Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

The Effectiveness of Differentiated Learning using the TaRL (Teaching at the Right Level) Approach for Improving Learning Interest and Learning Outcome Afandi, Rahmad Alvian; Ningtyas, Nindita Sabila; Susiyawati, Enny; Pratiwi, Purwanita
Jurnal Pijar Mipa Vol. 19 No. 4 (2024): July 2024
Publisher : Department of Mathematics and Science Education, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram. Jurnal Pijar MIPA colaborates with Perkumpulan Pendidik IPA Indonesia Wilayah Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpm.v19i4.6860

Abstract

This research was motivated by the low interest in learning and the low learning outcomes of students. This is because the learning that is carried out does not follow the students' wishes and ability level, so students are less active and have a low interest in learning science. Learning interests will affect the learning outcomes of students. This class action research aims to improve learning outcomes and students' interest in learning by using differentiated learning using the TaRL approach with the help of the inquiry learning model. TaRL learning is learning by grouping students according to their ability level. This study was conducted at SMPN 49 Surabaya in class 8B. The research data collection method used a questionnaire about students' interest in learning, an observation sheet for the implementation of learning, and a written test to determine students' learning outcomes. The design used in this study was the Tagart and Kemmis cycle model, and the data obtained was analyzed using classical learning completeness. The results showed that differentiated learning using the TaRL approach improved student learning outcomes with a percentage increase of 37% and an increase in the average score of 17.10. In addition, the results showed that students' interest in learning experienced a rise in categories from the initial condition, which had a poor category, to a good category at the end of the cycle. Based on the study's results, it can be concluded that applying differentiated learning using the TaRL approach can improve learning outcomes and student interest in the learning cycle.
PEMBELAJARAN IPA BERBASIS SOCIO-SCIENTIFIC ISSUES UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SCIENTIFIC LITERACY SISWA SMP Fitriyani, Anik; Susiyawati, Enny
Eksakta : Jurnal Penelitian dan Pembelajaran MIPA Vol 9, No 2 (2024): Eksakta : Jurnal Penelitian dan Pembelajaran MIPA
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, UM-Tapsel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/eksakta.v9i2.257–267

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan efektivitas pembelajaran IPA berbasis Socio-Scientific Issues (SSI) dengan pembelajaran IPA tanpa pendekatan SSI terhadap kemampuan scientific literacy siswa SMP ditinjau dari aspek contexts, competencies, knowledge, dan attidtude pada materi bioteknologi. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode kuasi eksperimen (Quasi Eksperimental Design). Sampel penelitian yang digunakan adalah siswa salah satu SMP di Kota Surabaya yang terbagi menjadi 29 siswa di kelas eksperimen dan 32 siswa di kelas kontrol. Data penelitian diperoleh dari tes literasi sains, angket sikap sains dan angket respon siswa. Hasil tes dianalisis menggunakan uji N-Gain, sedangkan angket respon siswa dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil uji N-Gain sebagian besar berkategori sedang dan menunjukkan bahwa peningkatkan kemampuan scientific literacy siswa yang menerima pembelajaran IPA berbasis SSI lebih tinggi daripada siswa yang menerima pembelajaran IPA tanpa pendekatan SSI. Hasil penelitian ini juga didukung dengan data angket respon siswa yang memperoleh respon positif pada kedua kelas, namun respon siswa yang menerima pembelajaran IPA berbasi SSI menunjukkan persentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang menerima pembelajaran IPA tanpa pendekatan SSI. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA berbasis SSI lebih efektif meningkatkan kemampuan scientific literacy siswa dibandingkan dengan pembelajaran IPA tanpa pendekatan SSI. Implikasi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan kemampuan scientific literacy siswa, guru dapat menerapkan pendekatan SSI materi bioteknologi atau yang memiliki karakteristik setara, seperti ekosistem dan keseimbangannya, interaksi antarorganisme, dan lain sebagainya.
PENGGUNAAN APLIKASI PHET UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA SMP PADA MATERI TEKANAN ZAT CAIR Safitri, Yohana; Susiyawati, Enny
Eksakta : Jurnal Penelitian dan Pembelajaran MIPA Vol 9, No 2 (2024): Eksakta : Jurnal Penelitian dan Pembelajaran MIPA
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, UM-Tapsel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/eksakta.v9i2.248–256

