Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Asupan energi dan status gizi peserta didik Paendong, Nikita Ester; Punuh, Maureen Irinne; Musa, Ester Candrawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1242

Abstract

Background: Adolescence is a crucial life period in human development marked by significant biological, emotional, social, and cognitive changes as individuals transition from childhood to adulthood. Meeting nutritional needs during adolescence is absolutely essential. Deficiencies in energy and other nutrients can have negative effects that persist into adulthood. Both under nutrition and overnutrition often stem from imbalanced energy intake. Most Indonesians still have unstable energy intake, often exceeding the recommended dietary allowance, even though many adolescents in Indonesia have normal nutritional status. Purpose: To analyze the relationship between energy intake and nutritional status among students. Method: This study used a quantitative, analytical observational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 77 seventh and eighth-grade students selected through total sampling (entire population). The variables examined were energy intake and nutritional status. Energy intake data were collected using a 24-hour food recall form, while nutritional status was assessed using BMI-for-age (BMI/U) through anthropometric measurements, including height (measured using a SECA microtoise) and weight (measured using a SECA digital scale). The relationship between variables was analyzed using Spearman’s Rank Correlation test. Results: The results showed that the respondents' nutritional status was dominated by good nutritional status (75.3%), and normal energy intake (51.9%). A Spearman's Rank Correlation test showed a relationship between energy intake and nutritional status (p = 0.000; r = 0.388). Conclusion: That most respondents had good nutritional status and normal energy intake. There was a relationship between energy intake and nutritional status, with a positive r value indicating a unidirectional relationship. Suggestion: Future researchers can use these results as a reference but should add other methods or variables that were not included in this study.   Keywords: Adolescents; Energy Intake; Nutritional Status.   Pendahuluan: Masa remaja adalah fase krusial dalam hidup manusia yang ditandai dengan transformasi signifikan pada aspek biologis, emosional, sosial, dan kognitif selama transisi dari anak-anak ke dewasa. Status gizi yang kurang maupun lebih, sering kali berakar dari asupan energi yang tidak seimbang. Sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki asupan energi yang masih tidak stabil dan melebihi angka kecukupan energi meskipun sebagian besar remaja di Indonesia memiliki status gizi normal. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara asupan energi dengan status gizi pada peserta didik. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang bersifat observasional analitik dengan menggunakan desain atau rancangan penelitian yang dipakai yaitu studi potong lintang dengan sampel 77 siswa kelas VII-VIII yang dipilih secara total sampling/total populasi. Variabel dalam penelitian ini yaitu asupan energi dan status gizi. Data asupan energi dikumpulkan melalui formulir food recall 24 jam dan status gizi diukur dengan IMT/U melalui pengukuran antropometri terlebih dahulu menggunakan alat ukur tinggi badan dan berat badan yaitu mikrotoise dan timbangan digital merk SECA. Analisis hubungan menggunakan uji Spearman’s Rank Correlation. Hasil: Status gizi didominasi oleh status gizi baik (75.3%), asupan energi normal (51.9%), dan didapatkan adanya hubungan antara asupan energi dengan status gizi berdasarkan hasil uji Spearman’s Rank Correlation dengan nilai (p= 0.000; r = 0.388). Simpulan: Sebagian besar responden memiliki status gizi baik dan asupan energi normal, serta adanya hubungan antara asupan energi dengan status gizi dengan arah hubungan nilai r positif menunjukkan hubungan searah. Saran: Bagi peneliti selanjutnya dapat menggunakan hasil ini sebagai referensi, namun dengan menambah metode lain atau dengan menambahkan variabel yang belum ada pada penelitian ini.   Kata Kunci: Asupan Energi; Remaja; Status Gizi.
PENDAMPINGAN PERENCANAAN PROGRAM KESEHATAN PUSKESMAS BAILANG KOTA MANADO Mandagi, Chreisye Kardinalia Fransisca; Punuh, Maureen Irinne
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 5 (2025): Vol.6 No. 5 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i5.50002

