Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search
Journal : Wana Raksa

STRATEGI PENGEMBANGAN OBYEK WISATA ALAM BUMI PERKEMAHAN IPUKAN TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI Eki Rusmana; Nina Herlina; Iing Nasihin
Wanaraksa Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v12i1.4540

Abstract

Kawasan konservasi yang dimanfaatkan untuk kepentingan wisata alam, salah satunya adalah Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Ipukan dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai objek wisata alam dan menjadi destinasi wisata yang menawarkan kesejukan dan keasrian udara khas pegunungan. Ipukan sangat cocok untuk aktifitas alam seperti berkemah, tracking, penelitian, pengamatan flora dan fauna. Penelitian bertujuan untuk mengetahui potensi ekowisata serta  menentukan strategi pengembangan ekowisata di kawasan Obyek Wisata Alam Bumi Perkemahan Ipukan Taman Nasional Gunung Ciremai.  Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT dengan menghitung bobot dan rating dari EFAS dan IFAS. Buper Ipukan memiliki potensi wisata yang menarik bagi pengunjung seperti: bentang alam, flora dan fauna. Hasil analisis SWOT bahwa potensi wisata alam bumi perkemahan ipukan yang dapat dijadikan daya tarik wisata berupa bentang alam, flora dan fauna. Berdasarkan faktor internal dan eksternal, strategi paling utama untuk diterapkan dalam pengembangan Obyek Wisata Alam Bumi Perkemahan Ipukan adalah strategi menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang (Strengths-Oportunities), yaitu dengan tetap mempertahankan kualitas estetika, meningkatkan sarana dan prasarana serta pelayanan dengan tetap mempertahankan aspek kelestarian dan melakukan promosi wisata secara optimal. Salah satu alternatif pengembangan Obyek Wisata Alam Ipukan adalah memperbaiki aksesibilitas, melakukan kerjasama dengan intansi lain dan penambahan sarana wisata.Kata kunci : analisis SWOT; potensi wisata; ipukan; taman nasional 
STRUKTUR POPULASI DAN SEBARAN SERTA KARAKTERISTIK HABITAT HURU SINTOK (Cinnamomum sintocBl) DI RESORT CILIMUS TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI Agus Yadi Ismail; Iing Nasihin; Didin Juhendar
Wanaraksa Vol 9, No 02 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v9i02.1049

Abstract

Taman Nasional Gunung Ciremai merupakan salah satu kawasan konservasi yang berada di Propinsi Jawa Barat.Kawasan konservasi memiliki fungsi utama sebagai perlindungan keanekaragaman hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktut populasi, sebaran spasial dan karakteristik habitat Huru Sintok di kawasan Resort Cilimus, Taman Nasional Gunung Ciremai.        Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai April 2015. Data yang digunakan berupa sekunder meliputi kondisi umum lokasi dan data primer meliputi data titik koordinat, analisis vegetasi, nama spesies, jumlah individu setiap spesies, diameter batang, tinggi pohon, kelerengan, ketinggian tempat, dan suhu lokasi pengamatan. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Dominansi (C), Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H’), Indeks Kemerataan (E) dan Indeks Kekayaan Jenis (R).Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi Huru Sintok berbentuk piramida dengan dasar yang luas artinya banyaknya pohon paling banyak dijumpai pada kelas umur rendah dan semakin menurun dengan bertambahnya kelas diameter, hasil ini menunjukkan bahwa Huru Sintok dapat beregenerasi dengan baik yang terlihat dengan jumlah semai yang melimpah. Sebaran Huru Sintok cenderung individual dan jarang ditemukan mengelompok. Adanya pohon Huru Sintok yang ditemukan di kawasan penelitian diduga karena Huru Sintok dapat beradaptasi dengan baik di habitat pada kawasan hutan Resort Cilimus yang masih kaya akan unsur organik karena hutan tersebut merupakan kawasan konservasi. Karakteristik habitat Huru Sintok dijumpai dengan ketinggian 500-1100 m dpl, dengan kelerengan mulai dari 10-45 %, suhu mulai dari 19-26°C dan vegetasi penyusun Huru Sintok didominasi oleh famili Lauraceae dan Euphorbiaceae.Kata Kunci :     Huru Sintok, Struktur Populasi, Sebaran Spasial, Karakteristik Habitat.
Keanekaragaman Jenis Mamalia Besar di Kawasan Bukit Sarongge RPH Ciniru BKPH Garawangi KPH Kuningan Peni Apriyani; Iing Nasihin; Deni Deni
Wanaraksa Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v11i2.4414

