Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Peningkatan Kesadaran Siswa Tentang Pengelolaan Sampah Melalui Sosialisasi Dan Pelatihan Pembuatan Ecobrick Sadewa, I Gusti Ngurah Agung Arya; Pramana, Ida Bagus Gde Agung Yoga; Putri, Putu Riana Artyanti; Winayanti, Ratna Devy
Jurnal Abdimas Mandiri Vol. 8 No. 3
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jam.v8i3.4612

Abstract

Permasalahan pengelolaan sampah plastik di lingkungan sekolah, khususnya di SMPN 3 Manggis, Kabupaten Karangasem, masih menjadi tantangan yang perlu diatasi. Akumulasi Sampah plastik dan kurangnya kesadaran siswa terhadap pentingnya pengelolaan sampah mengakibatkan perlunya upaya edukatif untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengatasi masalah pengelolaan sampah dengan memberikan sosialisasi  pelatihan pembuatan ecobrick sebagai salah satu solusi pengelolaan sampah plastik. Kegiatan ini diawali dengan sosialisasi konsep daur ulang dan pengelolaan sampah berbasis metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle), diikuti dengan pelatihan praktis pembuatan ecobrick dari limbah plastik yang telah dikumpulkan. Hasil dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa para siswa mampu mengaplikasikan materi yang telah diberikan dengan baik yang dibuktikan melalui keberhasilan siswa dalam membuat ecobrick berkualitas. Setiap kelompok siswa menghasilkan ecobrick dengan kepadatan dan kerapatan yang memenuhi standar, sehingga dapat digunakan sebagai produk daur ulang yang bermanfaat. Keberhasilan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini tidak hanya tercermin dari aspek teknis pembuatan ecobrick, tetapi juga dari partisipasi aktif dan antusiasme siswa selama proses pelatihan. Hasil akhir dari pelatihan ini adalah sejumlah ecobrick yang siap digunakan, menunjukkan bahwa siswa mampu menerapkan metode pengelolaan sampah yang telah dipelajari dengan baik. Kegiatan pengabdian masyarakat ini memberikan hasil yang baik bagi siswa dan guru SMPN 3 Manggis dalam peningkatan pemahaman dalam pengelolaan sampah dan keterampilan siswa dalam mengurangi sampah plastik dengan membuat ecobrick. Hasil dari kegiatan ini mendukung upaya pengurangan limbah plastik di lingkungan sekolah secara berkelanjutan.
Let's Become A Humanist Communicator! The Importance of Interpersonal Communication Skills to Improve Group Cohesion Artyanti Putri, Putu Riana; Winayanti, Ratna Devy; Artayasa, I Nyoman; Pramana, Ida Bagus Gde Yoga; Apsari, Ayu Rahmadita; Anggreni, Ni Wayan Yuli
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 2 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i2.15207

