Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Nursing Agency Untuk Meningkatkan Kepatuhan,Self-Care Agency (SCA) Dan Aktivitas Perawatan Diri Pada Penderita Diabetes Mellitus (DM) Sari, Ni Putu Wulan Purnama
JURNAL NERS LENTERA Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/ners.v5i1.1571

Abstract

Pendahuluan: Perawat memiliki peran besar dalam memberi penguatan kepada penderita DM untuk mau dan mampu melaksanakan perawatan diri di rumah demi mencapai kontrol glikemik yang baik. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh nursing agency terhadap kepatuhan, SCA dan aktivitas perawatan diri pada penderita DM. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan the one group pretest post-test design. Model perawatan diri Orem digunakan sebagai kerangka teoritis. Populasi adalah seluruh penderita DM di Kelurahan Mojo, Surabaya. Sampel dipilih menggunakan quota sampling, besar sampel minimal 30 orang. Variabel independen adalah nursing agency dalam bentuk kegiatan promosi kesehatan yang diikuti diskusi dan konsultasi; variabel dependen adalah kepatuhan, SCA dan aktivitas perawatan diri. Instrumen yang digunakan adalah handout, SAP dan beberapa kuesioner yang valid dan reliabel. Analisis data menggunakan paired t test dengan α≤0.05. Hasil: Saat pretest, mayoritas responden memiliki kepatuhan yang cukup dan SCA yang tinggi, namun aktivitas perawatan dirinya belum optimal. Setelah diberi intervensi penelitian, mayoritas responden memiliki kepatuhan dan SCA yang tinggi serta aktivitas perawatan diri yang optimal. Nursing agency dapat meningkatkan kepatuhan sebesar 7,8%, SCA sebesar 14,4% dan aktivitas perawatan diri sebesar 12,9%. Nursing agency terbukti mempengaruhi kepatuhan, SCA dan aktivitas perawatan diri pada penderita DM (p=0,000). Pembahasan: Orem berpendapat bahwa yang menjadikan aktivitas perawatan diri individu adalah pengetahuannya. Kesadaran diri adalah faktor yang paling menentukan kualitas hidup penderita DM. Saat perawat mampu memaksimalkan pengetahuan yang dimiliki penderita DM maka kepatuhan, SCA dan aktivitas perawatan dirinya juga akan meningkat. Kesimpulan: Nursing agency dapat meningkatkan kepatuhan, SCA dan aktivitas perawatan diri pada penderita DM.
Pengaruh Religiusitas Terhadap Depresi Pada Lansia Yang Tinggal di Panti Werdha Prabasari, Ninda Ayu; Sari, Ni Putu Wulan Purnama; Freitas, Ana Aniceta Do Ceo Quadro
JURNAL NERS LENTERA Vol. 10 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/ners.v10i1.4077

Abstract

One of the developmental tasks of the elderly is to increase spirituality by getting closer to God. In individuals who embrace a certain religion, spirituality is closely related to religiosity which involves religious rituals and activities. Religious appreciation has a greater influence on the physical and mental health of the elderly. This study aimed to analyze the influence of religiosity towards depression in institutionalized elderly. Methods: This cross-sectional study involved 40 Catholic elderly living in nursing home. The variables of religiosity and depression were measured by valid and reliable CRS and GDS instruments. Linear regression test was used in data analysis. Results: The majority were very religious (65%) and did not experience depression (62%). Religiosity significantly affected depression in the elderly (p=0.018). Religiosity determined 13.8% variance of depression in the elderly (R2=0.138). Discussion: The elderly have a higher desire to get closer to God than younger ages. Elderly who have religious beliefs will feel strong and experience inner peace so that there is no depressive feeling. Conclusion: Religiosity significantly influence depression in the elderly. Religiosity determines 13.8% variance of depression in institulionalized elderly.
Pengaruh Kemampuan Merawat Diri Terhadap Kualitas Hidup Lansia Dengan Penyakit Kronis Sari, Ni Putu Wulan Purnama; Andriani, Dewi; Putri, Donata Astuti
JURNAL NERS LENTERA Vol. 9 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/ners.v9i1.4135

