Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Pengaruh Terapi Latihan terhadap Post ORIF Fraktur Mal Union Tibia Plateu dengan Pemasangan Plate and Screw Kuswardani Kuswardani; Suci Amanati; Zainal Abidin
Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.014 KB) | DOI: 10.33660/jfrwhs.v1i1.3

Abstract

Fraktur tibia (Bumper fracture/fraktur tibia plateu) adalah fraktur yang terjadi akibat trauma langsung dari arah samping lutut dengan kaki yang masih terfiksasi ke lutut. Departemen Kesehatan RI tahun 2007 didapatkan sekitar delapan juta orang mengalami kejadian fraktur dengan jenis fraktur yang berbeda dan penyebab yang berbeda, dari hasil survey tim depkes RI didapatkan 25% penderita fraktur yang mengalami kematian, 45 mengalami cacat fisik, 15% mengalami stress psikologis karena cemas dan bahkan depresi, dan 10% mengalami kesembuhan dengan baik. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh terapi latihan terhadap penderita post orif fracture mal union tibia plateu sinistra dengan pemasangan plate and screw. Populasi penelitian ini adalah pasien penderita post orif fracture mal union tibia plateu dengan pemasangan plate and screw. Sampel penelitian ini menggunakan seluruh populasi, yaitu sebanyak 9 pasien yang secara keseluruhan diambil sebagai sampel penelitian. Pengumpulan data didapat dari pemeriksaan kekuatan otot dengan Manual Muscle Testing (MMT). Hasil uji t menunjukkan Sig. = 0,000 (<0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti nilai kekuatan otot sebelum dan sesudah tindakan terapi latihan (Static contraction, Pumping action, Passive exercise(Relaxed passive exercise) tidak sama. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan adanya pengaruh terapi latihan (Static contraction, Pumping action, Passive exercise(Relaxed passive exercise) terhadap nilai kekuatan otot pada kasus post ORIF fraktur malunion tibia plateu sinistra.
Pengaruh Terapi Latihan Metode BOBATH terhadap Cerebral Palsy Diplegi Spastic Zainal Abidin; Kueswardani Kuswardani; Didik Purnomo
Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.917 KB) | DOI: 10.33660/jfrwhs.v1i1.6

Abstract

Cerebral palsy merupakan suatu penyakit kronik yang mengenai pusat pengendalipergerakan dengan manifestasi klinis yang tampak pada beberapa tahun pertama dan secaraumum tidak akan bertambah memburuk pada usia selanjutnya. Angka kejadian cerebral palsyberkisar 1,2-2,5 anak per 1000 anak usia sekolah dini. Data anak dengan kondisi cerebral palsyyang mengikuti program rehabilitasi fisioterapi pada tahun 2013 adalah sebanyak 75 anak.Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh terapi latihan denganpendekatan konsep bobath cerebral palsy diplegi spastic di Yayasan Pembinaan Anak Cacat(YPAC) Semarang. Populasi penelitian ini adalah pasien penderita cerebral palsy diplegi spastik.Sampel penelitian ini menggunakan seluruh populasi, yaitu sebanyak 8 pasien yang secarakeseluruhan diambil sebagai sampel penelitian. Pengumpulan data didapat dari pemeriksaanspesifik seperti pemeriksaan kekakuan sendi/spastisitas dengan skala Asworth. Skala Asworthsebagai hasil pemeriksaan spastisitas. Hal ini berarti spastisitas sebelum dan sesudah tindakan terapilatihan dengan metode bobath tidak sama. Berdasarkan hasil penelitian, didapat disimpulkan adanyapengaruh pemberian terapi latihan dengan menggunakan metode bobath terhadap spastisitas padakasus cerebral palsy diplegi spastic.
Pengaruh Terapi Latihan terhadap Non-ST Elevation Myocardial Infraction (NSTEM) KILLIP IV Kuswardani Kuswardani; Suci Amanati; Zainal Abidin
Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.876 KB) | DOI: 10.33660/jfrwhs.v1i1.8

