Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Developing a Corpus-Based English Vocabulary Dictionary using The ADDIE Model Afia, Nur; Laili, Muawwinatul
Nusantara Educational Review Vol 1 No 1 (2023): Nusantara Educational Review
Publisher : LPPM UNUSIDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55732/ner.v1i1.1024

Abstract

Beberapa siswa masih belum mampu berbicara dan memahami teks dan menulis dalam bahasa Inggris akibat siswa belum terbiasa membawa kamus. Kamus berbasis korpus dapat membantu siswa dalam akses belajar bahasa Inggris. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan kamus kosakata bahasa Inggris berbasis korpus. Obyek penelitian adalah siswa kelas 8 dan guru bahasa di Sekolah Menengah Pertama Al Manshur, Sidoarjo. Penelitian pengembangan pendidikan ini menggunakan model ADDIE. Penelitian melakukan uji kelayakan kamus berbasis korpus menggunakan validasi dari ahli desain, ahli materi, dan ahli bahasa dengan instrumen pengumpulan data angket respon. Hasil penelitian menunjukkan pendapat ahli desain dengan skor 92% sebagai kriteria sangat baik. Hasil validasi materi memperoleh skor 96% dengan kriteria sangat baik. Hasil validasi kebahasaan mencapai skor 85% dengan kriteria sangat baik. Siswa dan guru merespon sangat tertarik terlihat dari skor 100%. Some students are still unable to speak and understand texts and write in English because students are not used to carrying dictionaries. Corpus-based dictionaries can help students access English learning. This research aims to develop a corpus-based English vocabulary dictionary. The research objects were grade 8 students and language teachers at Al Manshur Junior High School, Sidoarjo. This educational development research uses the ADDIE model. The study conducted a feasibility test for a corpus-based dictionary using validation from design experts, material experts, and language experts with a response questionnaire data collection instrument. The research results show the opinion of design experts with a score of 92%, a very good criterion. The material validation results obtained a score of 96%, a very good standard. The linguistic validation results achieved a score of 85%, a very good criterion. Students and teachers responded very interested, as seen from the score of 100%.
ANALISIS KEAKTIFAN, KETERAMPILAN KOLABORATI, PRODUK NYATA DALAM MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA Rizka Amalia; Muawwinatul Laili
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i3.14357

Abstract

This study was motivated by the fact that students continued to experience difficulties in understanding mathematics lessons, despite the teacher having implemented the Project-Based Learning (PjBL) model. The study aimed to describe the implementation of the PjBL model and to analyze student engagement, collaborative skills, and tangible products resulting from the model's application in mathematics lessons taught to Grade III students at SDN Sawohan II. A qualitative approach with a descriptive research design was employed. The research subjects consisted of one teacher and five Grade III students. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and subsequently analyzed using the Miles and Huberman interactive model, which involves data reduction, data display, and conclusion drawing. Data validity was ensured through technique triangulation. The results indicate that the PjBL model was implemented through a process comprising project determination (via the introduction of surrounding objects), group planning of project completion steps, schedule creation with the teacher, project execution, report compilation and group presentations, and a concluding evaluation and reflection session. Regarding the engagement indicator, the PjBL model successfully fostered active participation and involvement among the majority of students in project design, discussions, and the completion of group tasks; however, this engagement was not yet universal across the class. Regarding collaborative skills, the Grade III students showed signs of development, and the tangible products generated by the students aligned with the intended learning objectives. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peserta didik masih mengalami kesulitan dalam memahami pembelajaran matematika, meskipun guru telah menerapkan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model Project Based Learning serta menganalisis keaktifan, keterampilan kolaboratif, dan produk nyata peserta didik dalam penerapan model pembelajaran PjBL pada pembelajaran matematika yang diterapkan oleh guru dikelas III SDN Sawohan II.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas seorang guru dan lima peserta didik kelas III. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif oleh Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Project Based Learning telah dilaksanakan mulai dari penentuan proyek melalui pengenalan benda disekitar, perencanaan langkah-langkah penyelesaian proyek secara berkelompok, penyususnan jadwal bersama guru, penyelesaian proyek, penyusunan laporan serta presentasi kelompok di depan kelas, dan pelaksanaan evaluasi serta refleksi bersama pada akhir pembelajaran. Pada indikator keaktifan, penerapan model PjBL berhasil menumbuhkan keaktifan dan keterlibatan sebagian besar peserta didik dalam merancang proyek, berdiskusi, serta menyelesaikan tugas kelompok. Namun, keaktifan ini belum sepenuhnya menyeluruh. Pada indikator keterampilan kolaboratif kelas III sudah mulai berkembang, serta produk nyata yang dihasilkan peserta didik sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan.
IMPLEMENTASI PROGRAM SATU HARI BACA TULIS PEKAN NARASI (SAHABAT PENA) DI KELAS V SD Nurul Aini Lailatul Nisaa; Muawwinatul Laili; Mohammad Setyo Wardono
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14031