Abstract

Peningkatan kemampuan dalam perencanaan program kesehatan adalah salah satu elemen penting untuk memperbaiki efektivitas layanan kesehatan di puskesmas. Puskesmas Bailang di Kota Manado menghadapi tantangan dalam membuat rencana karena minimnya penggunaan data berbasis bukti, lemahnya analisis masalah, dan kurangnya koordinasi antar sektor. Program pelayanan masyarakat ini bertujuan untuk membantu tenaga kesehatan dalam menyusun rencana program kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Metode yang diterapkan mencakup pendampingan dalam bentuk pelatihan, diskusi, pre-test dan post-test, serta evaluasi bersama petugas program di puskesmas. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan dalam menganalisis masalah, menetapkan prioritas, dan merancang rencana program kesehatan berbasis data telah meningkat. Diskusi juga meningkatkan kerja sama antara sektor dengan Dinas Kesehatan Kota Manado. Dengan demikian, program ini berkontribusi pada peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dan mendukung pencapaian Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) di area kerja Puskesmas Bailang.
Hubungan antara pemberian makanan pendamping air susu ibu dengan status gizi anak 6-24 bulan Igir, Anggun; Punuh, Maureen Irinne; Malonda, Nancy Swanida Henriette
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1272

Abstract

Background: Malnutrition can lead to physical and mental retardation, decreased thinking ability, and increased productivity, as well as increasing the risk of disease and death in children. Malnutrition can be caused by inappropriate provision of complementary foods to meet children's nutritional needs. Purpose: To determine the relationship between complementary feeding and breast milk and the nutritional status of children aged 6-24 months. Method: This was an observational analytical study with a cross-sectional design. The population was 363 children aged 6-24 months, with a total sample size of 86 children. The sampling technique used was a probability sampling with simple random sampling. The instrument used in this study was the Child Feeding Questionnaire (CFQ) to measure the criteria for complementary feeding. Results: Based on the weight-for-age (W/A) index, 86.0% had normal weight and 11.6% were underweight. Based on the weight-for-height (W/B) index, 84.9% were categorized as well-nourished, and 10.5% were malnourished. In this study, the appropriate provision of complementary feeding was 88.4%, while the inappropriate provision was 11.6%. The bivariate analysis, based on the weight-for-age (W/A) and weight-for-height (W/H) indices, yielded a p-value of 0.000 (p<0.05). This indicates a relationship between the provision of complementary foods and breast milk and the nutritional status of children aged 6-24 months. Conclusion: There is a relationship between the provision of complementary foods and breast milk and the nutritional status of children aged 6-24 months. Suggestion: Complementary foods should be provided according to the child's age, starting with mashed, soft/finely chopped complementary foods, and continuing with family meals. Complementary foods should also include a variety of ingredients, such as carbohydrates, animal protein, vegetable protein, fruits, and vegetables, and hygiene should be maintained during the preparation and serving of complementary foods.   Keywords: Children; Complementary Foods; Nutritional Status.   Pendahuluan: Kekurangan gizi dapat menyebabkan hambatan fisik, mental, penurunan kemampuan berpikir, produktivitas, serta meningkatkan risiko penyakit dan kematian anak. Penyebab kekurangan gizi dapat disebabkan oleh pemberian MP-ASI yang tidak tepat dengan kebutuhan gizi anak. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pemberian makanan pendamping air susu ibu dengan status gizi anak 6-24 bulan. Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah 363 anak berusia 6-24 bulan dengan total sampel berjumlah 86 anak, teknik pengambilan sampel menggunakan probability sampel dengan metode simple random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Child Feeding Questionnaire (CFQ) untuk mengukur kriteria MP-ASI. Hasil: Berdasarkan pengukuran indeks BB/U, terdapat 86.0% dengan berat badan normal dan sejumlah 11.6% dengan berat badan kurang. Berdasarkan pengukuran indeks BB/PB terdapat 84.9% dengan kategori gizi baik dan terdapat 10.5% mengalami gizi kurang. Pada penelitian ini, kategori pemberian MP-ASI tepat sejumlah 88.4% dan kategori MP-ASI tidak tepat sejumlah 11.6%. Hasil analisis bivariat berdasarkan indeks BB/U dan BB/PB diperoleh p-value 0.000 (p<0.05). Hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara pemberian makanan pendamping air susu ibu dengan status gizi anak 6-24 bulan. Simpulan: Terdapat hubungan antara pemberian makanan pendamping air susu ibu dengan status gizi anak 6-24 bulan. Saran: MP-ASI perlu diberikan sesuai dengan usia anak, dimulai dari MP-ASI dengan bentuk lumat, lembek/dicincang halus hingga makanan keluarga. Pemberian MP-ASI juga harus beragam jenis bahan makanan, seperti karbohidrat, protein hewani, protein nabati, buah dan sayur serta harus menjaga kebersihan dalam proses pengolahan dan penyajian MP-ASI.   Kata Kunci: Anak; Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI); Status Gizi.
Hubungan antara pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) dengan status gizi pada balita usia 6-23 bulan Koleangan, Fionita; Malonda, Nancy Swanida Henriette; Punuh, Maureen Irinne
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1275

