Claim Missing Document
Check
Articles

Metode Pembelajaran Discovery dalam Mengembangkan Proses Berfikir Kreatif Anak Zahrina Amelia; Nila Fitria
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 5, No 4 (2020)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sh.v5i4.435

Abstract

Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran pola dan data empiris mengenai metode pembelajaran discovery dalam mengembangkan proses berpikir kreatif anak usia 6-7 tahun di wilayah Jakarta selatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan dilaksanakan pada orang tua dan anak usia 6-7 tahun di Wilayah Jakarta Selatan. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Anaklisis data memnggunakan  reduksi data, display data dan verivikasi/ kesimpulan. Pemeriksaan data dilakukan dengan triangulasi data dan member check. Temuan  hasil penelitian menunjukkan metode pembelajaran discovery dalam  mengembangkan proses berpikir kreatif anak yaitu: (1) anak bertanya dan mengeksplorasi lingkungan sekitar pada saat mengumpulkan  informasi. (2) anak berbincang-bincang untuk bertukar informasi yang dimiliki. (3) anak menyampaikan dan menguji ide yang dimilikinya. (4) anak mengidentifikasi ide yang yang dimilikinya telah sempurna atau membutuhkan penyempurnaan. Hal tersebut juga didukung oleh guru dengan menyajikan masalah, membimbing dan mengawasi anak untuk bereksplorasi dan menemukan jawabannya. Implikasi dari penelitian ini adalah secara teoritis, proses berpikir kreatif dapat dilakukan di setiap sekolah melalui kegiatan yang memberikan ruang untuk anak menemukan idea tau jawabannya sendiri. Secara praktis proses berpikir kreatif akan berkembang dengan baik apabila terdapat dukungan dari guru dan lingkungan anak. Guru dapat menciptakan lingkungan yang kondusif dan lingkungan yang mendukung anak untuk menemukan ide-ide baru.Abstract  – This study aims to obtain an overview of patterns and empirical data regarding discovery learning methods in developing creative thinking processes for children aged 6-7 years in the South Jakarta area. This research used qualitative methods and was carried out on parents and children aged 6-7 years in the Jakarta Selatan area. The data collection procedure was carried out through observation, interview, and documentation. Data analysis using data reduction, data display, and verification/conclusion. Data checking was performed by data triangulation and member checks. The findings of the research show that discovery learning methods in developing children's creative thinking processes are: (1) children ask questions and explore their surroundings when collecting information. (2) children chat to exchange information they have. (3) children convey and test the ideas they have. (4) children identify ideas that they have are perfect or need refinement. This is also supported by the teacher by presenting problems, guiding, and supervising children to explore and find answers. This research implies that theoretically, the creative thinking process can be carried out in every school through activities that provide space for children to find their ideas or answers. Practically, the creative thinking process will develop well if there is support from the teacher and the child's environment. The teacher can create a conducive environment and an environment that supports children to find new ideas.Keywords – creativity, acquisition creative thinking process, discovery learning methods
Praktik Pengalaman Lapangan Nila Fitria; Fidesrinur Fidesrinur
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.496 KB) | DOI: 10.36722/sh.v4i1.253