Abstract

Abstrak: Bukit Sarongge merupakan kawasan hutan lindung yang secara administrasi terletak di Desa Pinara, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan, yang juga merupakan hutan yang dikelola oleh Perhutani Kuningan, BKPH Garawangi, RPH Ciniru. Penelitian ini difokuskan pada mamalia besar yang memiliki berat badan lebih dari 5 kilogram. Keberadaan mamalia sangat berperan penting dalam keseimbangan ekosistem alam, karena mamalia memiliki peranan ekologis sebagai indikator kerusakan habitat dan pencemaran udara. Tumbuhan juga berperan bagi keberlangsungan hidup mamalia sebagai sumber makanan, bahkan hewan karnivora sesungguhnya sangat bergantung pada tumbuhan karena makanannya merupakan hewan herbivora. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman jenis mamalia besar dan struktur vegetasi sebagai penyedia pakan. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober sampai Desember 2016 dikawasan bukit Sarongge dengan menggunakan metode transek garis dan analisis vegetasi. Jenis mamalia besar yang ditemukan terdapat 5 jenis yaitu babi hutan (Sus scrofa), kijang (Muntiacus muntjak), lutung jawa (Trachypithecus auratus), macan tutul (Panthera pardus), surili (Presbytis comata). keanekaragaman jenis yaitu H’= 1,13 menunjukan bahwa tingkat keanekaraman jenis mamalia besar termasuk kriteria sedang. Sedangkan nilai kemerataan jenis yaitu J’= 0,70 yang menunjukan bahwa tingkat komunitas dalam keadaan yang cukup merata. Dan untuk jenis tumbuhan yang paling mendominasi pada tingkat semai, pancang, tiang, pohon yaitu jenis mahoni (Swittenia mahagoni). Kata kunci : Bukit Sarongge, vegetasi, indikator; keanekaragaman jenis; mamalia besar.
SEBARAN JENIS DAN HARGA INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU SETENGAH JADI DI KABUPATEN MAJALENGKA Iing Nasihin; Agus Yadi Ismail; Randi Adpan
Wanaraksa Vol 9, No 02 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v9i02.1050

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan inventarisasi industri kayu setengah jadi, memetakan daerah sebaran industri pengolahan kayu setengah jadi , mengetahui Sumber bahan baku, jenis kayu dan kapasitas setiap produk industri profil industri pengolahan kayu setengah jadi. Penelitian dilakukan melalui metode survey dimana waktu penelitian ini dilaksanakan adalah 4 bulan pada bulan April sampai Juni 2015 di lakukan di industri sekunder pengrajin kayu di Kabupaten Majalengka. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh informasi bahwa jenis kayu yang digunakan didominasi oleh jenis kayu jati, mahoni, jenis kayu tersebut digunakan untuk bahan setengah jadi berupa kusen, pintu, jendela, lemari, bupet dan kursi.Kata Kunci: Identifikasi, inventarisasi, industri kayu
Distribusi Dan Penggunaan Habitat Empat Spesies Felidae Di Taman Nasioanl Bukit Barisan Selatan Feizal Tawaqal; Toto Supartono; Iing Nasihin
Wanaraksa Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v12i2.4569