Abstract

Literacy is one of the essential competencies that should be developed from the elementary school level to enhance students' reading, writing, critical thinking, and information comprehension skills. However, the implementation of the School Literacy Movement (Gerakan Literasi Sekolah or GLS) in many schools still faces challenges, including low reading interest among students, limited reading materials, and insufficient teacher guidance during literacy activities. To address these challenges, SD Futuhiyah developed the Satu Hari Baca Tulis Pekan Narasi (SAHABAT PENA) program as a school literacy initiative. This study aims to describe the implementation of the Satu Hari Baca Tulis Pekan Narasi (SAHABAT PENA) program a school literacy initiative in the fifth-grade class at SD Futuhiyah. The subjects of the study were fifth-grade students and their teacher. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through observation, interviews, and documentation. The results indicate that the SAHABAT PENA program was implemented in three stages, in accordance with the 2016 Ministry of Education and Culture guidelines for the School Literacy Movement (GLS) in elementary schools: the habituation stage, involving the reading of print and digital books using the Sustained Silent Reading technique; the development stage, involving the completion of reading journals that include summaries, the ADiKSiMBa elements (What, Where, When, Who, Why, and How), and moral messages; and the learning stage, which integrates scanning and skimming techniques into Indonesian Language and Pancasila Education lessons. The school also provides academic recognition to motivate students to read. The researcher concludes that the program has been successfully implemented at SD Futuhiyah; however, its effectiveness could be further maximized if teachers provided more intensive guidance particularly when students are searching for book titles and authors or reading online news and if the school expanded its reading book collection and made better use of classroom reading corners. ABSTRAK Literasi merupakan salah satu kompetensi dasar yang perlu dikembangkan sejak jenjang sekolah dasar untuk meningkatkan kemampuan membaca, menulis, berpikir kritis, dan memahami informasi. Namun, pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di berbagai sekolah masih menghadapi tantangan, seperti rendahnya minat baca peserta didik, keterbatasan bahan bacaan, serta belum optimalnya pendampingan guru dalam kegiatan literasi. Sebagai upaya mengatasi permasalahan tersebut, SD Futuhiyah mengembangkan program Satu Hari Baca Tulis Pekan Narasi (SAHABAT PENA) sebagai salah satu kegiatan literasi sekolah.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi program Satu Hari Baca Tulis Pekan Narasi (SAHABAT PENA) di kelas V SD Futuhiyah sebagai kegiatan literasi sekolah. Subjek yang diteliti terdiri dari peserta didik kelas V serta guru kelas V. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program SAHABAT PENA diimplementasikan melalui tiga tahap sesuai dengan panduan GLS di Sekolah Dasar oleh Kemendikbud tahun 2016 yaitu: tahap pembiasaan melalui kegiatan membaca buku cetak dan digital dengan teknik dalam hati berkelanjutan (Sustained Silent Reading); tahap pengembangan melalui pengisian jurnal dengan ringkasan, unsur ADiKSiMBa (Apa, Dimana, Kapan, Siapa, Mengapa, dan Bagaimana), dan pesan moral; serta tahap pembelajaran dengan membaca menggunakan teknik membaca memindai (Scanning) dan membaca cepat (Skimming) ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Pancasila. Sekolah juga memberikan penghargaan secara akademik sebagai bentuk memotivasi peserta didik untuk membaca. Peneliti menyimpulkan bahwa program ini sudah berjalan dengan baik di SD Futuhiyah. Namun, akan jauh lebih maksimal jika guru mendampingi dan memberikan bimbingan lebih intens saat peserta didik mencari judul dan nama pengarang buku serta saat membaca teks berita lewat internet, sekolah menambah koleksi buku bacaan dan memanfaatkan sudut baca kelas dengan baik.
EKSPLORASI KESULITAN SISWA KELAS III SEKOLAH DASAR DALAM MEMAHAMI DAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA Alvina Elistya Rahmad; Muawwinatul Laili; Fakhrur Rozy; Arie Widya Murni
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.14020

