Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

STUDY QUR'AN: The Quarantine Program for Memorizing the Qur'an Effectively at Madrasatul Qur'an Islamic Pesantren Mambaul Falah Tambilung Tambak Bawean Gresik Ahmad Halid
Studia Quranika Vol. 7 No. 2 (2023): January
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The process of memorizing the Al-Qur'an generally takes a long time, but at Madrasatul Qur'an the Mambaul Falah Islamic Boarding School Tambilung Tambak Bawean Gresik has a quarantine program in the process of memorizing the Qur'an quickly. This quarantine program is very interesting, because students are motivated to memorize quickly. The focus of this research is how the Al-Qur'an Memorization Quarantine Program students can memorize the Al-Quran in a relatively short time. Through field research and using qualitative methods, descriptive, and data sources using observation and interviews, and analyzed using the Miles and Huberman model, and the validity of the data using source triangulation. The results of this study are that the quarantine program for memorizing the Al-Qur'an is very effective because students are focused only on memorizing the Al-Qur'an and are guided continuously by ustadz with core programs and companions or supports.
MAQĀṢID-BASED SUSTAINABLE ISLAMIC EDUCATION IN MADRASAH: INTEGRATING LOCAL WISDOM, INCLUSIVITY, GLOBAL CITIZENSHIP, AND SOCIAL TRANSFORMATION Sarifatul Jannah; Siti Aisah; Ahmad Halid; Yunita Wulandari
Referensi Islamika: Jurnal Studi Islam Vol. 4 No. 2 (2026): APRIL
Publisher : Academic Bright Collaboration

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66053/ri.v4i2.643

Abstract

This study analyzes how maqāṣid-based sustainable Islamic education can be developed in a madrasah by integrating local wisdom, inclusivity, global citizenship, and socio-religious transformation. It employed a qualitative descriptive case study supported by document analysis, observation guidelines, semi-structured interview protocols, student perception indicators, and thematic instrument mapping at MAS Darul Istiqomah Al Haya, Jember. The findings show that maqāṣid al-sharī‘ah functions as an ethical core for aligning religious formation, intellectual development, student safety, social responsibility, and resource stewardship. Local wisdom contextualizes Islamic values, inclusivity strengthens equitable learning, and global citizenship promotes tolerance, peace, environmental care, and social concern. The model offers practical guidance for madrasah leaders and teachers, but its empirical reach is limited to one institutional case and requires broader validation. The study contributes an interdisciplinary Islamic studies model that connects maqāṣid thought, Islamic education, local culture, inclusive pedagogy, and global social ethics. Article classification: empirical qualitative research.
Sustainability of Pesantren In The Future: Study of the Charismatic Leadership of Kiai and Leadership Succession of Pesantren in Pekalongan Ahmad Ta'rifin; Ahmad Halid
Edukasia Islamika : Jurnal Pendidikan Islam Vol 6 No 1 (2021): Edukasia Islamika - Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/jei.v6i1.558

Abstract

This study explores the sustainability of pesantren by analyzing the impact of the charismatic  leadership of kiai and the succession of leadership within six pesantren in Pekalongan,  Indonesia. Grounded in the historical and phenomenological approaches, this research  aims to understand how leadership charisma and regeneration influence pesantren continuity.  Within the broader discourse of Islamic education, the kiai's role is pivotal, as the pesantren’s  vitality often depends on his personal authority and vision. Data were collected through in depth interviews, document analysis, and participant observations, then analyzed using Miles and Huberman's interactive model. The findings reveal that pesantren, which have endured  over generations, typically exhibit not only strong charismatic leadership but also structured  institutional development and planned leadership succession. Conversely, pesantren that  collapsed did so due to the lack of formalization and inadequate regeneration mechanisms.  This study contributes to the scholarship of Islamic education by highlighting the crucial  interplay between personal charisma, institutional formalization, and leadership continuity. It  also suggests that the future sustainability of pesantren requires intentional leadership  cultivation and adaptive organizational strategies to secure their relevance amid educational  and societal transformations. 
Penerapan AI dalam Pembelajaran STEM di Sekolah Dasar Indonesia Analisis Peluang dan Tantangan Khusnul Fatah; Ahmad Halid
Robbayana: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 4 No. 1 (2026): Robbayana
Publisher : Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71029/robbayana.v4i1.130

