Claim Missing Document
Check
Articles

DIVERSIFIKASI PENGOLAHAN TELUR AYAM RAS DENGAN METODE PENGGARAMAN UNTUK PENGUATAN EKONOMI MASYARAKAT DI DESA JATIPAMOR Dini Widianingrum; Dede Salim Nahdi; Dadang Sudirno
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 4 (2021)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.451 KB) | DOI: 10.31949/jb.v2i4.1592

Abstract

Telur merupakan makanan sumber protein hewani yang baik bagi masyarakat, murah harganya, dan mudah diperoleh. Kandungan nutrisi telur yang lengkap dapat meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tercipta daya tahan tubuh yang baik. Selain itu juga untuk penguatan ekonomi masyarakat di masa pandemic dan masa kebiasaan baru ini. Masyarakat banyak yang kehilangan pekerjaan karena mobilitasnya dibatasi. Sehingga perlunya produk baru yang berkualitas baik, mudah diolah, harga terjangkau, dan mudah dipasarkan antara lain telur asin. Umumnya telur asin dari telur itik, namun untuk diversivikasi pengolahan telur juga bisa dari telur ayam ras. Diversifikasi pengolahan telur ayam ras ditambah dengan promosi era digital ini diharapkan masyarakat Desa Jatipamor Kecamatan Panyingkiran Kabupaten Majalengka sehat badan dan kuat ekonomi di masa kebiasaan baru. Tujuan kegiatan ini yaitu untuk memperoleh kualitas telur asin ayam ras yang baik sehingga dapat dikonsumsi dan dipasarkan dengan baik. Metode penyuluhan dilakukan dengan cara ceramah, diskusi, dan demplot dengan peserta kader PKK, masyarakat, dan UMKM di Desa Jatipamor selama 20 hari. Monitoring evaluasi dilakukan dengan pembinaan yang berkesinambungan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kualitas telur asin ayam ras yang dihasilkan sangat baik dan layak untuk dipasarkan dengan ciri-ciri sebagai berikut kerabang telur bersih dan halus, aroma segar tidak bau amis, rasanya gurih, dan masir. Kesimpulannya peserta memahami dan dapat mempraktekkan pengolahan telur asin ayam ras dengan baik.
Pengolahan Limbah Peternakan Sapi Potong Menggunakan Bioaktivator Asal Limbah Rumah Tangga Organik sebagai Upaya Sanitasi Lingkungan di Kelompok Ternak Mulya Abadi Kertajati Majalengka Oki Imanudin; Dini Widianingrum; Aaf Falahudin
Media Kontak Tani Ternak Vol 2, No 3 (2020): Agustus
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mktt.v2i3.26929

Abstract

Kelompok Ternak Mulya Abadi merupakan kelompok usaha  ternak potong yang berlokasi di Dusun Kertamulia, Desa Mekar Jaya, Kecamatan Kertajati. Dua sampai empat ekor sapi potong dipelihara oleh para peternak kelompok ini sebagai mata pencaharian sampingan dari bertani. Pemeliharaan ternak bersifat intensif yaitu pola pemeliharaan sapi dengan cara dikandangkan. Pola pemeliharaan ini menghasilkan limbah peternakan sapi potong yang terkonsentrasi di sekitar kandang.  Di sisi lain, keluarga peternak pun menghasilkan limbah rumah tangga organik. Bila tidak ditangani dengan baik, kedua jenis limbah tersebut akan menjadi sumber pencemaran lingkungan yang berdampak pada kesehatan. Namun, limbah-limbah ini dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Pengolahan limbah peternakan sapi potong dan limbah rumah tangga organik dapat dilakukan secara terpadu melalui teknik pengomposan dengan memanfaatkan limbah rumah tangga organik sebagai bioaktivator untuk mempercepat proses pengomposan, sehingga sanitasi lingkungan tetap terjaga sekaligus terciptanya peternakan yang ramah lingkungan dengan mengusung konsep zero waste. Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu metode demplot dan pembinaan Kelompok Ternak Mulya Abadi dan ibu-ibu PKK Desa Mekar Jaya Kecamatan Kertajati secara berkala. Pembinaan dan pendampingan dilakukan secara kontinyu dalam kurun waktu 3 – 4  bulan, melalui pertemuan, diskusi dan praktek pemilahan limbah rumah tangga organik, pembuatan bioaktivator dan proses pembuatan kompos.
KORELASI GENETIK DAN FENOTIPIK BOBOT BADAN UMUR EMPAT MINGGU DENGAN BOBOT TELUR PADA PUYUH JEPANG (Coturnix coturnix japonica) Genotipic and Fenotipic Correlation Among Four-Week Body Weight and Eggs Weight Of Japanese Quail (Coturnix coturnix japonica) Dini Widianingrum
Janhus: Jurnal Ilmu Peternakan (Journal of Animal Husbandry Science) Vol 1, No 2 (2017): Janhus: Jurnal Ilmu Peternakan (Journal of Animal Husbandry Science)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/janhus.v1i2.242

