Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

ANALISIS DAMPAK LALU LINTAS PADA GEDUNG FAMILY KARAOKE MASTER PIECE SIGNATURE DI JALAN JENDRAL URIP PONTIANAK Handayani, Raynanda; Widodo, Slamet; Akhmadali, -
JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang Vol 7, No 1 (2020): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI FEBRUARI 2020
Publisher : JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.183 KB) | DOI: 10.26418/jelast.v7i1.40250

Abstract

Family Karaoke Master Piece Signature merupakan sebuah restoran, tempat karaoke dan tempat billiard yang terdiri dari 7 lantai. Pembangunan tersebut akan mempengaruhi pergerakan lalu lintas di sekitar gedung. Analisis dampak lalu lintas (Andalalin) adalah kajian mengenai dampak yang ditimbulkan oleh  pengembangan tata guna lahan terhadap kinerja jalan. Analisis data meliputi analisis pertumbuhan penduduk dan kendaraan, analisis bangkitan dan tarikan, analisa derajat kejenuhan, analisis kebutuhan parkir dan analisis penanganan dampak lalu lintas. Analisis perhitungan akan dilakukan berdasarkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI 1997) dan nilai DS (Degree of Saturation) sebagai parameter dalam kinerja lalu lintas. Berdasarkan analisis setelah beroperasinya gedung simpang Ar. Hakim memiliki DS = 0.71, simpang Nurali memiliki DS = 1.12, ruas Jalan Jendral Urip memiliki DS = 0.46, ruas Jalan Ar. Hakim memiliki DS = 0.28 dan ruas Jalan Nurali memiliki DS = 0.23. Dari hasil analisis maka perlu dilakukan tindakan penanganan pada simpang Nurali. Alternatif penanganan yang dilakukan adalah penerapan simpang bersinyal dan pelebaran jalan Jendral Urip. Berdasarkan analisa yang dilakukan penanganan terbaik adalah dengan melakukan pelebaran pada ruas Jalan Jendral Urip sebesar 2 meter di sisi kiri dan 1 meter di sisi kanan sehingga didapatkan DS<0.85. Kebutuhan ruang parkir gedung mengalami ketidaksesuaian antara daya tampung dengan kebutuhan
CAMPURAN HOT ROLLED SHEET – WEARING COURSE (HRS - WC) DENGAN MATERIAL PASIR LIMBAH SEBAGAI AGREGAT HALUS PENGGANTI Supratman, Iknatius Eko; Widodo, Slamet; Akhmadali, -
JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang Vol 6, No 3 (2019): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2019
Publisher : JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v6i3.36713

Abstract

Campuran Hot Rolled Sheet – Wearing Course (HRS-WC) atau Lataston Lapis Aus merupakan lapis permukaan non struktural campuran aspal panas dengan gradasi senjang yang dicampur dan dipadatkan pada kondisi panas. Campuran dibuat dengan batu pecah yang berasal dari desa Peniraman, Filler semen Portland Tiga Roda, Aspal penetrasi 60/70, untuk pasir halus Sebagai alternatif digunakan pasir limbah bekas penambangan emas tanpa ijin yang berasal dari Desa Kayu Ara, Kecamatan Mandor sebagai agregat halus pengganti. Campuran dibuat dengan 5 variasi kadar aspal (5,5%, 6%, 6,5%, 7%, dan 7,5%). Proporsi pada campuran ditentukan dengan metode grafis yang disesuaiakan dengan batasan agregat. Kemudian dibuat 15 benda uji untuk campuran pasir limbah sungai, 15 benda uji untuk pasir limbah darat, dan 15 benda uji untuk campuran dengan pasir kapuas, sehingga keseluruhan benda uji berjumlah 45 buah. Campuran ditinjau berdasarkan parameter Marshall (VIM,VMA,VFB, Stabilitas, Flow dan MQ).Kata Kunci: HRS-WC, pasir limbah, parameter Marshall
KAJIAN PENGARUH BANGUNAN SPBU DAN PERSIMPANGAN JALAN PARIT HAJI HUSIN II TERHADAP LETAK U-TURN DI JALAN AHMAD YANI PONTIANAK Egitya, Regina; Akhmadali, -; Sumiyattinah, -
JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang Vol 5, No 2 (2018): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2018
Publisher : JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.351 KB) | DOI: 10.26418/jelast.v5i2.26670