Abstract

Background: Introduction: Toddlers are highly vulnerable to nutritional problems, as balanced nutritional intake determines their growth and development. One cause of nutritional problems is inappropriate food intake, particularly complementary foods, according to their age and needs, which impacts the nutritional status of toddlers. Purpose: To determine the relationship between the provision of complementary foods and nutritional status in toddlers aged 6-23 months. Method: This quantitative research used a cross-sectional approach. Conducted in Minahasa Regency, specifically within the Kakas Community Health Center, this study was conducted from April to July 2025. The sample used was 76 toddlers who met the research criteria. The instrument used was the Child Feeding Questionnaire (CFQ) to measure the criteria for complementary feeding. Results: Based on the Weight-for-Age (W/A) index, 93.4% of toddlers had normal weight and 1.3% were underweight. Based on the Height-for-Age (H/A) index, 86.8% of toddlers had normal height and 11.8% experienced stunting. Based on the Weight-for-Age (W/A) index, 81.6% of toddlers had good nutritional status and 15.8% were overweight. In this study, 81.6% of toddlers were given appropriate complementary foods, and 18.4% were given inappropriate complementary foods. Conclusion: There is a relationship between the provision of complementary foods and toddler nutritional status (weight/weight ratio) (p-value = 0.032), and there is no relationship between the provision of complementary foods and nutritional status based on the weight/age index and height/age index. Suggestion: Respondents in this study, namely mothers of toddlers, should provide complementary foods with a complete and balanced diet (rice, side dishes, vegetables, fruit, and milk) every day, in the appropriate amounts and at the appropriate times. It is also hoped that mothers will take the time to regularly take their toddlers to the Integrated Health Post so that their children can be monitored and receive nutritional education.   Keywords: Complementary Foods; Nutritional Status; Toddler.   Pendahuluan: Balita sangat rentan dengan masalah gizi, karena keseimbangan asupan gizi dalam tubuh menentukan pertumbuhan dan perkembangannya. Salah satu penyebab masalah gizi yaitu asupan makan yang diberikan dalam hal ini pemberian MP-ASI yang tidak sesuai dengan usia dan kebutuhannya, sehingga memengaruhi status gizi balita. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) dengan status gizi pada balita usia 6-23 bulan. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Dilaksanakan di Kabupaten Minahasa tepatnya di wilayah kerja Puskesmas Kakas, penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Juli 2025. Sampel yang digunakan sebanyak 76 balita yang sesuai kriteria penelitian. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner Child Feeding Questionnaire (CFQ) untuk mengukur kriteria MP-ASI. Hasil: Status gizi balita berdasarkan indeks BB/U, terdapat 93.4% balita yang memiliki berat badan normal dan 1.3% balita underweight.  Berdasarkan indeks PB/U, terdapat 86.8% balita dengan tinggi badan yang normal dan 11.8% balita stunting. Berdasarkan indeks BB/PB terdapat 81.6% balita dengan gizi baik dan balita dengan gizi lebih 15.8%. Pada penelitian ini, kategori pemberian MP-ASI tepat terdapat 81.6% balita dan 18.4% balita pada kategori pemberian MP-ASI tidak tepat. Simpulan: Terdapat hubungan antara pemberian MP-ASI dengan status gizi balita (indeks BB/PB) (p value = 0.032) dan tidak ada hubungan antara pemberian MP-ASI dengan status gizi berdasarkan indeks BB/U dan Indeks PB/U. Saran: Bagi responden dalam penelitian ini yaitu ibu dari balita agar dapat memberikan MP-ASI dengan menu makanan seimbang yang lengkap (nasi, lauk, sayur, buah, dan susu) setiap hari dengan jumlah dan waktu pemberian makan yang tepat. Diharapkan juga ibu dapat meluangkan waktu untuk rutin membawa balita ke posyandu agar pemantauan balita akan selalu terpantau dan tentunya ibu mendapatkan edukasi terkait gizi.   Kata Kunci: Balita; Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI); Status Gizi.
Hubungan riwayat pemberian ASI eksklusif dengan stunting pada balita Muhaling, Jesica Christin; Sanggelorang, Yulianty; Punuh, Maureen Irinne
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1725

