Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

The Relationship between Maternal Perception and Complete Basic Immunization Status in Toddlers in Primary Health Care in Garut City Widadi, Sri Yekti; Kurniasih, Nunung
Journal of Health and Nutrition Research Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Media Publikasi Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56303/jhnresearch.v4i2.392

Abstract

Basic immunization coverage remains a challenge in Indonesia's public health efforts despite being a national priority program. Maternal perception is considered one of the factors that influence the completeness of immunization in children. Maternal perceptions of immunization can play an important role in determining the completeness of child immunization, as the decision to provide immunization is often influenced by the mother's beliefs and knowledge about the benefits of vaccines. This study aims to determine the relationship between maternal perceptions and the completeness of basic immunization status in toddlers in primary health care. This study is a quantitative study with a cross-sectional design involving 69 mothers who have children aged 9-24 months. Respondents were selected using a quota sampling technique. Data were collected through a standardized and validated questionnaire in the Indonesian version. The data were analyzed univariately using frequency distribution and bivariately with the Chi-Square test. Most mothers (94.2%) had a positive perception of immunization, and 72.46% of children had received complete basic immunization. However, the results of statistical analysis showed no significant relationship between maternal perceptions and completeness of basic immunization (p = 0.3; OR= 0,31). Although the majority of mothers had positive perceptions, it was not significantly associated with children's basic immunization status. This finding indicates that other factors, such as vaccine availability, access to health services, and social support, may have a greater role in influencing immunization practices.
Domestic Environmental Factors Associated with Pediatric Snoring: A Scoping Review Protocol Supriatin, Supriatin; Wahyuni, Nuniek Tri; Widadi, Sri Yekti; Nurhaeni, Heni; Anitasari, Silvia
Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 17 No. 3 (2023): November
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v17i3.3268

Abstract

Since one-third of children who snore consistently may have OSAS, understanding the causes is vital. Preventing snoring requires addressing obesity, allergies, and anatomical anomalies. Indoor allergens and enlarged tonsils and adenoids may also cause youngsters to snore. The review aims to identify and categorize key concepts, types of evidence, and research gaps in this area.  The scoping review will follow the methodology and stages outlined by the Joana Briggs Institute ((JBI). The final output will follow the PRISMA-Protocols (PRISMA-P) 2015 checklist. This review serves as a necessary step before conducting a systematic review and clinical studies. Childhood snoring is a common problem that can have adverse effects on a child’s health and well-being. It is importing ant for parents to understand the hazards of snoring and seek support if they suspect their child may have a sleep disorder. Treatment options vary depending on the cause and severity of snoring, and may include lifestyle changes, medication, or surgery. More research is need to better understand the relationship between environmental factors and snoring children, including the impact of pollutant such as NO2 and passive smoking. Early detection and treatment of snoring in children is crucial, as if can have long-term effects on their health and well-being. The conclusion is that knowledge empowers parents to take the necessary steps to ensure the well-being and healthy sleep of their children.
Phenomenological study of the experiences of mothers who have children with autism at SLB Muhammadiyah Bayongbong, Garut Regency Widadi, Sri Yekti; Puspita, Tantri; Rilla, Eldessa Vava; Alfiansyah, Rudy; Wahyudin, Wahyudin; Aeni, Aksha Zamiatun
Science Midwifery Vol 12 No 1 (2024): April: Health Sciences and related fields
Publisher : Institute of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/midwifery.v12i1.1512

Abstract

The prevalence of autistic children in Garut Regency in 2022 is 96 people from 14 schools. The number of autistic children at the Bayongbong Special School is 18, of course for children who experience developmental disorders there will be an impact felt by mothers who have autistic children with the emergence of psychological, social and economic burdens. Of course, every mother who has a child with autism will experience different experiences from one mother to another. The aim of this research is to find out what the experiences of mothers who have children with autism are. This research method uses a qualitative method with a phenomenological approach. Sampling was taken using purposive sampling with three informants and data collection techniques in the form of in-depth interviews. The research results obtained 5 themes 1) symptoms of autistic children, 2) informants' feelings when they found out that their child was diagnosed with autism, 3) coping mechanisms, 4) psychologist's burden, 5) extended family support. It is hoped that the results of this research will provide information about the experiences of mothers who have children with autism, be used as supporting data and references in improving the quality of health services for children, and it is hoped that this research can be used as basic data and a source of information or reference for future researchers regarding mothers' experiences. who have children with autism.
Gambaran Kualitas Hidup dan Perawatan Diri Pada Pasien Gagal Jantung Kongestif Rawat Inap Di Rumah Sakit dr Slamet Garut Widadi, Sri Yekti; Ramdani, Hasbi Taobah; Ibrahim, Dimas Yusuf
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i3.11067