Abstract

Penelitian ini bertujuan membandingkan keefektifan keterampilan proses sains menggunakan aplikasi PhET dan aktivitas laboratorium riil pada materi tekanan zat cair. Metode penelitian ini menggunakan Quasi Eksperimental Design dengan desain pretest-posttest control group design dengan sasaran penelitian yaitu siswa kelas 8I berjumlah 32 orang sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas 8H berjumlah 31 orang sebagai kelas kontrol di salah satu SMP Kota Surabaya. Data diperoleh dengan metode tes dan angket yang kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitif. Aspek keterampilan proses sains yang diteliti pada peneliatian ini yaitu observasi, inferensi, pengukuran, mengkomunikasikan, mengklasifikasi, prediksi, mengontrol variabel, membuat hipotesis, menafsirkan data, dan mengadakan percobaan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas eskperimen yang menggunakan aplikasi PhET lebih efektif dibandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan aktivitas laboratorium riil terbukti dengan hasil effect size sebesar 0,76 dengan kategori besar. Implikasi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa, guru dapat menggunakan aplikasi PhET sebagai alternatif aktivitas laboratorium riil pada materi tekanan zat cair atau materi-materi lain yang terintegrasi dalam aplikasi PhET, seperti getaran dan gelombang, gerak an gaya, dan lain sebagainya.
CELL HEALTH LEARNING BASED ON DZIKRULLOH SPIRITUAL PRACTICE œHE NING CIPTO METAPHYSICS MEDITATION, TO BUILD A STRONG BODY IMMUNITY SYSTEM Qosyim, Ahmad; Erman, Erman; Rosdiana, Laily; Susiyawati, Enny
JPPIPA (Jurnal Penelitian Pendidikan IPA) Vol. 6 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Universitas Negeri Surabaya in collaboration with Perkumpulan Pendidik IPA Indonesia (PPII)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jppipa.v6n1.p17-24

Abstract

This study aimed to describe the implementation of the Spiritual Practice-Based Learning Approach to Metaphysics Meditation "He Ning Cipto" in the Cell-Level Life course to build the student's immune system during the covid-19 pandemic. This study involved three classes of 2018 class students with a total of 90 people. This quasi-experimental research uses a "one shot case study" as a research design where there is only a treatment class without control.   Data collection methods in this study include observation, tests and surveys in order to obtain data on the implementation of learning, mastery of concepts, meditation skills, and mental health. The results showed that the implementation of the learning carried out had fulfilled the syntax and obtained the dominant learning management assessment score mode of 4 from the total existing meetings. The learning outcomes test from 3 classes with 4 study topics (Cell Structure and Function, Cell Health Concepts, Body Immune System, Cipto Silent Meditation) in 7 meetings showed that students' mastery of concepts could be achieved maximally both individually and classically with a percentage of completeness of 95, 56%. Based on rewriting data and diaries, Cipto's Silent Meditation skills can be practiced well according to the recommended instructions and procedures. Students' rewriting scores ranged from 78 to 100, while for student diaries they received a minimum score of 80 and a maximum of 100. The questionnaire responses given showed high Mental Attitude Health (KSM) results of 96%, High Cell/Body Health (KST) of 86% and the Happiness Scale Index is in the high category (above 34, 4) with A level between 46-50 at 29%, Level B between 40-45 at 66% and C between 34-39 at 6%. Overall, it can be concluded that this research has helped students in learning and gaining an understanding of the concept of cell health and the immune system, as well as developing silent meditation skills, to build a strong immune system for students and actors in achieving a level of mental health and mental attitude. good dohir cells/body, and pure soul happiness is born as a result of a sense of faith, and evidence of obedience and gratitude to Allah SWT for all His blessings, then the practice of meditation has an impact as a form of self-protection from various kinds of diseases including the Covid-19 virus.
PENERAPAN MODEL CLASSROOM DISCUSSION BERBASIS SOCIO-SCIENTIFIC ISSUES TERHADAP LITERASI SAINS SISWA SMP Bik, Chamdani; Susiyawati, Enny
BIOCHEPHY: Journal of Science Education Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : MO.RI Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rendahnya literasi sains di Indonesia, mendorong perlunya inovasi dalam model pembelajaran. Pembelajaran dengan model clasroom discussion berbasis socio-scientific issues memiliki potensi dalam meningkatkan keterampilan literasi siswa. Namun penerapannya pada materi pemanasan global di tingkat SMP masih jarang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterampilan literasi sains siswa setelah diterapkan model pembelajaran classroom discussion berbasis socio-scientific issues. Jenis penelitian adalah pre-experimental dengan one-group pretest-posttest design. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII SMP. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu soal pretest dan posttest literasi sains, lembar pengamatan keterlaksanaan pembelajaran, dan angket respon siswa. Teknik analisis data yang digunakan yaitu uji N-Gain, uji normalitas, dan uji wilcoxon. Hasil uji N-Gain sebesar 3,7% siswa mendapat kategori rendah, 92,6% mendapat kategori sedang, dan 3,7% siswa mendapat kategori tinggi. Hal ini juga didukung dengan hasil keterlaksanaan pembelajaran dengan nilai modus yang didapatkan sebesar 4 yang termasuk dalam kategori sangat baik. Proses pembelajaran juga mendapatkan respon posistif dari siswa dengan persentase rata-rata tiap indikator sebesar 86%. Sehingga dapat disimpulkan pembelajaran classroom discussion berbasis socio-scientific issues dapat meningkatkan literasi sains siswa. Saran untuk penelitian selanjutnya bisa menambah penilaian dengan menggunakan aspek sikap, aspek pengetahuan, dan aspek konteks dalam melatihkan literasi sains siswa SMP.
ANALISIS PENGGUNAAN EKSPERIMEN SAINS KONTEKSTUAL UNTUK MEMBANGUN KARAKTER SOSIAL SISWA DI SEKOLAH DASAR Puspitaningtyas, Diah; Salsabila, Elma Maylisa Wahyu; Sari, Tri Ratna; Julianto, Julianto; Susiyawati, Enny; Hidayati, Fitria
EDUPROXIMA : Jurnal Ilmiah Pendidikan IPA Vol 7, No 4 (2025)
Publisher : Universitas Bhinneka PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29100/.v7i4.7706