Abstract

The adolescent phase is a very critical development spear in life. Adolescents who have entered the age of high school students have experienced several significant changes that include emotional, cognitive, and social. School life not only revolves around understanding the material and working on tasks individually, but also includes good social interaction. In response to this, students are required to be able to blend in well to achieve social interaction with peers. It is important to have attachment between students to avoid prolonged conflicts between students and student groups. However, there are still many cases of conflict that occur due to low adhesion between students at school. The purpose of this study is to improve group cohesiveness by providing interpersonal communication training. The assumption of this interpersonal communication training is that by improving the interpersonal communication skills of participants, it will increase group cohesiveness in participants as well. This study is experimental research conducted on 14 students of class X IPS 1. There was a significant difference between the cohesiveness score of the group before and after the training with a sig value = 0.009 (p > 0.05), which showed that there was an increase in the cohesiveness score of the group of trainees. Based on the results of the research found, there was a change in behavior in class X IPS 1 student to become more blended and have more attachment to each other in class so that the classroom atmosphere became more synergistic and harmonious.Fase remaja menjadi tombak perkembangan yang sangat kritis di kehidupan. Remaja yang sudah memasuki usia peserta didik SMA telah mengalami sejumlah perubahan signifikan yang mencakup emosi, kognitif, dan sosial. Kehidupan sekolah tidak hanya berputar pada pemahaman materi dan pengerjaan tugas secara individu, tetapi juga mencakup interaksi sosial yang baik. Menanggapi hal tersebut, siswa diharuskan mampu untuk berbaur dengan baik guna mencapai interaksi sosial dengan teman sebaya. Penting memiliki kelekatan antar siswa untuk terhindar dari konflik berkepanjangan antar siswa maupun kelompok siswa. Akan tetapi, masih banyak sekali kasus konflik yang terjadi akibat rendahnya kelekatan antar siswa di sekolah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kohesivitas kelompok dengan memberikan pelatihan komunikasi interpersonal. Asumsi dari pelatihan komunikasi interpersonal ini adalah dengan meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal peserta maka akan meningkatkan kohesivitas kelompok pada peserta pula. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang dilakukan terhadap 14 orang siswa kelas X IPS 1. Terdapat perbedaan yang yang signifikan antara skor kohesivitas kelompok sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan dengan nilai sig = 0,009 (p > 0,05), hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor kohesivitas kelompok peserta pelatihan. Berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan, terjadi perubahan perilaku pada siswa-siswa kelas X IPS 1 menjadi lebih berbaur dan lebih memiliki kelekatan antar satu sama lain di kelas sehingga suasana kelas menjadi lebih bersinergi dan rukun.
Positive Parenting Training on the Quality of Maternal Care with Early Childhood at SPS Teratai Anggreni, Ni Wayan Yuli; Swasti, Idei Khurnia; Putri, Putu Riana Artyanti; Winayanti, Ratna Devy; Pramana, Ida Bagus Gde Yoga; Apsari, Ayu Rahmadita
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 3 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i3.16098

Abstract

Good quality care can mean that parents are able to provide care that suits their child's needs. Good quality in parenting is related to parents' knowledge about positive parenting. Positive parenting is a parenting style that balances warmth and appreciation with the rules and discipline that parents apply to their children. This research aims to determine the effect of positive parenting training on the quality of care for mothers of early childhood at SPS Teratai. The subjects of this research were mothers of early childhood children aged 2-6 years at SPS Teratai. The measuring tool used is the parenting quality scale from Efnita (2014). The results of the research show that the statistical test using the Wilcoxon Signed Rank Test using the SPSS 21.00 for Windows application shows a probability value of 0.027 (p<0.05). This shows that there is a change in the quality of parenting between the groups before and after positive parenting training. The results of the FGD also showed that participants learned about positive parenting which focuses on reducing negative parental behavior in caring for children, increasing attention to positive behavior in children and establishing empathetic closeness to children, carrying out more positive discipline so that they do not use violence either physically. verbal and emotional.Kualitas pengasuhan yang baik dapat bermakna bahwa orangtua mampu memberikan pengasuhan yang sesuai dengan kebutuhan dari anaknya. Kualitas yang baik dalam pengasuhan berkaitan dengan pengetahuan orangtua tentang pengasuhan yang positif. Pengasuhan positif adalah pola asuh yang menyeimbangkan antara kehangatan serta pengahargaan dengan aturan dan disiplin yang diterapkan orangtua kepada anaknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan pengasuhan positif terhadap kualitas pengasuhan ibu dari anak usia dini di SPS Teratai. Subjek penelitian ini adalah ibu dari anak usia dini yang berusia 2-6 tahun di SPS Teratai. Alat ukur yang dipakai adalah skala kualitas pengasuhan dari Efnita (2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari uji statistik dengan uji beda Wilcoxon Signed Rank Test dengan bantuan aplikasi SPSS 21.00 for windows menunjukkan nilai probabilitas 0,027 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perubahan kualitas pengasuhan antara kelompok sebelum dan sesudah pelatihan pengasuhan positif. Hasil FGD juga menunjukkan bahwa peserta belajar tentang pengasuhan positif yang berfokus untuk mengurangi perilaku negatif orangtua dalam melakukan pengasuhan kepada anak, meningkatkan perhatian pada perilaku positif pada anak dan menjalin kedekatan yang penuh empati kepada anak, melakukan disiplin yang lebih positif sehingga tidak menggunakan kekerasan baik secara verbal maupun emosional.
Representasi Komunikasi Anak Autisme Sebagai Saksi Di Persidangan Dalam Film “Innocent Witness” : Sebuah Kajian Semiotika John Fiske Indrayani, Ni Kadek Ayu; Winayanti, Ratna Devy; Haes, Putri Ekaresty
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4355

