Claim Missing Document
Check
Articles

Pembentukan Identitas Diri Penonton Remaja melalui Drama Korea Love Next Door Priscilia, Tiara; Utami, Lusia Savitri Setyo
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.33314

Abstract

Self-identity is a concept of self-recognition, seeking purpose, and upholding personal values and beliefs. Self-identity is fundamental in the formation of identity, particularly during the teenage years. The teenage stage is a developmental period marked by instability in the search for identity. Teenagers absorb various sources and information from the internet, such as Korean dramas. This study aims to analyze the formation of teenage self-identity through Korean dramas using symbolic interaction theory as the primary framework. The research employs a qualitative approach with a phenomenological method. The findings indicate that understanding the messages in the Korean drama Love Next Door through its narrative and character interactions has the potential to foster self-confidence, openness in communication, empathy, and flexibility among teenagers in planning their future and shaping their self-identity. This is evident in how teenagers comprehend the drama's messages and apply them in daily life, including decision-making and building social relationships in society. Identitas diri adalah situasi atau konsep pengenalan diri, mencari tujuan dan memegang nilai dan keyakinan diri pada individu. Identitas diri merupakan satu hal yang fundamental pada pembentukan identitas diri terutama pada masa remaja. Remaja merupakan perkembangan seseorang yang masih ditandai dengan kelabilan dalam pencarian jati diri. Remaja akan menyerap berbagai sumber dan informasi dari internet seperti pada drama Korea. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembentukan identitas diri remaja melalui drama Korea dengan menggunakan teori interaksi simbolik sebagai landasan utama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Hasi pada penelitian ini menunjukkan bahwa adanya pemahaman pesan drama Korea Love Next Door melalui narasi dan interaksi karakter berpotensi mendorong rasa percaya diri, keterbukaan komunikasi, empati, dan fleksibilitas remaja dalam merencanakan masa depan serta membentuk identitas diri. Hal ini terlihat dari cara remaja memahami pesan pada drama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pengambilan keputusan dan menjalin hubungan sosial di masyarakat.
Representasi Anak Sulung sebagai Pilar Keluarga di Film Bila Esok Ibu Tiada Pratikna, Gabriella Shalisha; Utami, Lusia Savitri Setyo
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36272

Abstract

The family is the primary space for shaping social roles, including the position of the firstborn, which in many Indonesian cultures is often understood as the bearer of the greatest responsibility. Representations of this role frequently appear in mass media, including films. This study aims to examine how the firstborn as the pillar of the family is represented in the film Bila Esok Ibu Tiada using Roland Barthes’ semiotic analysis. The research employs a descriptive qualitative approach with Barthes’ semiotic textual analysis. The concepts and theories used include film as a mass communication medium, representation, and social roles. The findings show that the film represents the firstborn as a central figure who holds leadership responsibilities, makes decisions, and maintains family stability. The film also portrays the firstborn’s sacrifices as a form of devotion aligned with Indonesian cultural values that place collective interests above individual needs. In addition, the film reveals unequal distribution of roles and the social and emotional pressures that are often overlooked. Thus, these representations reflect dominant cultural constructions within Indonesian society rather than universal social realities.     Keluarga merupakan ruang utama dalam pembentukan peran sosial, termasuk posisi anak sulung yang dalam sebagian budaya Indonesia sering dipahami sebagai pemegang tanggung jawab terbesar. Representasi mengenai peran tersebut beberapa kali muncul dalam media massa, salah satunya film. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana anak sulung sebagai pilar keluarga direpresentasikan dalam film Bila Esok Ibu Tiada dengan analisis semiotika Roland Barthes. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis teks yaitu semiotika Roland Barthes. Konsep dan teori yang digunakan adalah film sebagai media massa, representasi, dan peran sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film merepresentasikan anak sulung sebagai figur sentral yang memegang peran kepemimpinan, pengambil keputusan, dan penjaga stabilitas keluarga. Film juga merepresentasikan pengorbanan anak sulung sebagai bentuk pengabdian yang selaras dengan nilai budaya Indonesia yang menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Selain itu, tampak ketidakadilan pembagian peran serta tekanan sosial dan emosional yang sering tidak disadari. Dengan demikian, representasi tersebut mencerminkan konstruksi budaya yang dominan di masyarakat Indonesia, daripada realitas sosial secara keseluruhan.
Relasi Interpersonal dan Trust Building dalam Dinamika Hubungan pada Generasi Z di Aplikasi Bumble Chrestella, Chintya; Utami, Lusia Savitri Setyo
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36303

Abstract

Online dating among Generation Z shows that many relationships begin in virtual spaces, yet their continuation depends on interpersonal relationship quality and trust. This study describes interpersonal relationship development and trust-building processes within the relationship dynamics of Generation Z Bumble users. It draws on DeVito and Knapp’s stages of interpersonal relationship development and Octaviolan and Ardi’s concepts of virtual communication and trust-building stages. Using a qualitative case study approach, the findings indicate that relationships typically progress from light conversations that create positive emotions to routine communication, moving to other platforms, increased self-disclosure, and face-to-face meetings. However, relationships may decline when expectations do not align with real experiences. Trust is built through identity verification, consistent communication, and direct interaction, but can easily collapse when dishonesty or mismatches in self-presentation occur. Relationship dynamics are often fluctuating connections may strengthen quickly yet also loosen rapidly due to the availability of alternative partners. Overall, interpersonal relationships and trust building act as the central drivers of relationship dynamics on Bumble, shaping the direction, intensity, and sustainability of relationships, whether they develop, stagnate, or end. Fenomena penggunaan aplikasi online dating di kalangan Generasi Z menunjukkan bahwa banyak hubungan dimulai di ruang virtual, namun keberlanjutannya tergantung pada kualitas relasi interpersonal dan kepercayaan yang terbangun. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan relasi interpersonal dan proses trust building dalam dinamika hubungan Generasi Z pengguna Bumble. Penelitian menggunakan konsep tahapan perkembangan relasi interpersonal menurut DeVito dan Knapp, serta konsep komunikasi virtual dan tahapan trust building Octaviolan dan Ardi sebagai landasan teoritis. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi interpersonal berkembang dari obrolan ringan yang memunculkan emosi positif, berlanjut pada komunikasi rutin, perpindahan platform, peningkatan keterbukaan diri, hingga pertemuan tatap muka, lalu dapat menurun ketika ekspektasi tidak sesuai kenyataan. Trust building dibangun melalui verifikasi identitas, konsistensi komunikasi, dan pengalaman interaksi langsung, namun mudah runtuh ketika muncul kebohongan atau ketidaksesuaian citra diri. Dinamika hubungan tampak fluktuatif, cepat menguat namun juga cepat merenggang karena banyaknya alternatif pasangan. Secara keseluruhan, relasi interpersonal dan trust building menjadi poros utama yang menggerakkan dinamika hubungan di Bumble karena keduanya menentukan arah, intensitas, serta keberlanjutan hubungan, baik itu berkembang, stagnan, atau berakhir.