Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Hubungan Lama Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Gejala Osteoartritis di Puskesmas Rajabasa Indah Bandar Lampung Karmi, Fitria; Utami, Deviani; Anggunan, Anggunan; Farid, M Fajrin Amin
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 6 (2023): Volume 3 Nomor 6 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.486 KB) | DOI: 10.33024/mahesa.v3i6.10412

Abstract

ABSTRACT Degenerative disease is a condition in which cell function declines prematurely, causing a decrease in health status. One example of a degenerative disease is diabetes mellitus. This increase in the incidence of diabetes mellitus will be followed by an increase in the likelihood of chronic complications of diabetes. One of the complications in people with diabetes mellitus will cause musculoskeletal disorders. The most common musculoskeletal disorder is osteoarthritis. The purpose of this study was to the correlation between Long-Suffering From Diabetes Mellitus With Osteoartritis Symptoms In Rajabasa Indah Puskesmas In Bandar Lampung In 2021. This research used analytic methods with a cross-sectional data collection approach. the sample of this research is 271 responden’s  with the sampling technique using purposive random sampling method. Data analysis used the spearman's correlation. It was found that the frequency distribution of the duration of type 2 diabetes mellitus is mostly ≥ 5 years (64.9%) with mild osteoarthritis symptoms (46.1%). There is a significant relationship between type 2 diabetes mellitus sufferers and symptoms of osteoarthritis. (P-value = 0.000). Based on the analysis and discussion above, There is a significant correlation between type 2 diabetes mellitus sufferers and symptoms of osteoarthritis. Keywords: Diabetes Mellitus, Long-Suffering,Osteoarthritis  ABSTRAK Penyakit degeneratif adalah suatu kondisi terjadinya penurunan fungsi sel sebelum waktunya sehingga menyebabkan penurunan derajat kesehatan. Salah satu contoh penyakit degeneratif adalah diabetes mellitus. Peningkatan insiden diabetes melitus ini akan diikuti dengan meningkatnya kemungkinan terjadinya komplikasi kronik diabetes. Salah satu komplikasi pada penderita diabetes melitus akan menyebabkan terjadinya gangguan muskuloskeletal. Pada gangguan muskuloskeletal yang paling sering terjadi yaitu terjadinya gangguan osteoartritis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan lama penderita diabetes melitus tipe 2 dengan gejala osteoartritis di Puskesmas Rajabasa Indah Bandar Lampung tahun 2021. Penelitian yang dilakukan ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan pengambilan data cross sectional. sampel penelitian ini adalah 271responden  dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive random sampling. Analisa data menggunakan uji korelasi spearman’s. Didapatkan bahwa hasil distribusi frekuensi lama penderita diabetes melitus tipe 2 mayoritas  ≥ 5 tahun (64.9%) dengan gejala osteoatritis ringan (46.1%). Terdapat hubungan yang signifikan antara lama penderita diabetes melitus tipe 2 dengan gejala osteoartritis. (P-value = 0.000). Kata Kunci: Diabetes Melitus,Lama Menderita, Osteoartritis
Kegiatan peduli anak stunting (PEDAS) dengan pemenuhan gizi dari bahan pangan lokal Anggunan, Anggunan; Fransiska, Amelia; Hanafi, Ari Eka; Septiani, Ayu Aulia; Indriana, Danti; Gunawan, Muhammad Arfan; Putra, Ramanda Hadi; Maharani, Reysha Putri; Syahrin, Tiara Laili Alfy
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1566