Abstract

Background: Indonesia is in the process of achieving the Sustainable Development Goals (SDGs) to eradicate hunger, achieve food security, and improve nutrition, while supporting sustainable development. These goals include addressing the problem of stunting, which is being pursued to reduce it. Stunting can impact a child's life into adulthood. If not addressed promptly and appropriately, it can lead to the risk of physical and cognitive developmental disabilities. Purpose: To analyze the relationship between a history of exclusive breastfeeding and stunting in toddlers. Method: This quantitative study used an analytical survey design using a cross-sectional approach. The study was conducted in the Pineleng Community Health Center working area from June to September 2025. The sample size was determined using the Slovin formula with a 10% margin of error, resulting in 100 respondents. Data on exclusive breastfeeding history were obtained through structured questionnaire interviews with parents of toddlers, while height data were obtained through direct measurements using a microtoise. Data analysis included univariate and bivariate analyses using the chi-square test. Results: The mean age of toddlers was 40.4 ± 9.9 months, with an age range of 24–59 months. Most toddlers were in the 24–36 month age group (42.0%), the majority were male (57.0%), not exclusively breastfed (70.0%), and stunting was found in 12.0%. A chi-square test showed no significant association between a history of exclusive breastfeeding and stunting, with a p-value of 0.101. Conclusion: There was no significant association between exclusive breastfeeding and stunting in toddlers aged 24–59 months. This suggests that stunting is caused by multiple factors, such as low household socioeconomic status, premature birth, low parental education, living in rural or slum areas, poor environmental sanitation, poor cultural practices, and others.   Keywords: Exclusive Breastfeeding; Stunting; Toddlers.   Pendahuluan: Indonesia sedang dalam proses mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) untuk memberantas kelaparan, mencapai ketahanan pangan, dan peningkatan gizi serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Tujuan yang termasuk didalamnya adalah untuk mengatasi masalah stunting yang diupayakan menurun. Stunting dapat memengaruhi kehidupan anak saat mencapai usia dewasa, jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, hal ini dapat menyebabkan risiko cacat perkembangan fisik dan kognitif. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan stunting pada balita. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain survei analitik menggunakan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Pineleng pada bulan Juni–September 2025. Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10%, sehingga diperoleh 100 responden. Data riwayat ASI eksklusif diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur kepada orangtua balita, sedangkan data tinggi badan diperoleh melalui pengukuran langsung menggunakan microtoise. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Menunjukkan rerata umur balita adalah 40.4 ± 9.9 bulan dengan rentang usia 24–59 bulan, sebagian besar balita berada pada kelompok usia 24–36 bulan sebesar 42.0%, mayoritas berjenis kelamin laki-laki sebanyak 57.0%, tidak mendapatkan ASI eksklusif sebanyak 70.0%, dan kejadian stunting ditemukan pada 12.0% balita. Uji chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting dengan nilai p sebesar 0.101. Simpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan stunting pada balita umur 24-59 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa stunting disebabkan oleh multifaktor, seperti status sosial ekonomi rumah tangga yang rendah, kelahiran prematur, pendidikan orang tua yang rendah, tinggal di rumah tangga di pedesaan atau daerah kumuh, sanitasi lingkungan yang buruk, budaya yang buruk, dan lain-lain.   Kata Kunci: ASI Eksklusif; Balita; Stunting.
Gambaran Status Gizi Pada Pelajar di SMA Negeri 1 Airmadidi Minahasa Utara Lalo, Samuel; Musa, Ester Candrawati; Punuh, Maureen Irinne
KESMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Vol. 14 No. 4 (2025): KESMAS, Oktober - Desember
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Status gizi merupakan salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap derajat kesehatan dan kesejahteraan seseorang. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan pada pada 30 pelajar di SMA Negeri 1 Airmadidi, sebanyak 23 siswa (77%) dengan status gizi baik, 6 siswa (20%) dengan status gizi lebih, dan 1 siswa (3%) dengan status gizi obesistas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai status gizi pada pelajar di SMAN 1 Airmadidi. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian Cross sectional study (studi potong lintang). Lokasi penelitian ini bertempat di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Airmadidi. Hasil penelitian menggambarkan status gizi responden sebagian besar memiliki status gizi baik, yaitu sebanyak 56 orang (88%). Responden dengan status gizi lebih berjumlah 7 orang (10%), dan hanya 1 orang (2%) yang mengalami obesitas. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pelajar di SMA Negeri 1 Airmadidi kelas sebanyak 56 orang (88%) memiliki status gizi baik, sebanyak 7 orang (10%) memiliki status gizi lebih, dan 1 orang (2%) memiliki status gizi obesitas. Secara keseluruhan, sebagian besar pelajar di SMA Negeri 1 Airmadidi Minahasa Utara termasuk dalam kategori status gizi normal.
Media sosial memengaruhi body image dan gangguan makan pada remaja Malonda, Nancy Swanida Henriette; Punuh, Maureen Irinne; Pondagitan, Alpinia Shinta; Tomastola, Yohanis; Anastasya, Solideo; Bidara, Christa; Taroreh, Putri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1892