Abstract

Penelitian ini didorong oleh kemajuan pesat teknologi digital yang mendorong penggabungan pendekatan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) di sekolah dasar untuk melengkapi siswa dengan kemampuan abad ke-21. Akan tetapi, penerapan STEM di Indonesia masih dihadang oleh keterbatasan fasilitas dan kemampuan pedagogik guru. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi potensi dan hambatan penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) sebagai inovasi dalam proses belajar STEM di sekolah dasar Indonesia. Metode yang diterapkan adalah deskriptif kualitatif dengan model studi kasus, melibatkan observasi, wawancara, dan analisis tematik. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa AI memberikan manfaat besar dalam pembelajaran yang disesuaikan secara personal dan peningkatan produktivitas tugas administratif guru. Namun, tantangan pokok mencakup perbedaan akses infrastruktur digital di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), rendahnya pemahaman AI di kalangan pendidik, serta masalah etika terkait perlindungan data siswa. Kesimpulannya, pengintegrasian AI dapat secara efektif mendorong kreativitas dan kemampuan teknologi siswa, tetapi memerlukan dukungan kebijakan kurikulum yang terstruktur serta peningkatan kemampuan tenaga pendidik agar implementasinya inklusif dan berkelanjutan.
Ruang Lingkup Pendidikan Islam: Konsep, Prinsip, dan Implementasinya Friska Urba Ningrum; Ahmad Halid
Jurnal Indonesia Kajian Pendidikan Islam Vol. 2 No. 1 (2026): Jurnal Indonesia Kajian Pendidikan Islam, 2(1) 2026
Publisher : Academia Edu Cendekia Indonesia (AEDUCIA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64420/jikpi.v2i1.379

Abstract

Pendidikan Islam didefinisikan sebagai kerangka pendidikan yang holistik, yang mencakup pengembangan dimensi spiritual, kognitif, etis, relasional, serta fisik individu, dengan landasan utama pada Al-Qur'an dan Sunnah. Makalah ini berisi untuk menguraikan fondasi konsep, prinsip-prinsip dasar, cakupan, serta penerapan pendidikan Islam dalam perspektif kontemporer. Pendekatan penelitian yang diadopsi adalah analisis kepustakaan, melalui pemeriksaan mendalam terhadap sumber-sumber klasik maupun modern yang relevan dengan bidang pendidikan Islam. Analisis temuan menunjukkan bahwa prinsip tauhid berfungsi sebagai pusat dari seluruh proses pendidikan, yang dilengkapi dengan konsep pembelajaran seumur hidup, sintesis antara pengetahuan keagamaan dan sekuler, serta pendekatan pedagogis yang didasarkan pada nilai kasih sayang dan keadilan. Cakupan pendidikan Islam mencakup penguatan keyakinan (akidah), peningkatan kemampuan intelektual, pembentukan karakter moral (akhlak), pengembangan hubungan sosial-keluarga, serta pemeliharaan kesejahteraan fisik. Pada tingkat penerapannya, pendidikan Islam di Indonesia telah berinteraksi melalui institusi formal dan informal, seperti madrasah dan pesantren, meskipun dihadapkan pada berbagai kendala, termasuk pengaruh globalisasi, disparitas aksesibilitas, dan penyesuaian dengan kemajuan teknologi. Makalah ini menyimpulkan bahwa pendidikan Islam memainkan peran krusial dalam membentuk individu yang beriman, berpengetahuan, bermoral mulia, serta kompeten secara fungsional, sekaligus menekankan urgensi inovasi untuk menjaga relevansi nilai-nilai Islam di tengah dinamika globalisasi.
AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA LOKAL: STUDI ATAS TRADISI KEAGAMAAN MASYARAKAT JAWA TIMUR Rofi'atul laili; Ahmad Halid
TASHWIR Vol. 13 No. 2 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jt.v13i2.18800