Abstract

Background: Stunting is a condition of growth failure in toddlers due to chronic malnutrition and frequent recurrent infections, especially during the first 1,000 days of life. Stunting is characterized by a child's height being lower than the standard for their age. The impact is not only physical, but also cognitive development and future productivity. Stunting remains a significant health problem in Negara Batin Village, West Kota Agung District, Tanggamus Regency. This condition is closely related to the community's lack of understanding regarding balanced nutrition, parenting practices, and environmental health. Purpose: To increase community knowledge about stunting prevention through nutrition education and nutritious food processing practices based on local ingredients. Method: The "Caring for Stunting Children" outreach activity was held at the Negara Batin Village Hall, West Kota Agung District, Tanggamus, on August 12, 2025, from 8:00 a.m. to close. Forty-one participants attended, consisting of pregnant women and mothers of toddlers from the Negara Batin Village community. The delivery of material in this extension activity uses an interactive method through open discussions and question and answer sessions with the participants. Results: The community demonstrated high enthusiasm and active participation in the discussion sessions. Prior to the activity, most residents did not fully understand the causes and prevention of stunting. Using corn as the main ingredient in porridge also provides added value. Besides being readily available, corn boasts excellent nutritional value for children, making it a healthy food alternative. Conclusion: The "Caring for Stunting Children" outreach program had a positive impact on the community. Through education and hands-on practice, participants were able to effectively increase their understanding of balanced nutrition, parenting styles, and environmental health. Suggestion: The community of Negara Batin Village is expected to be more concerned with stunting prevention by maintaining a nutritious diet, good parenting styles, and environmental cleanliness. Village officials and health workers need to continue providing regular education and supporting facilities to ensure the sustainability of these efforts. Keywords: Balanced nutrition; Local food ingredients; Outreach; Stunting prevention Pendahuluan: Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis dan sering mengalami infeksi berulang, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Stunting ditandai dengan tinggi badan anak yang lebih rendah dari standar usianya. Dampaknya bukan hanya pada fisik, tetapi juga perkembangan kognitif dan produktivitas di masa depan. Stunting masih menjadi masalah kesehatan yang cukup menonjol di Pekon Negara Batin, Kecamatan Kota Agung Barat, Kabupaten Tanggamus. Kondisi ini erat kaitannya dengan kurangnya pemahaman masyarakat mengenai gizi seimbang, pola asuh anak, serta kesehatan lingkungan. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan stunting melalui edukasi gizi dan praktik pengolahan makanan bergizi berbasis bahan lokal. Metode: Kegiatan penyuluhan “Peduli Anak Stunting (PEDAS)” dilaksanakan di Balai Pekon Negara Batin, Kecamatan Kota Agung Barat, Tanggamus pada tanggal 12 agustus 2025 pukul 08.00 – selesai WIB. Partisipan yang hadir dalam acara ini sebanyak 41 peserta yang terdiri dari ibu hamil dan ibu yang mempunyai balita merupakan warga Pekon Negara Batin. Penyampaian materi dalam kegiatan penyuluhan ini menggunakan metode interaktif melalui diskusi terbuka serta sesi tanya jawab bersama para peserta. Hasil: Masyarakat menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan keterlibatan aktif dalam sesi diskusi. Sebelum kegiatan, sebagian besar warga belum memahami secara detail mengenai faktor penyebab dan cara pencegahan stunting. Pemanfaatan jagung sebagai bahan pangan utama bubur juga memberikan nilai tambah. Selain mudah diperoleh, jagung memiliki kandungan gizi yang baik bagi anak, sehingga dapat dijadikan alternatif makanan sehat. Simpulan: Kegiatan dengan program penyuluhan “Peduli Anak Stunting (PEDAS)”) memberikan dampak positif pada masyarakat. Melalui edukasi dan praktik langsung secara efektif dapat meningkatkan pemahaman peserta mengenai gizi seimbang, pola pengasuhan, serta kesehatan lingkungan. Saran: Masyarakat Pekon Negara Batin diharapkan lebih peduli terhadap pencegahan stunting dengan menjaga pola makan bergizi, pola asuh yang baik, serta kebersihan lingkungan, sementara perangkat desa dan tenaga kesehatan perlu terus melakukan edukasi secara berkala dan menyediakan fasilitas pendukung agar upaya ini berjalan berkelanjutan.
Edukasi dengan inovasi produk pangan berbasis daun kelor sebagai upaya pencegahan stunting pada anak Anggunan, Anggunan; Pangestu, Herwindu Danu; Moch Adytia Pangestu, Moch Adytia; Emelianti, Dipsi; Andini, Mutia; Ludfi, Nyimas Zazkia; Sari, Ni Wayan Widia; Amanda, Dania Tri
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1552

