of mangrove fruit (B). To find out the difference between treatments, the data was tested with Honestly Significant Difference (HSD) test, whereas for organoleptic data with the Kruskal-Wallis test followed by Multiple Comparison test. The results showed that the difference in treatments of the Red Tilapia fish fillets have significant effect (p <0.05) to organoleptic value, FFA, PV, TBA, pH, water content and Aw. Organoleptically on treatment A on day 8 had rejected by the panelists, while on treatment B on day 12 was rejected by the panelists. But seen from the parameter FFA, PV and TBA on both treatments until day 12, in the treatment of B generate value of FFA, PV and TBA which lower than treatment A, this indicates bioactive compounds in fruits Mangrove were effective in inhibiting the oxidation rate, but the value FFA, PV, TBA in both treatment until day 12 still below the threshold, it stated that it was still a bit of oxidation processes that occur. Effect of the storage time durations was also significant (p <0.05) to organoleptic value, FFA, PV, TBA, pH, water content, and Aw. The longer the storage the higher the value of the FFA, PV, TBA, water levels, Aw, and the longer storage pH value were decreases.
PENGARUH SUHU PENGGORENGAN TERHADAP KANDUNGAN ALBUMIN NAGET IKAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) DENGAN SUBSTITUSI IKAN GABUS (Ophiocephalus striatus) Suseno, Bella Nindita Maharani; Ma'ruf, Widodo Farid; Romadhon, Romadhon
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 5, No 3 (2016): Wisuda Periode Bulan Agustus 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.757 KB)

Abstract

Naget ikan dengan bahan baku ikan Patin menghasilkan naget dengan nutrisi cukup baik tapi pada kandungan albuminnya rendah. Ikan Gabus mengandung albumin yang tinggi yaitu 6,244%. Substitusi daging ikan Gabus (Ophiocephalus striatus) pada pembuatan naget ikan Patin (Pangasius hypophthalmus) diharapkan dapat membantu memperbaiki kandungan albuminnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh substitusi daging ikan Patin dan ikan Gabus pada pengolahan naget serta mengetahui pengaruh suhu penggorengan terhadap kandungan albuminnya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari1 faktor,  3 perlakuan dan 3 kali pengulangan, yaitu suhu penggorengan 170oC, 175oC dan 180oC. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis keragaman dan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Penggorengan naget ikan dengan suhu yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata (p<0,05) terhadap kandungan gizi naget ikan. Perlakuan dengan suhu penggorengan 170oC menghasilkan naget ikan dengan kriteria kadar albumin 2,55%, suhu penggorengan 175oC menghasilkan naget ikan dengan kriteria kadar albumin 1,80% dan perlakuan dengan suhu penggorengan 180oC menghasilkan naget ikan dengan kriteria kadar albumin 1,45%. Semakin tinggi suhu penggorengan yang digunakan, maka kadar albumin pada naget ikan semakin menurun.
PENGARUH UMUR PANEN DAN LAMA PENYIMPANAN MIKROALGA Chlorella sp. TERHADAP KESTABILAN KLOROFIL SETELAH FIKSASI MgCO3 Boy, Firts; Ma'ruf, Widodo Farid; Sumardianto, Sumardianto
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 5, No 2 (2016): Wisuda Periode Bulan April 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.063 KB)

Abstract

Klorofil merupakan pigmen hijau yang terdapat di seluruh tanaman hijau dan alga termasuk Chorella sp. Klorofil memiliki sifat yang tidak stabil dan mudah terdegradasi. Masalah ini dapat diatasi dengan penambahan zat penstabil seperti MgCO3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur panen dan lama penyimpanan Chlorella sp. terhadap kestabilan pigmen klorofil. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mikroalga Chlorella sp. bubuk yang terdiri dari umur panen hari ke  5, 6 dan 7. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah experimental laboratories menggunakan rancangan acak faktorial. Perlakuan pada penelitian ini adalah perbedaan umur panen hari ke 5, 6 dan 7 yang telah difiksasi dengan MgCO3. Penelitian ini dilakukan 3 kali ulangan dan lama penyimpanan selama 12 hari dengan interval waktu 4 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa umur panen hari ke 7 memiliki jumlah klorofil yang lebih banyak serta lebih stabil. Chlorella sp. pada umur panen hari ke 7 menghasilkan kandungan klorofil a selama penyimpanan hari ke 0, 4, 8 dan 12 sebesar 32,86 µg/ml; 27,75 µg/ml; 23,88 µg/ml; dan 21,03 µg/ml. Sedangkan untuk klorofil b sebesar 35,79 µg/ml; 33,27 µg/ml; 29,78 µg/ml; dan 27,44 µg/ml. Untuk nilai intensitas warna sebesar 25,14; 26,99; 29,08; dan 30,39. Nilai pH sebesar 8,68; 8,45; 8,23; dan 8,07.
PENGARUH PERBEDAAN KONSENTRASI KARAGENAN TERHADAP KARAKTERISTIK EMPEK- EMPEK UDANG WINDU (Penaeus monodon) Rifani, Aulia Nissa; Ma'ruf, Widodo Farid; Romadhon, -
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.745 KB)