Abstract

   Abstract: The phenomenon of cultural acculturation is the result of interactions between different cultures within a single geographical area. In the Tapal Kuda region of East Java, the community demonstrates a unique blend of Madurese and Javanese cultures, particularly in religious practices. This study aims to examine the forms of acculturation between Islam and local culture, the dynamics of the relationship between Madurese and Javanese traditions, and the types of syncretism that have developed within East Javanese society. This research employs a descriptive qualitative approach through participatory observation, in-depth interviews, and literature review. The findings indicate that cultural and religious acculturation in East Java occurs dynamically and harmoniously, enriching Islamic expression without diminishing the essence of religious teachings. Keywords: Acculturation, Islam and Local Culture, East Java, Religious Traditions  
Pesantren Dan Sistem Pendidikan Nasional Indonesia Ahmad Halid
Jurnal Riset Pendidikan Agama Islam Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Pendidikan Agama Islam (JRPAI)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpai.v5i2.8628

Abstract

Abstract. Islamic boarding schools (pesantren) are the oldest Islamic educational institutions in Indonesia, playing a significant role in developing a generation with morals, knowledge, and social justice. Within the context of the national education system, pesantren have gained legal legitimacy through Law Number 18 of 2019 concerning Pesantren. This article aims to analyze the position of pesantren within the Indonesian national education system from a regulatory perspective, emphasizing the principles of justice and equality. This research uses a qualitative-descriptive approach based on a literature review and regulatory analysis. The results indicate that regulations governing pesantren have provided a strong legal basis for the recognition and integration of pesantren into the national education system. However, the implementation of the principle of justice still faces challenges, particularly in terms of funding, accreditation, and graduate equality. This article emphasizes that achieving a just education system requires synergy between the government, pesantren, and the community to optimize the implementation of pesantren education regulations. Abstrak. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang memiliki peran signifikan dalam mencetak generasi berakhlak, berilmu, dan berkeadilan sosial. Dalam konteks sistem pendidikan nasional, pesantren telah memperoleh legitimasi hukum melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis posisi pesantren dalam sistem pendidikan nasional Indonesia dari perspektif regulasi, dengan menekankan prinsip keadilan dan kesetaraan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis kajian pustaka dan analisis regulatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi yang mengatur pesantren telah memberikan dasar hukum yang kuat bagi pengakuan dan integrasi pesantren ke dalam sistem pendidikan nasional. Namun, implementasi prinsip keadilan masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal pendanaan, akreditasi, dan kesetaraan lulusan. Artikel ini menegaskan bahwa untuk mencapai sistem pendidikan yang berkeadilan, perlu adanya sinergi antara pemerintah, pesantren, dan masyarakat dalam mengoptimalkan pelaksanaan regulasi pendidikan pesantren.
Tinjauan Teoretis Tentang Urgensi Peran Guru Ngaji Dalam Pembinaan Moral Generasi Z Di Masa Kini Alif Dimas Wildany; Ahmad Halid
Robbayana: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 2 (2025): Robbayana
Publisher : Institut Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71029/robbayana.v3i2.116

Abstract

Penelitian ini mengkaji tantangan epistemologis yang muncul dari penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan Islam, khususnya potensi reduksi terhadap konsep hikmah. Permasalahan utamanya adalah pergeseran model pengetahuan dari pemahaman spiritual yang mendalam menjadi sekadar pemrosesan informasi berbasis data. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis secara kritis perbedaan fundamental antara arsitektur pengetahuan AI dengan epistemologi hikmah dalam tradisi Islam. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) dan analisis konseptual-filosofis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan mendasar pada level ontologi, epistemologi, dan aksiologi antara 'hikmah' yang bersifat teologis dan transformatif dengan pengetahuan AI yang berbasis pada probabilitas statistik dan efisiensi. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun AI menawarkan kemudahan akses informasi, ia berisiko mendangkalkan proses belajar agama. Oleh karena itu, diperlukan sebuah kerangka pedagogis di mana AI diposisikan sebagai asisten informasional, sementara peran guru diperkuat sebagai fasilitator 'hikmah' untuk menjaga kedalaman spiritual dalam pendidikan.
Pengaruh Jember Fashion Carnival Terhadap Citra Kota Jember Sebagai Destinasi Wisata Budaya faza dildari; Ahmad Halid
INKAMKU : Integrasi Akademisi dan Masyarakat yang Berkualitas Vol 5 No 1 (2026): INKAMKU : Journal of Community Service
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Komunikasi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/inkamku.v5i1.4312