Abstract

Abstrak - Program Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan salah satu mata pelajaran yang harus diikuti oleh setiap mahasiswa keguruan termasuk mahasiswa PAUD. Pelaksanaan mata pelajaran PPL berbeda dengan mata pelajaran lainnya yang diikuti di kelas atau dilaksanakan di kampus baik secara teori maupun praktik. Berbeda halnya mata pelajaran PPL adalah mata pelajaran dalam bentuk praktik pengalaman lapangan sebagaimana kegiatan guru di sekolah-sekolah umumnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif (qualitative research). Penelitian ini menggunakan pendekatan  deskriptif analitik, yaitu data dideskripsikan dengan menggunakan statistik deskriptif, dan dimaknai secara mendalam berdasarkan perspektif emik yaitu penyajian data secara alamiah tanpa melakukan suatu manipulasi atau perlakuan terhadap subjek yang diteliti (Bogdan dan Taylor, 1975:31). Kompetensi mahasiswa PPL meningkat ditandai dengan meningkatnya 4 kompetensi yaitu : kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi professional, dan kompetensi sosial. Pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiwa PPL, guru pamong, dan dosen pembimbing memiliki peran yang sangat besar pengaruhnya dalam pelaksanaan PPL. Sedangkan peran kelompok PPL dan kepala sekolah kurang memiliki peran dalam pelaksanaan PPL. Kata Kunci - Mahasiswa PPL, Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Profesional, Kompetensi Sosial Abstract - Field Experience Program (PPL) is one of the subjects that should be followed by every student teacher including PAUD students. The implementation of PPL subjects is different from other subjects that are attended in class or held on campus in both theory and practice. In contrast to PPL subjects are subjects in the form of field experience practices as are the activities of teachers in general schools. The method used in this study is a qualitative method (qualitative research). This study uses descriptive analytic approach, which is descriptive descriptive data, and is interpreted in depth based on the perspective of emic that is the presentation of data naturally without doing a manipulation or treatment of the subjects studied (Bogdan and Taylor, 1975: 31). Competence of PPL students is marked by increasing the four competencies: pedagogic competence, personality competence, professional competence, and social competence. The knowledge that PPL students, pamong teachers, and lecturers have has an enormous role in PPL implementation. While the role of PPL groups and principals have less role in the implementation of PPL. Keywords - PPL Students, Pedagogic Competence, Personality Competence, Professional Competence,Social Competence.
Pelatihan Optimalisai Tumbuh Kembang Anak pada Orangtua Anak Usia Dini Radhiya Bustan; Nurfadilah Nurfadilah; Nila Fitria
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.452 KB) | DOI: 10.36722/sh.v3i3.214

Abstract

Abstrak - Mendidik dan mengasuh seorang anak tentunya membutuhkan pengetahuan akan tumbuh kembang anak. Adapun aspek perkembangan anak usia dini meliputi tiga aspek, yaitu aspek fisik, kognitif dan psikososial (Papalia & Olds, 1995). Anak usia dini adalah anak-anak yang berada pada usia 0-8 tahun. Pendidikan keorangtuaan menjadi penting bagi orangtua supaya orangtua dapat memaksimalkan perkembangan semua potensi anak, baik fisik, kognitif, maupun psikososial anak. Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan, diperoleh hasil bahwa sebagian besar orangtua berharap memperoleh pengetahuan terkait pendidikan keorangtuaan yang dilaksanakan dalam bentuk pelatihan karena mereka masih sangat minim memperoleh informasi yang terkait dengan tatanan praktisnya. Untuk itu, kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan intervensi berupa pelatihan dengan tujuan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak melalui Pelatihan pada Orangtua Anak Usia Dini. Setelah melakukan pelatihan, diperoleh hasil dari kuesioner menunjukkan bahwa (1) 90% peserta pelatihan merasa bahwa materi yang dibawakan pembicara sesuai dengan kebutuhan serta materinya mudah untuk dipahami, (2) 80% peserta pelatihan berusaha mempraktekkannya dalam mengajar di lembaga PAUD atau mendidik anaknya, (3) 80% peserta pelatihan menjadi bersemangat menjalani hari-hari sebagai orangtua setelah melakukan kegiatan pelatihan ini. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa intervensi yang dilakukan tepat guna dan sesuai dengan hasil penelitian terdahulu meskipun topik yang diberikan belum menyeluruh. Oleh karena itu, perlu ada pelatihan untuk pemberian materi dasar lanjutan tentang perkembangan anak, yang mencakup aspek fisik, seni, dan moral agama. Sebagai saran selanjutnya, pelatihan yang sifatnya aplikatif terhadap permasalahan tertentu akan efektif dilaksanakan jika peserta telah memahami pengetahuan dasar secara menyeluruh. Materi tersebut sebaiknya diidentfikasi pada saat pelatihan dasar lanjutan berakhir agar tepat guna. Kata Kunci – Mengasuh anak, latihan, Anak Usia Dini Abstract – Parent needs to know about child care education to help children grow and develop their potential according their age and capability, especially in early years. Parents have to stimulate the three areas of child development, physics, cognitive, and psychosocial (Papalia & Olds, 1995). According to our preliminary research,  parents needs practical knowledge that can help them in optimizing their children at their best. The research was followed by an intervention program in a form of training. The training was begun with providing general topic, such as parent’s role in educating the children, and then continued with a specific topic such as child’s psychosocial development and child’s cognitive development. Effectivity of training was measured trough questioner. The result are (1) 90% of participants stated that the materials that were given to them is easily understood and suitable for their needs, (2) 80%  of participants have tried to practiced with the children in their institution and their home, (3) 80% of participants become highly motivated to run their role as a parent and educator for the children. It can be concluded that the intervention has been appropriate and in accordance with the results preliminary research although a given topic has not been all thorough. Therefore, there needs to do advanced training of basic materials on child development, which includes the physical, art, and moral religion topics. For further advice, the training that will be conducted later are more practical to specific issues and the material should be identified during the basic training in order to get the best benefit to the participants. Keywords – parenting, training, early childhood
Harapan Orang Tua dalam Mendidik Anak Usia Dini Radhiya Bustan; Nurfadilah Nurfadilah; Nila Fitria
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.931 KB) | DOI: 10.36722/sh.v3i2.205