Abstract

Background: Social media can negatively impact body image and increase the risk of eating disorders in adolescents, yet these platforms are widely used. Adolescents tend to worry about their appearance in response to social media content. Negative body image is a risk factor for eating disorders, which can impact adolescents' nutritional status, leading to undernutrition or overnutrition. Purpose: To determine the influence of social media on body image and eating disorders in adolescents. Method:  The study design used a descriptive analytical approach with a cross-sectional approach. The sample consisted of 211 eleventh-grade students from Senior High School in Tondano, Minahasa Regency, taken using a total sampling technique. Body image was measured using the MBSRQ-AS, eating disorders were measured using the EAT-26 questionnaire, and social media was measured using the ASMC Scale questionnaire. Results: The majority of respondents had a positive body image (85.8%), were not at risk for eating disorders (54%), and reported a high influence from social media (78.7%). Statistical analysis using the Spearman rank sum test showed a positive correlation between digital media and body image (p=0.000; 0.261) and eating disorders (p=0.045; 0.138). The influence of social media can lead to body image dissatisfaction and eating disorders. Therefore, interventions such as improving social media literacy are recommended to prevent negative impacts on adolescents' mindsets and attitudes. Conclusion: Social media exposure is significantly associated with body image disturbance and eating disorders in adolescents.   Keywords: Body Image; Eating Disorders; Social Media.   Pendahuluan: Media sosial memiliki dampak negatif terhadap body image dan gangguan makan remaja, namun remaja cenderung selalu menggunakan platform ini. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi strategi yang dapat mengurangi dampak buruk media sosial terhadap kesehatan mental remaja. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh media sosial terhadap body image dan gangguan makan pada remaja.    Metode: Rancangan penelitian menggunakan deskriptif korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 211 remaja kelas XI SMAN 1, SMAN 2, dan SMAN 3 di Tondano kabupaten Minahasa yang diambil dengan menggunakan teknik total sampling. Body image diukur menggunakan MBSRQ-AS, gangguan perilaku makan diukur menggunakan kuesioner EAT-26 dan pengaruh media sosial menggunakan kuesioner ASMC scale. Hasil: Mayoritas responden memiliki body image positif (85.8 %), tidak berisiko mengalami gangguan perilaku makan (54 %), dan memiliki pengaruh tinggi (78.7%) dari media sosial. Hasil analisis statistik menggunakan uji Spearman rank, diketahui bahwa terdapat korelasi positif antara media digital terhadap body image (p=0.000; 0.261) dan gangguan makan (p=0.045; 0.138). Pengaruh media sosial dapat menyebabkan ketidakpuasan akan body image dan gangguan perilaku makan, sehingga direkomendasikan untuk dilakukan intervensi berupa peningkatan literasi penggunaan media sosial agar tidak menimbulkan efek negatif terhadap pola pikir dan sikap remaja. Simpulan: Paparan media sosial secara signifikan berhubungan dengan gangguan body image dan gangguan makan pada remaja.               Kata Kunci: Body Image; Gangguan Makan; Media Sosial.
Hubungan antara pola pemberian makan dengan status gizi balita Datu, Deva Monica Mayomi; Punuh, Maureen Irinne; Musa, Ester Candrawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2295