Abstract

Udang merupakan hasil perikanan yang mengandung protein tinggi, daging udang dapat diolah sebagai makanan olahan seperti empek-empek udang dengan kandungan protein tinggi. Empek-empek udang dapat menjadi produk olahan diversifikasi yang diminati. Namun Empek-empek udang merupakan produk emulsi di mana sistem emulsi pada empek-empek mudah rusak dikarenakan sistem emulsi yang mudah pecah disebabkan oleh proses pengolahan. Karagenan adalah senyawa polisakarida hasil ekstraksi rumput laut. Karagenan memiliki salah satu fungsi sebagai pengemulsi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan karagenan dengan konsentrasi berbeda terhadap karakteristik produk empek-empek udang. Materi yang digunakan adalah udang Windu segar, karagenan, dan bahan pendukung lainnya. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratoris dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diterapkan adalah perbedaan konsentrasi karagenan 0%, 0,5%, 1% dan 1,5% dengan 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan karagenan berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap nilai stabilitas emulsi, water holding capacity (WHC), gel strength, aktivitas air (Aw), kadar air dan kadar protein. Empek-empek udang windu dengan penambahan karagenan 1,5% merupakan produk yang terbaik dengan kriteria mutu stabilitas emulsi 86,79%, water holding capacity 38,63%, kekuatan gel 838,88 g.cm, aktivitas air 0,86, kadar air 55,16%, kadar protein 18,38%, kadar lemak 0,05% dan hedonik 7,6≤µ≤8,4. Shrimp is a marine organism that has high protein content, shrimp meat can be processed as foods such as shrimp “empek-empek” which is contained high protein. Tiger shrimp empek-empek can be processed as added value product. However tiger shrimp empek-empek is an emulsion product that easily damaged during processing. Carrageenan is a polysaccharide that is extracted from seaweed. Carrageenan has a function as an stabilizer agent. The aimed of this study was to determine the effect of  carrageenan addition on different concentrations to tiger shrimp empek-empek characteristic. The materials used was fresh tiger shrimp, carrageenan, and other materials. This study was an experimental laboratories with experimental design completely randomized design (CRD). The treatment in this research were various concentrations of carrageenan 0%, 0,5%, 1% and 1,5% in triplicates. The results showed that the carrageenan addition were significantly different (P <0.05) to the value of the emulsion stability, water holding capacity (WHC), gel strength, water activity(Aw), water content and protein content. Tiger shrimp empek-empek with 1,5% carrageenan addition was the best treatment with the properties as follow,the emulsion stability 86,79%, water holding capacity 38,63%, gel strength 838,88 g.cm, water activity 0,86, water content 55,16%, protein content 18,38%, fat content 0,05% and hedonic 7,6≤µ≤8,4.
PENGARUH PENAMBAHAN OKSIDATOR DAN REDUKTOR TERHADAP DEGRADASI EKSTRAK KASAR PIGMEN FUKOSANTIN RUMPUT LAUT Sargassum duplicatum Rahmawaty, Amanda; Ma'ruf, Widodo Farid; Rianingsih, Laras
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.089 KB)

Abstract

Fukosantin merupakan karotenoid utama yang ada pada S. duplicatum. Fukosantin mudah mengalami perubahan molekul, isomerasi dan degradasi. Oksidator dan reduktor adalah faktor yang dapat mengakibatkan degradasi pigmen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan oksidator dan reduktor terhadap degradasi ekstrak kasar pigmen fukosantin rumput laut S. duplicatum pada penyimpanan suhu ruang selama 12 jam.  Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut  S. duplicatum sebanyak satu kilogram yang diambil di perairan Pantai Bandengan, Jepara. Variabel yang diamati adalah kandungan fukosantin, nilai pH, dan nilai total perubahan warna (ΔE). Penelitian ini dilakukan dengan metode percobaan laboratoris menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan pola percobaan split plot in time. Sebagai main plot adalah lama penyimpanan (0, 3, 6, 9, dan 12 jam) dan sebagai sub plot adalah jenis perlakuan (kontrol, oksidator, dan reduktor). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor jenis perlakuan dan lama penyimpanan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan fukosantin, pH, dan total perubahan warna. Interaksi kedua faktor berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan fukosantin dan total perubahan warna. Penambahan oksidator (hidrogen peroksida) menyebabkan  laju degradasi yang lebih kecil dibandingkan dengan penambahan reduktor (asam askorbat). Setelah penyimpanan selama 12 jam, pada penambahan oksidator pigmen fukosantin berkurang sebesar 28.04% dari nilai awal, nilai pH menurun sebesar 6.65% dari nilai awal, dan nilai total perubahan warna meningkat menjadi 106.89% dari nilai awal, sedangkan pada penambahan reduktor pigmen fukosantin berkurang sebesar 29.54% dari nilai awal, nilai pH menurun sebesar 9.25% dari nilai awal, dan nilai total perubahan warna meningkat menjadi 139.93% dari nilai awal. Fucoxanthin was the main carotenoid in S. duplicatum. The molecul of fucoxanthin can be changed, isomerized and degraded easily. Oxidator and reductor were one of the factors that causing degradation of pigment. The objective of this study was to know the effect of oxidator and reductor addition to the crude fucoxanthin of  S. duplicatum degradation stored at room temperature for 12 hours.  The raw material of this research was one kilogram of S. duplicatum which was taken from coastal waters Bandengan, Jepara. The variables that have been choosen for this study were fucoxanthin content, pH, and color changed (ΔE). The method of this study was laboratory experimental using split plot in time experimental pattern with Completely Randomized Design. The different time of storages (0, 3, 6, 9 and 12 hours) were the main plot for this study, the others sub plot were the different treatments (control, oxidator, and reductor). This study showed that the different treatments and the different time of storages factor had significantly (P<0,05) effect to fucoxanthin content, pH, and color changed (ΔE). Interaction of each factor had significantly (P<0,05) effect to  fucoxanthin content and color changed. After storage for 12 hour, oxidator addition of fucoxanthin content was reduced up to 28.04% from the initial, pH was decreased into 6.65% from initial, and color changed was increased into 106.89% from initial, while reductor addition of fucoxanthin content was reduced up to 29.54% from initial, pH was decreased into 9.25% from initial, and color changed was increased into 139.93% from initial. Â