Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pengaruh Penambahan Minyak Sacha Inchi dan Ekstrak Bunga Telang Terhadap Kandungan Omega-3 dan Antioksidan Produk Mie Untuk Diabetes Sukma, Syalwa Destrianti Sukma; Riana, Asysyfa; Widiastuti, Yuliati
Jurnal Ilmiah Gizi dan Kesehatan (JIGK) Vol 7 No 02 (2026): Februari
Publisher : Universitas Muhadi Setiabudi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46772/jigk.v7i02.1801

Abstract

Wheat flour-based noodles have a high glycemic index and low fiber content, making them less suitable for individuals with diabetes. This study aimed to evaluate the effect of adding sacha inchi oil and butterfly pea extract on the omega-3 and antioxidant content of mocaf-based noodles. The research was conducted experimentally with three formulations: F1 (93% mocaf flour, 2% sacha inchi oil, and 5% butterfly pea extract), F2 (87% mocaf flour, 3% sacha inchi oil, and 10% butterfly pea extract), and F3 (81% mocaf flour, 4% sacha inchi oil, and 15% butterfly pea extract). Analyses included proximate tests, omega-3 levels, antioxidant activity, and organoleptic evaluations. Organoleptic data were analyzed using one-way ANOVA followed by Tukey’s post hoc test to determine significant differences between formulations. Univariate results showed a significant increase in omega-3 content in F1 (p<0.05), and the highest antioxidant activity was also found in F1, with a moderate antioxidant activity value. Bivariate analysis indicated a significant relationship between the addition of functional ingredients and the improvement of nutritional content and organoleptic scores. F1 was the best formulation in terms of taste and color. It was concluded that F1 is the most optimal combination. Further studies are needed to assess glycemic index and shelf life. Keywords: Diabetes mellitus, mocaf noodles, sacha inchi oil, butterfly pea, Omega-3, antioxidant
Hubungan Asupan Zat Gizi Makro, Zat Gizi Mikro, Dan Lila Ibu Hamil Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 6-59 Bulan Di Puskesmas Babakan Tarogong Revida Dwi Leonita; Widiastuti, Yuliati; Irawan, Galuh
Jurnal Ilmiah Gizi dan Kesehatan (JIGK) Vol 7 No 02 (2026): Februari
Publisher : Universitas Muhadi Setiabudi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46772/jigk.v7i02.1803

Abstract

Stunting adalah kondisi terhambatnya pertumbuhan anak akibat kurang gizi kronis dan infeksi berulang. Masalah gizi ini masih tinggi di Indonesia, termasuk Jawa Barat dan Kota Bandung, salah satunya dipengaruhi oleh asupan gizi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara asupan zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak), zat gizi mikro (kalsium, vitamin D), serta riwayat Lingkar Lengan Atas (LILA) ibu hamil dengan kejadian Stunting pada balita usia 6-59 bulan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif observasional dengan rancangan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 93 balita usia 6-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Babakan Tarogong. Data asupan gizi makro dan mikro diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ FFQ), sedangkan riwayat Lingkar Lengan Atas (LILA) ibu hamil dicatat dari Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Data dianalisis menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas balita sampel berusia 6-36 bulan (69,9%) dan berjenis kelamin laki-laki (58,1%). Hasil uji statistik menggunakan chi square diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara asupan karbohidrat dengan kejadian Stunting dengan nilai (p = 0,000), asupan protein dengan kejadian Stunting dengan nilai (p = 0,000), asupan lemak dengan kejadian Stunting dengan nilai (p = 0,000), asupan kalsium dengan kejadian Stunting dengan nilai (p = 0,002), asupan vitamin D dengan kejadian Stunting dengan nilai (p = 0,004), dan riwayat LILA ibu saat hamil dengan kejadian Stunting dengan nilai (p = 0,015). Puskesmas perlu mengintensifkan edukasi gizi dan pemantauan pertumbuhan melalui konseling posyandu, penelitian selanjutnya disarankan memperluas variabel dengan memasukkan faktor infeksi, lingkungan, dan pola asuh untuk pencegahan Stunting yang lebih komprehensif.