Abstract

Penyakit gagal jantung kongestif merupakan penyakit dengan kematian tertinggi, pengobatan yang lama baik menggunakan pengobatan farmakologis ataupun non farmakologis hal ini tetap memberikan dampak terhadap kualitas hidup penderita terhadap penyakit yang dialaminya. Tingginya angka kematian gagal jantung dipengaruhi oleh rendahnya kualitas hidup. Pasien gagal jantung kongestif tingkat kematian yang tinggi masih berhubungan dengan perawatan diri yang rendah pada pasien gagal jantung kongestif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup dan perawatan diri pasien gagal jantung di RSUD dr Slamet Garut. Adapun metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dari penelitian ini adalah pasien gagal jantung rawat inap di RSUD dr Slamet Kabupaten Garut dengan jumlah 68 responden. Mengunakan Teknik accidental sampling dalam menentukan responden. Penelitian ini dilakukan dengan membagikan kuisioner. Proses Analisa data menggunakan Analisa univariat. Hasil penelitian menunjukan bahwa kriteria nilai kualitas hidup rendah menunjukan urutan pertama dengan sebagian besar responden (76,5%) dan kriteria nilai perawatan diri buruk dengan jumlah sebagian besar responden (67,6%). Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti umur, status pendidikan, pekerjaan, lama sakit, kelas CHF. Berdasarkan hasil penelitian tentang kualitas hidup dan perawatan diri pada responden gagal jantung di RSUD dr Slamet Garut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar gagal jantung di RSUD dr Slamet Garut memiliki kualitas hidup rendah dan perawatan diri buruk.
PEMERIKSAAN ANTROPOMETRI DAN STATUS GIZI SEBAGAI UPAYA PREVENTIF TERHADAP MALNUTRISI DAN STUNTING PADA ANAK PAUD PELITA HATI RANCABANGO TAROGONG KALER Widadi, Sri Yekti; Puspita, Tantri; Wahyudin, Wahyudin; Windi, Windi; Dika, Dika
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2024): Volume 5 No. 3 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i3.28664

Abstract

Artikel ini didasarkan pada Pengabdian Masyarakat (Pengmas) di Lingkungan STIKes Karsa Husada Garut Program Profesi Ners dalam Upaya mengatasi permasalahan stunting pada anak balita. Stunting merupakan masalah gizi kronis yang disebabkan karena asupan gizi yang kurang pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Balita stunting akan memiliki tinggi badan yang kurang jika dibandingan dengan umur. Kegiatan Pengabdian masyarakat ini bertujuan mampu mendeteksi dini malnutrisi dan stunting sehingga anak segera mendapatkan penanganan dan terhindar dari masalah tumbuh kembang. Intervensi dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan metode pelaksanaan pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar lengan pada anak Paud Pelita Hati Rancabango Garut. Dengan metode ini maka di harapkan dapat mengetahui hasil pemeriksaan antropometri dan status gizi. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini diikuti oleh oleh 67 anak paud pelita hati Rancabango. hampir seluruh dari responden dengan status gizi baik dan sangat sedikit dari responden dengan status gizi kurang. Dari hasil pemeriksaan tinggi badan hampir seluruh dari responden dengan tinggi badan normal dan sangat sedikit dari responden dengan stunting. Sehingga untuk kedepannya upaya preventif diharapkan pemeriksaan skrining antropometri dapat dilakukan secara berkala dan dapat dilakukan intervensi untuk penyuluhan atau sosialisasi berupa pentingnya pemenuhan gizi baik dalam Upaya optimalisasi tumbuh kembang anak kepada orang tua yang memiliki balita.
PENGALAMAN ORANG TUA MERAWAT ANAK DENGAN TUNA RUNGU USIA SEKOLAH Widadi, Sri Yekti; Januarity, Rakhmi Anggita
Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.611 KB) | DOI: 10.33867/jka.v4i1.9