Abstract

Background: Stunting in Indonesia remains a serious challenge to improving child health, with a national prevalence reaching 21.6% in 2022. Early prevention efforts through nutritional improvement and the use of balanced, nutritious local foods are essential. The Moringa oleifera plant, rich in essential nutrients, has significant potential as a functional food ingredient to prevent stunting. In Pekon Belu, Tanggamus Regency, the use of Moringa is still limited despite its abundant availability. This study analyzes innovative local food products based on Moringa leaves, such as pudding and dumplings, as an adaptive, affordable, and sustainable nutritional intervention strategy to support stunting prevention in children. Purpose: To provide education on innovative processed food products based on Moringa leaves, such as pudding and dumplings, as an effort to increase children's nutritional intake. Method: The activity was conducted in 2025 in Pekon Belu, West Kota Agung District, Tanggamus Regency. It involved 63 participants, consisting of 3 pregnant women, 6 infants aged 0–12 months, 15 toddlers, and 43 children. The activity included education on the local potential of the Moringa plant and outreach on its nutritional content to meet nutritional needs that can contribute to stunting prevention. A simple organoleptic test was conducted on 20 children regarding processed foods, namely pudding and dumplings made from Moringa leaves. The simple organoleptic assessment consisted of assigning a score to each statement, with 1=like and 0=dislike. Results: Of the 15 toddlers, data obtained indicated that 6 children (40.0%) had symptoms of stunting. Based on the simple organoleptic assessment data by the 20 children, the pudding product received a score of 4.2 points for taste, 4.0 points for color, and 4.5 points for texture, with an acceptance rate of 85%. Meanwhile, processed siomay products obtained scores of 4.0 points for taste, 3.8 points for color, and 4.2 points for texture, with an acceptance rate of 80%. Conclusion: Educational activities involving innovative food processing using moringa leaves as the main ingredient in pudding and dumplings have made a positive contribution as an effective and affordable locally-based nutrition intervention for the community. Suggestion: Further research through laboratory analysis and trials with larger samples is needed to strengthen the scientific evidence regarding the nutritional content of moringa products. Furthermore, the development of a variety of moringa-based products is necessary to expand nutritious food choices to support stunting prevention. This product has the potential to be a stunting prevention strategy because it suits children's tastes, is easily accessible, and is economical. Keywords: Dumpling; Moringa leaves; Nutrition; Pudding; Stunting Pendahuluan: Masalah stunting di Indonesia masih menjadi tantangan serius dalam peningkatan kualitas kesehatan anak, dengan prevalensi nasional mencapai 21.6% pada tahun 2022. Upaya pencegahan sejak dini melalui perbaikan gizi dan pemanfaatan pangan lokal bergizi seimbang sangat diperlukan. Tanaman kelor (Moringa oleifera), yang kaya akan zat gizi penting, memiliki potensi besar sebagai bahan pangan fungsional untuk mencegah stunting. Di Pekon Belu, Kabupaten Tanggamus, pemanfaatan kelor masih terbatas meski ketersediaannya melimpah. Penelitian ini menganalisis inovasi produk pangan lokal berbasis daun kelor, seperti puding dan siomay, sebagai strategi intervensi gizi yang adaptif, terjangkau, dan berkelanjutan dalam mendukung pencegahan stunting pada anak. Tujuan: Memberikan edukasi dengan inovasi produk olahan makanan berbasis daun kelor berupa puding dan siomay sebagai upaya peningkatan asupan nutrisi bergizi pada anak. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2025 di Pekon Belu, Kecamatan Kota Agung Barat, Kabupaten Tanggamus. Melibatkan 63 peserta, terdiri dari 3 ibu hamil, 6 bayi usia 0–12 bulan, 15 balita, dan 43 anak-anak. Kegiatan berupa edukasi pemanfaatan potensi lokal tanaman kelor dan sosialisasi kandungan gizi sebagai pemenuhan kebutuhan kecukupan gizi yang dapat berkontribusi dalam pencegahan stunting. Dilakukan uji organoleptik sederhana pada 20 anak terkait makanan olahan berupa puding dan siomay dari daun kelor. Penilaian organoleptik sederhana berupa pemberian nilai skor dalam setiap pernyataan nilai 1=menyukai, dan 0=tidak menyukai. Hasil: Dari sebanyak 15 balita, mendapatkan data sebanyak 6 anak-anak (40.0%) terindikasi memiliki gejala stunting. Berdasarkan data penilaian organoleptik sederhana oleh 20 anak untuk produk olahan puding memperoleh skor pada aspek rasa 4.2 poin, aspek warna 4.0 poin, dan aspek tekstur 4.5 poin, dengan tingkat penerimaan mencapai 85%. Sedangkan untuk produk olahan siomay memperoleh skor pada aspek rasa 4.0 poin, aspek warna 3.8 poin, dan aspek tekstur 4.2 poin, dengan tingkat penerimaan mencapai 80%. Simpulan: Kegiatan edukasi dengan inovasi pengolahan pangan menggunakan daun kelor sebagai bahan utama dalam puding dan siomay memberikan kontribusi positif sebagai intervensi gizi berbasis potensi lokal yang efektif dan terjangkau pada masyarakat. Saran: Penelitian lanjutan melalui analisis laboratorium dan uji coba dengan sampel lebih besar diperlukan untuk memperkuat bukti ilmiah terkait kandungan gizi produk kelor. Selain itu, pengembangan ragam produk berbasis kelor perlu dilakukan guna memperluas pilihan pangan bergizi dalam mendukung pencegahan stunting. Produk ini berpotensi menjadi strategi pencegahan stunting karena sesuai selera anak, mudah diakses, dan ekonomis.
Karakteristik Pasien Kanker Payudara Di RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung Salsabila, Nadia; Utami, Deviani; Anggunan, Anggunan; Sahara, Nita
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 12 (2025): Volume 12 Nomor 12
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i12.24083

