Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : LOKABASA

METODE TIGA LANGKAH: MENGAJAR BAHASA SUNDA DENGAN MATERI KAWIH ASUH BARUDAK Hendrayana, Dian
LOKABASA Vol 8, No 1 (2017): Vol. 8, No. 1, April 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hampir di seluruh tingkatan (SD, SMP/MTs, SMA/SMK/MA) di Jawa Barat, para guru mata pelajaran Bahasa Sunda kerap mengeluhkan minimnya media pembelajaran dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Seperti diketahui, dalam Kurikulum 2013 perkakas yang disebut sebagai media pembelajaran sangat dibutuhkan demi membangun kegiatan belajar-mengajar yang kreatif, inovatif, dan menyenangkan. Media pembelajaran boleh jadi bisa berbentuk alat peraga, gambar-gambar, media audio, media audio-visual, pertunjukan, serta media lainnya yang mampu mebantu para guru terhadap kelancaran kegiatan belajar-mengajar. Untuk memenuhi kebutuhan media pembelajaran bahasa Sunda tersebut, dalam empat tahun terakhir muncul salah satu bentuk media pembelajaran yang disebut ‘Kawih Asuh Barudak’. Media ini berbentuk media audio yang berupa nyanyian berbahasa Sunda dengan peruntukan para siswa di tiga tingkatan. Atas rekomendasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, dalam satu setengah tahun terakhir, media pembelajaran ‘Kawih Asuh Barudak’ telah disosialisasikan melalui kegiatan pelatihan terhadap para guru di seluruh Jawa Barat, sehingga media pembelajaran ini hingga saat ini sudah mulai dimanfaatkan sebagai bahan penunjang dalam pembelajaran Bahasa Sunda.ABSTRACTAlmost in all school levels (SD, SMP/MTs, SMA/SMK/MA) in West Java, Sundanese language teachers often complain about the lack of teaching-learning media in carrying out teaching and learning activities. As it is known, in the Curriculum 2013 teaching-learning media is needed to build creative,innovative, and fun teaching and learning activities. Teachinglearning media can be designed in the form of teaching media, pictures, audio media, audiovisual media, performances, and other media that can help teachers to smooth teaching and learning activities. To meet the needs of teaching-learning Sundanese language media, in the last four years appeared one teaching-learning media called Kawih Asuh Barudak. The form of this media is audio media in the form of Sundanese language song designed for students devided in three levels. On the recommendation of West Java Provincial Education Office, in the last one and a half years, the teaching-learning media Kawih Asuh Barudak has been socialized through training activities for teachers throughout West Java, so this teachinglearning media has been utilized as a supporting material in Sundanese language learning Sunda.
METODE TIGA LANGKAH: MENGAJAR BAHASA SUNDA DENGAN MATERI KAWIH ASUH BARUDAK Hendrayana, Dian
LOKABASA Vol 8, No 1 (2017): Vol. 8, No. 1, April 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i1.15963

Abstract

Hampir di seluruh tingkatan (SD, SMP/MTs, SMA/SMK/MA) di Jawa Barat, para guru mata pelajaran Bahasa Sunda kerap mengeluhkan minimnya media pembelajaran dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Seperti diketahui, dalam Kurikulum 2013 perkakas yang disebut sebagai media pembelajaran sangat dibutuhkan demi membangun kegiatan belajar-mengajar yang kreatif, inovatif, dan menyenangkan. Media pembelajaran boleh jadi bisa berbentuk alat peraga, gambar-gambar, media audio, media audio-visual, pertunjukan, serta media lainnya yang mampu mebantu para guru terhadap kelancaran kegiatan belajar-mengajar. Untuk memenuhi kebutuhan media pembelajaran bahasa Sunda tersebut, dalam empat tahun terakhir muncul salah satu bentuk media pembelajaran yang disebut ‘Kawih Asuh Barudak’. Media ini berbentuk media audio yang berupa nyanyian berbahasa Sunda dengan peruntukan para siswa di tiga tingkatan. Atas rekomendasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, dalam satu setengah tahun terakhir, media pembelajaran ‘Kawih Asuh Barudak’ telah disosialisasikan melalui kegiatan pelatihan terhadap para guru di seluruh Jawa Barat, sehingga media pembelajaran ini hingga saat ini sudah mulai dimanfaatkan sebagai bahan penunjang dalam pembelajaran Bahasa Sunda.ABSTRACTAlmost in all school levels (SD, SMP/MTs, SMA/SMK/MA) in West Java, Sundanese language teachers often complain about the lack of teaching-learning media in carrying out teaching and learning activities. As it is known, in the Curriculum 2013 teaching-learning media is needed to build creative,innovative, and fun teaching and learning activities. Teachinglearning media can be designed in the form of teaching media, pictures, audio media, audiovisual media, performances, and other media that can help teachers to smooth teaching and learning activities. To meet the needs of teaching-learning Sundanese language media, in the last four years appeared one teaching-learning media called 'Kawih Asuh Barudak'. The form of this media is audio media in the form of Sundanese language song designed for students devided in three levels. On the recommendation of West Java Provincial Education Office, in the last one and a half years, the teaching-learning media 'Kawih Asuh Barudak' has been socialized through training activities for teachers throughout West Java, so this teachinglearning media has been utilized as a supporting material in Sundanese language learning Sunda.
METODE SOSIODRAMA DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA PUPUH DI SMK PASUNDAN 3 BANDUNG TAHUN AJARAN 2013/2014 Fatimah, Seni Baetuli; Haerudin, Dingding; Hendrayana, Dian
LOKABASA Vol 5, No 2 (2014): Vol. 5, No. 2, Okt 2014
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v5i2.15957

