Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PASIEN PNEUMONIA DENGAN INFRARED, CHEST PHYSIOTHERAPY DAN MYOFASCIAL RELEASE Rosalia Gressi Meilinda Sari; Kuswardani
JURNAL FISIOTERAPI DAN ILMU KESEHATAN SISTHANA Vol. 7 No. 2 (2025): Juli : Jurnal Fisioterapi dan Ilmu Kesehatan Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jufdikes.v7i2.2002

Abstract

Pneumonia ialah penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Bawah yang bersifat akut pada parenkim paru meliputi alveolus dan jaringan interential yang dikarenakan mikroorganisme seperti jamur, virus dan bakteri. Mikroorganisme yang masuk ke saluran pernafasan bagian bawah dapat mengganggu proses pernapasan serta membuat saluran pernapasan tidak berfungsi secara optimal, sehingga proses keluar masuk oksigen juga terhambat dan mengakibatkan gangguan pada pola napas. Beberapa permasalahan lain yang ditimbulkan dari pneumonia seperti adanya penumpukan sputum, otot bantu pernapasan, penurunan ekspansi thoraks dan juga nyeri dada. Dalam perawatanya, tenaga medis berperan dalam pemberian antibiotik selama 8 jam setelah pasien mengalami perawatan serta fisioterapi berperan dalam pemberian intervensi penyinaran Infrared, Chest physiotherapy, dan Myofascial release. Penelitian ini bersifat studi kasus yang mengangkat satu kasus pasien serta mengumpulkan data melalui proses fisioterapi. Intervensi fisioterapi dilakukan sebanyak 4 kali pertemuan di Rumah Sakit dr. Ario Wirawan, Salatiga dengan menggunakan Infrared, Chest physiotherapy yang meliputi Postural Drainage, Clapping, Vibrasi, Latihan Batuk Efektif, Pursed Lip Breathing dan Myofascial release. Setelah menjalani 4 kali terapi, diperoleh hasil kondisi pasien yang mengalami penurunan nyeri dada, penurunan tingkat sesak napas, peningkatan ekspansi thoraks, berkurangnya spasme otot bantu pernapasan dan retensi sputum.
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA PASIEN SPRAIN ANKLE DEXTRA DENGAN ULTRASOUND DAN TERAPI LATIHAN Arga Wicaksono; Kuswardani, Kuswardani
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 6 (2025): Nopember 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Ankle sprain injuries are injuries that often occur during physical exercise. Ankle sprain injuries can cause damage to the surrounding ligament structures. The occurrence of ankle sprain injuries that often occur can lead to worsening and are known as chronic ankle instability (CAI). Methods: This Scientific Paper is a case study, raising patient cases and collecting data through the physiotherapy process. The modalities provided are Ultrasound, and Exercise Therapy. Results: After four interventions with Ultrasound and Exercise Therapy on this Right Ankle Sprain. The results obtained were a decrease in pain in the ankle, a decrease in spasm, an increase in the range of joint motion, and an increase in muscle strength. Conclusion: Ultrasound, and Exercise Therapy given to patients can help reduce pain, reduce spasm in the Gastrocnemius, increase muscle strength in the ankle, range of motion of the right ankle joint, and the patient's functional activity ability
PKM PENYULUHAN DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG PADA ANAK DI KRAPYAK Abidin, Zainal; Kuswardani, Kuswardani
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan (JIPMK) Vol 6, No 2 (2024): Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jipmk.v6i2.148

