Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan kadar asam urat dengan gagal ginjal kronik Rafsandjani, Muhamad Hatami; Detty, Ade Utia; Ladyani M, Festy; Sjahriani, Tessa Sjahriani
JOURNAL OF Tropical Medicine Issues Vol. 3 No. 1 (2025): Edition December 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/tmi.v3i1.1407

Abstract

Background: Chronic Kidney Disease (CKD) is a condition characterized by a progressive decline in kidney function over a certain period of time. The prevalence of CKD is relatively high and become the 12th leading cause of death worldwide. One of the factors suspected to be associated with CKD progression is elevated uric acid levels (hyperurecemia). Purpose: To analyze the correlation between uric acid levels and the stages of CKD in patients. Method: An observational design with a cross-sectional approach. Data were collected from medical records of 49 CKD patients at Bintang Amin Hospital in 2025 and statistically analyzed by using the Pearson Chi-Square test. Results: 38 patients (79.6%) had high uric acid levels, and 33 of them (67.35%) were in advanced stage of CKD (stage 4-5). The patients were predominantly male (53.1%) and aged 46-65 y.o (55.1%). Correlation: A statistically significant correlation was found between uric acid levels and CKD stage, with p-value of 0.019 (p<0.05) and an odds ratio (OR) of 2.7 (95% CI; 1.31-5.65).   Keywords: Chronic Kidney Disease; Hyperurecemia; Uric Acid.   Pendahuluan: Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan kondisi menurunnya fungsi ginjal secara progresif selama kurun waktu tertentu. Prevalensi penyakit GGK ini cukup tinggi dan menjadi penyebab kematian terbanyak ke-12 di seluruh dunia. Salah satu faktor yang diduga berkaitan erat dengan progresivitas GGK ialah kadar asam urat yang tinggi (hiperuresemia). Tujuan: Untuk menganalisis adanya hubungan kadar asam urat dengan gagal ginjal kronis pada pasien gagal ginjal kronis. Metode: Desain observasional dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan dari rekam medis 49 pasien GGK di RS Bintang Amin Tahun 2025 dan dianalisis secara statistik menggunakan uji Pearson Chi-Square. Hasil: Pasien didominasi oleh laki-laki sebanyak 26 orang (53.1%) dan pasien dengan kelompok usia 45-65 tahun sebanyak 27 orang (55.1%). Selain itu, sebanyak 38 pasien (79.6%) memiliki kadar asam urat tinggi dan 33 orang (67,35%) dari jumlah tersebut berada pada stadium berat GGK (stadium 4-5). Simpulan: Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kadar asam urat dengan stadium GGK, dengan nilai p=0,019 (p<0,05) dan nilai odds ratio (OR) sebesar 2,7 (CI 95%; 1,31-5,65).   Kata Kunci: Asam Urat; Gagal Ginjal Kronis; Hiperuresemia.
Hubungan Kepatuhan Pasien Chronic Kidney Disease (CKD) Yang Menjalani Hemodialisis Dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) Di Rumah Sakit Bintang Amin Bandar Lampung Nurandira, Dinda Roro Fauziah; Purwaningrum, Ratna; Detty, Ade Utia; Prasetia, Toni
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 10 (2025): Volume 12 Nomor 10
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i10.20507

Abstract

Masalah kesehatan global yang utama, Chonic Kidney Disease (CKD) memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Kepatuhan yang tinggi diperlukan untuk hemodialisis, pengobatan penggantian ginjal, untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Salah satu ukuran status gizi pasien CKD adalah Indeks Massa Tubuh (IMT). Penelitian ini berupaya untuk memastikan hubungan kepatuhan pasien CKD yang menjalani hemodialisis dengan IMT di Rumah Sakit Bintang Amin di Bandar Lampung tahun 2024. Penelitian ini menggabungkan metodologi cross-sectional retrospektif dengan metode penelitian observasional analitik. Sebanyak 76 responden dipilih menggunakan total sampling dari Rekam Medis pasien CKD pada tahun 2024. Mayoritas pasien hemodialisis yang patuh, menurut temuan penelitian, memiliki IMT dalam kisaran normal. Kepatuhan dan IMT tidak terdapat hubungan signifikan (p = 0,240). Kepatuhan pasien CKD yang menjalani hemodialisis dengan IMT di Rumah Sakit Bintang Amin di Bandar Lampung tidak terdapat hubungan signifikan pada tahun 2024.
Hubungan Pengetahuan Dengan Kepatuhan Diet Pasien Diabetes Mellitus Tipe II Di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bakhtiar, Muhammad Fazri; Detty, Ade Utia; Sani, Nopi
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 4 (2025): Volume 12 Nomor 4
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i4.16459