Abstract

Abstrak Penelitian mengenai korelasi genetik dan fenotipik bobot badan umur empat minggu dengan bobot telur telah dilaksanakan di Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Majalengka. Tujuan penelitian yaitu untuk mempelajari korelasi genetik dan fenotipik bobot badan umur empat minggu dengan bobot telur. Percobaan dilakukan pada 369 ekor puyuh betina yang merupakan keturunan pertama dari pejantan 60 ekor dan betina 120 ekor yang ditetaskan dalam 3 periode penetasan. Metode penelitian menggunakan hubungan saudara tiri sebapak (paternal halfsib correlatian) dengan pola (nested unequal subclass number). Parameter genetik yang diamati yaitu heritabilitas, korelasi genetik dan korelasi fenotipik bobot badan umur empat minggu bobot telur. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai heritabilitas bobot badan umur empat minggu dan bobot telur yaitu 0,563+0,226 dan 0,584+0,281 termasuk kategori tinggi. Nilai korelasi genetik dan fenotipik bobot badan umur empat minggu dengan bobot telur yaitu 0,824+0,187 dan 0,693+0,245. Hal demikian menunjukan bahwa seleksi untuk bobot telur dapat dilakukan pada bobot badan umur empat minggu Kata kunci : heritabilitas, korelasi genetik dan fenotipik, bobot badan dan bobot telur puyuh Abstract The research was conducted at animal husbandry studi program faculty of agricultural Majalengka University. The object of research were study about four-week body weight and eggs weight heritability’s, and than genetic and fenotipic correlation between four-week body weight and eggs weight. Material used were 369 female japanese quail from 60 sire and 120 dam from third periode of hacthery. The method which applied was experimental. The data were analyzed statistically using unequal subclass number design. The result of research estimated heritability obtained using faternal halfsib correlation were four-week body weight 0,563+0,226 was high category and eggs weight 0,584+0,281was high category. Genetic and fenotipic correlation between four-week body weight and eggs weight 0,824+0,187 dan 0,693+0,245. This result shows that selection of one trait will give advantage respon to another trait. Key words : heritability, genetic and fenotipic correlation, body weight dan eggs weight of quail
APLIKASI RANSUM BERBASIS ECENG GONDOK SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN PERFORMAN ENTOG DAN PENDAPATAN PETERNAK DI KELURAHAN TONJONG MAJALENGKA Dini Widianingrum; Oki Imanudin; Rachmat Somanjaya
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2022)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.285 KB) | DOI: 10.31949/jb.v3i3.2425

Abstract

Muscovy duck is a meat-producing waterfowl that is mostly kept by the community, especially in rural areas. The high interest in raising muscovy duck is influenced by the fast growth, the meat is liked, and it is easy to maintain. Obstacles to raising muscovy duck include high consumption of muscovy duck rations so that production costs are also high. As a result, the income of farmers is reduced. The solution, among others, is to look for alternative feed ingredients that are cheap, easy to obtain, and do not compete with other livestock, for example water hyacinth. Water hyacinth is a plant that is easy to grow in water areas as weeds and waste from rice fields, fish ponds, and lakes. The use of water hyacinth as feed for mutton has various advantages, including high nutrient content, cheap, available, and environmentally friendly. The village of Tonjong Majalengka has the Cibudug river which flows all year round. The banks of the Cibudug river are very good for raising squid in the fish pond, which is overgrown with water hyacinth. Very good potential as a center for cattle breeding which is rich in feed sources. The purpose of community service is to apply water hyacinth-based rations as an effort to improve the performance of mutton and the income of farmers. The ingredients for the muscovy duck ration are water hyacinth and fine bran. Making rations using the square method. The method of community service is carried out by demonstration plots, counseling and continuous coaching for farmers and youth organizations in the Tonjong sub-district. Based on the results of the counseling, it was found that the goat breeders had the knowledge and practice of applying water hyacinth-based shrimp rations. In conclusion, water hyacinth is good to be used as a ration for muscovy duck.
HUBUNGAN ANTARA PENERAPAN PANCA USAHA TERNAK DENGAN PRODUKTIVITAS PEMBIBITAN DOMBA GARUT Rachmat Somanjaya; Dini Widianingrum; Ace Carta
Kandang : Jurnal Peternakan Vol. 6 No. 1 (2014)
Publisher : Prodi Ilmu Peternakan Universitas Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32534/jkd.v6i1.209