Abstract

Penelitian ini menganalisis representasi komunikasi anak autisme sebagai saksi di persidangan dalam film Innocent Witness dengan menggunakan teori semiotika John Fiske. Fokus penelitian terletak pada bagaimana tanda-tanda verbal maupun nonverbal dalam film merepresentasikan dinamika komunikasi anak autisme dalam konteks sosial dan hukum. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan tujuan menggambarkan serta menafsirkan makna tanda yang muncul melalui adegan, dialog, dan ekspresi karakter. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi film, wawancara dengan ahli komunikasi dan psikologi anak, serta studi dokumen pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi komunikasi anak autisme dalam film ini ditampilkan melalui cara tokoh Ji-woo memberi respons terhadap stimulus sosial, penggunaan bahasa tubuh yang khas, serta keterbatasan dalam kemampuan verbalnya. Melalui konsep level realitas, representasi, dan ideologi dari John Fiske, film ini memperlihatkan bahwa komunikasi anak autisme sangat dipengaruhi oleh cara masyarakat mendefinisikan “normalitas” dalam interaksi. Film tersebut juga menekankan bahwa perbedaan cara berkomunikasi bukanlah bentuk penyimpangan, melainkan variasi yang perlu dipahami. Selain itu, film ini menyoroti pentingnya empati dan penerimaan dalam proses komunikasi, terutama di ruang persidangan yang menuntut akurasi, kejujuran, dan kejelasan pernyataan saksi. Melalui representasi ini, Innocent Witness memberikan gambaran bahwa pemahaman terhadap karakteristik komunikasi autistik sangat diperlukan agar proses hukum dapat berlangsung secara adil dan inklusif.
Peran Regulasi Emosi sebagai Moderator dalam Hubungan antara Stres Akademik dan Cyberslacking: Tantangan Sosial di Era Digital Ida Bagus Gde Agung Yoga Pramana; Putu Riana Artyanti Putri; Ratna Devy Winayanti; Ni Wayan Yuli Anggreni; Ni Nyoman Imas Pradnyanita Wistarini; Putu Ayu Onik Pratidina
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 2 (2025): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i2.29601

Abstract

Academic stress, stemming from elevated academic expectations, frequently incites maladaptive behaviors such as cyberslacking, defined as engaging in non-academic internet activities during study periods. Emotion regulation, as a skill for a person to manage emotions in an adaptive way, and the presence of social support factors are thought to moderate this link. This study seeks to examine the function of emotion regulation as a moderating factor in the correlation between academic stress and cyberslacking among university students. This research utilizes a quantitative methodology with a correlational framework, encompassing 134 undergraduate students in Denpasar. Data were gathered via online questionnaires and processed with Moderated Regression Analysis (MRA) using SPSS version 25. The findings demonstrate that academic stress exerts a positive and significant influence on cyberslacking (β = 1.300; p < 0.05). Emotion regulation moderates the association between academic stress and cyberslacking (β = 0.019; p < 0.05), indicating that students with high emotion control are more likely to cope with stress without resorting to cyberslacking. The findings indicate that emotion control may act as a protective factor in mitigating the adverse effects of academic stress on cyberslacking.
Hubungan Antara Trust dengan Konflik Interpersonal Pada Dewasa Awal yang Menjalani Hubungan Pacaran Jarak Jauh Ratna Devy Winayanti; Putu Nugrahaeni Widiasavitri
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 3 No. 1 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i01.p02