Abstract

Pada median  disediakan bukaan median untuk kendaraan melakukan putaran balik. Letak SPBU dan persimpangan jalan Parit Haji Husin II pada Jalan Ahmad Yani memberikan tarikan pada kendaraan untuk melakukan putaran balik melalui u-turn untuk menuju lokasi tersebut. Hal ini dapat mengganggu aktivitas di jalan Ahmad Yani sehingga perlu dilakukan kajian pengaruh SPBU dan persimpangan jalan Parit Haji Husin II terhadap letak u-turn agar dapat diketahui pengaruh u-turn tersebut dan alterntif solusinya.Pada penelitian ini pengambilan data primer berupa survey volume lalu lintas dan geometrik jalan Ahmad Yani, u-turn, dan persimpangan jalan Parit Haji Husin II pada satu hari kerja pukul 06.00-19.00 WIB. Perhitungan kinerja jalan Ahmad Yani dan kinerja  simpang jalan Parit Haji Husin II menggunakan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2014 serta perhitungan kinerja jalinan menggunakan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997. Hasil perhitungan ini menjadi dasar untuk rekomendasi perbaikan yang diberikan.Berdasarkan hasil analisa diketahui nilai derajat kejenuhan pada jalan Ahmad Yani dibagi menjadi A1, A2, dan A3 dengan kondisi ada SPBU masing-masing 0,83, 0,72, dan 0,80. Derajat kejenuhan pada kondisi tanpa SPBU pada A2 dan A3 adalah 0,69 dan 0,78. Derajat kejenuhan pada kondisi volume menuju SPBU dianggap lurus pada A2 dan A3 adalah 0,72 dan 0,83. Besarnya pengaruh SPBU pada A2 dan A3 adalah 0,03 dan 0,02. Analisa derajat kejenuhan pada persimpangan Jalan Parit Haji Husin II yang dipengaruhi u-turn dibagi menjadi 2 yaitu persimpangan Jl. Parit Haji Husin II – Jl. Ahmad Yani - u-turn 1 dan persimpangan Jl. Parit Haji Husin II dan SPBU – Jl. Ahmad Yani - u-turn 2. Nilai derajat kejenuhan dengan kondisi ada SPBU pada persimpangan persimpangan Jl. Parit Haji Husin II – Jl. Ahmad Yani - u-turn 1 dan Jl. Parit Haji Husin II dan SPBU – Jl. Ahmad Yani - u-turn 2 adalah 1,58 dan 1,83. Derajat kejenuhan pada kondisi tanpa SPBU adalah 1,56 dan 1,81. Derajat kejenuhan pada kondisi volume menuju SPBU dianggap lurus adalah 1,62 dan 1,88. Kinerja jalinan dihitung pada 3 titik jalinan. Nilai derajat kejenuhan dengan kondisi ada SPBU pada jalinan 1,2, dan 3 adalah 0,94, 0,88, dan 1,10. Derajat kejenuhan pada kondisi tanpa SPBU pada jalinan 3 adalah 1,08. Derajat kejenuhan pada kondisi volume menuju SPBU dianggap lurus pada jalinan 2 dan 3 adalah 0,91 dan 1,12. Alternatif solusi yang direkomendasikan untuk menurunkan nilai derajat kejenuhan adalah perbaikan pada geometrik jalinan dengan 3 cara yaitu dengan menambah panjang jalinan atau memindahkan u-turn,  menambah lebar jalinan dan lebar pendekat, dan mengkombinasikan dengan menambah panjang dan lebar jalinan. Dari rekomendasi perbaikan tersebut yang dapat menurunkan nilai derajat kejenuhan menjadi < 0,85 adalah dengan cara menambah lebar jalinan dan lebar pendekat atau kombinasi dengan menambah panjang dan lebar jalinan. Persentase kendaraan dari u-turn menuju SPBU dan jalan Parit Haji Husin II sebesar 0,05% dan persentase kendaraan dari SPBU dan jalan Parit Haji Husin II menuju u-turn sebesar 0,04%.Kata kunci: U-Turn, Kinerja Jalan, Kinerja Simpang, Kinerja Jalinan, Derajat Kejenuhan
PENGGUNAAN SOFTWARE VISSIM UNTUK ANALISA SIMPANG BERSINYAL (STUDI KASUS : SIMPANG JALAN VETERAN, GAJAHMADA, PAHLAWAN DAN BUDI KARYA PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT) S, Pebriyetti; Widodo, Slamet; Akhmadali, -
JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang Vol 5, No 3 (2018): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2018
Publisher : JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.208 KB) | DOI: 10.26418/jelast.v5i3.29317

