Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Gangguan Kesehatan Akibat Paparan Karbon Monoksida pada Penjual Sate di Pinggir Jalan Putri, Dini Arista; Rosyada, Amrina; Lionita, Widya; Hepiman, Fison
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 13 No. 02 (2024): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v13i02.2595

Abstract

Salah satu parameter pencemaran udara adalah karbon monoksida. Karbon monokisda dihasilkan dari proses pembakaran yang tidak sempurna, salah satunya adalah pembakaran makanan dengan bahan bakar arang yang digunakan oleh penjual sate. Paparan secara terus menerus dapat mengakibatkan munculnya beberapa gangguan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gangguan kesehatan terutama pada tekanan darah, keluhan pernapasan dan mata yang dirasakan oleh pada penjual sate akibat paparan karbon monoksida. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah Cross sectional dengan teknik pengambilan sampel purposive samping. Sebanyak 58 orang ditetapkan menjadi responden penelitian dengan kriteria antara lain orang yang memanggang sate dan berjualan di pinggir jalan dengan menggunakan arang sebagai bahan bakar. Paparan karbon monoksida diukur dengan alat Carbon Monoxide Meter; tekanan darah diukur dengan tensimeter; sedangkan keluhan pernapasan dan mata digali melalui kuesioner. Hubungan antarvariabel dianalisis melalui uji Chi Square. Hasil penelitian didapatkan mayoritas penjual sate terpapar karbon monoksida yang melebihi nilai ambang batas (NAB > 29 mg/m3) sebanyak 62.07 persen dan memiliki hubungan yang signifikan dengan keluhan pernapasan (p value 0.003). Penjual sate yang terpapar karbon monoksida melebihi NAB berisiko 3.208 kali untuk mengalami keluhan pernapasan (batuk, pilek, sesak napas, nyeri dada atau dahak berlebih) selama bekerja. Penjual sate sebaiknya menggunakan alat pelindung diri berupa masker dan melakukan pergantian pekerja saat proses pengipasan sate untuk menghindari paparan karbon monoksida secara terus menerus.
Association Between Community-Based Total Sanitation (CLTS) Pillars and Diarrhea Incidence in Wetland Communities of South Indralaya Trisnaini, Inoy; Pratiningsih, Widya Ayu; Putri, Dini Arista; Juniarni, Annisa; Febriana, Dwita; Safana, Hanifaus; Firdaus, Amirarosa
Gema Lingkungan Kesehatan Vol. 23 No. 4 (2025): Gema Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gelinkes.v23i4.363

Abstract

Diarrhea remains a major global health problem and a leading cause of mortality among children under five, often exacerbated by inadequate sanitation and limited access to clean water. Community-Led Total Sanitation (CLTS) represents a national strategy for preventing environment-based diseases, including diarrhea. However, researchers have not comprehensively studied the effectiveness of each CLTS pillar within specific geographical contexts, such as wetland areas. This study aims to identify the relationship between sanitation factors of Community-Led Total Sanitation (CLTS) pillars and diarrhea incidence in the South Indralaya wetland community. This quantitative research employed a cross-sectional design and selected 100 respondents using a purposive sampling technique. Data were collected through questionnaires and analyzed using chi-square test for bivariate analysis and logistic regression for multivariate analysis. Our results indicated a diarrhea prevalence of 45% among total respondents. Multivariate analysis revealed that two CLTS pillars significantly associated with diarrhea incidence. Pillar 1, concerning latrine availability, showed that households without latrines had a 3.4 times higher risk of experiencing diarrhea (OR = 3.400; 95% CI: 1.037–11.155). Pillar 4, regarding unsafe waste management, also served as a strong predictor, increasing diarrhea likelihood up to 3.296 times (P-value = 0.008; Exp(B) = 3.296; 95% CI: 1.359–7.996). We found that latrine type (P = 0.053) acted as a confounder, which influenced the risk estimation of the main variables in the model. This study concludes that CLTS pillars 1 and 4, related to feces and solid waste management, are key determinants of diarrhea incidence in South Indralaya. Interventions focusing on improving access to and quality of latrines, as well as safe waste management practices, are crucial for reducing diarrhea incidence in the region.
Analisis Faktor Risiko Lingkungan terhadap Kejadian ISPA di Wilayah Lahan Basah Pasca COVID-19: Analisis Multivariat di Palembang Pratiningsih, Widya Ayu; Putri, Dini Arista; Trisnaini, Inoy; Miranda, Miranda; Firzatulloh, Muhammad Buana; Pratama, Raykhan Yoga; Safirah, Salwa; Widiastuti, Selfi; Syabella, Verga
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 25, No 1 (2026): Februari 2026 (In process)
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.72639

Abstract

Latar belakang:  Lahan basah merupakan wilayah berisiko tinggi terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kondisi lingkungan yang kurang memadai. Di masa pasca pandemi COVID-19, paparan polutan rumah tangga cenderung meningkat sementara kepatuhan terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menurun. Kecamatan Kertapati, Palembang merupakan wilayah lahan basah padat penduduk dengan angka kasus ISPA masih tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kondisi fisik rumah, riwayat COVID-19, dan perilaku hidup sehat terhadap kejadian ISPA serta mengidentifikasi faktor risiko yang paling dominan.Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik dengan pendekatan cross sectional terhadap 100 keluarga yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi langsung. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square untuk mengidentifikasi variabel yang berhubungan dengan ISPA, dan analisis multivariat dengan regresi logistik ganda dilakukan untuk menentukan faktor risiko dominan.Hasil: Analisis bivariat menunjukkan tujuh variabel berhubungan dengan kejadian ISPA (p < 0,05), di antaranya jenis lantai, jenis dinding, riwayat COVID-19, status vaksinasi, pengelolaan sampah, keberadaan anggota keluarga perokok, dan aktivitas fisik. Pada analisis multivariat status vaksinasi COVID-19 (p = 0,003; OR = 11,981) sebagai faktor risiko paling dominan, kemudian pengelolaan sampah rumah tangga (p = 0,003; OR = 11,510), dan keberadaan anggota keluarga perokok (p = 0,036; OR = 3,906) juga secara signifikan meningkatkan risiko kejadian ISPA.Simpulan: Status vaksinasi COVID-19 merupakan faktor dominan terhadap ISPA di lahan basah pasca pandemi. Intervensi kesehatan lingkungan yang menekankan pada peningkatan cakupan vaksinasi, pengelolaan sampah yang aman, serta pengendalian perilaku merokok dalam rumah sangat krusial dalam menekan angka kejadian ISPA di masyarakat Kertapati. ABSTRACT Title: Environmental Risk Factors for Acute Respiratory Infection in Post-COVID-19 Wetland Area: A Multivariate Analysis in PalembangBackground: Wetlands are high-risk areas for Acute Respiratory Infections (ARI) due to inadequate environmental conditions. In the post-COVID-19 era, exposure to household pollutants  tends to increase, while adherence to Clean and Healthy Living Behaviors (PHBS)  has decllined. Kertapati District, Palembang—a densely populated wetland area— with high number of ARI cases. This study aims to analyze the association between housing conditions, history of COVID -19 infection, and health behaviors with ARI incidence and to identify the most dominant risk factor.Method: This analytical study employed a cross-sectional design involving 100 families selected through purposive sampling. Data were collected through structured interviews and direct observations. Bivariate analysis using the chi-square test was conducted to identify variables associated with ARI, followed by multivariate logistic regression to determine the dominant risk factors.Results: Bivariate analysis showed that seven variables were significantly associated with the prevalance of ARI (p < 0.05), including type of flooring, type of wall, history of COVID-19, vaccination status, waste management, presence of smoking family members, and physical activity. In the multivariate analysis, COVID-19 vaccination status (p = 0.003; OR = 11.981 was identifiedas the most dominant protective factor, followed by household waste management (p = 0.003; OR = 11.510) and the presence of smoking family members (p = 0.036; OR = 3.906), which were significantly associated with an increased riskof ARI.Conclusion: COVID-19 vaccination status is the dominant factor influencing ARI prevalence in post-pandemic wetland areas. Environmental health interventions that focus on expanding vaccination coverage, promoting safe waste management, and controlling indoor smoking behaviors are essential for reducing ARI cases in the Kertapati community.