Abstract

Tumbuh kembang anak merupakan hal yang sangat penting untuk menjadi perhatian bagi orang tua, banyak hal menarik dan unik yang kadang tidak diperhatikan oleh orang tua, padahal diusia dini pertumbuhan dan perkembangan anak begitu pesatnya sehingga masa anak-anak sering disebut dengan masa keemasan (golden age). Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan orang tua tentang deteksi dini tumbuh kembang khususnya pada ibu dapat mengakibatkan gangguan tumbuh kembang yang berupa penyimpangan pertumbuhan, penyimpangan perkembangan serta penyimpangan mental emosional, misalnya sindrom down, perawakan pendek, dan gangguan autism. Tujuan dari penyuluhan deteksi dini tumbuh kembang anak di RW 06 Kelurahan Krapyak ini adalah untuk memberikan informasi dan pengetahuan lebih lanjut kepada Kader Posyandu yang nantinya dapat di informasikan kepada ibu yang memeliki balita di lingkuran Rw 06 Kelurahan Krapyak bahwa pentingnya dalam melakukan deteksi dini tumbuh kembang pada anak, untuk mengurangi terjadinya stunting atau keterlambatan tumbuh kembang pada anak balita. Metode yang disampaikan kepada kader Posyandu Rw 06 Kelurahan Krapyak berupa bagaimana cara yang tepat dalam melakukan deteksi dini tumbuh kembang pada anak balita sejak dini, supaya kader posyandu yang ada di Rw 06 Kelurahan Krapyak dapat memberikan contoh kepada ibu yang memiliki balita di lingkungan Rw 06 Kelurahan Krapyak. Setelah diberikan pelatihan dan pendampingan kepada para kader posyandu diharapkan mendapatkan hasil bahwa kader posyandu yang ada di lingkungan Rw 06 Kelurahan Krapyak memahami bagaimana cara yang benar dan tepat dalam melakukan deteksi dini tumbuh kembang anak untuk mencegah adanya stanting pada anak.
PKM PENINGKATAN PENGETAHUAN LANSIA TENTANG STATE RESPONSIBILITY DALAM PERLINDUNGAN KESEJAHTERAAN LANJUT USIA PADA LANSIA Kuswardani, Kuswardani; Jamil, Masfufatun; Abidin, Zainal
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan (JIPMK) Vol 6, No 1 (Maret) (2024): Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jipmk.v6i1.145

Abstract

PKM ini merupakan upaya peningkatan pengetahuan dan pemahaman para lansia RW 06 Kelurahan Krapyak tentang state responsibility dalam perlindungan kesejahteraan lansia di Indonesia. Dengan diadakannya sosialisasi diharapkan lansia RW 6 Kelurahan Krapyak paham atas hak dasar dan kewajibannya sesuai UUD 1945 Pasal 27 (2) dan Pasal 28 huruf H (3), Pasal 34 (1) dan (2) yang mengatur hak warga negara dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Target utama PKM ini memberikan pendampingan dan melatih lansia cara mendapatkan perlindungan kesejahteraan hak dasar lansia. Metode yang digunakan mulai dari melakukan penyuluhan, diskusi, sosialisasi, dan pelatihan sampai para lansia paham cara mendapatkan hak dasar perlindungan kesejahtaraan dan langkah yang harus dilakukan apabila ada pelanggaran hak lansia. Anggaran dan jadwal pelaksanaan pengabdian masyarakat yang diajukan sudah sangat relevan atau sesuai dengan kegiatan yang telah dilaksanakan. Rencana kegiatan program PKM ini adalah a) Pra survei lapangan, b) Persiapan alat dan bahan pelatihan, c) Persiapan metode pemahaman, d) Sosialisasi dan pelatihan perlindungan kesejahteraan kesehatan, e) Pendampingan, f) evaluasi, g) Pembuatan program berlanjutan. Berdasarkan hasil sosialisasi dan pelatihan dapat disimpulkan bila didapatkan hasil yang signifikan yaitu para lansia RW 06 Kelurahan Krapyak dari 23 lansia tidak mengerti sama sekali menjadi mengerti cara mendapatkan hak perlindungan kesejahteraan dan paham langkah yang ditempuh bila ada pelanggaran hak dasar lansia.
PKM EDUKASI PENANGANAN HIPERTENSI DAN PENGAPURAN BAGI LANSIA DI KELURAHAN KRAPYAK kuswardani, kuswardani; Abidin, Zainal; Duan Tirani, Pinkan
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan (JIPMK) Vol 6, No 2 (2024): Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jipmk.v6i2.149

