Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Analisis Kompetensi Guru Sekolah Dasar Dalam Implementasi Pembelajaran Berbasis Digital Silvester, Silvester; Purnasari, Pebria Dheni; Saputro, Totok Victor Didik; Jesica, Melania
JURNAL DIMENSI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN Vol 11: Special Issue No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/dpp.v11i1.8281

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kompetensi guru Sekolah Dasar dalam mengimplementasikan pembelajaran berbasis digital, yang ditinjau dari keterampilan, pemahaman, konsep dan pendekatan guru terhadap media digital dan penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan analisis kualitatif. Sumber data dalam penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang dilakukan bersama responden. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik analisis data yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman yaitu reduction, data display, dan conclusion drawing. Keabsahan data dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian yang dilakukan di SDN 03 Bengkayang menunjukan bahwa pemahaman guru terhadap teknologi digital masih tergolong kurang mahir khususnya dalam menggunakan perangkat digital dan aplikasi digital. Dalam kegiatan pembelajaran para guru masih menggunakan media konvensional, belum mengimplementasikan media pembelajaran berbasis digital. Hal ini karena kemampuan, pemahaman dan keterampilan guru dalam menggunakan perangkat dang aplikasi digital masih kurang.
ANALISIS DIGITALISASI PEMBELAJARAN SEKOLAH DASAR WILAYAH PERBATASAN Purnasari, Pebria Dheni; Damas Sadewo, Yosua; Samuel Slamet Santosa, Donald; Sanoto, Herry
Scholaria: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 14 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/j.js.2024.v14.i2.p198-205

Abstract

The use of digitalization has spread to all levels of society, regardless of social status. This requires the education field to be responsive and able to consistently integrate digitalization into the learning process, so that students are accustomed and develop their competencies. However, unfortunately there are still many schools having difficulty in implementing the integration of digitalization into the learning process, as  well as a study of science and media.  Some of the schools are not even aware whether they are ready to implement the digitalization into differentiated learning..Therefore, to prepare for the digitalization of learning, it is necessary to first analyze how prepared the school is to welcome this era of digitalization.  Thus, the purpose of this study is to analyze the readiness level of digitalization of elementary schools specifically to be carried out in the Bengkayang region, West Kalimantan. The research method used was the descriptive method. The data collection was carried out using a digitalization level measurement instrument, namely as a limited-scale trial stage. Apart from that, unstructured interviews and observations were also carried out to strengthen the data collected. The number of schools that were respondents were 10 elementary schools in Bengkayang. The research results show that 80% of schools are categorized as ‘not ready’, while only 20% are ready to implement differentiated learning. The assessment results from education reports also show the similar condition.
Design of short-video-based microlearning for enhancing elementary students’ digital literacy Silvester, Silvester; Saputro, Totok Victor Didik; Purnasari, Pebria Dheni; Sadewo, Yosua Damas; Kusnanto, Kusnanto
Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Vol. 18 No. 1 (2025): March-May
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jpip.v18i1.91011

Abstract

This study analyzes the design of short-video-based microlearning developed by elementary school teachers to strengthen students’ digital literacy in Bengkayang Regency, West Kalimantan. Qualitative case study design was employed in four elementary schools, with data collected through interviews, observations, and documentation and analyzed using Miles and Huberman’s interactive models. The findings show that teachers were able to design microlearning creatively despite limitations in infrastructure and digital devices. The instructional designs focused on a single core concept within a duration of 1–5 minutes and integrated visual, audio, and text elements to support students’ conceptual understanding. Teachers used accessible applications such as Canva, CapCut, and KineMaster and implemented videos through various strategies, including flipped classrooms, introductory activities, and contextual documentation of school activities. The implementation of microlearning proved effective in enhancing students’ focus, engagement, and digital literacy skills, particularly in critically and responsibly interpreting digital information. However, teachers still faced challenges related to unstable electricity and internet access, limited devices, and constraints in video-editing skills. Overall, short-video-based microlearning is an effective and adaptive strategy to support the implementation of the Kurikulum Merdeka in border-area schools and offers an innovative solution for strengthening digital learning in elementary education.
GAPS IN MANAGING BLENDED LEARNING PROCESSES IN BORDER AREA SCHOOLS: EVIDENCE FROM BENGKAYANG, INDONESIA Sadewo, Yosua Damas; Purnasari, Pebria Dheni; Saputro, Totok Victor Didik; Silvester, Silvester; Yimer, Nurselam Hassen
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i1.9288