Abstract

Simpang merupakan titik bertemunya arus kendaraan dari beberapa ruas jalan yang berbeda, simpang dan sebagai tempat kendaraan melakukan perubahan arah pergerakan lalulintas, untuk itu perlu dilakukan evaluasi kinerja simpang untuk mendapatkan gambaran kondisi simpang saat ini, yaitu dengan meneliti volume lalulintas. Sehingga bisa didapatkan solusi untuk pemecahan masalah tersebut. Dalam penelitian ini, digunakan simulasi lalulintas dengan software Vissim, dengan rencana pengambilan data primer berupa survei yang dilaksanakan selama dua hari pada jam sibuk . nantinya akan dilakukan perbandingan hasil perhitungan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997, Setelah analisis ini dialakukan, nantinya akan dilakukan perbandingan hasil perhitungan ini dengan pengamatan langsung dan hasil pengamatan langsung di lapangan untuk melihat apakah ada perbedaan yang signifikan. Terdapat dua permasalahan metode tersebut yaitu perbedaan panjang antrian dan tundaan dengan menggunakan software Vissim, Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997 dan lapangan. Untuk kondisi lapangan panjag antrian pada jam sibuk untuk Jalan Vetera 143,64 m, Jalan Gajahmada 134,2 m, Jalan Pahlawan 145,3 m dan Budi Karya 81,53 m. Sedangkan untuk kondisi dengan menggunakan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997  panjang antrian untuk Jalan Veteran 206,7 m, Jalan Gajahmada 225,5 m, Jalan Pahlawan 225,0 m dan Budi Karya 413,3 m. Sedangkan dengan metode software Vissim panjang antrian untuk Jalan Veteran 125,39 m, Jalan Gajahmada 90,76 m, Jalan Pahlawan 135,3 m dan Budi Karya 57,58 m. dan Untuk Tundaan rata-rata dengan mengunakan metode software Vissim  114, 82 detik sedangkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997 190,7 detik. Hasil yang paling mendekati dengan panjang antrian di lapangan adalah dengan mengunakan softwere Vissim dan sedangkan dengan menggunakan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997 perbedaan jauh berbeda hasilnya, dan hal itu disebabkan beberapa factor, salah satunya adalah proporsi kendaraan yang lewat dan perbedaan perkalian eqivalen (smp) untuk sepeda motor, mobil, kendaraan berat.  Kata kunci: Simpang, MKJI 1997, Software Vissim, Panjang antrian, Tundaan
PERENCANAAN SISI UDARA (RUNWAY, TAXIWAY, DAN APRON) BANDARA BARU DI KABUPATEN KETAPANG Priyanto, Heri; Akhmadali, -; Erwan, Komala
JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang Vol 6, No 2 (2019): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2019
Publisher : JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.989 KB) | DOI: 10.26418/jelast.v6i2.35137