Abstract

Diabetes Mellitus Tipe II merupakan penyakit gangguan metabolik menahun akibat pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi. Secara efektif salah satu pilar penatalaksanaan Diabetes Mellitus Tipe II adalah diet sehingga pengetahuan akan diet, berpengaruh terhadap tatalaksana. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat kepatuhan diet pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin (RSPBA). Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional, dengan menggunakan teknik Random Sampling Uji statistik bivariat dengan menggunakan Chi square. Berdasarkan hasil analisis penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan diet pasien Diabetes Melitus dengan Tipe 2 p value= 0,00. Hasil nilai OR= 21,778
Hubungan jumlah leukosit dengan derajat PPOK pada pasien rawat inap Anastasya, Cyntia; Nurmalasari, Yesi; Detty, Ade Utia; Tarida, Fransisca
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 6 (2025): November Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i6.1477

Abstract

Background: COPD is a respiratory disorder that causes persistent and progressive airflow obstruction. This condition occurs due to damage to the bronchi and bronchioles, as well as damage to the air sacs (alveoli), which progresses to emphysema. Purpose: To determine the relationship between leukocyte count and COPD severity in hospitalized patients. Method: This was a quantitative study with an observational analytical design and a cross-sectional approach. The sample was selected using purposive sampling. Bivariate statistical tests used chi-square. Results: A total of 34 respondents had normal leukocyte counts, 1 respondent (2.9%) had COPD grade 4. Of the 7 respondents with low leukocyte counts, none had COPD grade 4. Of the 21 respondents with high leukocyte counts, 4 respondents (19.0%) had COPD grade 4. The chi-square statistical test yielded a p-value of 0.042. Conclusion: There is a relationship between leukocyte count and COPD severity in hospitalized patients.   Keywords: COPD; GOLD; Leukocyte Count.   Pendahuluan: PPOK merupakan gangguan pada organ pernapasan yang mengakibatkan hambatan aliran udara secara berkelanjutan dan cenderung memburuk. Kondisi ini terjadi akibat gangguan pada saluran bronkus dan bronkiolus, serta kerusakan pada kantung udara (alveoli) yang berkembang menjadi emfisema. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara jumlah leukosit dengan derajat PPOK pada pasien rawat inap. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain analitik observasional dan pendekatan cross sectional. Pemilihan sampel menggunakan teknik sampling Purposive Sampling. Uji statistik bivariat menggunakan Chi Square. Hasil: Jumlah responden sebanyak 34 orang yang memiliki leukosit normal, sebanyak 1 responden (2.9%) dengan derajat PPOK GOLD 4, dari 7 responden yang jumlah leukositnya rendah, tidak ada yang mengalami PPOK dengan derajat PPOK GOLD 4, dan dari 21 responden yang jumlah leukositnya tinggi, sebanyak 4 responden (19,0%) dengan derajat PPOK GOLD 4. Hasil uji statistik menggunakan Chi – Square diperoleh nilai p value 0,042. Simpulan: Terdapat hubungan jumlah leukosit dengan derajat PPOK pada pasien rawat inap. Kata Kunci: GOLD; Jumlah Leukosit; PPOK.  
Hubungan Polusi Udara Dengan Angka Kejadian Rhinitis Alergi Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Angkatan 2021 Aulyasari, Fina; Detty, Ade Utia; Utami, Deviani; Wijaya, Bara Ade
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 11 (2025): Volume 12 Nomor 11
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i11.20765

Abstract

Rhinitis alergi ialah inflamasi kronis pada mukosa hidung akibat reaksi alergi, yang banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan, salah satunya ialah polusi udara. Tujuan studi ini ialah mengetahui hubungan antara polusi udara dengan angka kejadian rhinitis alergi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Angkatan 2021. Studi ini memakai desain analitik observasional dan pendekatan cross-sectional, diselenggarakan pada  bulan Februari-Maret 2025. Sampel yang dipakai yaitu 96 mahasiswa yang ditentukan melalui teknik simple random sampling, memakai kuesioner modifikasi untuk mengukur paparan polusi udara dan kuesioner Score for Allergic Rhinitis (SFAR) untuk mengidentifikasi rhinitis alergi. Hasil memperoleh di antara 46 mahasiswa yang tidak terpapar polusi udara, 73,9% tidak mengalami rhinitis alergi, sementara 26,1% mengalaminya, serta dari 50 mahasiswa yang terpapar polusi udara, 42% tidak mengalami rhinitis alergi, dan 58% mengalaminya. Uji statistik chi-square menunjukkan p = 0,002 (< 0,05), yang menandakan adanya hubungan signifikan antara polusi udara dan kejadian rhinitis alergi, dengan nilai Odds Ratio (OR) 3,913, yang berarti individu yang terpapar polusi udara memiliki risiko 3,9 kali lebih besar untuk mengalami rhinitis alergi. Hail ini menunjukkan bahwa polusi udara merupakan faktor risiko signifikan terhadap kejadian rhinitis alergi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati.