Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

The Role of Emotional Intelligence and Problem Focused Coping on the Stress Level of Students in Bali Who Are Writing Their Thesis Winayanti, Ratna Devy; Zulfikar, Zabrina Valeria Putri; Putri, Putu Riana Artyanti; Pramana, Ida Bagus Gde Agung Yoga; Apsary, Ayu Rahmaditha; Anggreni, Ni Wayan Yuli
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 2 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v13i2.15191

Abstract

Thesis preparation is one of the things that has the potential to cause stress for final year students. The stress of thesis preparation is influenced by the ability of students to control their emotions when facing obstacles in the preparation of the thesis so that individuals can think clearly in looking at problems. Stress is also influenced by the way individuals perceive problems and plan problem-solving strategies in the thesis preparation process. This study aims to find out the role of emotional intelligence and problem focus coping on the stress level of students when writing a thesis. Data was collected from 129 students in Bali who were writing their thesis. The stress level scale, emotional intelligence scale, and problem focus coping scale were used to measure these variables. The results of multiple regression showed that emotional intelligence and problem focus coping could explain 47.2% of the stress variant of students who were working on their thesis. This research can provide information so that students can improve and maintain emotional intelligence and problem-focused coping to reduce stress levels in students who are preparing their thesis.Penyusunan skripsi merupakan salah satu hal yang berpotensi menimbulkan stres pada mahasiswa tingkat akhir. Stres penyusunan skripsi dipengaruhi oleh kemampuan mahasiswa untuk mengendalikan emosi pada saat menghadapi hambatan dalam penyusunan skripsi sehingga individu mampu untuk berpikir jernih dalam memandang permasalahan. Stres juga dipengaruhi oleh cara individu memandang permasalahan dan merancanakan strategi pemecahan masalah dalam proses penyusunan skripsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kecerdasan emosional dan problem focus coping terhadap tingkat stres mahasiswa pada saat menulis skripsi. Data dikumpulkan dari 129 mahasiswa di Bali yang sedang menulis skripsi. Skala tingkat stres, skala kecerdasan emosional, dan skala problem focus coping digunakan untuk mengukur variabel-variabel tersebut. Hasil regresi berganda menunjukkan bahwa kecerdasan emosional dan problem focus coping dapat menjelaskan 47,2% varian tingkat stres mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Penelitian ini dapat memberikan informasi agar mahasiswa dapat meningkatkan dan mempertahan kecerdasan emosional serta problem focused coping untuk mengurangi tingkat stres pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi.
Pelatihan Manajemen Stres Kepada Guru SMPN 4 Banjar, Buleleng -Bali Ida Bagus Gde Agung Yoga Pramana; Nuning Indah Pratiwi
Jurnal Abdimas Mandiri Vol. 7 No. 3
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jam.v7i3.3340

Abstract

Guru memiliki peran yang penting di dalam dunia pendidikan. Menjadi guru memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang besar dalam proses pendidikan pada anak. Guru seringkali menghadapi beban kerja yang tinggi. Hal tersebut membuat guru rentan untuk terkena stres. Gejala stres di kalangan guru ditemukan bahwa ada kalanya stres yang dialami guru menyebabkan timbulnya perasaan negatif yang sebenarnya tidak diinginkan seperti kemarahan. Selain itu stres juga membuat guru merasa cemas yang termanifestasi dalam sikap antisipasif, kurang sabar dan cenderung kritikal terhadap siswa. Pada profesi guru, jika kondisi tersebut dibiarkan berkepanjangan maka akan memengaruhi proses belajar mengajar. Stres yang tidak ditangani akan menimbulkan dampak negatif pada kondisi psikologis guru maka dari itu perlu solusi yang tepat untuk meminimalisir dampak negatif tersebut. Hal ini yang mendasari terlaksananya kegiatan pengabdian masyarakat ini. Pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan memberikan pelatihan manajemen stres kepada guru di SMP Negeri 4 Banjar Kabupaten Buleleng Bali. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah metode pelatihan dan edukasi. Edukasi yang diberikan terkait dengan stres dan strategi koping. Pelatihan yang diberikan berupa latihan relaksasi dengan menggunakan teknik deep breathing. Kegiatan pengabdian masyarakat ini memberikan manfaat bagi guru di SMPN 4 Banjar yakni meningkatkan pemahaman dan memberikan kemampuan yang baru dalam mereduksi stres yang dirasakan sehingga diharapkan mampu melakukan kegiatan mengajar dengan lebih baik.
Pengaruh Akulturasi Budaya Terhadap Etos Kerja Pedagang Pasar Tradisional Gianyar Melalui Intercultural willingness to communicate Pratiwi, Kadek Ayu Dewi; Latupeirissa, Jonathan Jacob Paul; Pramana, Ida Bagus Gde Agung Yoga; Yanti, Ni Kadek Winda
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 1: Desember 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i1.12923