Abstract

Abstrak - Orang tua masa kini, terutama yang berada di kota besar  semakin dihadapkan pada tantangan yang sulit dalam mengasuh dan mendidik anak karena orangtua tidak hanya menghadapi tantangan yang timbul seiring dengan perkembangan anak dalam setiap siklus kehidupannya (Carter & McGoldrick dalam Craig,1986), tapi juga harus berjuang menghadapi kondisi politik, sosial dan ekonomi yang berpotensi besar melemahkan kemampuan mereka untuk memberikan dukungan yang tepat untuk anak-anak (Evans, Judith L, 2006).  Para orangtua, khususnya orangtua yang memiliki anak usia dini memiliki banyak cara untuk mengoptimalkan peran pengasuhan mereka, salah satunya adalah dengan melibatkan asisten rumah tangga, baby sitter, ataupun dengan keluarga mereka yang lain. Akibatnya, hal ini juga mempengaruhi peran serta orangtua dalam pendidikan anak di dalam lembaga pendidikan pun menjadi berkurang meskipun banyak dari mereka yang mengetahui bahwa pendidikan anak usia dini yang pertama dan  utama terletak pada orangtua. Oleh karena itu peneliti ingin melakukan penelitian mengenai harapan orangtua terhadap pendidikan keorangtuaan. Peneliti memilih untuk fokus kepada ayah dan ibu yang bekerja serta memiliki anak usia dini (2-6 tahun) saja karena pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa ini berlangsung sangat pesat. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif dengan jenis penelitian survei. Kuesioner dalam penelitian ini dibuat dalam bentuk pertanyaan tertutup dan dilengkapi dengan pertanyaan terbuka untuk memperoleh informasi yang perlu diperdalam. Penelitian ini dilakukan di PAUD Al Azhar Pusat dengan populasi penelitian sejumlah 289 orang. Sementara yang diambil sebagai sampel dalam penelitian ini adalah 30 orangtua murid TK Al Azhar Pusat yang terdiri dari Toddler, Play Group, TK A, dan TK B.Pengolahan data hasil survey yang dilakukan kepada 30 orang responden yang terdiri dari Ibu (86,7%), ayah (6,7%) dan wali (6,7%) ini menggunakan analisis deskriptif. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut : 33% kegiatan Pelatihan yang paling mungkin dilakukan, diskusi kelompok kecil dengan pakar  (17%), dilibatkan sebagai pendamping guru (13%) dan talkshow (7%). Abstract – These days parents, especially the one who lives in a big city, often faced with big challenges in caring and nurturing their children. The challenges not only about development problem as the children grown up (Carter & McGoldrick dalam Craig,1986) but also about politics, social and economy which affected the parenting’s capabilities become weaken (Evans, Judith L, 2006). Parents, especially who has preschooler children, have strategies to optimizing the parenting’s role, one of them is  by involving household assistance, baby sitter, or extended family. As the result, these also affected their involvement in children education eventhough most of them have known that parents are children’s first and primary caregiver.Those backgrounds has led us, as researchers, to do a research about Parents’s Hope in Parenting’s education. Research target are dual worker spouse who has children about 2-6 years old. Researcher choose the early childhood stage because on this stage chidren has a spurt growth and development. This survey research, is a quantitative research, which has closed questions and complimentary with open question to get deeper information The survey questions asked the parents to choose what kind of topics and forms of parenting program that they hope to be held in the earlychildhood institution. The research took place in centre Al Azhar which has total population 289 people. Data processing of this survey is descriptive analysis and has involved 30 parents  from kindergarten, toddler, and playgroup in centre Al Azhar which consist of  mothers (86,7%), fathers (6,7%) and others (6,7%) as the respondents. The findings shown that 33% of the parents are hoping for training activity, 17% hoping for small discussion group with experts, 13% hoping for collaboration with teacher’s role, and 7% hoping to have a talkshow. Keywords: Parents hope, parenting early childhood children, early childhood education
Pemetaan Pengetahuan Guru TK tentang Keterampilan Gerak Dasar Anak TK Nila Fitria; Rohita Rohita
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.869 KB) | DOI: 10.36722/sh.v5i2.346