Abstract

Long-distance relationship has now become a social trend among the community because of the increase in educational attainment of men and women. Trust is a prerequisite of success in a long-distance relationship, and it is important to minimize conflict. This study aims to determine the correlation between trust and interpersonal conflict among early adulthood initial long-distance relationship.Subjects in this study were 100 student of Udayana University. Measuring instruments used are the trust scale (34 items; rxx` = 0.913) and interpersonal conflict scale (33 items; rxx` = 0.878). Data were processed using Pearson Product Moment analysis and simple linear regression. Statistical analysis show, there is significant correlation between trust and interpersonal conflict, with a negative direction (r = -0.325 ; p = 0.001). The coefficient of determination obtained for 0.106 which means that 10.6% of trust variable can explaine variance that occurs in conflict interpersonal variable. Keywords: trust, interpersonal conflict, long-distance relationship, early adulthood
Representasi Pemberdayaan Perempuan dalam Konten Inspiratif Instagram @rahasiagadis: Analisis Framing Model Pan dan Kosicki Rini, Ni Putu Meyta Artika; Winayanti, Ratna Devy
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5940

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi pemberdayaan perempuan dalam isu kesehatan mental yang disajikan melalui konten inspiratif pada akun Instagram @rahasiagadis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki, yang mencakup empat struktur utama, yaitu struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Data penelitian diperoleh dari sejumlah unggahan konten inspiratif yang secara khusus membahas pengalaman kesehatan mental perempuan, seperti kelelahan emosional, pengelolaan emosi, penerimaan diri, refleksi diri, serta keterkaitan kondisi mental dengan dinamika kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akun @rahasiagadis secara konsisten membingkai kesehatan mental perempuan sebagai pengalaman manusiawi yang normal, sah, dan layak untuk divalidasi. Struktur sintaksis ditampilkan melalui alur narasi yang reflektif dan bertahap, yang mengajak audiens memahami proses emosional secara perlahan. Struktur skrip menempatkan perempuan sebagai subjek aktif dalam proses pemulihan dan pertumbuhan emosional, bukan sekadar objek penderita. Struktur tematik menekankan pentingnya penerimaan diri, kesadaran emosional, dan ketahanan mental sebagai bentuk pemberdayaan perempuan. Sementara itu, struktur retoris memanfaatkan bahasa afirmatif, ilustrasi visual bernuansa lembut, serta metafora yang dekat dengan pengalaman sehari-hari untuk membangun kedekatan emosional dengan audiens. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa media sosial, khususnya Instagram, dapat berfungsi sebagai ruang suportif dalam pemberdayaan perempuan dengan menormalisasi pengalaman emosional serta meningkatkan kesadaran kesehatan mental secara empatik dan non-menghakimi.
Membangun Kepercayaan Komunitas Crypto Melalui Komunikasi Interpersonal Digital di Telegram Pramana, I Made Dwi; I.G.A.A. Dewi Sucitawathi Pinatih; Putu Suparna; Ratna Devy Winayanti
JISPENDIORA Jurnal Ilmu Sosial Pendidikan Dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2026): April: Jurnal Ilmu Sosial, Pendidikan Dan Humaniora (JISPENDIORA)
Publisher : Badan Penerbit STIEPARI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56910/jispendiora.v5i1.3499