Abstract

Penelitian mengenai hubungan antara penerapan panca usaha ternak dengan produktivitas pembibitan Domba Garut telah dilaksanakan dari tanggal 10 sampai dengan 30 September 2012 di Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara penerapan panca usaha ternak dengan produktivitas pembibitan Domba Garut di Kecamatan Kasokandel. Penelitian menggunakan metode survei. Data primer diperoleh dari 100 peternak Domba Garut di wilayah Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka. Data sekunder diperoleh dari Dinas Hutbunak dan BP3K Kasokandel. Data dianalisis dengan menggunakan rumus korelasi Rank Spearman dan kemudian diinterpretasikan menurut aturan Guilford. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan panca usaha ternak di Kecamatan Kasokandel berada pada kategori sedang, yaitu dengan nilai rata-rata 40,6. Produktivitas pembibitan domba Garut di Kecamatan Kasokandel berada pada kategori baik dengan nilai rata-rata 5,32. Secara komulatif terdapat hubungan yang sangat kuat antara penerapan panca usaha ternak dengan produktivitas pembibitan domba Garut (rs = 0,845). Kata kunci : Panca Usaha Ternak; Produktivitas Pembibitan Domba Garut.
ANALISIS POTENSI WILAYAH KABUPATEN MAJALENGKA TERHADAP PENYEDIA SUMBER PROTEIN HEWANI Rachmat Somanjaya; Dini Widianingrum; Dika Rahmiyan
Kandang : Jurnal Peternakan Vol. 7 No. 1 (2015)
Publisher : Prodi Ilmu Peternakan Universitas Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32534/jkd.v7i1.214

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi wilayah Kabupaten Majalengka terhadap penyedia sumber protein hewani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Studi Literatur dengan model pendekatan Analisis Deskriptif melalui pemanfaatan Data Sekunder. Hasil penelitian menunjukan bahwa kebutuhan rata-rata protein hewani Kabupaten Majalengka Tahun 2010, 2011 dan 2012 adalah 18,05 gram/kapita/hari. Kontribusi protein hewani asal ternak sebanyak 7,97 gram/kapita/hari, sehingga direkomendasikan untuk menambah populasi ternak di Kabupaten Majalengka, atau mendatangkan produk-produk peternakan dari daerah lain guna mencapai kebutuhan protein hewani asal ternak. Kekurangan ketersediaan protein hewani dapat ditambahkan pula dari protein hewani asal ikan.Kata kunci: potensi wilayah, hijauan pakan, protein.
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG PUCUK INDIGOFERA DALAM RANSUM TERHADAP MORFOLOGI USUS ENTOG (Cairina moschata): The Effect of Addition of Indigofera Shoot Flour in the Ration on the Morphology of the Intestine of Muscovy duck Dini Widianingrum; Oki Imanudin; Abdul Jalil; Ali Nasyeh
Agrivet : Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian dan Peternakan (Journal of Agricultural Sciences and Veteriner) Vol. 9 No. 1 (2021): Juli
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.681 KB) | DOI: 10.31949/agrivet.v9i1.1186

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahan tepung pucuk Indigofera (TPI) terhadap morfologi usus entog serta mendapatkan tingkat penggunaan Indigofera dalam ransum yang menghasilkan morfologi usus entog yang paling baik. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan ransum R0 (ransum + TPI 0%), R1 (ransum + TPI 5%), R2 (ransum + TPI 10%), dan R3 (ransum + TPI 15%) setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Sebanyak seratus ekor entog jantan umur 1 hari dipelihara sampai umur 12 minggu, dimasukkan ke dalam 20unit kandang. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian TPI dalam ransum memberikan pengaruh yang nyata terhadap performan entog. Ransum yang diberi TPI 10% menghasilkan performan entog jantan yang paling baik. Hal ini didukung oleh data berikut berat total usus halus 24,13 g, berat duodenum 29,47%, berat jejenum 41,59%, dan berat ileum 28,93%. Kesimpulannya penambahan Indigofera dalam ransum dapat meningkatkan morfologi usus entog.
TINGKAH LAKU KAWIN ENTOG CIAYUMAJAKUNING PADA SYSTEM PEMELIHARAAN INTENSIF Dini Widianingrum; Tuti Widjastuti; Asep Anang; Iwan Setiawan
Agrivet : Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian dan Peternakan (Journal of Agricultural Sciences and Veteriner) Vol. 9 No. 2 (2021): Desember
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.839 KB) | DOI: 10.31949/agrivet.v9i2.1722