Abstract

PKM ini merupakan upaya peningkatan pengetahuan dan pemahaman pada para lansia RW 06 Kelurahan Krapyak tentang penanganan hipertensi dan pengapuran sendi pada lansia. Dengan diadakannya sosialisasi dan pelatihan tersebut diharapkan para lansia RW 6 Kelurahan Krapyak paham cara mengatasi dan mencegah hipertensi dan pengapuran sendi yang sering dan sedang mereka keluhkan. PKM ini dilaksanakan dengan cara memberikan pendampingan dan melatih lansia secara langsung selama 3 bulan dan dilakukan 2 kali dalam sebulan. Metode yang digunakan mulai dari melakukan penyuluhan, diskusi, sosialisasi, dan pelatihan sampai para lansia dapat melakukan gerakan exercise yang diajarkan dengan lancar. Anggaran dan jadwal pelaksanaan pengabdian masyarakat yang diajukan sudah sangat relevan atau sesuai dengan kegiatan yang telah dilaksanakan. Rencana kegiatan program PKM ini adalah a) Pra survei lapangan, b) Persiapan alat dan bahan pelatihan, c) Persiapan metode pemahaman, d) Sosialisasi dan pelatihan gerakan exercise yang aman untuk lansia dalam upaya mencegah dan menangani hipertensi dan pengapuran pada lansia, e) Pendampingan, f) evaluasi, g) Pembuatan program berlanjutan. Berdasarkan hasil sosialisasi dan pelatihan dapat disimpulkan bila didapatkan hasil yang signifikan yaitu para lansia RW 06 Kelurahan Krapyak dari 23 lansia yang tidak tahu cara mencegah hipertensi dan pengapuran pada lansia semakin parah menjadi lebih mengerti dan terampil dalam setiap gerakan exercise yang telah diajarkan.
PKM OPTIMALISASI PENGETAHUAN DAN LATIHAN FISIK PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI PANTI WREDHA RINDANG ASIH II jaleha, Boki; Kuswardani, Kuswardani
Jurnal Implementasi Pengabdian Masyarakat Kesehatan (JIPMK) Vol 5, No 2 (Sept) (2023): Jurnal implementasi pengabdian masyarakat kesehatan
Publisher : Universitas Widya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33660/jipmk.v5i2.116

Abstract

Pada proses penuaan perubahan biologis menyebabkan kecenderungan lansia menderita penyakit degeneratif seperti hipertensi. Dimana hipertensi atau keadaan ketika tekanan darah di pembuluh darah meningkat secara kronis. Jika dibiarkan, penyakit ini dapat mengganggu fungsi organ-organ lain seperti jantung dan ginjal. Penatalaksanaan hipertensi pada lansia terbagi dua yaitu farmakologi dan non farmakologi. Non farmakologi yang diterapkan mealui latihan fisik berupa senam hipertensi. Senam hipertensi mampu mendorong jantung bekerja dengan optimal dan mencegah penyakit kronis seperti hipertensi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan dan pemahaman lansia terkait hipertensi serta manfaat dari latihan fisik berupa senam hipertensi. Untuk membantu dalam hal pemahaman mengenai hipertensi dan manfaat senam hipertensi, maka dilakukan kegiatan berupa pemberian materi, diskusi dan penerapan senam hipertensi. Dari sesi diskusi terlihat adanya peningkatan pengetahuan mengenai hipertensi dan pentingnya melakukan latihan fisik.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Tennis Elbow Sinistra dengan Ultrasound dan Terapi Latihan Mayyaza Min Azkia; Kuswardani Kuswardani
JURNAL RISET RUMPUN ILMU KESEHATAN Vol. 4 No. 3 (2025): Desember : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrikes.v4i3.6706

Abstract

Tennis elbow, or lateral epicondylitis, is an inflammatory condition of the lateral epicondyle commonly caused by repetitive overuse of the forearm extensor muscles. It is characterized by pain, limited joint range of motion, decreased muscle strength, and reduced functional capacity. Physiotherapy interventions, particularly ultrasound and exercise therapy, have been widely applied to reduce pain and restore functional performance. This study employed a case study design involving a 42-year-old female patient diagnosed with left-sided tennis elbow. The intervention was conducted over four therapy sessions. The modalities consisted of ultrasound, providing thermal and micromassage effects to reduce pain, combined with exercise therapy, including passive stretching to increase soft tissue flexibility and eccentric exercise to improve tendon strength and function. After four sessions, the patient showed significant improvement, including reduced pain during movement and palpation, increased joint range of motion in elbow flexion-extension, forearm pronation-supination, and wrist dorsiflexion-palmarflexion. Muscle strength, particularly in the extensors, pronators, supinators, and wrist dorsiflexors, also improved. Functional activity, measured using the PRTEE scale, demonstrated notable enhancement from mild disability to better functional independence. The combination of ultrasound, passive stretching, and eccentric exercise is effective in reducing pain, enhancing range of motion, strengthening muscles, and improving functional ability in patients with left-sided tennis elbow.
STUDI KASUS: PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA HEMIPLEGI SINISTRA E.C STROKE NON HEMORRHAGIC DENGAN TERAPI LATIHAN Mustika Sarila Ningrum; Kuswardani
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 1 No. 3 (2024): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/3c4mpg51