Abstract

Setiap ibu berharap melahirkan anak yang sempurna. Namun, sebagian anak terlahir mengalami kecacatan. Salah satu kecacatan yang dialami adalah tunarungu. Tunarungu adalah mengalami kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan sebagian atau seluruh alat pendengaran yang mengakibatkan hambatan perkembangan bahasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman orang tua merawat anak dengan tuna rungu usia sekolah dasar di SLBN-B Kabupaten Garut. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 4 orang yang diambil menggunakan tekhnik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan carain-depth interview dan catatan lapangan.Hasil penelitian ini mengidentifikasi lima tema, yaitu : (1) Berduka, (2) Stresor Internal, (3) Sumber Dukungan Orang Tua, (4) Penerimaan dan Tanggung Jawab, (5) Makna selama merawat anak tuna rungu. Kesimpulan adanya respon negatif dapat memicu stress pada orang tua, sehingga orang tua berada pada masa krisis. Dukungan sangat dibutuhkan, baik dukungan dari keluarga maupun dari guru-guru. Disarankan agar keluarga sebagai orang terdekat senantiasa memberikan dukungan, baik materi maupun non materi agar ibu dapat melewati masa krisis yang dialaminya.
Pemberdayaan Kader Posyandu Dalam Pelatihan Antropometri di Wilayah Kerja Puskesmas Wanaraja Kabupaten Garut Kusnadi, Engkus; Widadi, Sri Yekti; Awaludin, Aceng Ali; Perceka, Andika Lungguh; Ritonga, Siti Nurcahyani; Purwanto, Nofita Setiorini Futri
Abdimas Galuh Vol 6, No 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v6i1.12458

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan berupa pemberdayaan kader Posyandu dalam pelatihan antropometri di Wilayah Kerja Puskesmas Wanaraja Kabupaten Garut. Mitra dalam kegiatan ini adalah Puskesmas Wanaraja dengan sasaran para kader Posyandu yang ada di wilayah kerja Puskesmas Wanaraja. Pemilihan lokasi kegiatan adalah Puskesmas Wanaraja yang merupakan daerah angka stunting tertinggi di Kabupaten Garut, daerah ini masih jauh dari perkotaan dan mungkin kurang pengetahuan masyarakat tentang pemenuhan gizi baik dan kurangnya pengetahuan kader tentang pengukuran Antropometri yang dikhawatirkan adanya eror data dikarenakan alat pengukuran yang tidak tersandar atau kader yang mengukur tidak sesuai dengan SOP. Salah satu permasalahan yang paling mendasar adalah masih kurangnya pengetahuan dan keterampilan kader posyandu dalam pengukuran antropometri, mulai dari cara memasang dan menera alat ukur, menimbang, mengukur panjang badan, dan tinggi badan balita hingga mencatat hasil ukur berdampak pada pendataan dan pelaporan status gizi yang tidak akurat. Permasalah ini dapat dicegah melalui kegiatan pemberdayaan pada para kader Posyandu. Tujuan pengabdian ini yakni memberikan pelatihan dan demonstrasi pengukuran antropometri. Manfaat kegiatan ini yaitu menambah ilmu, wawasan, pengetahuan dan keterampilan kader, mencegah terjadinya kesalahan dalam pengukuran setiap bulannya agar memenuhi kebutuhan pelaporan Puskesmas. Adapun hasil dari pengabdian kepada masyarakat ini berupa kegiatan pelatihan yang kemudian menjadi pendampingan kader Posyandu. Kata kunci: Pemberdayaan, Kader, Pelatihan Antropometri
Kualitas hidup pasien diabetes melitus dengan tuberkulosis: Literatur review Rissaadah, Siti; Sulastini, Sulastini; Widadi, Sri Yekti; Setiowati, Rahayu; Sriwahyuni, Sriwahyuni; Sugiharto, Firman; Alia, Fania Putri
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 7 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i7.1936