Abstract

Polulasi Famili Kucing (Felidae) di Asia Tenggara mengalami penurunan di alam akibat hilangnya habitat, fragmentasi satu, dan perburuan besar-besaran. Sementara itu, penelitian tentang Kucing Emas Asia, Macan Dahan Sunda, Kucing Marbled, dan Kucing Macan Tutul Asia belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran dan pemanfaatan habitat di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Pengambilan data menggunakan Camera Trap, kemudian dianalisis model okupansi dengan musim tunggal dan spesies tunggal menggunakan software R. Ditemukan bahwa Asiatic Golden Cat Occupancy Model menghasilkan 0,75 di Zona Perlindungan Intensif atau Zona Perlindungan Intensive (IPZ) dan 0,4 nilai hunian di bagian utara Taman Nasional Sourthern Bukit Barisan (TNBBS). Selain itu, Macan Dahan Sunda menghasilkan nilai IPZ 0,50 dan okupansi 0,42 di bagian utara TNBBS. Kucing Leopard Asia-nya memiliki nilai okupansi 0,16 di IPZ dan model okupansi yang tidak dijalankan di bagian utara TNBBS karena deteksi yang sangat rendah
KEANEKARAGAMAN JENIS DAN KARAKTERISTIK HABITAT MAMALIA BESAR DI KAWASAN HUTAN BUKIT BAHOHOR DESA CITAPEN KECAMATAN HANTARA KABUPATEN KUNINGAN Angrita Anggrita; Iing Nasihin; Yayan Hendrayana
Wanaraksa Vol 11, No 01 (2017)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v11i01.1066

Abstract

Inventarisasi mamalia besar dilakukan dengan menggunakan metode transek jalur. Pembuatan jalur inventarisasi mempetimbangkan beberapa aspek yaitu: kondisi kelerengan, tutupan vegetasi, keterwakilan sampel, keterjangkauan lokasi dan keamanan peneliti.Di kawasan hutan bukit Bahohor terdapat 11 jenis satwa yang tergolong dalam mamalia besar. Jenis-jenis tersebut diantaranya adalah kijang (Muntiacus muntjak), babi hutan (Sus scrofa), macan tutul (Panthera pardus), meong congkok (Felis bengalensis), sero ambrang (Aonyx cinerea), macan dahan (Neofelis nebulosa), macan kumbang (Panthera pardus melas), bajing jaralang (Ratufa bicolor), Surili (Prebytis comata), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), lutung jawa (Trachypithecus auratus).Mamalia besar di kawasan hutan bukit bahohor  menyukai karakteristik habitat berupa hutan alam yang memiliki kerapatan vegetasi yang cenderung tinggi. Terutama bagi satwa karnivora seperti macan tutul, macan kumbang dan macan dahan yang lebih terkonsentrasi di hutan alam dengan tajuk vegetasi yang rapat serta jauh dari gangguan (kehadiran) manusia. Lain halnya dengan mamalia besar jenis babi hutan, kijang dan beberapa jenis primata yang lebih banyak menghabiskan aktifitasnya di perbatasan hutan dengan sawah atau perbatasan hutan pinus dengan hutan alam. Hal ini berkaitan dengan kemampuan jelajah satwa untuk mencari sumber makanan dan air.Kata Kunci: Keanekaragaman,  habitat,  Mamalia besar, vegetasi
WILAYAH JELAJAH DAN AKTIVITAS HARIAN ELANG JAWA (Nisaetus bartelsi STRESEMANN, 1924) DI BUKIT MAYANA KECAMATAN KADUGEDE, KABUPATEN KUNINGAN Opik Rahmadiana; Toto Supartono; Iing Nasihin
Wanaraksa Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v12i1.4542