Abstract

Pendahuluan: Proses degenartif yang terjadi pada usia lanjut menyebabkan munculnya berbagai jenis penyakit kronis pada lansia. Mengingat proses perawatan jangaka panjang yang dibutuhkan maka penderita penyakit kronis dituntut untuk memiliki kemampuan perawatan diri yang baik agar dapat melaksanakan perawatan diri secara mandiri demin mencapai status kesehatan yang optimal. Status kesehatan yang baik akan berkontribusi terhadap kualitas hidup yang baik. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kemampuan merawat diri terhadap kualitas hidup lansia dengan penyakit kronis. Metode: Penelitian cross-sectional ini melibatkan 40 orang lansia penderita penyakit kronis di wilayah kerja Puskesmas Jagir, Surabaya. Variabel kemampuan merawat diri dan kualitas hidup lansia diukur dengan instrumen DSCAI dan OPQOL yang valid dan reliabel. Uji regresi linear digunakan dalam proses analisis data. Hasil: Mayoritas responden memiliki kemampuan merawat diri yang baik (65%) dan kualitas hidup yang baik (67%). Kemampuan merawat diri mempengaruhi kualitas hidup lansia secara signifikan (p=0,000). Kemampuan merawat diri menentukan 73,5% varians nilai kualitas hidup lansia {R=0,735). Pembahasan: Kemampuan merawat diri akan tercermin dalam aktivitas perawatan diri seharihari yang dapat mempengaruhi status kesehatan lansia sehingga berdampak pada kualitas hidupnya. Kesimpulan: Kemampuan merawat diri mempengaruhi kualitas hidup lansia secara signifikan. Kemampuan merawat diri menentukan 73,5% varians nilai kualitas hidup lansia dengan penyakit kronis.
Tingkat Stres Family Caregiver Pasien Kanker Astarini, Made Indra Ayu; Sari, Ni Putu Wulan Purnama; Oraplawal, Lidya Costansa Wihelmina
JURNAL NERS LENTERA Vol. 11 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/ners.v11i2.4979

Abstract

ABSTRAKPendahuluan Perawatan pasien kanker dirumah dibantu oleh anggota keluarga. Kondisi pasien kanker yang cenderung menurun dan kebutuhan biaya perawatan dapat menimbulkan stress bagi family caregiver. Metode Desain penelitian ini adalah deskriptif analitik. Variabel penelitian yaitu tingkat stress family caregiver. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh family caregiver pasien kanker di wilayah kerja Puskesmas Pacarkeling, Pucang Sewu, dan Kedungdoro. Besar sampel yaitu 32 orang responden yang didapatkan dengan menggunakan Teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Perceived Stress Scale yang sudah valid dan reliable.  Analisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil Mayoritas responden mengalami stress sedang yaitu sebanyak 17 orang (53%). Pembahasan Stres yang dialami oleh family caregiver dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu lama merawat pasien, kondisi pasien, dan kebutuhan biaya perawatan.  Kata kunci: family caregiver, kanker, stres ABSTRACTIntroduction Treatment of cancer patients at home is assisted by family members. The condition of cancer patients tends to decline and the need for treatment costs can cause stress for family caregivers. Method The design of this research was descriptive analytic. The research variable was the stress level of the family caregiver. The population in this study were all family caregivers of cancer patients in the working areas of the Pakerkeling, Pucang Sewu, and Kedungdoro Health Centers. The sample size is 32 respondents obtained by using purposive sampling technique. The instrument used in this research was the Perceived Stress Scale which was valid and reliable. Analysis using descriptive analysis. Results The majority of respondents experienced moderate stress, namely as many as 17 people (53%). Discussion The stress experienced by family caregivers can be caused by several factors, namely the length of time caring for a patient, the patient's condition, and the need for care costs. 
Prediktor Kualitas Tidur Pada Lansia Penderita Penyakit Kronis Dengan Komorbiditas di Panti Werdha Sari, Ni Putu Wulan Purnama; Cempaka, Anindya Arum; Pae, Kristina; Carlos, Dominikus Andriano
JURNAL NERS LENTERA Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/ners.v12i2.5890

Abstract

Pendahuluan: Lansia rentan mengalami penyakit kronis akibat penuaan yang mampu memicu stres psikologis. Stres merupakan prediktor terkuat dari kualitas tidur yang buruk. Terkadang, penyakit kronis yang muncul lebih dari satu, dimana penyakit penyerta disebut komorbiditas. Penelitian ini bertujuan menganalisis prediktor kualitas tidur pada lansia penderita penyakit kronis dengan komorbiditas pada setting panti werdha. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Populasi adalah semua lansia penderita penyakit kronis dengan komorbiditas di salah satu panti werdha di Surabaya. Sampel adalah total populasi (n=30). Instrumen Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) digunakan dalam pengumpulan data. Uji regresi linear dan ordinal digunakan untuk menganalisis data (α=0,05). Hasil: Mayoritas responden adalah lansia laki-laki (57%), manula (87%), menderita diabetes mellitus (60%) dengan komorbiditas asma (36%), dan kualitas tidurnya buruk (90%). Prediktor kualitas tidur yang terbukti signifikan pada kelompok populasi ini adalah onset tidur (p=0,000) dan rasa kantuk saat aktivitas (p=0.000). Pembahasan: Latensi tidur dan disfungsi siang hari merupakan prediktor kualitas tidur yang signifikan pada kelompok populasi ini. Kesimpulan: Mayoritas item dalam PSQI tidak mampu mengkaji kualitas tidur lansia yang memiliki penyakit kronis dengan komorbiditas, kecuali item 2 dan 7 tentang onset tidur dan rasa kantuk saat aktivitas. 
Evaluasi Respon Nyeri Pasca Penggunaan Matras Pintar Pereduksi Dekubitus: Pra-Eksperimen Pada Dewasa Sehat Sari, Ni Putu Wulan Purnama; Agustine, Lanny; Pranjoto, Hartono
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 9 (2024): Volume 6 Nomor 9 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i9.14473