Abstract

This article aims to analyze the impact of the Jember Fashion Carnival (JFC) on the image of Jember City as a cultural tourism destination. JFC is one of the largest fashion festivals in Indonesia that has gained international recognition. By presenting unique themes every year, JFC not only showcases creativity in fashion design but also serves as an event rich in artistic and cultural elements. The research method used is descriptive qualitative, with data collected through in-depth interviews, participatory observation, and document studies. The respondents of the study include tourism industry players, local government officials, artists, and tourists who have attended JFC. The research findings show that JFC has a significant and positive influence in shaping and enhancing the image of Jember City. JFC has successfully transformed the public perception of Jember from a small town into a dynamic and innovative destination. In addition, JFC serves as a main attraction that promotes Jember’s local cultural richness such as batik motifs and traditional dances through modern and spectacular interpretations. However, several challenges remain, including issues of event sustainability, waste management, and the optimization of local community participation beyond the tourism industry. In conclusion, JFC plays a strategic role as an effective cultural asset in building the image of Jember City. The recommendation is to strengthen the synergy among the government, communities, and the private sector to further develop JFC into an event that is not only aesthetically appealing but also delivers sustainable economic and social impacts for all levels of society.
Dakwah Kultural Walisongo Ainul Yakin; Ahmad Halid
The International Journal of Pegon : Islam Nusantara civilization Vol 16 No 01 (2026): Moderasi Beragama dan Dinamika Peradaban Islam Nusantara: Integrasi Tradisi, Pe
Publisher : INC- Islam Nusantara Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51925/inc.v16i01.170

Abstract

Peradaban Islam di Indonesia memiliki sejarah yang sangat panjang dan sangat kaya, mulai dari abad ke-7 Masehi ketika Islam pertama kali datang ke Nusantara. Pertumbuhan Islam di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti kegiatan perdagangan, penyebaran agama, dan faktor politik. Artikel ini akan membahas tentang sejarah perkembangan peradaban Islam di Indonesia, mulai dari masa awal Islam masuk hingga masa kini. Pembahasan akan mencakup peran para ulama yang penting, pengaruh budaya lokal, serta bagaimana peradaban Islam berkontribusi terhadap perkembangan masyarakat Indonesia. Namun, tidak ada bukti tertulis yang jelas mengenai kapan Islam pertama kali masuk ke Indonesia. Perkembangan Islam di sini diyakini terjadi melalui jalur dagang antara Timur Tengah dan Asia Tenggara. Peradaban Islam berkembang karena adanya kebebasan berpikir yang muncul sejak masa Khulafa’ al-Rasyidin, Dinasti Umayyah, dan mencapai puncaknya pada masa Dinasti Abbasiyah. Setelah Dinasti Abbasiyah jatuh pada tahun 1258 M, peradaban Islam mengalami kemunduran, namun bangkit kembali pada abad ke-18 M. Islamic civilization in Indonesia has a very long and rich history, starting from the 7th century AD when Islam first arrived in the archipelago. The growth of Islam in Indonesia was influenced by several factors, such as trade activities, the spread of religion, and political factors. This article will discuss the history of the development of Islamic civilization in Indonesia, from the early days of Islam's arrival to the present day. The discussion will cover the important role of Islamic scholars, the influence of local culture, and how Islamic civilization contributed to the development of Indonesian society. However, there is no clear written evidence regarding when Islam first arrived in Indonesia. The development of Islam here is believed to have occurred through trade routes between the Middle East and Southeast Asia. Islamic civilization flourished due to the freedom of thought that emerged during the time of the Caliph al-Rasyidin, the Umayyad Dynasty, and reached its peak during the Abbasid Dynasty. After the Abbasid Dynasty fell in 1258 AD, Islamic civilization declined, but revived in the 18th century AD.