Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Hubungan Tingkat Stres Terhadap Ketidakteraturan Siklus Menstruasi Pada Mahasiswi Di ITSK RS Dr Soepraoen Malang Natasya Dwi Ayuni; Hanim Mufarokhah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1080

Abstract

Menstruasi merupakan proses fisiologis pada perempuan usia reproduksi yang dipengaruhi oleh keseimbangan hormon, sedangkan ketidakteraturan siklus menstruasi masih sering terjadi pada mahasiswi dan dapat dipengaruhi oleh faktor psikologis, terutama tingkat stres. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres dengan ketidakteraturan siklus menstruasi pada mahasiswi Program Studi Keperawatan ITSK RS dr. Soepraoen Malang. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan metode analitik korelasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 45 mahasiswi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner DASS-21 bagian stres untuk mengukur tingkat stres dan kuesioner siklus menstruasi untuk menilai keteraturan siklus menstruasi. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden mengalami stres sedang (31,1%) dan sebagian besar memiliki siklus menstruasi teratur (55,6%). Hasil uji menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan ketidakteraturan siklus menstruasi dengan nilai p-value = 0,001 dan koefisien korelasi r = 0,611 yang menunjukkan hubungan kuat dan positif, sehingga semakin tinggi tingkat stres maka semakin tinggi kejadian ketidakteraturan siklus menstruasi. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan ketidakteraturan siklus menstruasi pada mahasiswi sehingga diperlukan upaya pengelolaan stres untuk menjaga kesehatan reproduksi.
Hubungan Pengetahuan dengan Praktik Orang Tua Tentang Pertolongan Pertama Cedera Jatuh pada Anak Prasekolah Asyiah Asyiah; Mokhtar Jamil; Hanim Mufarokhah
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i1.1201

Abstract

Latar Belakang: Keterbatasan pemahaman dan kemampuan orang tua dalam penanganan awal cedera jatuh pada anak usia prasekolah berpotensi menimbulkan kesalahan tindakan, yang dapat meningkatkan risiko infeksi, komplikasi, serta dampak kesehatan yang lebih serius. Kondisi ini menjadi lebih krusial mengingat anak prasekolah masih memiliki keterbatasan dalam kontrol motorik dan kemampuan mengenali bahaya, sehingga sangat bergantung pada kesiapan orang tua dalam memberikan penanganan awal yang tepat. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji keterkaitan antara tingkat pemahaman orang tua dan penerapan tindakan pertolongan pertama pada kasus cedera jatuh pada anak usia prasekolah. Metode: Studi ini menggunakan rancangan analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian melibatkan 69 orang tua yang dipilih secara purposive sampling di KB-TA Al Madaniyah dan KB-TK Islam Terpadu Mutiara Hati Kota Malang. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang dirancang untuk mengukur tingkat pemahaman dan tindakan orang tua dalam penanganan awal cedera jatuh pada anak. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mayoritas dalam kategori baik sebanyak 88,4% (61 responden), dan tingkat praktik mayoritas dalam kategori baik sebanyak 52,2% (36 responden). Uji statistik menggunakan Spearman Rank dengan p<0,05 yang menunjukkan nilai p 0,004 dengan koefisien r 0,343, yang mengindikasikan adanya keterkaitan positif dan bermakna antara tingkat pemahaman orang tua dan tindakan pertolongan pertama yang diterapkan pada anak usia prasekolah. Hasil ini dilatarbelakangi dengan perbedaan usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan dan sumber informasi dari responden. Kesimpulan: Tingkat pemahaman orang tua yang lebih baik berkontribusi terhadap ketepatan dan kualitas tindakan pertolongan pertama pada cedera jatuh anak prasekolah.
Hubungan Self Efficacy dan Perceived Barriers dengan Perilaku Merokok di Desa Duren Kabupaten Blitar Dera Nur Permatasari; Hanim Mufarokhah; Aloysia Ispriantari
Jurnal Penelitian Keperawatan Kontemporer Vol 6 No 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Keperawatan dan Ners IKBIS Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59894/jpkk.v6i1.1209

Abstract

Latar Belakang: Perilaku merokok masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, khususnya di kalangan dewasa muda. Faktor psikologis seperti self efficacy dan perceived barriers diduga berperan dalam mempertahankan kebiasaan merokok. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara self efficacy dengan perilaku merokok dan hubungan perceived barriers dengan perilaku merokok di Desa Duren, Kabupaten Blitar. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 105 orang dewasa muda perokok aktif usia 26-35 tahun, dipilih dengan teknik proporsionate stratified random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Self efficacy Scale, Perceived barriers Scale, dan Smoking Behavioral Questionnaire (GN-SBQ). Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman dengan signifikasi α = <0,05 dengan program SPSS 27. Hasil: Sebagian besar responden memiliki self efficacy rendah (80%) dan perceived barriers tinggi (40,95%). Uji Spearman menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara self efficacy dengan perilaku merokok (rho = -0,492; p = 0,000) dan hubungan positif yang signifikan antara perceived barriers dengan perilaku merokok (rho = 0,624; p = 0,000). Kesimpulan: Semakin rendah self efficacy dan semakin tinggi perceived barriers, semakin tinggi kecenderungan perilaku merokok pada dewasa muda. Intervensi kesehatan perlu mempertimbangkan peningkatan self efficacy dan pengurangan perceived barriers.