Abstract

This study aims to explore the patterns of digital interpersonal communication in building customer trust to join the Billionaire Trader crypto education community through the Telegram social media platform. The research was motivated by the widespread occurrence of crypto investment and trading fraud, which has led to declining public trust, making effective communication crucial in restoring confidence. This study employs a descriptive qualitative approach, with data collected through observation, in-depth interviews with the community owner, mentors, and members, as well as document analysis. The findings reveal that the digital interpersonal communication pattern applied by mentors, based on the components of the Source Credibility Theory—expertise, trustworthiness, and attractiveness—proves significantly effective in fostering customer trust. Expertise is reflected through accurate market analysis, trustworthiness through transparent interactions, and attractiveness through a personal and responsive communication style. The study concludes that in high-risk environments such as crypto trading, credible digital interpersonal communication serves as a strategic foundation for sustaining community engagement. These findings contribute to the practical management of digital communities and the theoretical development of interpersonal communication in virtual settings.
Dinamika Komunikasi Interpersonal Generasi Z sebagai Digital Native Pada Pengunjung Imadji Coffee Kota Denpasar Septiany, Ni Ketut Dica; Winayanti, Ratna Devy
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.37262

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika komunikasi interpersonal Generasi Z sebagai digital native pada pengunjung Imadji Coffee Kota Denpasar serta memahami bagaimana karakteristik digital memengaruhi proses keterbukaan diri dan kedekatan relasional dalam interaksi tatap muka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap informan Generasi Z yang merupakan pengunjung aktif, serta satu informan pendukung dari pihak karyawan. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, kategorisasi, dan interpretasi dengan menggunakan kerangka teori penetrasi sosial untuk menjelaskan proses perkembangan hubungan interpersonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi komunikasi Generasi Z berkembang secara bertahap dari percakapan ringan menuju diskusi personal seiring meningkatnya frekuensi pertemuan dan durasi kebersamaan. Meskipun informan merupakan digital native yang terbiasa menggunakan media sosial, komunikasi tatap muka tetap menjadi pilihan utama karena memungkinkan ekspresi emosi, pemahaman konteks, dan respons langsung yang memperkuat kedekatan hubungan. Faktor lingkungan fisik coffee shop juga berpengaruh terhadap kualitas komunikasi, di mana suasana nyaman mendukung keterbukaan, sedangkan kebisingan dapat menghambat percakapan mendalam. Kesimpulannya, karakteristik digital native pada Generasi Z tidak mengurangi kualitas komunikasi interpersonal, tetapi membentuk pola interaksi yang adaptif dengan memadukan komunikasi digital dan langsung dalam membangun relasi sosial.
Penerapan Model AISAS dalam Komunikasi Pemasaran Digital melalui Media Sosial Putu Chintya Dewi; Ratna Devy Winayanti
Jurnal Pustaka Komunikasi Vol 9, No 1 (2026): Accredited by Kemendikbud Dikti SK No. 79/E/KPT/2023
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/pustakom.v9i1.6214

Abstract

The development of digital technology has fundamentally transformed the landscape of marketing communication, where consumers now play a more active role in seeking information and sharing experiences through social media. Traditional consumer behavior models such as AIDA are increasingly limited in explaining the complexity of digital consumer behavior, which is more interactive and non-linear. This study aims to describe the application of the AISAS model in digital marketing communication through social media and to analyze its effectiveness compared to traditional marketing models. The research employs a systematic literature review by examining and synthesizing relevant scientific publications related to the implementation of the AISAS model on social media platforms obtained from academic databases. The findings indicate that the AISAS model, consisting of five stages (Attention, Interest, Search, Action, Share), can be optimized on different social media platforms through appropriate content strategies, information search optimization, and community engagement. The Search and Share stages emerge as key differentiating elements that reflect the characteristics of digital consumers who actively seek information and share experiences online. The implementation of AISAS has been shown to improve brand awareness, customer engagement, and conversion rates in digital marketing strategies. This study contributes to the academic literature by providing a conceptual synthesis of AISAS model applications within the social media ecosystem and highlighting its relevance as a framework for understanding digital consumer behavior in contemporary marketing communication.