Selat Sunda memiliki peran oseanografi yang strategis karena menghubungkan Laut Jawa dengan Sumatera melalui Selat Sunda. Metode yang digunakan meliputi pemanfaatan data batimetri GEBCO dan data arus reanalysis CMEMS periode 1993–2020, ekstraksi profil vertikal arus zonal dan meridional hingga kedalaman 60 m, serta analisis korelasi Pearson antara kecepatan arus dan kedalaman dengan tujuan untuk menganalisis kontribusi kedalaman dasar laut terhadap karakteristik arus laut musiman secara spasial dan vertikal di Selat Sunda, serta mengkaji hubungan linier antara kedalaman dan kecepatan arus pada skala multi-musim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi kedalaman laut memberikan pengaruh signifikan terhadap dinamika arus musiman, ditunjukkan oleh korelasi negatif yang konsisten antara kedalaman dan kecepatan arus pada seluruh musim. Pada musim JJA, pengaruh Muson Tenggara menghasilkan lapisan campuran yang tebal hingga sekitar ±40 m dengan struktur arus yang relatif homogen dan magnitudo tertinggi (≈0,7–0,8 m/s). Sebaliknya, musim DJF memperlihatkan struktur arus yang lebih kompleks dan bersifat baroklinik, ditandai oleh pembalikan arah antara lapisan permukaan dan lapisan bawah. Secara keseluruhan, interaksi antara morfologi dasar laut, sistem monsun, dan proses hidrodinamika regional memainkan peranan penting dalam membentuk variabilitas arus di Selat Sunda. Temuan ini memiliki implikasi penting bagi pengembangan kajian oseanografi fisis serta dapat menjadi dasar ilmiah dalam mendukung perencanaan keselamatan pelayaran, pengelolaan wilayah pesisir, dan mitigasi risiko kelautan di Selat Sunda.