Abstract

Abstrak - Pertumbuhan perkembangan dan belajar melalui aktivitas jasmani akan mempengaruhi tiga ranah dalam pendidikan yang meliputi ranah kognitif (menyadari gerak), ranah psikomotor (pertumbuhan biologis, kesehatan, kebugaran jasmani), dan ranah afektif (rasa senang, aktualisasi diri, konsep diri) [1]. Permasalahan yang tampak di era digital ini, terbatasnya kemampuan motorik anak dikarenakan anak-anak usia dini sudah terpapar oleh gadget sejak dini. Sehingga kemampuan motorik anak era digital terbatas karena pengaruh gadget. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan guru keterampilan gerak dasar anak TK. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif dengan jenis penelitian survei. Penelitian survei merupakan penelitian yang menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Penelitian yang dilakukan di Taman Kanak-Kanak yang berada pada Gugus Cut Nyak Dien. 32 guru TK yang berada di Gugus Cut Nyak Dien dengan latar belakang pendidikan dari sarjana pendidikan, 65% masa kerjanya 2 tahun. Terdapat 15 guru TK yang memiiki pengetahuan yang tinggi dalam pengetahuan keterampilan gerak dasar. Terdapat 6 guru TK yang memiliki pengetahuan dalam kategori sedang terhadap pengetahuan keterampilan gerak dasar pada motorik kasar. Serta terdapat 12 guru TK yang memiliki pengetahuan yang rendah terhadap pengetahuan keterampilan gerak dasar dalam motorik kasar anak TK. Sejumlah 18% dari jumlah guru memiliki pengetahuan mengenai gerak lokomotor dan 15% dari jumlah guru belum memiliki pengetahuan mengenai gerakan non-lokomotor. Guru dapat mengimplementasikan ketiga keterampilan gerak dasar dalam berbagai kegiatan motorik melalui menari, senam, dan bentuk permainan yang diciptakan oleh guru. Penilaian keterampilan gerak dasar dilakukan guru TK dan guru melalui pengamatan. Sejumlah 75% guru TK mengetahui tujuan stimulasi keterampilan gerak dasar anak yaitu untuk meningkatkan perkembangan motorik anak. Abstract - Developmental growth and learning through physical activity will affect the three domains in education which include cognitive domains (aware of motion), psychomotor domains (biological growth, health, physical fitness), and affective domain (pleasure, self-actualization, self-concept) [1]. Problems that appear in this digital era, limited motoric abilities of children because early childhood have been exposed to gadgets early. So that the digital motor skills of children are limited due to the influence of gadgets. The purpose of this study was to determine the level of teacher knowledge of basic movement skills of kindergarten children. This research was conducted with quantitative methods with the type of survey research. Survey research is a study that uses a questionnaire as a research instrument. Research carried out in kindergartens in Cut Nyak Dien's Cluster. 32 kindergarten teachers who are in Cut Nyak Dien Group with educational background from undergraduate education, 65% working period is 2 years. There are 15 kindergarten teachers who have high knowledge in basic motion skills knowledge. There are 6 kindergarten teachers who have knowledge in the moderate category of basic motion skills knowledge in gross motor skills. And there are 12 kindergarten teachers who have low knowledge of basic motion skills knowledge in rough motoric kindergarten children.A total of 18% of teachers have knowledge of locomotor motion and 15% of teachers have no knowledge of non-locomotor movements. TK teachers can implement all three basic motion skills in various motor activities through dancing, gymnastics, and forms of games created by the teacher. Assessment of basic motion skills is done by kindergarten teachers and teachers through observation. 75% of kindergarten teachers know the purpose of stimulating children's basic motion skills, namely to improve children's motor development. Keywords - Knowledge, Teacher, Skills, Basic movement
Peningkatan Kemampuan Mengenal Konsep Lambang Bilangan 1 – 10 Melalui Permainan Pohon Hitung pada Anak Usia 4 – 5 Tahun di BKB PAUD Harapan Bangsa Ockti Syafitri; Rohita Rohita; Nila Fitria
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 4, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.145 KB) | DOI: 10.36722/sh.v4i3.277