Abstract

Background: Adequate and balanced nutrition is essential to support children's physical growth and brain development, maintain the immune system, and meet energy needs for daily activities. Appropriate diet, including menu preparation and maternal feeding methods, plays a crucial role in meeting these nutritional needs. Purpose: To analyze the relationship between diet and nutritional status in toddlers. Method: This quantitative study used an observational analytical design and a cross-sectional approach. The study was conducted in Pineleng District, Minahasa Regency, from May to August 2025. A random sampling technique was used to select 80 toddlers aged 2–5 years. Data were collected using the Child Diet Questionnaire (CFQ), interviews, and anthropometric measurements, including weight (digital scale) and height (microtonnage). Data were analyzed using the Chi-Square Test and Fisher's Exact Test. Results: The Chi-Square Test and Fisher's Exact Test yielded p = 0.002 (p > 0.05). This study found a relationship between diet and nutritional status in toddlers aged 2–5 years. Conclusion: There is a relationship between dietary patterns and nutritional status of toddlers aged 2-5 years. Suggestion: Future researchers can use these results as a reference, but may need to incorporate other methods or variables not included in this study.   Keywords: Dietary patterns; Nutritional status; Toddlers.   Pendahuluan: Pemenuhan zat gizi yang cukup dan seimbang sangat penting untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak, menjaga sistem kekebalan tubuh, serta memenuhi kebutuhan energi untuk aktivitas harian. Pola pemberian makan yang tepat, termasuk penyusunan menu dan cara pemberian makanan oleh ibu, berperan besar dalam memenuhi kebutuhan zat gizi ini. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara pola pemberian makan dengan status gizi pada balita. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain penelitian observasional analitik dan menggunakan pendekatan cross sectional study. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa pada bulan Mei – Agustus tahun 2025 dengan jumlah sampel 80 balita usia 2 – 5 tahun menggunakan teknik random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Child Feeding Questionnaire (CFQ) dan wawancara serta melakukan pengukuran antropometri yaitu berat badan (timbangan digital) dan tinggi badan (microtoise). Metode analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square dan Fisher’s Exact Test. Hasil: Uji statistik Chi-Square dan Fisher’s Exact Test ini didapatkan hasil p = 0.002 (p > 0.05), temuan dari penelitian ini yaitu adanya hubungan antara pola pemberian makan dengan status gizi balita usia 2 – 5 tahun. Simpulan: Terdapat hubungan antara pola pemberian makan dengan status gizi balita usia 2 – 5 tahun. Saran: Bagi peneliti selanjutnya, dapat menggunakan hasil ini sebagai referensi, namun dengan menambah metode lain atau dengan menambahkan variabel yang belum ada pada penelitian ini.   Kata Kunci: Balita; Pola Pemberian Makan; Status Gizi.
Gambaran pengetahuan ibu balita tentang gizi seimbang Pasla, Angie Julieta; Sanggelorang, Yulianty; Punuh, Maureen Irinne
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2296