Abstract

Stroke non hemorrhagic merupakan defisit neurologis yang terjadi secara tiba-tiba disebabkan oleh gangguan vaskular atau penyumbatan berupa kekurangan suplai oksigen ke otak yang berlangsung lebih dari 24 jam sehingga mengakibatkan nekrosis jaringan otak. Problematika yang muncul akibat stroke adalah kelemahan anggota gerak tubuh, gangguan keseimbangan, gangguan pola jalan dan penurunan aktivitas fungsional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan fisioterapi pada hemiplegi sinistra e.c stroke non hemorrhagic dengan terapi latihan. Penelitian ini bersifat studi kasus, mengangkat kasus pasien dan mengumpulkan data melalui proses fisioterapi. Terapi Latihan yang diberikan adalah positioning, breathing exercise, propioceptive neuromuscular dan stimulasi taktil. Setelah mendapatkan penanganan fisioterapi sebanyak 4 kali, didapatkan hasil tidak adanya ulkus decubitus dan subluksasi shoulder, tidak adanya penurunan LGS dengan pengukuran menggunakan goniometer, belum ada peningkatan tonus otot dengan palpasi, belum ada peningkatan sensibilitas sensoris. Penatalaksanaan positioning, breathing exercise, propioceptive neuromuscular dan stimulasi taktil dalam periode waktu selama empat hari terbukti tidak adanya ulcus decubitus dan sublusasi shoulder, belum terbukti adanya peningkatan sensibilitas sensoris.
PKM EDUKASI KEBIJAKAN PENANGGULANGAN STUNTING DI DESA BANJARSARI KECAMATAN GAJAH KABUPATEN DEMAK Kuswardani Kuswardani; Novita Alfiana; Suci Amanati; Boki Jaleha
JPMUJ Vol. 4 No. 2 (2026): SEMUA ARTIKEL TERBIT SECARA ONLINE
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIKA Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/jpmuj.v4i2.3307

Abstract

Stunting can be seen physically with a child's height being shorter than children of the same age. At this time, nutritional problems still occur and are a national problem. Stunting does not occur suddenly, but can occur over a very long period of time starting from children in the womb to toddlers not getting sufficient nutritional intake. Based on the results of interviews with several community leaders, it was stated that there are still residents of Banjarsari Village, Gajah District, Demak Regency who have insufficient knowledge about the importance of nutritious food to prevent stunting in children. Community service is carried out with the aim of providing an understanding of education about stunting prevention regulation and how to overcome stunting in Banjarsari Village, Gajah District, Demak Regency. After the community service activities, a post-test was carried out and the results obtained were 20 participants who 100% understood stunting prevention regulation and how to deal with stunting in children.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Carpal Tunnel Syndrome Dextra dengan Ultrasound, Infared dan Terapi Latihan Pretty Titan Al humaira; Kuswardani Kuswardani
Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Januari: Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/klinik.v5i1.5498

Abstract

Carpal tunnel syndrome (CTS) is a disease of the wrist caused by repetitive movements in an abnormal position continuously and for a long time, so that the median nerve in the wrist becomes pinched or compressed. Risk factors that may influence the event CTS include age, gender, and occupational factors. The problem experienced by the patient is pain in the wrist, tingling in the palms that spreads to the fingers. Therefore the provision of interventions using ultrasound aims to reduce pain, laser aims to reduce pain and inflammation, andexercise therapy aims to increase the range of motion of the joints, increase muscle strength, and restore functional activity.This scientific paper is a case study in nature, raising patient cases and collecting data through a physiotherapy process. The modalities provided are Ultrasound, Infrared, and Nerve Tendon Gliding Exercise. After 4 times physiotherapy, the results showed a decrease in pain, a decrease in paraesthesia/tingling, an increase in the range of motion of the joints, an increase in muscle strength, and an increase in the ability of functional activities with the WHDI index. Physiotherapy management with Ultrasound, Infrared and Exercise Therapy modalities carried out in Carpal Tunnel Syndrome Sinistra cases for 4 times of therapy can reduce pain, paraesthesia/tingling, increase joint range of motion, increase muscle strength, and increase functional activity with the WHDI index.