Abstract

Abstrak - Perkembangan kognitif merupakan aspek yang penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir anak, salah satunya yaitu mengenal konsep lambang bilangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peningkatan kemampuan mengenal konsep lambang bilangan 1 – 10 melalui permainan pohon hitung pada anak usia 4 – 5 tahun di BKB PAUD Harapan Bangsa. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan model Kemmis dan Mc Taggart yang dilakukan selama 2 siklus, di mana satu siklus terdiri dari 3 kali pertemuan. Subjek penelitian ini adalah 14 anak, yang terdiri dari 9 anak laki-laki dan 5 anak perempuan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi kemampuan anak dalam mengenal konsep lambang bilangan 1 – 10, aktivitas guru dan anak serta dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan perhitungan statistika sederhana. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat peningkatan dalam kemampuan mengenal konsep lambang bilangan 1 – 10 melalui permainan pohon hitung. Hal ini diketahui dari rata-rata anak yang mendapat skor 3 pada setiap indikator yaitu indikator membilang 1 – 10 siklus I sebesar 69,1% dan siklus II sebesar 100% artinya terdapat peningkatan sebesar 30,9%. Pada indikator menghubungkan benda-benda konkret dengan lambang bilangan 1 – 10 siklus I sebesar 55,4% dan siklus II sebesar 77,6% artinya terdapat peningkatan sebesar 22,2% dan pada indikator mengurutkan lambang bilangan 1 – 10 siklus I 44,7% dan siklus II sebesar 77,6% artinya terdapat peningkatan sebesar 32,9%. Pencapaian di siklus II sudah melebihi indikator keberhasilan yang telah ditentukan yaitu sebesar 75%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa permainan pohon hitung dapat meningkatkan kemampuan mengenal konsep lambang bilangan 1 – 10. Peningkatan terjadi karena dalam penelitian ini dilakukan melalui permainan dengan menggunakan media pohon hitung yang beracuan pada teori mengenai tahapan-tahapan mengenal lambang bilangan kepada anak dan dengan adanya motivasi berupa reward membuat anak lebih semangat dalam melakukan permainan.Kata Kunci - Mengenal Konsep Lambang Bilangan, Permainan Pohon Hitung, Anak Usia 4 – 5 TahunAbstract - Cognitive development is an important aspect in developing children's thinking skills, one of which is to recognize the concept of numeral symbol. This study aims to find out how to improve the ability to recognize the concept of numeral symbol 1 - 10 through tree math game at the children aged 4 - 5 years of BKB PAUD Harapan Bangsa. This study is a classroom action research (CAR) using Kemmis and Mc Taggart model carried out in 2 cycles where one cycle consists of 3 meetings. The subjects of this study are 14 children, 9 of them are boys and the rest are girls. Data collection technique used in this study is observation towards the ability of children in recognizing the concept of numeral symbol 1 - 10, the teacher as well as the children activities and documentation. Data analysis technique used in this study is descriptive qualitative using simple statistical calculation. According to the research results it is known that there is an improvement in the ability to recognize the concept of numeral symbol 1 - 10 through the tree math game. It can be seen from the average of children who got score 3 on each indicator which is counting 1 - 10 in cycle I is as much as 69,1% and in cycle II rises to 100%. It means that there is an increase of 30,9%. While on the indicator of connecting concrete objects with numeral symbols of 1 - 10 in cycles I show the average of 55.4% and in the second cycle rise to 77.6% which means there is an increase of 22.2%. Furthermore, on the indicator of sorting numeral symbol of 1 – 10 in cycle I show the average of 44.7 % and in cycle II climb to 77.6% which means there is an increase of 32.9%. Therefore, the achievement in cycle II has exceeded the predetermined success indicator of 75%. Based on the research results it can be concluded that the tree math game can improve the ability of children aged 4-5 years to recognize the concept of numeral symbol 1 - 10. The improvement occurs because this study is carried out through the game using the tree math media which refers to the theory of the stages of knowing numeral symbol to the children and with the motivation in the form of reward to make them more enthusiastic in playing the game.Keywords - Knowing the Concept of Numeral Symbol, Tree Math Game, Children Aged 4 - 5 Years.
Praktek Pengalaman Lapangan Studi Evaluatif terhadap Pelaksanaan PPL Mahasiswa PAUD Universitas Al Azhar Indonesia Tahun 2015/2016 Fidesrinur Fidesrinur; Nila Fitria
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 3, No 4 (2016)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.348 KB) | DOI: 10.36722/sh.v3i4.228