Abstract

Bandar Udara Rahadi Oesman yang terletak di Kota Ketapang. Lokasi Bandar ini memiliki letak lokasi yang kurang menguntungkan, terutama untuk pengembangan layanan jasa transportasi udara di masa akan datang. Adanya rencana relokasi Bandar udara Rahadi Osman, diperlukannya Perencanaan sisi udara (Runway, taxiway, dan apron) bandara baru di Kabupaten Ketapang. Penelitian ini dilakukan untuk Menentukan jumlah Pertumbuhan penumpang 10 tahun yang akan datang, Menentukan jenis pesawat dan klasifikasi pesawat berdasarkan Peramalan jumlah pertumbuhan penumpang, dan Menentukan ukuran Runway, Taxiway dan Apron untuk rencana bandara baru di Kabupaten Ketapang. Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu data penumpang dan pergerakan Pesawat di bandara rahadi oesman Ketapang, data penduduk. Model metode peramalan meliputi model trend analysis, model Ekonometrik, dan model Market Share. Analisis menggunakan regresi linier dengan program excel. Hasil penelitian ketiga model, didapat model peramalan yang terbaik yaitu model Trend Analysis. Dari hasil peramalan didapat jumlah penumpang pada tahun 2028 adalah 684.256 Penumpang/tahun dengan jumlah pergerakan pesawat sebanyak 6.505 pesawat/Tahun dengan menggunakan jenis pesawat Boeing 737-200. Bandar udara baru di Kabupaten Ketapang secara teknis tergolong bandar udara kelas 4C sesuai standar ICAO dan Peraturan Direktorat Jendral perhubungan udara nomor : kp 39 tahun 2015.Kata kunci : Bandar Udara, Peramalan, Runway, Taxiway, Apron
PENGATURAN LAMPU LALU LINTAS PADA SIMPANG BERSINYAL MAPOLDA KALBAR AKIBAT PERUBAHAN GEOMETRIK SIMPANG Karunia, Meidi Ahdiyat; Akhmadali, -; Sutarto Y.M., -
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 4, No 4 (2017): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2017
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.906 KB) | DOI: 10.26418/jelast.v4i4.21674

Abstract

Pemerintah Kota Pontianak membangun jalan baru pada Jl. Serdam yang berfungsi sebagai belok kiri langsung (LTOR) menuju Jl. Ahmad Yani dan membangun jembatan pada pendekat Jl. Ahmad Yani yang berfungsi sebagai belok kiri langsung menuju Jl. Serdam Sudarso. Akibat dari perubahan geometrik tersebut antrian pada satu lengan berkurang, namun pada jalan lain masih terdapat antrian panjang. Kondisi eksisting Simpang Bersinyal Mapolda Kalbar didapati nilai derajat kejenuhan Jl. Ahmad Yani 1,02; Jl. Serdam Sudarso 1,84; Jl. Arteri Supadio 1,33 dan Jl. Serdam 0,64. Nilai tundaan total kondisi eksisting Simpang Mapolda Kalbar sebesar 451,581 det/smp maka masuk Tingkat Pelayanan (LOS) F dengan durasi siklus selama 157 detik. Setelah dilakukan pengaturan ulang lampu lalu lintas didapati waktu siklus bertambah menjadi 178 detik dengan nilai tundaan total turun menjadi 431,86 det/smp. Pada alternatif 1 berupa pelebaran pendekat simpang mapolda Kalbar didapati nilai tundaan total menjadi 42,98 det/smp   maka kategori Tingkat Pelayanan masuk dalam kategori E.   Alternatif 2 mengubah fase simpang mapolda Kalbar menjadi 2 fase didapati nilai tundaan total turun menjadi 62,18 det/smp. Alternatif 3 berupa pembangunan jalan layang (flyover) pada simpang Mapolda Kalbar didapati nilai tundaan total kondisi pelebaran pada pendekat Simpang Mapolda Kalbar sebesar 9,11 det/smp maka kategori Tingkat Pelayanan masuk dalam kategori B.Kata kunci: Tingkat Pelayanan, Tundaan, Antrian, Simpang Bersinyal, smp, MKJI 1997
PENENTUAN OPERASIONAL JARINGAN ANGKUTAN UMUM DI KAWASAN METROPOLITAN PONTIANAK BERBASIS BRT (BUS RAPID TRANSIT) Haridan, -; Akhmadali, -; Azwansyah, Heri
JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang Vol 5, No 1 (2018): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI FEBRUARI 2018
Publisher : JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.316 KB) | DOI: 10.26418/jelast.v5i1.24000

Abstract

Dengan pertumbuhan Kota Pontianak yang semakin meningkat dan sesuai denganfungsi Kota Pontianak sebagai Kota Jasa menyebabkan meningkatnya aktifitas masyarakatdi Kota Pontianak. Peningkatan aktifitas masyarakat yang semakin tinggi jugamenyebabkan bertambahnya pergerakan masyarakat yang ditunjukkan dengan semakinbertambahnya jumlah kendaraan di Kota Pontianak.dengan akan dimulainya perubahanuntuk Kawasan Metropolitan Pontianak ini tentu saja akan semakin menambah luasnyadaerah yang dilayani oleh angkutan umum bus kota, hal ini tentu harus diiringi pula denganpelayanan transportasi yang dapat di koordinir dengan baik. Dengan kondisi seperti inimaka kehadiran angkutan massal yang dapat mengangkut penumpang dalam jumlah besardengan efisiensi jaringan jalan seharusnya menjadi pertimbangan. Adapun tujuan daripenelitian ini adalah Menentukan jumlah armada yang optimal dan operasional angkutanumum di area metropolitan pontianak berbasis BRT (Bus Rapid Transit), dan Menganalisisskema pembiayaan atau menghitung besaran subsidi yang dapat diterapkan untuk angkutanumum Kota Pontianak.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan menganalisadata-data sekunder yang di dapat dari instansi-instansi terkait. Analisis yang dilakukanmeliputi analisis jumlah armada, analisis biaya operasional angkutan, dan biaya subsidiyang harus diberikan pemerintah kepada pengelolah BRT (Bus Rapid Transit).Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah aramada yang akan dioperasikan pada masingmasingkoridor adalah 20 armada untuk koridor 1, 12 armada untuk koridor 2 dan 13armada untuk koridor 3 Pendapatan rata-rata yang diperoleh oleh operator per tahun adalahRp. 2.380.970.159,72 pada koridor 1, Rp. 1.264.176.833,40 pada koridor 2, dan Rp2.453.471.979,34, sedangkan besarnya biaya operasional kendaraan (BOK) per tahunadalah Rp. 9.556.597.892,47 pada koridor 1, Rp. 6.439.137.059,55 pada koridor 2, dan Rp.6.236.606.195,22 pada koridor 3. Dengan demikian dapat dilihat bahwa jumlah besaransubsidi untuk masing masing koridor adalah Rp. 7.175.627.732,75 untuk koridor 1 Rp.5.174.960.226,15 untuk koridor 2 Rp. 3.783.134.215,88 untuk koridor 3Kata-kata kunci: Bus Rapid Transit (BRT), Biaya Opersional Kendaraan (BOK),
EVALUASI KINERJA SIMPANG BERSINYAL JALAN MAJOR ALIANYANG – JALAN RAYA DESA KAPUR Rumondang, Sara Paskaria; Akhmadali, -; Azwansyah, Heri
JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang Vol 5, No 2 (2018): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2018
Publisher : JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.171 KB) | DOI: 10.26418/jelast.v5i2.26382

Abstract

Simpang empat Jalan Major Alianyang dan Jalan Raya Desa Kapur merupakan salah satu persimpangan bersinyal di wilayah perbatasan Kota Pontianak yang arus kendaraannya ramai, hal ini disebabkan karena persimpangan ini terletak di wilayah perbatasan dan sebagai salah satu jalur untuk keluar kota yang banyak dilewati kendaraan ringan maupun kendaraan berat yang menyebabkan kemacetan pada jam sibuk di simpang tersebut, maka dari itu diperlukan  pengevaluasian kinerja dari persimpangan. Evaluasi ini dilakukan dengan ketentuan berdasarkan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia tahun 2014. Penelitian ini dilakukan selama 12 jam pukul 06.00-18.00 pada dua hari yaitu hari Sabtu dan Senin. Volume kendaraan kondisi eksiting pada jam sibuk terjadi pukul 15.45-16.45 pada hari Senin, 13 November 2017.Nilai derajat kejenuhan terbesar pada pendekat Jl. Raya Desa Kapur (Barat) didapat 1,94. Dengan tundaan simpang rata-rata 770,34 det/skr tingkat pelayanan simpang kondisi eksisting F (buruk sekali). Karena itu didapat solusi yang dipilih adalah perancangan waktu siklus, pelebaran pendekat, perubahan fase serta perencanaan jembatan layang pada pendekat utara dan selatan dan pada persimpangan dibawahnya masih memakai lampu lalu lintas dengan pengaturan 3 fase untuk mengendalikan lalu lintas yang ada. Hasil dari perubahan ini untuk tahun 2017 didapat derajat kejenuhan dan panjang antrian terbesar pada pendekat pada pendekat Jl. Raya Desa Kapur (Barat) didapat 0,61 m dengan panjang antrian 55,81 m. Tundaan simpang rata-rata 14,45 det/skr, tingkat pelayanan simpang B. Untuk 10 tahun kedepan simpang ini dikatakan masih layak  dengan derajat kejunuhan terbesar 0,64, panjang antrian terbesar 65,12 m pada pendekat barat . Dengan tundaan simpang rata-rata 14,57 det/skr, tingkat pelayanan simpang B. Kata-kata kunci:   simpang bersinyal, PKJI 2014, derajat kejenuhan
EVALUASI KINERJA PELABUHAN RAKYAT NIPAH KUNING Apriani, Rianti; Akhmadali, -; Azwansyah, Heri
JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang Vol 5, No 2 (2018): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2018
Publisher : JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.944 KB) | DOI: 10.26418/jelast.v5i2.27772