Abstract

Non-ST Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI) adalah adanya ketidakseimbangan antara permintaan dan suplai oksigen ke myocardium terutama akibat penyempitan arteri koroner akan menyebabkan iskemia myocardium lokal. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Depertemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2004 menyatakan bahwa peringatanpenyakit cardiovaskular sebagai penyebab kematian semakin meningkat. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh terapi latihan terhadap penderita Non-ST Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI) Killip IV di RSUD Tugurejo Semarang. Populasi penelitian ini adalah pasien penderita Non-ST Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI) Killip IV. Sampel penelitian ini menggunakan seluruh populasi, yaitu sebanyak 8 pasien yang secara keseluruhan diambil sebagai sampel penelitian. Pengumpulan data didapat dari pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV). Hasil uji t menunjukkan Sig. = 0,000 (<0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima.. Hal ini berarti HR sebelum dan sesudah tindakan (terapi latihan) tidak sama. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Terapi latihan dapat mengurangi derajat sesak napas, spasme otot pernapasan pada penderita Non-ST Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI) Killip IV.
Pengaruh Nebulizer, Infra Red dan Chest Therapy terhadap Asma Bronchiale Kuswardani Kuswardani; Didik Purnomo; Suci Amanati
Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.134 KB) | DOI: 10.33660/jfrwhs.v1i1.10

Abstract

Asma Bronchial adalah penyakit inflamasi obstruktif yang ditandai oleh periode episodik spasme otot-otot polos dalam dinding saluran udara bronchial (spasme bronkus). Spasmebronkus itu menyempitkan jalan nafas, sehingga membuat pernafasan menjadi sulit dan menimbulkan bunyi mengi. Tahun 2006, jumlah penderita asma diperkirakan mencapai 300 juta orang di dunia, angka ini diperkirakan akan terus meningkat 400 juta orang pada 2025. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh nebulizer, infra red dan chest therapy terhadap penderita asma bronchial. Populasi penelitian ini adalah pasien penderita asma bronchiale. Sampel penelitian ini menggunakan seluruh populasi, yaitu sebanyak 8 pasien yang secara keseluruhan diambil sebagai sampel penelitian. Pengumpulan data didapat dari pemeriksaan Sesak Napas dengan skala borg. Skala Borg sebagai pemeriksaan sesak nafas. Hasil uji t menunjukkan Sig. = 0,000 (<0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti sesa nafas sesudah dan sebelum tindakan nebulizer, infra red dan chest therapy tidak sama. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa Nebulizer, infra red dan Chest Therapy dapat mengurangi sesak nafas pada penderita asma bronchial.
Pengaruh Terapi Latihan dan Massage terhadap Kasus Close Fraktur Humeri dextra 1/3 Distal dengan Pemasangan Skin Traction Suci Amanati; Kuswardani Kuswardani; Rose Ash Sidiqi Marita
Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.844 KB) | DOI: 10.33660/jfrwhs.v1i1.11