Abstract

The ability to solve mathematical word problems is an important skill that students need to possess because it is closely related to conceptual understanding and problem-solving abilities. However, field observations indicate that many students still experience difficulties in solving mathematical word problems. This study aimed to describe students' difficulties in solving mathematical word problems and to identify the factors causing these difficulties among Grade III students of SDN Banjarbendo. This research employed a qualitative approach with a descriptive qualitative design. The research participants were 25 students of Grade III at SDN Banjarbendo. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and were analyzed using the Miles and Huberman model. The analysis of students' difficulties was based on Newman's theory, which consists of five stages: reading, comprehension, transformation, process skills, and encoding. The findings revealed that students experienced difficulties at all stages of Newman's theory. The most dominant difficulties were found in the process skills and encoding stages, while the fewest difficulties were found in the reading stage. The factors causing these difficulties consisted of internal factors, including lack of understanding of word problems, low accuracy, lack of self-confidence, low learning interest, and limited study habits at home, as well as external factors, including an unconducive classroom environment, the dominant use of lecture-based teaching methods, and limited learning media. These findings indicate that students' difficulties in solving mathematical word problems are influenced by various interrelated factors. ABSTRAK Kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika merupakan salah satu kemampuan penting yang perlu dimiliki siswa karena berkaitan dengan pemahaman konsep dan pemecahan masalah. Namun, fakta di lapangan menyatakan bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika serta mengidentifikasi faktor-faktor penyebabnya pada siswa kelas III SDN Banjarbendo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas III SDN Banjarbendo dengan jumlah 25 siswa. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Analisis kesulitan siswa mengacu pada teori Newman yang meliputi tahap membaca (reading), memahami masalah (comprehension), transformasi (transformation), keterampilan proses (process skills), dan penulisan jawaban akhir (encoding). Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan pada seluruh tahapan Newman. Kesulitan yang paling dominan ditemukan pada tahap keterampilan proses dan penulisan jawaban akhir, sedangkan kesulitan paling sedikit ditemukan pada tahap membaca. Faktor penyebab kesulitan tersebut terdiri dari faktor internal, yaitu kurangnya pemahaman terhadap soal, rendahnya ketelitian, kurangnya kepercayaan diri, rendahnya minat belajar siswa, dan kurangnya kebiasaan belajar di rumah, serta faktor eksternal berupa kondisi kelas yang kurang kondusif, penggunaan metode ceramah yang dominan, dan keterbatasan media pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.
The Implementation Of Youtube Videos As The Learning Media In English Language Teaching At Seventh Grade Of SMPN 2 Gedangan Lamida Andriana; Muawwinatul Laili; Masyitah Noviyanti; Ryan Purnomo
Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. 14 No. 3 (2026): EQUILIBRIUM: JURNAL PENDIDIKAN
Publisher : Muhammadiyah University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/rx03bc82

Abstract

This study aimed to describe the implementation of YouTube videos in English language teaching and to identify the challenges faced by the teacher during their implementation in the seventh grade of SMPN 2 Gedangan. This study employed a descriptive qualitative approach. The data were collected through three classroom observations and a semistructured interview with an English teacher. The data were analyzed using an interactive model consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings revealed that the implementation of YouTube videos was conducted systematically through several stages, including selecting learning materials, choosing appropriate video types, determining learning models and teaching methods, conducting videoassisted learning activities, and evaluating students’ learning outcomes. The teacher utilized three types of YouTube videos, namely animated videos, teacher explanation videos, and vlog videos. The learning models applied were Discovery Learning and Problem-Based Learning, while the teaching methods included lecture, question-and-answer, and group discussion. However, the teacher also encountered several challenges, particularly technical issues such as unstable internet connections, video buffering, projector malfunctions, and differences in students’ concentration levels. Nevertheless, these challenges were addressed through alternative strategies such as direct explanations, ice-breaking activities, and quizzes. Therefore, YouTube videos were proven to be an interesting instructional medium in supporting English language teaching and learning.