Abstract

Abstrak : Elang jawa (Nisaetus bartelsi) merupakan jenis raptor dengan penyebaran terbatas (endemik). Elang jawa dilindungi oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.92 tahun 2018 dan termasuk kategori endangered menurut IUCN Redlist (2017). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui wilayah jelajah elang jawa dan aktivitas hariannya. Penelitian dilaksanakan di Bukit Mayana Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan selama 4 bulan dari Desember 2017 sampai Maret 2018. Metode yang digunakan yaitu Cooperative Method dan Focal Animal Sampling. Analisis wilayah jelajah menggunakan Minimum Convex Polygon dan Kernel Density Estimation dan analisis deskriptif untuk aktivitas harian. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis didapatkan wilayah jelajah elang jawa dengan MCP individu Maya dan Yana masing-masing seluas 79.8 ha dan 189.9 serta KDE seluas 118.6 ha dan 180.6 ha. Aktivitas harian elang jawa di bukit Mayana yang paling banyak terlihat adalah terbang dengan presentase 79% sedangkan ketika tengger hanya sebesar 21%. Intensitas terbang paling tinggi mulai dari jam 09:00-11:30.Kata Kunci: Aktivitas harian, Wilayah jelajah, kernel density estimation, , Nisaetus bartelsi
KEANEKARAGAMAN JENIS AMFIBI (ORDO ANURA) DI WISATA ALAM PASIR BATANG TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI Andreansyah Andreansyah; Iing Nasihin; Ika Karyaningsih
Wanaraksa Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v12i2.4567

Abstract

Amfibi mempunyai peran yang sangat penting dalam proses ekologi, serta dapat dijadikan bioindikator kondisi lingkungan. Secara ekonomi amfibi juga mempunyai manfaat yang sangat besar. Namun disisilain kerusakan lingkungan telah menyebabkan kuantitas dan kualitas amfibi menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman, morfologi dan kondisi habitat amfibi (ordo anura) di Wisata Alam Pasir Batang Taman Nasional Gunung Ciremai. Metode yang digunakan adalah Visual Encounter Survey dan Line Transek dengan metode analisis data Indeks Keanekaragaman Shannon Wiener (H’), Indeks Kekayaan Margalef (R), Indeks Kemerataan Evenness (E) dan Analisis Vegetasi. Spesies yang ditemukan adalah 13 jenis dengan total 154 individu. Indeks keanekaragaman Shannon Weiner (H)’ adalah 2. Kekayaan spesies termasuk kedalam kategori rendah karena  di semua jalur pengamatan memiliki nilai  jenisnya R 2,5 yang berarti nilai kekayaannya rendah. Indeks kemerataan tertinggi yaitu pada jalur sebelah kanan pondok JICA dengan nilai E= 0,9 berarti komunitas stabil. Vegetasi  didominasi oleh kaliandra (Calliandra), kopi (Coffea) dan pinus (Pinus merkusii). Suhu udara di wisata alam pasir batang berkisar antara 17 - 23,4 °C, Kelembaban berkisar antara 73 % - 99 %, sementara itu suhu air berkisar antara 17 - 20,1 °C dan PH air antara 6,5 – 7,9. Keanekaragaman amfibi tergolong sedang.Kata kunci : Keanekaragaman, Vegetasi, Kondisi Lingkungan
PEMANFAATAN KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG BERKICAU DAN UPAYA KONSERVASI PADA KONTES BURUNG BERKICAU DI KABUPATEN KUNINGAN JAWA BARAT Nurdin Nurdin; Iing Nasihin; Asep Yuda Guntara
Wanaraksa Vol 11, No 01 (2017)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v11i01.1063