Abstract

Abstract   Background: Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease with a steadily increasing prevalence globally. DM is often associated with a decreased quality of life, especially if comorbidities such as tuberculosis (TB) occur. Uncontrolled hyperglycemia in diabetes can suppress the immune system, increasing the risk of TB infection. Purpose: To evaluate the quality of life of DM patients with TB based on physical, psychological, and social domains through a narrative review approach. Method: Articles used in this study were identified through the PubMed, Scopus, and EBSCHO databases. The literature search used the keywords "Diabetes Mellitus," "Type 2 Diabetes Mellitus," "Tuberculosis," and "Quality of Life." A total of 367 articles were found, of which 7 met the inclusion criteria and eligibility criteria using the Joanna Briggs Institute (JBI). Data analysis was conducted thematically based on quality of life domains. Results: Patients with DM with TB (DM-TB) have a poorer quality of life, with significant declines in the physical domain due to poor diabetes management. Depression is a major factor in the decline in psychological quality of life. While social aspects tend not to be directly affected but can be influenced by socioeconomic status. Conclusion: A holistic and multidisciplinary approach in the management of DM-TB patients is crucial for improving their quality of life.   Keywords: Diabetes Mellitus; Quality of Life; Tuberculosis.   Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis dengan angka prevalensinya terus meningkat secara global. DM seringkali dikaitkan dengan penurunan kualitas hidup, terutama jika terjadi komorbiditas seperti tuberkulosis (TB). Hiperglikemia yang tidak terkontrol pada penderita diabetes dapat menekan imunitas tubuh, sehingga meningkatkan resiko infeksi TB. Tujuan: Untuk mengevaluasi kualitas hidup pasien DM dengan TB berdasarkan domain fisik, psikologis, dan sosial melalui pendekatan narrative review. Metode: Artikel yang digunakan dalam penelitian ini diidentifikasi melalui database PubMed, Scopus, dan EBSCHO. Pencarian literatur menggunakan kata kunci “Diabetes Mellitus”, “Type 2 Diabetes Mellitus”, “Tuberculosis”, dan “Quality of Life”. Sebanyak 367 artikel yang ditemukan, 7 artikel diantaranya memenuhi kriteria inklusi dan memenuhi kriteria eligibility menggunakan Joanna Briggs Institute (JBI). Analisis data dilakukan secara tematik berdasarkan domain kualitas hidup. Hasil: Pasien DM dengan TB (DM-TB) memiliki kualitas hidup yang lebih buruk dengan penurunan yang signifikan pada domain fisik yang diakibatkan pengelolaan diabetes yang buruk serta depresi yang menjadi faktor utama dalam penurunan kualitas hidup pada domain psikologis, sementara aspek sosial cenderung tidak terpengaruh secara langsung tetapi dapat dipengaruhi oleh status sosial sosial. Simpulan: Pentingnya pendekatan holistik dan multidisipliner dalam pengelolaan pasien DM-TB untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.   Kata Kunci: Diabetes Melitus; Kualitas Hidup; Tuberkulosis.
Edukasi interaktif dalam penerapan cuci tangan pakai sabun pada anak usia dini Widadi, Sri Yekti; Rissaadah, Siti; Pebriani, Aulia
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2359