Abstract

Fraktur tertutup (Closed Fracture) 1/3 distal dextra adalah fraktur yang patahannya tidak menembus kulit luar dan mengenai bagian sepertiga distal lengan atas. Fraktur ini merupakan fraktur ekstraartikular dan ekstrakapsuler (Stanley, 2011). Terapi yang diberikan berupa terapi latihan (hold relax, passive movement, active movement) dan massage dengan pemasangan skin traction. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pengaruh massage dan terapi latihan dengan pemasangan skin traction terhadap rasa nyeri pada kasus close fraktur humeri dextra 1/3 distal. Jenis penelitian yang digunakan adlah quasi eksperiment, tipe Pre and Post Test Design, yaitu mengkaji tingkat nyeri sebelum dan sesudah terapi diberikan. Populasi adalah pasien penderita fraktur humeri 1/3 distal yang dirawat di RS Othopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, yaitu sebanyak 8 sampel. Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 1-31 Januari 2016. Instrumen yang digunakan adalah skala nyeri pada Visual Analoque Scale (VAS). Ada 3 kategori nyeri, yaitu nyeri tekan, nyeri gerak dan nyeri diam. Hasil penelitian menunjukkan hilangnya nyeri diam dan penurunan nyeri tekan dan gerak. Hal ini berdasarkan rata-rata skala nyeri pada VAS, yaitu nyeri diam, sebelum terapi sebesar 1,88 menjadi 0,00 sesudah terapi; nyeri tekan, sebelum terapi sebesar 3,50 menjadi 1,13 sesudah terapi; dan nyeri gerak, sebelum terapi sebesar 5,43 menjadi 2,43 sesudah terapi.Perbedaan yang signifikan juga ditunjukkan dengan hasil uji t yang menunjukkan αhitung (0,000) < α(0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti terapi latihan (hold relax, passive movement, active movement) dan massage dengan pemasangan skin traction berpengaruh terhadap rasa nyeri pada kasus close fraktur humeri dextra 1/3 distal.
Pengaruh Terapi Latihan terhadap Congestive Heart Failure NYHA III-IV e.c Mitral Regurgitation, Trikuspidal Regurgitation, Pulmonal Hipertensi Nurwahida Puspitasari; Kuswardani Kuswardani; Akhmad Alfajri Amin
Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.302 KB) | DOI: 10.33660/jfrwhs.v1i1.13

Abstract

Congestive Heart Failure (CHF) atau sering disebut gagal jantung kongestif adalah keadaan patofisiologis berupa kelainan fungsi jantung, sehingga jantung tidak mampu memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan atau kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian volume diastolik secara abnormal. Diperkirakan tahun 2030 bahwa 23,6 juta orang di dunia akan meninggal karena penyakit cardiovaskula. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh terapi latihan terhadap penderita Congestive Heart Failure NYHA III-IV e.c Mitral Regurgitation, Trikuspidal Regurgitation dan Pulmonal Hypertensi di RSUD Dr. Adyatma, Semarang sebanyak 8 pasien yang secara keseluruhan diambil sebagai sampel penelitian. Pengumpulan data didapat dari pemeriksaan sangkar thorax.Sangkar Thorax sebagai pemeriksaan sesak nafas. Hasil uji t menunjukkan Sig. = 0,000 (<0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti sesak sebelum dan sesudah tindakan terapi latihan (breathing exercise, mobilisasi sangkar thorax, gerak aktif anggota gerak atas dan bawah). Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa : Terapi latihan dapat mengurangi derajat sesak napas, spasme otot pernapasan dan meningkatkan ekspansi sangkar thorax pada penderita Congestive Heart Failure NYHA III-IV e.c Mitral Regurgitation (MR), Trikuspidal Regurgitation (TR) dan Pulmonal Hypertensi (PH).
PELAKSANAAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PASIEN SEBAGAI KONSUMEN JASA DAN FISIOTERAPIS DALAM PELAYANAN FISIOTERAPI MANDIRI DI KOTA SEMARANG Kuswardani Kuswadani; A Joko Purwoko; Daniel Budi Wibowo
Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.414 KB) | DOI: 10.33660/jfrwhs.v2i2.25