Abstract

Kanker payudara tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, dengan 396.914 kasus kanker baru dan 234.511 kematian terkait kanker yang dilaporkan. Sekitar 70% kasus kanker payudara didiagnosis pada stadium lanjut, sebagian besar karena keterlambatan perilaku mencari perawatan kesehatan dan rendahnya kesadaran akan tanda-tanda peringatan dini. Diagnosis stadium lanjut menyebabkan pengobatan yang lebih kompleks, biaya yang lebih tinggi, dan prognosis yang lebih buruk. Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik pasien kanker payudara di Rumah Sakit Abdul Moeloek Bandar Lampung pada tahun 2025. Studi deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional dilakukan pada bulan April 2025. Sebanyak 155 pasien dipilih menggunakan pengambilan sampel acak. Data primer dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif (univariat). Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar pasien berusia ≥50 tahun, memiliki riwayat keluarga kanker payudara, tidak menyusui, didiagnosis pada stadium III, menerima kombinasi operasi dan kemoterapi, dan memiliki riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal. Kesimpulannya, pasien kanker payudara di Rumah Sakit Abdul Moeloek Bandar Lampung sebagian besar adalah wanita lanjut usia dengan berbagai karakteristik risiko yang telah diketahui dan umumnya didiagnosis pada stadium lanjut. Temuan ini menyoroti pentingnya memperkuat program deteksi dini dan pendidikan kesehatan untuk mengurangi diagnosis pada stadium lanjut.