Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Analisis fisik serta sensori kue kering dengan campuran tepung mocaf, oats, dan bekatul Monika Rahardjo; Kristiawan Prasetyo Agung Nugroho; Greis Saibele

Publisher : Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Yudharta, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/tp.v12i2.2357

Abstract

This research aims to analyze the physical and sensory characteristics of cookies’ formulations using mocaf-oats-rice bran’s flour mixture. Five formulations used in this research consist of mocaf-oats-rice bran’s flour mixture namely F1 (100%-0%-0%), F2 (70%-15%-15%), F3 (50%-25%-25%), F4 (30%-35%-35%), and F5 (0%-50%-50%). The result showed that all cookies formulation included in the category of “high fiber” except for cookies Formulation 4. The highest value of hardness was cookies Formulation 1 and significantly different from the other formulations. Decreasing mocaf flour composition in the mixture and increasing additional oats and rice bran composition have a significant correlation on cookies’ hardness. Based on sensory evaluation using rating preference, it was found that the highest rating for color, texture, and overall parameters obtained by cookies Formulation 4, while the highest rating for taste parameter obtained by cookies Formulation 5. Cookies’ formulation that recommended to use as utilization of mocaf flour was Formulation 4 because it had the highest rating for overall parameter, as well as highest rating for color and texture.
Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur pada Mahasiswi Asrama Universitas Kristen Satya Wacana Adi Idolla Nenobanu; Maria D. Kurniasari; Monika Rahardjo - UKSW Salatiga
Indonesian Journal on Medical Science Vol 5 No 1 (2018): IJMS 2018
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.418 KB)

Abstract

Abstract: Fruit and vegetable consumption In teenagers are still many who do not meet the tumpeng balanced nutrition recommendation that is still less than 3-5 servings per day. Low fruit and vegetable consumption in teens can cause a variety of degenerative diseases in adulthood and seniors. This research aims to identify factors that are associated with the availability of fruit and vegetables, preferences, pocket money, fast food, the influence of pears, mass media/advertising and nutritional knowledge with behavior fruit and vegetable consumption on coed dorm SWCU. The design of this research is quantitative descriptive using the correlation study with a total sample of research as many as 50 people. Data collection conducted include the characteristics of the students (the availability of fruit and vegetables, preferences, pocket money, fast food, the influence of peers, the mass media and knowledge of nutrition). Results of the study showed that 66% of the Sorority are consuming less fruit and vegetables. Factors associated with consumption of fruits and vegetables is fast food.Keywords: Student, fast food, eating behavior                                  Abstrak: Konsumsi buah dan sayur pada remaja masih banyak yang belum memenuhi anjuran Tumpeng Gizi Seimbang yaitu masih kurang dari 3-5 porsi per hari. Rendahnya konsumsi buah dan sayur pada remaja dapat menyebabkan berbagai penyakit degeneratif di masa dewasa dan lanjut usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan ketersediaan buah dan sayur, kesukaan, uang saku, fast food, pengaruh teman sebaya, media massa/iklan dan pengetahuan gizi dengan perilaku konsumsi buah dan sayur pada mahasiswi asrama UKSW. Desain penelitian ini menggunakan kuantitatif deskriptif dengan correlation study dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 50 orang. Pengumpulan data yang dilakukan meliputi karakteristik mahasiswa (ketersediaan buah dan sayur, prefalensi/kesukaan, uang saku, fast food, pengaruh teman sebaya, media massa dan pengetahuan gizi). Hasil penelitian menunjukan bahwa sebesar 66% mahasiswi kurang mengonsumsi buah dan sayur. Faktor yang berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur yaitu fast food. Kata Kunci: Mahasiswi, fast food, perilaku makan
Pengaruh Perbandingan Tepung Biji Teratai Putih (Nymphaea pubescens Willd) Dengan Subtitusi Tepung Terigu Terhadap Karakteristik Sensori Dan Fisikokimia Kukis (Cookies) Rahardjo, Monika; Nugroh, Pulung; Hulu, Markus
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol 7, No 3 (2022): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN, UNIVERSITAS HALU OLEO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jstp.v7i3.25638

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan tepung biji teratai dan tepung terigu dilihat dari karakteristik sensori dan fisikokimianya. Penelitian ini menggunakan enam perlakuan meliputi F1 (100% tepung biji teratai), F2 (80% tepung biji teratai: 20% tepung terigu), F3 (60% tepung biji teratai: 40% tepung terigu), F4 (40% tepung biji teratai: 60% tepung terigu), F5 (20% tepung biji teratai: 80% tepung terigu), dan F6 (100% tepung terigu). Berdasarkan hasil perhitungan analysis of variance (ANOVA) pada α = 5%, terdapat perbedaan nyata pada nilai hardness untuk perlakuan 2 dan kontrol, tetapi nilai work tidak berbeda nyata dengan semua perlakuan. Berdasarkan uji organoleptik yang tertinggi, maka dilakukan uji proksimat pada beberapa perlakuan meliputi F3, F4, F5, dan F6 sebagai kontrol. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kadar protein tertinggi dan kadar air terendah diperoleh pada F3, kadar lemak dan abu diperoleh pada F4, dan kadar karbohidrat tertinggi pada F5. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dari semua parameternya (warna, aroma, rasa, tekstur, dan keseluruhan) perlakuan 4 memiliki nilai tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya.Kata kunci: biji teratai, kukis, sensori dan fisikokimia.
KARAKTERISTIK FISIK, SENSORI, SERTA AKTIVITAS ANTIOKSIDAN ROTI GANDUM DENGAN TAMBAHAN SERBUK TEH HIJAU Monika Rahardjo; Franzesca Dwi Wahyu; Erfina Trivena Nadia
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 8 No. 1: January 2020
Publisher : Department of Food Science and Biotechnology, Faculty of Agriculture Technology, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpa.2020.008.01.6

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik fisik, sensori, serta aktivitas antioksidan roti gandum dengan tambahan serbuk teh hijau. Digunakan lima formulasi dalam penelitian ini yang terdiri dari penambahan serbuk teh hijau dengan konsentrasi berbeda yaitu F1 (1%), F2 (2%), F3 (3%), F4 (4%), dan F5 (5%). Hasil uji tekstur menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada karakteristik fisik roti gandum dengan penambahan serbuk teh hijau untuk parameter tingkat kekerasan, kekenyalan, fraktur, daya rekat, dan kekakuan (α=5%). Untuk parameter warna, penambahan serbuk teh hijau dalam formulasi roti gandum menunjukkan penurunan nilai L dan a*, sedangkan nilai b* meningkat secara signifikan (α=5%). Evaluasi sensori tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada parameter tekstur, warna, rasa, dan keseluruhan. Uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa penambahan serbuk teh hijau pada formulasi roti gandum berefek signifikan pada peningkatan aktivitas antioksidan. Kata kunci: Aktivitas antioksidan, Roti gandum, Sifat fisik, Sensori, Serbuk teh hijau
Formulasi Food Bar dari Kacang Lokal Pulau Timor Sebagai Pangan Darurat Dhanang Puspita; Monika Rahardjo; Stella Firsta Kirana
Science Technology and Management Journal Vol. 1 No. 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nasional Karangturi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53416/stmj.v1i2.18

Abstract

Berada pada kondisi wilayah pertemuan lempengan, membuat Pulau Timor memiliki potensi mengalami bencana alam yang dapat berdampak pada kehidupan masyarakat di sana, salah satunya mengenai kebutuhan makanan.Tetapi dengan adanya potensi bahan lokal di Pulau Timor dari hasil pertanian lahan kering (salah satunya yaitu kacangkacangan) dapat dijadikan sebagai produk pangan darurat. Dari kacang lokal dapat dibuat menjadi produk food bar yaitu makanan ready to eat yang praktis dan pembuatannya yang mudah. Produk food bar dari kacang lokal Pulau Timor dibuat menjadi tiga formulasi yang mana menghasilkan kalori sebanyak 106,27 kilo kalori (kkal) pada formulasi 1, 106,29 kkal (formulasi 2), dan 106,68 kkal (formulasi 3) per 30 gram produk. Kemudian produk akan di analisis pemetaan kesukaan dengan uji statistik metode uji Kruskall-Wallis dan uji Mann Whitney U. Secara keseluruhan, nilai rerata formulasi 3 lebih tinggi (3,71 ± 0,750) dibanding formulasi 1 (3,37 ± 0,690) dan formulasi 2 (3,29 ± 0,893) sehingga dapat dikatakan food bar formulasi 3 lebih disukai oleh panelis.
OPTIMASI PEMBUATAN MINUMAN EFFERVESCENT MADU DILIHAT DARI KELARUTAN DAN KANDUNGAN ANTIOKSIDANNYA Dhanang Puspita; Monika Rahardjo; Novita Iswardaningrum
Science Technology and Management Journal Vol. 1 No. 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nasional Karangturi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53416/stmj.v1i2.19

Abstract

Madu merupakan salah satu bahan pangan yang banyak ditemui di Indonesia. Madu merupakan bahan pangan yang mengandung beberapa senyawa dan memiliki sifat antioksidan. Adanya kandungan antioksidan, madu dapatdimanfaatkan untuk menjadi produk seperti minuman effervescent. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahuiaktivitas antioksidan pada minuman effervescent dengan penambahan madu dan mengetahui kelarutan minumaneffervescent madu tersebut. Metode yang digunakan adalah pembuatan effervescent madu, uji kelarutan minumaneffervescent madu, uji organoleptik, dan uji aktivitas antioksidan. Formulasi pada pembuatan effervescent madudibedakan dari jumlah madu yang digunakan yaitu formulasi 1 sebanyak 1,165 gram, sedangkan formulasi 2 sebanyak1,65 gram. Analisa uji organoleptik dilakukan dengan penggunaan parameter rasa, warna, aroma, dan keseluruhansampel. Pada pengukuran kelarutan hanya menggunakan waktu lama larutnya. Pengujian aktivitas antioksidanmenggunakan laruran DPPH sebagai indikator penghambat radikal bebas. Hasil dari uji organoleptik rata-rata panelismenyukai sampel dengan formulasi 2 maltodekstrin. Pada hasil uji aktivitas antioksidan %IC semakin besar dengantingkat konsentrasi madu semakin tinggi pula. Hasil dari uji aktivitas antioksidan tablet effervescent didapatkanformuasi terbaik yaitu pada formulasi 2 maltodekstrin dan formulasi 2 CMC yang memiliki nilai %IC lebih besardibandingkan dengan formulasi 1. Dapat disimpulkan bahwa tinggak kelarutan sampel effervescent madu masih dalamkategori cukup bagus sebab masih dibawah 5 menit.
Effect of Maltodextrin Concentration on Anthocyanin Content and Antioxidant Activity of Rukem Fruits Extract Powder Lydia Ninan Lestario; Melanie Melanie; Monika Rahardjo
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 34 No. 2 (2023): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia bekerjasama dengan Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB University Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6066/jtip.2023.34.2.142

Abstract

Rukem (Flacourtia rukam Zoll. & Mor.) is an Indonesian tropical fruit with purple peel indicating anthocyanin content; therefore, the fruit can be a potential source of natural colorant. However, anthocyanins are commonly unstable and reactive towards temperature, light, and oxygen. For this reason, encapsulation process is an attempt to improve its stability. The aim of this research was to determine the most efficient concentration of maltodextrin to coat the anthocyanins in rukem fruit, considering the total anthocyanin and antioxidant activity. The fruit was extracted with several concentrations of citric acid 0.5, 1, 2, 3, 4, 5 % (b/v), and the optimal concentration was used to extract anthocyanin. The extract was then mixed with maltodextrin at following concentrations: 40, 50, 60, 70, and 80% (w/v). The mixture was homogenized, then spray-dried with spray dryer Lab Plant SD-05, Keison, UK. The dried samples were analyzed for chemical (moisture, ash, pH, anthocyanin, antioxidant activity) and color (L*, a*, b*) properties. The results showed that 5% citric acid and 40% maltodextrin (w/v) gave the most efficient yield of extraction, and the best effects on anthocyanins powder, resulting in the highest antioxidant activity (74.28± 0.41%), total anthocyanins (3.96±0.08 mg/100 g), encapsulation efficiency (19.26±0.41%) and color values of L* 87.46±0.07; a* 16.21±0.09, and b* -1.60±0.02.
Perbandingan Sifat Kimia dan Sensori terhadap Penggunaan Madu, Gula Jagung, dan Gula Pasir pada Fermentasi Kombucha Prasojo, Rachel Immelda Intan; Lestario, Lydia Ninan; Rahardjo, Monika
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol 9, No 3 (2024):
Publisher : JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN, UNIVERSITAS HALU OLEO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jstp.v9i3.47435

Abstract

Masyarakat di Indonesia memiliki kebiasaan meminum teh pada berbagai kesempatan seperti saat makan, bersantai, ketika bertamu, saat perjalanan, saat berada dikantor, dan pada berbagai kesempatan lainnya. Saat ini meminum teh sudah menjadi tren minuman kesehatan dan lifestyle. Teh memiliki khasiat mengurangi risiko penyakit jantung, penyakit kardiovaskuler, dan kanker serta menjadi antidiabetes dan anti-penuaan. Manfaat teh dapat ditingkatkan jika terdapat proses fermentasi didalamnya dengan bantuan mikroorganisme sehingga menghasilkan produk minuman yang disebut kombucha atau tea cider. Pemanis merupakan bahan yang digunakan sebagai nutrisi bagi bakteri dan khamir yang berperan dalam proses pembentukan kombucha dan hasil sampingnya berupa SCOBY. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan pemanis pada fermentasi kombucha terhadap sifat fisikokimia dan sensori yang dihasilkan. Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah deskriptif kuantitatif dengan tahapan penelitian. Beberapa tahap penelitian yang akan dilakukan antara lain pembuatan teh kombucha dengan formulasi gula pasir, madu, dan gula jagung; uji kadar gula; uji aktivitas antioksidan, uji pH; uji sensori; dan analisa data.
Formulation of gluten-free bread using psyllium husk and chia seed seen from physical and sensory characteristics Rahardjo, Monika; Sihombing, Monang

Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/agx.v16i1.5636

Abstract

Introduction: Gluten-free bread is a type of bread product made without gluten, and its consumption has increased in recent years, especially for individuals with celiac disease or driven by health considerations. The absence of gluten in gluten-free bread presents challenges in achieving the desired texture and structure. The incorporation of psyllium husk and chia seed into gluten-free bread formulations offers numerous benefits, both in terms of improving the bread's physical properties. Therefore, this study aims to find gluten-free bread formulations from a mixture of psyllium husk and chia seed seen from physical and sensory characteristics. Methods: This research method consists of the making of gluten-free bread, physical analysis (texture), sensory analysis, and statistical analysis. Results: For physical characteristics, psyllium husk, and chia seed incorporation affect springiness index, chewiness, adhesive force, and adhesiveness parameters in gluten-free bread, while for sensory characteristics several parameters have significant differences, namely aroma, taste, texture, and overall parameter, meanwhile appearance parameter has no significant difference. For the overall parameter, gluten-free bread with only psyllium husk (Formulation 1) received the highest rating preferred by the panelist. Conclusion: The incorporation of psyllium husk and chia seed affects the physical and sensory characteristics of gluten-free bread.
Pemanfaatan air botani dari buah salak pondoh (Salacca zalacca var pondoh) untuk pembuatan roti tawar sourdough Monika Rahardjo; Monang Sihombing

Publisher : Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Yudharta, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/tp.v14i2.4295

Abstract

Indonesia has variety of fruits that have the potential to be used as botanical water in sourdough bread making, especially those with high sugar content. Salak pondoh (Salacca zalacca var pondoh) is one of Indonesia's native fruits that has a distinctive flavor and is favored by the public. This research aims to utilize botanical water from salak pondoh in the making of sourdough bread. This research method consists of several stages, namely making botanical water, making starter, evaluating yeast activity, and white bread production. The analysis performed on white bread includes physical analysis, chemical analysis, and sensory analysis. Yeast activity in this study showed that the use of sourdough starter with the percentage of 30% had the highest activity level of 1.035 ± 0.002 ml/hour. Proximate test results showed significant differences in protein content, water content, and fiber content, while carbohydrate, fat, and ash content were not significantly different. The results of the texture test showed significant differences for hardness and springiness parameters, while for other texture parameters there were no significant differences. Overall, white bread using sourdough starter from salak pondoh can develop well and can be accepted like white bread in general, even in this study white bread with the addition of sourdough starter obtained a higher hedonic rating compared to white bread sample control.