Abstract

Fisioterapi mandiri di kota Semarang masih banyak ditemukan kekuranganantara lain : kelengkapan sertifikat kompetensi, standar pelayanan fisioterapi,standar operasional prosedur, perizinan tempat praktik fisioterapi. Tujuanpenelitian ini adalah untuk menganalisis pelaksanaan perlindungan hukumterhadap pasien sebagai konsumen jasa dan fisioterapis dalam pelayananfisioterapi mandiri di kota Semarang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatanyuridis sosiologis, spesifikasi penelitian deskriptif analitik, data yang digunakanberupa data primer dan sekunder. Metode pengumpulan data melalui studi pustakadan studi lapangan. Populasinya adalah seluruh pasien dan fisioterapi mandiri dikota Semarang, sampel diambil secara non random sampling dengan tipepurposive sampling yaitu seluruh pasien dan fisioterapi mandiri di kota Semarangyang di bagi menjadi empat bagian yaitu Semarang selatan, utara, barat, dantimur. Analisis menggunakan analisis kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaanperlindungan hukum terhadap pasien sebagai konsumen jasa dan fisioterapisdalam pelayanan fisioterapi mandiri di kota Semarang belum terlaksana denganbaik, dengan ditemukannya bukti - bukti pelanggaran yang di antaranya adalahbelum mempunyai sertifikat kompetensi Surat Tanda Registrasi Fisioterapi(STRF), Surat Izin Praktek Fisioterapi (SIPF), dan Surat Izin Kerja Fisioterapi(SIKF), tempat praktik fisioterapi belum berizin resmi, dan di temukannyafisioterapi mandiri yang belum melakukan inform consent dan rekam medis. Halini merupakan pelanggaran terutama Undang - Undang No. 36 tahun 2014Tentang Tenaga Kesehatan.
Pengaruh Terapi Latihan Dan Kinesio Taping Pada Lesi Nerve Peroneus E.C Kusta Kuswardani Kuswardani; Zainal Abidin; Suci Amanati; Muhammad Ma`ruf
Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.13 KB) | DOI: 10.33660/jfrwhs.v3i1.38

Abstract

Lesi Nerve Peroneus e.c Kusta adalah kelumpuhan otot di anterior dan lateral pada kaki akibat kerusakan atau cidera pada saraf peroneus. Kusta adalah penyakit menular kronis yangdisebabkan oleh Mycobacterium leprae. Penyakit ini menyerang kulit, saraf perifer, mukosa saluran pernapasan bagian atas, dan mata. Kusta dapat disembuhkan dan pengobatan pada tahap awal dapat mencegah kecacatan. Permasalahan yang timbul pada pasien Lesi Nerve Peroneus e.c Kusta ini adalah kelemahan pada extremitas bawah yang menyebabkan penurunan sifat fisiologis otot, keterbatasan lingkup gerak sendi, penurunan kekuatan otot dan atrofi otot. Terapi yang diberikan pada kasus ini dengan menggunakan terapi latihan gerak aktif-asisted, pasif dan stretching untuk menjaga lingkup gerak sendi dan menjaga sifat fisiologis otot, Kinesio taping diberikan untuk support muscle. Tujuan : Mengetahui pengaruh terapi latihan dan kinesio taping pada kasus lesi nerve peroneus dalam meningkatkan kekuatan otot dan peningkatan kemampuan fungsional kaki. Hasil : Setelah dilakukan terapi selama enam kali, hasilnya adalah peningkatan nilai kekuatan otot p value (Asymp. Sig 2 tailed) sebesar 0,002 yang berarti dibawah nilai kritis < 0,005 bermakna bahwa terjadi peningkatan kekuatan otot yang signifikan, sedangkan untuk kemampuan fungsional kaki tidak menunjukkan perubahan yang signifikan hal ini ditunjukkan dengan p value sig (2-tailed) sebesar 0,899 yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah terapi. Kesimpulan : berdasarkan penelitian ini menunjukkan bahwaterapi latihan dan penggunaan kinesiotaping dapat meningkatkan kekuatan otot tetapi tidak dapat meningkatkan kemampuan fungsional kaki secara signifikan.
PENGARUH TERAPI LATIHAN TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL PADA KASUS CEREBRAL PALSY SPASTIK DIPLEGIA Didik Purnomo; Kuswardani Kuswardani; Rizka Novitasari
Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.048 KB) | DOI: 10.33660/jfrwhs.v2i1.41