Abstract

Muscovy duck development can be influenced by reproductive performance, including mating behavior. The purpose of the study was to obtain the quantitative characteristics of the Ciayumajakuning Muscovy duck mating and to obtain the best antog in its mating characteristics. The research method was carried out experimentally using a completely randomized design with 4 treatments and 5 replications. The parameters observed were mating frequency, mating duration, mating time, and mating location. The results showed that the quantitative characteristics of the antog Kuningan showed a significant difference in the frequency of mating with the drake and duck and the duration of mating was higher than that of the Cirebon, Indramayu, and Majalengka Muscovy duck. This is supported by data on the frequency of mating with 7.4 drake and duck 2 times/day, and the mating duration is 119.4 seconds. The mating time of the Cirebon, Indramayu, Majalengka, and Kuningan Muscovy duck did not show a significant difference, namely more in the first and second quarters at 06.01-12.00 WIB and 12.01-16.00 WIB. The mating location is in zone 1 in the area near the place of feed and drinking water. In conclusion, Muscovy duck Kuningan has the best marital characteristics.
Qualitative Traits of Muscovy duck (Cairina moschata) in Ciayumajakuning, West Java, Indonesia dini widianingrum
Agrivet : Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian dan Peternakan (Journal of Agricultural Sciences and Veteriner) Vol. 10 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/agrivet.v10i2.3768

Abstract

Qualitative traits can be used as a reference for entog development and conservation. Qualitative traits are indispensable for selection based on phenotypics such as plumage color, beak color, and shank color. The research objective was studied the qualitative traits of entog in Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan). This research uses survey method with sampling technique of multistage probability random sampling. The research object observed are 673 Muscovy ducks consisting of 309 drake and 364 duck. Data analysis applies descriptive qualitative analysis method. The results of research show that duck Muscovy ducks plumage colors are dominated by black and white (44.78%), only white (28.30%), and only black (17.86%); while drake are dominated by only white (45%), black and white (35.9%), and gray (7, 77%). The duck beak colors are dominated by black (25.82%), black and white (20.60%), and pink (23.63%); while drake beak colors include pink (38.80%), black (21.00%), and black and white (19.40%). Duck shank colors are dominated by black (39.29%), white (27.29%), and yellow (18.68%); while drake shank colors, among others, are yellow (41.70%), black (29.80%), black and white (12.00%). Based on the results of the study, it can be concluded that the qualitative traits of Muscovy duck in Ciayumajakuning are quite diverse.
Pemanfaatan Limbah Kol sebagai Bahan Pakan Sumber Serat Kasar dalam Ransum Entog Dini Widianingrum; Rachmat Somanjaya; Oki Imanudin
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.729 KB) | DOI: 10.31949/jb.v4i1.3887

Abstract

Entog merupakan unggas air yang banyak dipelihara di pedesaan sebagai sumber protein hewani bagi masyarakat dan sebagai sumber pendapatan bagi peternak. Kol dibutuhkan untuk menunjang kecepatan pertumbuhannya entog yang memerlukan pakan yang cukup banyak, berlimpah, harganya murah, dan cukup kandungan nutrientnya terutama serat kasar. Kol merupakan tanaman yang banyak digunakan oleh manusia untuk dibuat makanan, tetapi mudah busuk, sehingga menghasilkan limbah yang bau dan mencemari lingkungan. kondisi ini sangat berbahaya, sehingga limbah kol harus dimanfaatkan, antara lain untuk pakan entog. Tujuan kegiatan yaitu memanfaatkan limbah kol untuk pakan ternak. Metode penyuluhan dilakukan dengan cara ceramah, diskusi, dan demplot dengan peserta peternak entog di Kecamatan Cigasong selama 30 hari. Monitoring evaluasi dilakukan dengan pembinaan yang berkesinambungan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peternak sangat tertarik dengan pemanfaatan limbah kol untuk ransum entog. Hasil pretest menunjukkan 5% peternak yang sudah mengetahui pemanfaatan limbah kol untuk ransum entog. Hasil posttest menunjukkan bahwa 100% peternak tertarik untuk menerapkan pemanfaatan limbah kol untuk ransum entog.  Kesimpulannya peserta memahami dan tertarik menerapkan pemanfaatan limbah kol menjadi ransum entog dengan baik.