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan karakter sosial siswa melalui eksperimen sains kontekstual yang mengangkat isu sosial, seperti pengolahan sampah dan air bersih, di SDN 2 Pecuk, Kecamatan Patianworo, Kabupaten Nganjuk. Pendekatan kualitatif digunakan dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran eksperimen yang melibatkan isu-isu sosial secara signifikan meningkatkan keterlibatan sosial siswa, seperti kerja sama, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan. Sebagian besar siswa menunjukkan peningkatan dalam kemampuan bekerja sama dalam kelompok dan berkomunikasi secara efektif, serta bertanggung jawab terhadap tugas eksperimen. Selain itu, siswa juga mulai menerapkan kesadaran lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, seperti memilah sampah dan menghemat penggunaan air. Penelitian ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan pembelajaran sains dengan isu sosial untuk membangun karakter sosial siswa sejak dini. Hasil ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan model pembelajaran yang tidak hanya mengutamakan aspek kognitif, tetapi juga afektif dalam pendidikan dasar. Penulis merekomendasikan agar pembelajaran berbasis eksperimen kontekstual dapat diterapkan lebih luas di sekolah dasar untuk mendukung pembentukan karakter siswa yang lebih holistik dan aplikatif.
MENUMBUHKAN KESADARAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN MELALUI PRAKSIS KRITIS PENDIDIKAN SAINS EMANSIPATORIS DI SEKOLAH DASAR Gustina, Devi Maya; Rahayu, Dwi Puri; Jannah, Fitri Miftahul; Julianto, Julianto; Susiyawati, Enny; Hidayati, Fitria
EDUPROXIMA : Jurnal Ilmiah Pendidikan IPA Vol 7, No 4 (2025)
Publisher : Universitas Bhinneka PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29100/.v7i4.8021

Abstract

Penelitian ini berfokus pada pentingnya pendidikan sains emansipatoris di tingkat sekolah dasar untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan berkelanjutan pada siswa. Dalam konteks perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin parah, pendidikan berbasis keberlanjutan menjadi sangat penting untuk membentuk generasi yang peduli terhadap alam. SD Negeri 1 Sonoageng, dengan pendekatan pendidikan yang melibatkan siswa secara langsung dalam kegiatan berbasis lingkungan, menjadi lokasi penelitian untuk mengeksplorasi bagaimana pendidikan sains emansipatoris dapat memfasilitasi pembelajaran yang kritis dan transformatif. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung terhadap proses pembelajaran sains dan wawancara dengan guru, kepala sekolah, dan beberapa siswa. Data dianalisis secara tematik melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk mengidentifikasi pola-pola penting dalam praktik pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan pendidikan sains emansipatoris di SD Negeri 1 Sonoageng efektif dalam menumbuhkan kesadaran ekologis siswa, meskipun terdapat tantangan dalam pelaksanaan, seperti keterbatasan sumber daya dan tekanan kurikulum. Siswa menunjukkan perubahan perilaku positif terhadap lingkungan dan merasa lebih bertanggung jawab atas keberlanjutan alam sekitar. Kesimpulannya, pendidikan sains emansipatoris dapat menjadi alat yang efektif dalam membentuk kesadaran lingkungan berkelanjutan pada siswa sekolah dasar, meskipun membutuhkan dukungan kebijakan dan sumber daya yang lebih baik.
ANALISIS PROFIL KEMAMPUAN ARGUMENTASI ILMIAH SISWA SMP BERDASARKAN TOULMIN’S ARGUMENT PATTERN (TAP) Fakhressy, Fanya; Susiyawati, Enny
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 2, Juni 2026 Publish
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.46350

Abstract

This study aims to analyze the profile of junior high school students’ scientific argumentation skills based on Toulmin’s Argument Pattern (TAP) and the level of argumentation achieved. The study employs a quantitative, descriptive approach. The research subjects were 32 seventh-grade students at SMP Negeri 63 Surabaya, selected through purposive sampling. The research instrument consisted of a contextual phenomenon-based essay test designed based on TAP indicators. The results showed that students’ scientific argumentation skills were still very low, characterized by a dominance of Level 1 at 75%, while only 19% of students reached Level 2 and 6% reached Level 3. Based on the indicators, students were able to present a Claim (81.25%), Ground (71.88%), Warrant (40.63%), and Backing (9.38%). These findings indicate that students’ scientific argumentation skills have not yet developed fully, particularly in the aspects of reasoning and argument reinforcement. This study implies the need for adjustments to learning methods that are more targeted and sustainable to improve students’ scientific argumentation skills.