Abstract

Abstrak - Program Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan salah satu mata pelajaran yang harus diikuti oleh setiap mahasiswa keguruan termasuk mahasiswa PAUD. Pelaksanaan mata pelajaran PPL berbeda dengan mata pelajaran lainnya yang diikuti di kelas atau dilaksanakan di kampus baik secara teori maupun praktek. Berbeda halnya mata pelajaran PPL adalah mata pelajaran dalam bentuk praktek pengalaman lapangan sebagaimana kegiatan guru di sekolah-sekolah umumnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif (qualitative research). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analitik, yaitu data dideskripsikan dengan menggunakan statistik deskriptif, dan dimaknai secara mendalam berdasarkan perspektif emik yaitu penyajian data secara alamiah tanpa melakukan suatu manipulasi atau perlakuan terhadap subjek yang diteliti (Bogdan dan Taylor, 1975:31). Mahasiswa PPL sebagai calon gur harus memiliki 4 kompetensi yaitu: kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi professional, dan kompetensi social. Pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiwa PPL, guru pamong, dan dosen pembimbing memiliki peran yang sangat besar dalam pelaksanaan PPL. Sedangkan peran kelompok PPL dan kepala sekolah kurang memiliki peran dalam pelaksanaan PPL. Kata kunci: mahasiswa PPL, kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi professional, kompetensi sosial  Abstract – Real Experience Program (PPL) is one of subject that should be followed by student of teacher training program include student of PAUD. The implementation of Real Experience Program subjects is different from other subjects that are attended in class or held on campus in both theory and practice. Unlike PPL subjects are subjects in the form of field experience practices as are the activities of teachers in general schools. The method used in this research is qualitative method (qualitative research). This research uses descriptive analytic approach, that is descriptive descriptive data, and interpreted in depth based on the perspective of emik that is the presentation of data naturally without doing a manipulation or treatment of the subjects studied (Bogdan and Taylor 1975: 31). PPL students as candidates must have four competence yitu: pedagogic competence, personality competence, professional competence, and social competence. The knowledge that PPL students, pamong teachers, and lecturers have has a very big role in the implementation of PPL. While the role of PPL groups and principals have less role in the implementation of PPL. Keywords: PPL Students, Pedagogic Competance, Personality Competene, Profesionality Competence, Social Competence
Analisis Keterampilan Mengajar Mahasiswa Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Pada Program Kampus Mengajar Nila Fitria; Astri Lestari; Nurfadilah Nurfadilah
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 7, No 2 (2022): Juli 2022 (Edisi Khusus MBKM)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sh.v7i2.1046

Abstract

Kampus Mengajar Program is one of Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM)'s program which gives university student one semester opportunity in helping elementary and junior high school teachers and head master to hold teaching and learning activity affected by pandemic covid 19. The campus teaching program provides opportunities for PG PAUD students to implement teaching skills as a provision to become teachers that have been obtained in college. The research method used is descriptive with a qualitative approach which aims to analyze the teaching skills possessed by PG PAUD students during the campus teaching program. The results showed that the campus teaching program became a space for PG PAUD students to implement and develop their teaching skills. Three PG PAUD students who participated in the campus teaching program (100%) were placed in grade 1, two students (66.7%) in grade 6 and one student (33.3%) in grade 4. PG PAUD students were skilled in applying various teaching skills such as questioning skills, reinforcement skills, variation skills, explaining skills, opening and closing lessons, small group guiding skills and classroom management skills. However, students need to improve their teaching skills in managing classes and guiding small group discussions. As well as the need for coordination between students and campus teaching partners (schools) regarding cooperation to apply classroom management skills.Keywords – Kampus Mengajar Program, PG PAUD Students, Teaching Skil.
Peningkatan Kompetensi Guru dalam Pemanfaatan dan Pembuatan Media Pembelajaran Kognitif pada Kegiatan Rutinitas Anak Usia Dini Fidesrinur Fidesrinur; Nila Fitria; Zahrina Amelia
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Universitas Al Azhar Indonesia Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/jpm.v4i2.943