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fakta yang menunjukan bahwa minat dan kemampuan siswa dalam memahami isi teks pupuh masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa membaca pemahaman pupuh sebelum dan sesudah menggunakan metode sosiodrama, dan untuk mengetahui perbedaan antara keduanya. Metode yang digunakan adalah metode kuasi eksperimen dengan teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes. Adapun instrumen yang digunakan yaitu berupa lembar tes. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) kemampuan siswa dalam memahami isi teks pupuh meningkat dari 64,66% menjadi 83,33% dengan perbedaan uji gain 18,66% (2) adanya perbedaan uji gain menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan sebelum dan sesudah menggunakan metode sosiodrama (3) hasil uji hipotesis diperoleh thitung ttabel yaitutitung (7,14) ttabel (2,46), hal ini menunjukkan bahwa hipotesis kerja (Ha) diterima dan hipotesis kerja (Ho) ditolak. Dengan demikian, metode sosiodrama bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa membaca pemahaman pupuh serta dapat menjadi salah satu alternatife dalam teknik pembelajaran.AbstractThis researchwas conducted by the fact which shows that students interest and ability in understanding pupuh text content are still low. This study is aimed to find out students ability in pupuh reading comprehension before and after use sociodrama method, and to discover the difference between both of them. The method used is quasi experimental method with data collection technique using test technique. While, the instrument used is test sheets. According to the result, it can be concluded that (1) the students ability in understanding pupuh text content increases from 64.66% into 83.33% with the difference of gain test 18.66% (2) the difference of gain test shows that there is a significant difference between the ability before and after using sociodrama method (3) hypothesis test result was obtained t-value t-table (7.14) (2.46), it indicates that working hypothesis (Ha) is accepted and working hypothesis (Ho) is rejected. Thus, sociodrama method can be used to increase students ability in pupuh reading comprehension and also can be an alternative in learning technique.
Nilai Moral dalam Novel Si Bohim jeung Tukang Sulap Karangan Samsoedi Untuk Bahan Pembelajaran Membaca Novel Haryanti, Haryanti; Permana, Ruswendi; Hendrayana, Dian
LOKABASA Vol 12, No 1 (2021): Vol. 12 No. 1, April 2021
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v12i1.34139

Abstract

Papantunan: Cikal Bakal Kawih Cianjuran Hendrayana, Dian
LOKABASA Vol 16, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v16i2.91706

Abstract

Kawih Cianjuran adalah kekayaan seni vokal yang dimiliki masyarakat Jawa Barat. Materi Kawih Cianjuran bermula dari kawih papantunan yang dikreasikan oleh RAA Kusumaningrat dari kawih pantun di pertengahan abad XIX. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi proses terjadinya alih wahana dari kawih pantun menjadi kawih papantunan. Metoda yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan melalui studi pustaka serta fenomenologi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis melalui desain deduktif, menganalisis data secara parsial untuk dijalinkan satu data dengan data lainnya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kawih papantunan yang dikreasikan oleh RAA Kusumaningrat merupakan cikal bakal terbentuknya seni cianjuran yang hingga saat ini terdiri atas beberapa jenis kawih yakni Jejemplangan, Rarancagan, Dedegungan, Kakawen, serta Panambih. Jenis-jenis kawih cianjuran tersebut secara bentuk berpedoman kepada kawih papantunan.Cianjuran songs are a vocal art form that represents the cultural richness of the people of West Java. The materials of Cianjuran songs originated from kawih papantunan, which were created by RAA Kusumaningrat based on kawih pantun in the mid-19th century. This study aims to explore the process of transformation from kawih pantun to kawih papantunan. The method used is qualitative, employing a literature study and a phenomenological approach. The collected data were analyzed deductively, connecting and interpreting each set of data to form a coherent analysis. The findings reveal that the kawih papantunan created by RAA Kusumaningrat served as the foundation for the development of Cianjuran vocal art, which today consists of several types of kawih, namely Jejemplangan, Rarancagan, Dedegungan, Kakawen, and Panambih. Structurally, these various forms of kawih cianjuran are based on the kawih papantunan tradition.