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh akulturasi budaya terhadap etos kerja pedagang pasar tradisional di Kabupaten Gianyar dengan Intercultural Willingness to Communicate (IWTC) sebagai variabel mediasi. Data dikumpulkan melalui metode kombinatif daring dan luring dari 101 responden yang merepresentasikan keberagaman sosial-budaya pedagang pasar tradisional, terutama dominasi perempuan usia produktif dengan tingkat pendidikan menengah dan latar etnis heterogen. Analisis menggunakan Partial Least Square (PLS) menunjukkan bahwa akulturasi budaya berpengaruh positif dan signifikan terhadap IWTC dan etos kerja. Hasil uji mediasi mengonfirmasi peran IWTC sebagai mediator parsial dalam hubungan antara akulturasi budaya dan etos kerja, dengan nilai koefisien mediasi sebesar 0,336, t-statistik 2,845, dan p=0,004, yang signifikan pada tingkat kepercayaan 95%. Temuan ini menegaskan bahwa akulturasi budaya mendorong pedagang untuk lebih terbuka dan berkomunikasi lintas budaya, yang kemudian memperkuat etos kerja, seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan profesionalisme. Studi ini memberikan kontribusi penting dalam memahami dinamika komunikasi antarbudaya dan pengembangan etos kerja di pasar tradisional yang multikultural, serta menawarkan implikasi praktis untuk mendukung keberlanjutan pasar tradisional di era persaingan pasar modern dan digitalisasi.
Peran Regulasi Emosi sebagai Moderator dalam Hubungan antara Stres Akademik dan Cyberslacking: Tantangan Sosial di Era Digital Ida Bagus Gde Agung Yoga Pramana; Putu Riana Artyanti Putri; Ratna Devy Winayanti; Ni Wayan Yuli Anggreni; Ni Nyoman Imas Pradnyanita Wistarini; Putu Ayu Onik Pratidina
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 2 (2025): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i2.29601

Abstract

Academic stress, stemming from elevated academic expectations, frequently incites maladaptive behaviors such as cyberslacking, defined as engaging in non-academic internet activities during study periods. Emotion regulation, as a skill for a person to manage emotions in an adaptive way, and the presence of social support factors are thought to moderate this link. This study seeks to examine the function of emotion regulation as a moderating factor in the correlation between academic stress and cyberslacking among university students. This research utilizes a quantitative methodology with a correlational framework, encompassing 134 undergraduate students in Denpasar. Data were gathered via online questionnaires and processed with Moderated Regression Analysis (MRA) using SPSS version 25. The findings demonstrate that academic stress exerts a positive and significant influence on cyberslacking (β = 1.300; p < 0.05). Emotion regulation moderates the association between academic stress and cyberslacking (β = 0.019; p < 0.05), indicating that students with high emotion control are more likely to cope with stress without resorting to cyberslacking. The findings indicate that emotion control may act as a protective factor in mitigating the adverse effects of academic stress on cyberslacking.
Kecerdasan Emosional, Komunikasi Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada Mooij di Kota Denpasar Sagung Dara Triana, Anak Agung; Pramana, Ida Bagus Gde Agung Yoga
YUME : Journal of Management Vol 9, No 1
Publisher : Pascasarjana STIE Amkop Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/yume.v9i1.11071

Abstract

This quantitative study aims to evaluate the effect of the work environment, communication, and emotional intelligence on employee performance at Mooij in Denpasar City. The research population consists of all 100 employees of Mooij in Denpasar, and a saturated sampling technique was applied so that the entire population was used as the sample. Data were collected through Likert-scale questionnaires and analyzed using multiple linear regression with the assistance of SPSS. The results indicate that, partially, emotional intelligence and the work environment have a significant negative effect on employee performance, while communication has a significant positive effect. Simultaneously, emotional intelligence, communication, and the work environment are proven to have a significant effect on employee performance. The coefficient of determination shows that most of the variation in employee performance can be explained by these three variables. These findings emphasize the importance of managing emotional factors, effective communication, and creating a conducive work environment to improve employee performance.Keywords: emotional intelligence, communication, work environment, employee performancePenelitian kuantitatif ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh lingkungan kerja, komunikasi, dan kecerdasan emosional terhadap kinerja karyawan di Mooij di Kota Denpasar. Populasi penelitian mencakup seluruh karyawan Mooij di Kota Denpasar yang berjumlah 100 orang, dengan teknik sampling jenuh sehingga seluruh populasi dijadikan sampelData dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan SPSS setelah dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial kecerdasan emosional dan lingkungan kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan dengan arah negatif, sedangkan komunikasi berpengaruh signifikan secara positif terhadap kinerja karyawan. Secara simultan, kecerdasan emosional, komunikasi, dan lingkungan kerja terbukti berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. Nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa sebagian besar variasi kinerja karyawan dapat dijelaskan oleh ketiga variabel tersebut. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan faktor emosional, komunikasi yang efektif, serta penciptaan lingkungan kerja yang kondusif dalam meningkatkan kinerja karyawan.Kata kunci: kecerdasan emosional, komunikasi, lingkungan kerja, kinerja karyawan
The Dilemma of Multi-Role Balinese Working Women in Achieving Self-Harmony Pramana, Ida Bagus Gde Agung Yoga; Saraswati, Ida Ayu Ambarini; Pradhana, I Putu Dharmawan
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 2 (2025): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i2.19088