Abstract

Background: Nutrition is a crucial aspect of maintaining human health and well-being. Broadly speaking, nutrition encompasses all processes within the human body to acquire, digest, absorb, and transport nutrients, starting from the ages of 0-5 years. Mothers' knowledge about nutritional needs is very important, this is because to create a better future generation, the role of mothers in caring for babies and children is a determining factor. Purpose: To examine the knowledge of mothers of toddlers regarding balanced nutrition. Method: This quantitative research used a total sampling technique and a sample size of 90 respondents. The study was conducted in five villages in Pineleng District, Minahasa Regency, from May to November 2025. The research variable examined was mothers' knowledge of balanced nutrition, using a questionnaire. Results: Most respondents were aged 17-35 years (82 respondents) (91.1%), worked as housewives (79 respondents) (87.7%), and had a high school education (57 respondents) (63.3%). Regarding knowledge levels, the majority of respondents (78 respondents) had good knowledge. Conclusion: The general overview of mothers' knowledge of balanced nutrition in this study was categorized as good. Suggestion: It is hoped that health authorities can provide education to the community, especially mothers with toddlers, about nutrition-aware families to increase public knowledge.   Keywords: Balanced Nutrition; Knowledge; Mother; Toddler.   Pendahuluan: Gizi merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan manusia. Gizi, dalam pengertian luas, mencakup semua proses yang terjadi dalam tubuh manusia untuk memperoleh, mencerna, menyerap, dan mengangkut dimulai dari usia 0-5 tahun. Pengetahuan ibu tentang kebutuhan gizi sangat penting sekali, hal ini disebabkan untuk menciptakan generasi mendatang yang lebih baik, peran ibu dalam merawat bayi dan anak menjadi faktor penentu.   Tujuan: Untuk melihat gambaran pengetahuan ibu balita tentang gizi seimbang. Metode: Penelitian kuantitatif dengan teknik pengambilan  sampel menggunakan teknik total sampling dan jumlah sampel sebanyak 90 responden. Penelitian ini dilakukan  di 5 desa di Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa dengan waktu pelaksanaan pada Mei-November 2025 dengan variabel yang di teliti adalah pengetahuan  ibu  tentang gizi seimbang menggunakan instrumen kuesioner. Hasil: Sebagian besar responden berusia pada rentang 17-35 tahun sebanyak 82 responden (91.1%), bekerja sebagai IRT sebanyak 79 responden (87.7%), dan pendidikan terakhir yang paling banyak yaitu SMA sebanyak 57 responden (63.3%). Terkait dengan tingkat pengetahuan, mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik sebanyak 78 responden (86.6%). Simpulan: Gambaran pengetahuan ibu tentang gizi seimbang pada penelitian ini termasuk pada kategori baik. Saran: Diharapkan pihak kesehatan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat, khususnya ibu yang memiliki balita tentang keluarga sadar gizi, agar pengetahuan masyarakat dapat meningkat. Kata Kunci: Ibu; Balita; Gizi Seimbang; Pengetahuan.
Hubungan antara pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan kejadian wasting pada balita Paisa, Fria Maria; Punuh, Maureen Irinne; Kapantow, Nova Hellen
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2297

Abstract

Background: Malnutrition in toddlers, if not addressed seriously, can negatively impact their health, both growth and development later in life. Providing nutritious and balanced complementary foods plays a crucial role in addressing growth and developmental issues in children. Purpose: To analyze the relationship between complementary foods and malnutrition in toddlers. Method: This quantitative study used an observational analytical design and a cross-sectional approach. The study was conducted from June to August 2025, with a sample size of 63 toddlers aged 6-12 months using total sampling. Data collection using the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey questionnaire and interviews as well as measuring body weight (baby scale) and body length (infantometer). Data analysis used the chi-square test and Fisher's exact test. Results: Fisher's exact test yielded p = 0.001 (p > 0.05). This study found a significant relationship between complementary foods and malnutrition in toddlers aged 6-24 months. Conclusion: There is a significant relationship between complementary foods and malnutrition in toddlers. Suggestion: Future researchers can use these results as a reference, but may need to add other methods or variables not included in this study.   Keywords: Complementary Foods for Breast Milk; Toddler; Wasting.   Pendahuluan: Wasting pada balita jika tidak mendapatkan penanganan secara serius dapat berakibat buruk bagi kesehatan anak, baik pertumbuhan maupun perkembangan di masa selanjutnya. Pemberian makanan pendamping ASI yang bergizi dan seimbang berperan penting dalam mengatasi masalah pertumbuhan dan perkembangan pada anak. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan pemberian makanan pendamping ASI dengan kejadian wasting pada balita. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain penelitian observasional analitik dan menggunakan pendekatan cross sectional study. Penelitian dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2025 dengan jumlah sampel 63 balita usia 6-12 bulan menggunakan total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner SSGI 2024 dan wawancara serta melakukan pengukuran berat badan (baby scale) dan panjang badan (infantometer). Metode analisis data menggunakan uji statistik chi square dan Fisher’s exact test. Hasil: Fisher’s exact test ini didapatkan hasil p = 0.001 (p > 0.05), temuan dari penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian makanan pendamping ASI dengan kejadian wasting pada balita usia 6-24 bulan Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian makanan pendamping ASI dengan kejadian wasting pada balita. Saran: Bagi peneliti selanjutnya dapat menggunakan hasil ini sebagai referensi, namun dengan menambah metode lain atau dengan menambahkan variabel yang belum ada pada penelitian ini. Kata Kunci: Balita; Makanan Pendamping ASI (MP-ASI); Wasting.