Abstract

ABSTRACT Educational disparities between urban and border areas remain a critical issue within Indonesia’s education system. One manifestation of this disparity is the uneven management of blended learning-based instructional processes. This study aims to examine the gaps in managing blended learning processes in border area schools, using Bengkayang Regency as the context of analysis. This study employs a literature review approach by analyzing national and international journal articles, government reports, and relevant educational statistical data. Data were analyzed using thematic analysis to identify patterns, challenges, and characteristics related to the management of blended learning in border areas. The findings indicate that the implementation of blended learning in border areas faces multiple constraints, including limited technological infrastructure, low teacher readiness, insufficient institutional support, and sociocultural conditions that are not yet conducive to digital learning. These findings suggest that the success of blended learning is not solely determined by technological availability, but also by the quality of contextual and realistic instructional management. This study is expected to contribute theoretically and practically to the development of blended learning management in border area schools. ABSTRAK Kesenjangan pendidikan antara daerah perkotaan dan perbatasan tetap menjadi isu kritis dalam sistem pendidikan Indonesia. Salah satu manifestasi kesenjangan ini adalah pengelolaan proses pembelajaran campuran yang tidak merata. Studi ini bertujuan untuk meneliti kesenjangan dalam pengelolaan proses pembelajaran bauran di sekolah-sekolah daerah perbatasan, dengan menggunakan Kabupaten Bengkayang sebagai konteks analisis. Studi ini menggunakan pendekatan tinjauan pustaka dengan menganalisis artikel jurnal nasional dan internasional, laporan pemerintah, dan data statistik pendidikan yang relevan. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola, tantangan, dan karakteristik yang berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran bauran di daerah perbatasan. Temuan menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran campuran di daerah perbatasan menghadapi berbagai kendala, termasuk infrastruktur teknologi yang terbatas, kesiapan guru yang rendah, dukungan kelembagaan yang tidak memadai, dan kondisi sosial budaya yang belum kondusif untuk pembelajaran digital. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran bauran tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi, tetapi juga oleh kualitas pengelolaan pembelajaran yang kontekstual dan realistis. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi secara teoritis dan praktis terhadap pengembangan pengelolaan pembelajaran bauran di sekolah-sekolah daerah perbatasan.
PELAKSANAAN BELAJAR DARI RUMAH PADA JENJANG SEKOLAH DASAR Wulandari, Deri; Purnasari, Pebria Dheni
NOKEN : Jurnal Pengelolaan Pendidikan Vol. 3 No. 1 (2022)
Publisher : Program Studi Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Cenderawasih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/noken.v3i1.2274

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pelaksanaan belajar dari rumah (BDR) pada jenjang sekolah dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur yang mengumpulkan serangkaian data atau hasil penelitian peneliti lain kemudian dikaji kembali. Hasil penelitian ini menemukan bahwa adanya pandemi Covid-19 membuat pemerintah mengelurakan kebijakan baru yaitu pola pembelajaran online atau BDR. Tujuannya supaya pendidikan tidak berhenti dan tetap berjalan secara efektif dan efisien. Pada umumnya pelaksanaan BDR pada jenjang sekolah dasar sudah menggunakan e-learning yaitu melalui aplikasi Google classroom, video zoom, telepon atau live chat, serta WhatsApp dan aplikasi lainnya. Menanggapi hal ini, peran kepala sekolah, guru dan orang tua menjadi faktor pendukung utama untuk keberhasilan BDR. Namun pada beberapa daerah di perbatasan seperti di Bengkayang, Kalimantan Barat masih ada beberapa sekolah yang belum bisa melaksanakan BDR secara maksimal karena keterbatasan infrastruktur yang tersedia. Selain itu,  faktor penghambat lain yang membuat BDR sulit untuk diimplementasikan yaitu terkait minimnya literasi teknologi.