Abstract

Bali is known for its strong traditions and culture where women play an important role in defending these values. In the midst of modernization, Generation Z women in Bali, especially in Denpasar City and Badung Regency, face challenges in balancing their roles as workers, wives, mothers, and members of indigenous peoples. This study aims to understand how Balinese women workers who marry at a young age achieve harmony in themselves in the midst of the complexity of multi-role undertaken. This research uses a qualitative method with a phenomenological approach. The research sample consisted of four Balinese women generation Z who were married and worked in the government, private, or entrepreneurial sectors in Badung Regency and Denpasar City. Data were collected through in-depth interviews, passive participation observations, and documentation, which were then analyzed using the Miles and Huberman models with the help of NVivo 14 software. The results of the study show that Balinese female workers experience role conflicts, time conflicts, and behavioral conflicts, which have an impact on work-family conflict and work stress. The main factors that affect this imbalance include triple roles, quarter life crisis, marriage culture shock, and job hopping. To overcome these challenges, the informants apply coping strategies such as work-life balance strategies, role management, time management, outsourcing, and family support. The conclusion of this study confirms that although Balinese women workers strive to achieve harmony within themselves, they still face challenges in fulfilling the aspect of work-life balance. Family support and effective adaptation strategies have an important role in achieving their harmonization of multi-roles. Bali dikenal dengan tradisi dan budaya yang kuat di mana perempuan memainkan peran penting dalam mempertahankan nilai-nilai tersebut. Di tengah modernisasi, perempuan generasi Z di Bali, khususnya di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan peran sebagai pekerja, istri, ibu, dan anggota masyarakat adat. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana pekerja wanita Bali yang menikah pada usia muda mencapai harmonisasi dalam dirinya di tengah kompleksitas multi peran yang dijalani. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Sampel penelitian terdiri dari empat wanita Bali generasi Z yang telah menikah dan bekerja di sektor pemerintahan, swasta, atau wirausaha di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipasi pasif, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman dengan bantuan perangkat lunak NVivo 14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja wanita Bali mengalami konflik peran, konflik waktu, dan konflik perilaku, yang berdampak pada work-family conflict serta work stress. Faktor utama yang memengaruhi ketidakseimbangan ini meliputi triple roles, quarter life crisis, marriage culture shock, dan job hopping. Untuk mengatasi tantangan tersebut, para informan menerapkan strategi coping seperti work-life balance strategies, manajemen peran, manajemen waktu, outsourcing, serta dukungan keluarga. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa meskipun pekerja wanita Bali berupaya mencapai harmonisasi dalam dirinya, mereka masih menghadapi tantangan dalam memenuhi aspek work-life balance. Dukungan keluarga dan strategi adaptasi yang efektif memiliki peran penting dalam mencapai harmonisasi diri mereka menjalani multi peran.
MENINGKATKAN KESADARAN MASYARAKAT TERHADAP BAHAYA STYROFOAM DAN PENGENALAN KOTAK SERAT BAMBU SEBAGAI SOLUSI RAMAH LINGKUNGAN DI DUSUN PONDOK PURNAWIRA Komang Widhya Sedana Putra P; Putu Amanda Yuniantari Dewi; Ida Bagus Gde Agung Yoga Pramana
Studi Kasus Inovasi Ekonomi Vol. 9 No. 01 (2025)
Publisher : Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/skie.v9i01.39955

Abstract

Penggunaan styrofoam sebagai wadah makanan masih menjadi kebiasaan masyarakat meskipun diketahui memiliki dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan. Styrofoam sulit terurai, mencemari ekosistem, serta mengandung senyawa kimia berbahaya seperti stirena yang dapat berisiko bagi kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di Dusun Pondok Purnawira mengenai bahaya styrofoam dan memperkenalkan kotak serat bambu sebagai solusi alternatif yang lebih ramah lingkungan.Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi, penyuluhan, demonstrasi, dan survei menggunakan kuesioner untuk mengukur tingkat kesadaran masyarakat sebelum dan sesudah kegiatan sosialisasi. Kegiatan edukasi dilakukan melalui Sosialisasi secara Door to Door mengenai bahayanya Styrofoam dan pengenalan Kotak Serat Bambu sebagai solusi Ramah Lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah diberikan sosialisasi, terjadi peningkatan pemahaman masyarakat mengenai dampak negatif styrofoam dan manfaat penggunaan kotak serat bambu. Sebelum sosialisasi, sebagian besar masyarakat belum mengetahui bahaya styrofoam bagi kesehatan dan lingkungan. Setelah diberikan edukasi, lebih dari 80% peserta menyatakan bersedia beralih ke penggunaan kotak serat bambu sebagai wadah makanan sehari-hari. Kesimpulan Penelitian ini berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak buruk styrofoam serta mendorong penggunaan kotak serat bambu sebagai alternatif ramah lingkungan. Untuk mempercepat adopsi kotak serat bambu, disarankan adanya dukungan dari pemerintah dan pelaku usaha dalam penyediaan produk ini dengan harga yang lebih terjangkau serta sosialisasi yang lebih luas kepada masyarakat.