Abstract

Pelabuhan Rakyat Nipah Kuning merupakan salah satu pelabuhan yang berada di wilayah Kota Pontianak, terletak ± 7 km dari pusat kota, dengan luas tanah daratan 26.855 m2 dan kolam pelabuhan 10,20 Ha. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kinerja Pelabuhan Rakyat Nipah Kuning pada bulan November 2017. Data yang digunakan dalam evaluasi kinerja pelabuhan ini melalui data primer seperti melakukan pengamatan langsung dan melakukan wawancara terhadap pihak terkait. Adapun data sekunder yang diperoleh yaitu data fisik pelabuhan, data jumlah bongkar muat barang, data jumlah kapal yang bertambat, data karakteristik kapal, layout pelabuhan, pedoman kinerja pelabuhan yang diperoleh dari PT. Pelabuhan Indonesia II (Persero). Dari hasil evaluasi kinerja pelabuhan tersebut diperoleh kinerja arus kapal yang cukup baik berdasarkan standarisasi PT. Pelabuhan Indonesia II (Perero) Cabang Pontianak. Untuk realisasi kinerja bongkar muat barang rata-rata 11,011 ton/jam. Sedangkan realisasi untuk kinerja berdasarkan pemanfaatan utilitas dan sarana penunjang  bulan November 2017 diperoleh BTP 14,164 ton/m dan BOR 33,845%, dimana pada hasil evaluasi ini untuk BTP dan BOR tergolong cukup baik, maka dermaga Pelabuhan Rakyat Nipah Kuning tersebut masih dapat menerima kapal yang lebih banyak untuk melakukan bongkar muat.  Kata-kata kunci: Kinerja pelabuhan, Nipah Kuning, Bert Troughput (BTP), Kinerja Bongkar Muat, Berth Occupancy Ratio (BOR).
Pemanfaatan Batu Bukit Marsela Pada Campuran HRS-WC (Hot Rolled Sheet Wearing – Course) Novianto, Arne; AS, Syafaruddin; Akhmadali, -
JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang Vol 6, No 2 (2019): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2019
Publisher : JeLAST : Jurnal PWK, Laut, Sipil, Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v6i2.35630

Abstract

HRS-WC digolongkan atas 2 jenis gradasi yaitu senjang dan semi senjang. Akan dibuat jenis campuran bergradasi senjang dan semi senjang dari bahan dasar yang sama, yaitu batu pecah dari bukit Marsela Ketapang. Hasil penelitian pada campuran HRS-WC gradasi senjang kadar aspal optimum 6,7%, pada HRS-WC gradasi semi senjang kadar aspal optimum 6,65 %. Campuran HRS-WC gradasi senjang relatif lebih rendah terhadap campuran HRS-WC gradasi semi senjang ditinjau dari Stabilitas yang lebih kecil 6,35 % (dari 1114,35 kg ke 1047,85 kg), Marshall Quotient (MQ) yang lebih kecil 5,01 % (dari 298,42 kg/mm ke 284,18 kg/mm), VFB lebih kecil 2,47 % (dari 73,86 % ke 72,08 %), dan flowlebih kecil 0,14 % (dari 3,75 % ke 3,7 %). Untuk campuran Hot Rolled Sheet – Wearing course (HRS-WC) gradasi semi senjang yang lebih rendah terhadap campuran Hot Rolled Sheet – Wearing course (HRS-WC) gradasi senjang di tinjau dari VIM yang lebih kecil 1,09 % (dari 5,29 % ke 4,77 %), VMA lebih kecil dengan selisih 0,41 % (dari 18,99 % ke 18,25 %). Kata kunci : Gradasi Senjang dan Semi Senjang, Batu Bukit Marsela, Lataston (HRS-WC), Bina Marga 2010 (Revisi 3).