Abstract

Background: Early childhood is at high risk of infectious diseases due to an immature immune system and inadequate hand hygiene habits. Handwashing with soap is a simple yet effective disease prevention practice that needs to be instilled early. Purpose: To improve early childhood knowledge and skills in implementing clean and healthy handwashing behaviors. Method: This community service activity was conducted at PGTK Pelita Hati in December 2025, targeting early childhood children (4-7 years old) currently studying at PGTK Pelita Hati. Eighty-one PGTK Pelita Hati students participated in the activity. The intervention included health education about handwashing with soap through demonstrations and educational games tailored to the developmental stages of early childhood. To increase children's understanding and enthusiasm, the activity also combined singing and interactive question-and-answer sessions. An observational assessment questionnaire was used to measure participants' knowledge and understanding throughout the activity. Observations were conducted before and after the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). As an evaluation of activities by comparing the assessment results before educational activities (pre-test) with after educational activities (post-test). Results: showed an increase in children's knowledge, skills, and participation in the good category after the educational intervention. Before the activity, only 24 children (29.6%) understood the meaning of handwashing with soap and 21 children (25.9%) knew the benefits of handwashing with soap. After the activity, this number increased to 70 children (86.4%) who understood the meaning of handwashing with soap and 68 children (84.0%) who knew the benefits of handwashing with soap. Children's knowledge about important times to wash their hands also increased, from 19 children (23.5%) before the activity to 66 children (81.5%) after the activity. In terms of skills, before the activity, only 17 children (21.0%) were able to practice the six steps of handwashing with soap correctly. After education through demonstrations and direct practice, the number of children who were able to practice the six steps of handwashing with soap increased to 65 children (80.2%). In addition, children's activeness and participation during the activity also showed an increase, from 34 children (42.0%) before the activity to 74 children (91.4%) after the activity. Conclusion: Community service activities in the form of health education on handwashing with soap for early childhood, using a demonstrative, participatory educational approach, combined with play and singing, were highly effective in improving children's understanding of the meaning and benefits of handwashing with soap, recognizing important handwashing times, and correctly practicing the six steps of handwashing with soap. Furthermore, the involvement of teachers and facilitators provided crucial support in reinforcing health messages and sustaining handwashing with soap behavior in the school environment. Suggestion: School-based handwashing with soap health education is expected to continue to be developed, as it has significant potential as a promotional and preventive measure in preventing infectious diseases and fostering clean and healthy living habits from an early age. Keywords: Community service; Early childhood; Health education; Handwashing with soap Pendahuluan: Anak usia dini memiliki risiko tinggi terhadap penyakit infeksi akibat sistem imun yang belum matang dan kebiasaan kebersihan tangan yang belum terbentuk secara optimal. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) merupakan perilaku sederhana namun efektif dalam pencegahan penyakit yang perlu ditanamkan sejak dini. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anak usia dini dalam menerapkan perilaku bersih dan sehat dengan cuci tangan pakai sabun. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di PGTK Pelita Hati pada bulan Desember 2025 dengan sasaran anak usia dini (4-7 tahun) yang sedang menempuh pendidikan di PGTK Pelita Hati. Kegiatan ini melibatkan 81 siswa/siswi PGTK Pelita Hati untuk menjadi partisipan. Intervensi berupa pendidikan kesehatan tentang cuci tangan pakai sabun (CTPS) melalui pendekatan demonstrasi dan permainan edukatif yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak usia dini. Untuk meningkatkan pemahaman dan antusiasme anak, kegiatan juga dikombinasikan dengan metode bernyanyi dan tanya-jawab interaktif. Menggunakan kuesioner penilaian observasi untuk mengukur tingkat pengetahuan dan pemahaman partisipan selama proses kegiatan. Observasi dilakukan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan setelah kegiatan edukasi (post-test). Sebagai evaluasi kegiatan dengan membandingkan hasil penilaian sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dengan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Hasil: menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan partisipasi anak yang dalam kategori baik setelah dilakukan intervensi edukasi. Sebelum kegiatan, hanya 24 anak (29.6%) yang memahami pengertian CTPS dan 21 anak (25.9%) yang mengetahui manfaat CTPS. Setelah kegiatan, jumlah tersebut meningkat menjadi 70 anak (86.4%) yang memahami pengertian CTPS dan 68 anak (84.0%) yang mengetahui manfaat CTPS. Pengetahuan anak mengenai waktu-waktu penting mencuci tangan juga mengalami peningkatan, dari 19 anak (23.5%) sebelum kegiatan menjadi 66 anak (81.5%) setelah kegiatan. Pada aspek keterampilan, sebelum kegiatan hanya 17 anak (21.0%) yang mampu mempraktikkan enam langkah CTPS dengan benar. Setelah dilakukan edukasi melalui demonstrasi dan praktik langsung, jumlah anak yang mampu mempraktikkan enam langkah CTPS meningkat menjadi 65 anak (80.2%). Selain itu, keaktifan dan partisipasi anak selama kegiatan juga menunjukkan peningkatan, dari 34 anak (42.0%) sebelum kegiatan menjadi 74 anak (91.4%) setelah kegiatan. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat berupa pendidikan kesehatan tentang cuci tangan pakai sabun (CTPS) pada anak usia dini melalui pendekatan edukasi yang bersifat demonstratif, partisipatif, serta dikombinasikan dengan metode bermain dan bernyanyi sangat efektif meningkatkan kemampuan anak dalam memahami pengertian dan manfaat CTPS, mengenali waktu-waktu penting mencuci tangan, serta mempraktikkan enam langkah CTPS dengan benar. Selain itu, keterlibatan guru dan fasilitator memberikan dukungan penting dalam memperkuat pesan kesehatan dan keberlanjutan perilaku CTPS di lingkungan sekolah. Saran: Diharapkan, pendidikan kesehatan CTPS berbasis sekolah untuk terus dikembangkan karena memiliki potensi besar sebagai upaya promotif dan preventif dalam mencegah penyakit infeksi serta membentuk kebiasaan hidup bersih dan sehat sejak usia dini.