Abstract

Pemanfaatan keanekaragaman jenis burung berkicaudan upaya konservasi pada kontes burung berkicau di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Burung memiliki fungsi penting bagi ekologi, sosial ekonomi dan budaya masyarakat serta indikator perubahan musim (cf. Dammerman, 1929; Dickson et al., 1979; Howe dan Westley, 1988; Iskandar, 2015). Penelitian ini bertujuan untuk  mengidentifikasi jenis burung berkicau pada kegiatan kontes burung dan mengetahui status dan upaya konservasi burung berkicau dalam kegiatan kontes burung berkicau di Kabupaten Kuningan.Metode penelitian yang digunakan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian tercatat 15 jenis burung berkicau dari 11 family yang dipelihara oleh masyarakat, 6 jenis  dari 5 family yang mendominasi di arena kontes burung berkicau.Dampak maraknya kegiatan kontes burung berkicau telah menyebabkan maraknya hobimemelihara burung dan perdagangan burung di Kabupaten Kuningan. Dampak positif, kegiatan tersebut dapat mengembangkan berbagaipengetahuan masyarakat tentang burung, seperti aneka ragam jenis ataupun ras burung, tingkah laku burung, kicau burung, perawatan,dan penangkaran burung, khususnya terhadap jenis-jenis burung yang biasa dikonteskan. Maraknya kontes burung berkicau jugatelah menyebabkan berkembangnya kegiatan ekonomi dengan banyaknya yang berjualan di sekitar arena kontes dan industri pada masyarakat yang berkaitan dengan hobi memelihara burung,seperti industri pembuatan sangkar, pembuatan pakan, vitamin, dan obat-obatan burung piaraan.Selain itu mulai berkembang pula industri pembuatan kaos dan selimut sangkar burung yang bertemakan burung berkicau.Dampak negatif, populasi beberapa jenisburung berkicau menjadi berkurang dan berisiko tinggi untuk punah di alam akibat eksploitasi yang berlebihan dan perdagangan burung untuk burung kontes.Oleh karena itu untuk pemanfaatan burung berkicau secara berkelanjutan, upaya konservasi burung berlandaskan partisipasimasyarakat sungguh dibutuhkan dan diupayakan burung yang dikonteskan berasal dari penangkaran.Kata Kunci: burung berkicau, konservasi, penangkaran
ANALISIS POTENSI BURUNG UNTUK WISATA BIRDWATCHING DI KAWASAN GUNUNG TILU KABUPATEN KUNINGAN JAWA BARAT Seno Triliantho; Nina Herlina; Iing Nasihin
Wanaraksa Vol 16, No 02 (2022)
Publisher : Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v16i02.9025

Abstract

This research aims to determine the diversity of bird species and the potential of bird species for birdwatching tourism in the Gunung Tilu area, Kuningan Regency, West Java Province. The method used in this research is field observation using the roaming method, namely by recording bird species encountered at each observation location. Recording of bird species uses the MacKinon species list method using 10 species in 1 list. Based on the results of observations in the field, 61 species of birds were found, with a total encounter of 1,439 individuals, with a total encounter on the valley route of 58 species and 633 individuals encountered, and on the ridge route there were 60 species found with a total encounter of 806 individuals. The bird species diversity index in the valley route has a value of H'=3.66. For the ridge path the value is H'=3.78. The Mount Tilu area has the potential for birdwatching tourism because it has 19 types of birds that have the potential for birdwatching tourism.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis burung dan potensi jenis burung untuk wisata birdwatching di kawasan Gunung Tilu Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan dengan metode roaming yaitu dengan mencatat jenis-jenis burung yang ditemui pada setiap lokasi pengamatan. Pencatatan jenis burung menggunakan metode daftar jenis MacKinon dengan menggunakan 10 jenis dalam 1 daftar. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan ditemukan 61 jenis burung, dengan jumlah perjumpaan sebanyak 1.439 individu, dengan jumlah perjumpaan pada jalur lembah sebanyak 58 jenis dan ditemui 633 individu, serta pada jalur punggung bukit sebanyak 60 jenis. ditemukan dengan total pertemuan 806 individu. Indeks keanekaragaman jenis burung pada jalur lembah mempunyai nilai H'=3,66. Untuk jalur punggungan nilainya H'=3,78. Kawasan Gunung Tilu mempunyai potensi wisata birdwatching karena mempunyai 19 jenis burung yang berpotensi untuk wisata birdwatching.