Abstract

PAUD Kenanga memiliki 30 murid. Memiliki 1 kepala PAUD yang telah memiliki kualifikasi akademik S1 PAUD dan 4 orang guru yang memiliki kualifikasi akademik SMA. Selama pembelajaran jarak jauh, PAUD Kenanga menyelenggarakan pembelajaran secara bergantian dengan izin dinas Pendidikan kecamatan Larangan. Pembelajaran dilakukan secara online dan offline. Permasalahan yang ditemukan yaitu terbatasnya kompetensi guru PAUD terhadap pembuatan media pembelajaran guna meningkatkan kemampuan kognitif. Solusi yang ditawarkan yaitu  pelatihan dan workshop dengan materi pemanfaatan dan pembuatan media pembelajaran kognitif. Metode yang digunakan metode deskriptif kuantitatif dengan desain pretest- posttest control group design. Dilakukan dengan melakukan pengukuran (pretest) sebelum kegiatan dan (post test) dengan memberikan intervensi. Setelah dilaksanakannya kegiatan pengabdian masyarakat ini mulai dari penyuluhan, sosialisasi hingga pendampingan, pengetahuan serta kemampuan guru dalam memanfaatkan serta membuat media pembelajaran untuk anak bertambah. Sehingga guru dapat menerapkan media pembelajaran yang sudah dibuat kepada anak dengan maksimal dan dapat menumbuhkan keaktifan anak dalam melakukan pembelajaran. Kata kunci: Pemanfaatan, Media pembelajaran, Kognitif
Peningkatan Kapasitas Sekolah Berbasis Sistem Informasi Perangkat Pembelajaran Komunikasi Orangtua Murid di Jakarta Rohita Rohita; Nila Fitria; Tri Budianingsih; Dody Haryadi; Lusi Lian; Zaqiatul Mardiah; Yoedo Shambodo
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Universitas Al Azhar Indonesia Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/jpm.v4i1.1004

Abstract

Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat adalah dua wilayah di DKI Jakarta yang telah bekerjasama dengan Universitas al Azhar Indonesia dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat pada program Sharing for Indonesia (S4I). Kegiatan ini dilaksanakan untuk membantu sudin pendidikan di kedua wilayah tersebut dalam peningkatan kapasitas sekolah akan pengetahuan dan keterampilan yang perlu dimiliki guru-guru baik di level TK, SD, SMP, hingga SMA/ SMK. Adanya pandemic 19 yang terjadi sejak awal tahun 2020 memberi dampak cukup besar terutama pada aspek pendidikan, dimana guru harus dapat meningkatkan kompetensi dan kemampuan membelajarkan anak didiknya dengan memanfaatkan teknologi dalam model pembelajaran jarak jauh (PJJ), baik secara dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring). Peningkatan pengetahuan juga diperlukan bagi orangtua agar dapat mendampingi anak-anaknya selama belajar di rumah sekaligus dapat bertahan di masa sulit akibat Covid 19. Solusi yang akan diberikan adalah dengan meningkatkan kapasitas sekolah melalui pemanfaatan Sistem Informasi Perangkat Pembelajaran Komunikasi Orangtua Murid (SIPPKOM). SIPPKOM diberikan dengan mengunakan metode sosialisasi, pelatihan, pendampingan, serta monitoring dan evaluasi. Sasaran dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah kepala sekolah, guru, serta orangtua dari level pendidikan anak usia dini, yaitu TK, SD, SMP, serta SMA dan SMK di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. Kehadiran peserta tersebut dilakukan bekerjasama dengan mitra suku dinas pendidikan dari kedua wilayah tersebut. Hasil kegiatan menunjukkan adanya kepuasan serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan bagi peserta setelah mengikuti kegiatan dan memanfaatkan SIPPKOM pada fitur layanan konsultasi dan kegiatan S4I. Simpulan dari kegiatan ini adalah SIPPKOM dapat meningkatkan kapasitas sekolah di masa pandemik, untuk mendukung peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru-guru di sekolah tersebut.Kata kunci: Kapasitas sekolah, SIPPKOM, sharing for Indonesia, layanan konsultasi