Abstract

ABSTRACT Decubitus is a pressure sore on the skin resulting from a relatively long bed rest position. This health problem often occurs in immobilized patients, and is often found in protruding parts of the bone. In order to prevent the emergence of decubitus in patients on bed rest, and prevent the worsening of wounds in patients who already have decubitus, an innovation of smart pressure reducing mattress was created. Before testing it on patients, it is necessary to test the mattress on healthy adult individuals. This study aims to analyze the correlation between the use of a smart mattress and the emergence of pain responses in healthy adult individuals with indicators of pain, burning sensation and sense of pressure. This quantitative study used a cross-sectional design. The population was healthy adults of productive age. The sample was 29 female nursing students (n=29). Instruments included a smart pressure reducing mattress, observation sheet of body height and weight plus BMI, and pain response questionnaire. Data analysis used the Spearman Rank correlation test (α<0.05). The majority reported good evaluation results after using the smart mattress. They expressed strongly agreed with the following statements: they didn't feel any pain (75.86%), burning sensation (75.86%), and sense of pressure on their skin (79.31%). The burning sensation had a strong and significant correlation with the sense of pressure on the skin (p=0.003; ρ=0.528). Using a smart mattress for 40 minutes does not cause a pain response in healthy adult individuals with indicators of not feeling pain, the skin does not feel burning sensation or pressured. There is a strong and significant correlation between burning sensation and the sense of pressure on the skin after 40 minutes lying on the smart mattress. Keywords: Decubitus, Healthy Adults, Smart Mattress, Pain, Burning Sensation, Sense of Pressure.   ABSTRAK Dekubitus merupakan luka tekan pada kulit akibat posisi tirah baring yang relatif lama. Masalah kesehatan ini sering terjadi pada pasien yang imobilisasi, dan sering ditemukan pada bagian tulang yang menonjol. Demi mencegah timbulnya dekubitus pada pasien tirah baring, dan mencegah perburukan luka pada pasien yang sudah memiliki dekubitus, maka dibuatlah inovasi matras pintar pereduksi dekubitus. Sebelum uji coba pada pasien, maka diperlukan uji coba matras pada individu dewasa sehat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan penggunaan matras pintar dengan munculnya respon nyeri pada individu dewasa yang sehat dengan indikator sensasi nyeri pada kulit yang meliputi rasa sakit, rasa panas, dan rasa tertekan. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross-sectional. Populasi adalah orang dewasa sehat pada usia produktif. Sampel adalah 29 orang mahasiswa keperawatan perempuan (n=29). Instrumen meliputi matras pintar pereduksi dekubitus, lembar observasi TB, BB, dan IMT, serta kuesioner respon nyeri. Analisis data menggunakan uji korelasi Rank Spearman (α<0,05). Mayoritas responden melaporkan hasil evaluasi yang baik pasca menggunakan matras pintar. Mereka mengatakan sangat setuju pada pernyataan: tidak merasa sakit (75,86%), kulit tidak merasa panas (75,86%) dan tidak merasa tertekan (79,31%). Rasa panas memiliki korelasi yang kuat dan signifikan dengan rasa tertekan di kulit (p=0,003; ρ=0,528). Penggunaan matras pintar selama 40 menit tidak menimbulkan respon nyeri pada individu dewasa sehat dengan indikator tidak merasa sakit, kulit tidak merasa panas dan tertekan. Ada hubungan yang kuat dan signifikan  antara rasa panas dan rasa tertekan di kulit setelah berbaring selama 40 menit di atas matras pintar. Kata Kunci: Dekubitus, Dewasa Sehat, Matras Pintar, Nyeri, Rasa Panas, Rasa Tertekan