Abstract

Latar Belakang :. Instansi kesehatan di Indonesia telah mendata diantaranya YPAC Cabang Semarang dengan jumlah anak terdiagnosa Cerebral Palsy pada tahun 2008 sebanyak 41 anak, tahun 2009 sebanyak 36 anak, pada tahun 2010 sebanyak 39 anak, pada tahun 2011 sebanyak 41 anak, pada tahun 2012 sebanyak 47 anak, pada tahun 2013 sebanyak 47 anak, pada tahun 2014 sebanyak 50 anak, pada tahun 2015 sebanyak 56 anak, pada tahun 2016 sebanyak 78 anak (YPAC Cabang Semarang,2016). Penelitian dilakukan di YPAC semarang pada bulan November 2017 sebanyak 8 orang partisipan dengan tindakan fisioterapi menggunakan konsep bobath dengan teknik inhibisi, fasilitasi dan stimulasi. Penelitian menggunakan metode pretest-posttest dengan quasi eksperimen Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh terapi latihan dengan metode Bobath Exercise dalam meningkatkan kemampuan fungsional pada pasien Cerebral Palsy Diplegia Spastic. Hasil : Setelah dilakukan terapi didapatkan hasil adalah tidak ada peningkatan kemampuan fungsional pasien berdasarkan hasil uji paired sample t test didapatkan nilai p (sig) sebesar 0.080 yang berada dibawah batas kritis yaitu >0,05 sehingga Ho diterima sedangkan Ha ditolak. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi peningkatan yang signifikan antara sebelum dengan sesudah terapi. Kesimpulan : Terapi latihan dengan metode Bobath Exercise seperti inhibisi dan fasilitasi, latihan dengan easy stand dan latihan berjalan pada paralel bar serta pemberian edukasi epada partisipan belum dapat menunjukkan hasil yang signifikan dalam meningkatkan kemampuan fungsional partisipan, keberhasilan terapi juga membutuhkan kerja sama yang aik antara pasien, orang tua pasien dengan terapi dan durasi waktu terapi juga mempengaruhi keberhasilan dalam pelaksanaan terapi.
PENGARUH CHEST THERAPY DAN INFRA RED PADA BRONCHOPNEUMONIA Akhmad Alfajri Amin; Kuswardani Kuswardani; Welly Setiawan
Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.563 KB) | DOI: 10.33660/jfrwhs.v2i1.42

Abstract

Latar Belakang : Di Provinsi Jawa Tengah, persentase balita yang menderita pneumonia pada tahun 2014 sebanyak 71.451 kasus atau setara (26,11%) dan meningkat dibanding tahun 2013 atau setara (25,85%). Angka ini masih sangat jauh dari target standar pelayanan minimal pada tahun 2010 atau setara (100%) (Dinkes Jateng, 2014). Di Kabupaten Pekalongan pada tahun 2015, ada sebanyak 94.386 balita dengan perkiraan kasus sebanyak 3.407 kasus, sedangkan kasus yang ditemukan atau ditangani sebanyak 4.695 kasus atau setara (136,9 %). Penelitian ini dilakukan di RSUD Kajen pada bulan Oktober 2017 dengan mengambil sampel sebanyak 8 partisipan menggunakan metode pretest-posttest dengan quasi eksperimen. Tindakan fisioterapi yang diberikan pada kasus Bronchopneumonia ini adalah dengan chest therapy dan infra red.Tujuan : Mengetahui pengaruh terapi dengan menggunakan Infra Red dan Chest Physiotherapy (deep breathing, postural drainage, clapping, vibrasi, dan batuk efektif) pada kondisiBronchopneumonia. Hasil : Terjadi perbaikan frekuensi napas pasien per menit yang signifikan antara sebelum dengan sesudah terapi ditunjukkan dengan nilai p pada uji paired sample test (sig. 2-tailed) sebesar 0,000 yang berada di bawah nilai kritis <0,05, sedangkan untuk sesak napas pasien mengalami penurunan yang signifikan antara sebelum dengan esudah terapi hal ini ditunjukkan dengan nilai p (sig. 2-tailed) sebesar 0,000 yang berada dibawah nilai kritis <0,05. Kesimpulan : Penggunaan infra red dan chest therapy dapat memperbaiki frekuensi pernapasan pasien per menit dan mengurangi sesak napas pada kasus Bronchopneumonia.