Claim Missing Document
Check
Articles

The presence of harmful algae in the coastal waters of Bintan Island, Riau Islands Tri Apriadi; Winny Retna Melani; Andi Zulfikar; Deni Sabriyati; Wahyu Muzammil; Nuralim Pasisingi
Depik Vol 13, No 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.13.1.34135

Abstract

Environmental mitigation measures are being undertaken as a proactive approach to prevent the adverse consequences associated with Harmful Algal Blooms (HABs). Presently, there is a lack of comprehensive information regarding the occurrence of HABs in the waters surrounding Bintan Island, and routine monitoring to assess the potential for eutrophication is absent. This research should begin by gathering information about potential sources that contribute to the emergence of HABs, the specific types of algae with the capacity to trigger HABs The primary objective of this study is to identify the harmful algae species present in the coastal waters of Bintan Island. The research was conducted in August 2023, with the sampling process taking place at four specific locations within the coastal waters of Bintan Island. These sampling stations were selected deliberately to capture the varying activities predominant in each respective area. The microalgae found consisted of four groups, namely Bacillariophyta, Cyanophyta, Dinophyta, and Chlorophyta. Bacillariophyta is a group of microalgae with the highest abundance proportion at all observation stations. Harmfull Algae found in the coastal waters of Bintan Island generally come from the Dinophyta group of the types Ceratium sp., Peridinium sp., Prorocentrum sp., and Dinophysis sp. Harmful microalgae from the Dinophyta group were found at all research stations, with the highest proportion of abundance at Station 2 (6%) and the lowest at Station 3 (1%). The difference in these findings is thought to be due to the dynamics of the hydrosanographic parameters of the waters, especially nutrient concentrations.Keywords:BintanCeratiumDinophytaHarmfulMicroalgae
Makrozoobentos as a Bioindicator of Water Quality in Pengujan Village, Bintan Regency: Makrozoobentos sebagai Bioindikator Kualitas Perairan di Desa Pengujan Kabupaten Bintan Rizkia Nurul Fadilla; Winny Retna Melani; Tri Apriadi
Habitus Aquatica Vol 2 No 2 (2021): Habitus Aquatica : Journal of Aquatic Resources and Fisheries Management
Publisher : Department of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/HAJ.2.1.83

Abstract

Makrozoobentos adalah salah satu indikator biologi yang dapat dijadikan acuan dalam penilaian kualitas lingkungan di berbagai ekosistem perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas perairan di Desa Pengujan berdasarkan indikator biologis makrozoobentos. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Februari 2021 yang berlokasi di Desa Pengujan Kabupaten Bintan. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling terdiri dari 5 stasiun pengamatan. Pengambilan sampel makrozoobentos menggunakan transek kuadran berukuran 1×1 m2. Parameter yang diamati meliputi kualitas perairan (parameter fisika dan kimia), serta jenis dan kepadatan makrozoobentos. Parameter fisika dan kimia perairan dibandingkan nilai Baku Mutu berdasarkan PP RI No. 22 Tahun 2021, sedangkan analisis AMBI (A Marine Biotic Index) digunakan untuk mengetahui kualitas perairan berdasarkan keberadaan makrozoobenthos. Hasil pengukuran parameter perairan masih berada pada ambang batas baku mutu PP RI No 22 Tahun 2021 kecuali untuk parameter nitrat dan fosfat yang tidak memenuhi baku mutu di setiap stasiunnya. Kepadatan makrozoobentos tertinggi yaitu pada stasiun 3 yang berada pada kawasan dermaga, sedangkan kepadatan terendah yaitu pada stasiun 5 yang berada pada kawasan penangkapan siput gonggong. Kualitas perairan berdasarkan makrozoobentos sebagai bioindikator perairan dengan indeks AMBI semua stasiun termasuk dalam kategori sedikit tercemar.
Bioinformation of Blue Swimming Crab (Portunus pelagicus) during Covid-19 Pandemic in Bintan District, Riau Islands Province: Bioinformasi Rajungan (Portunus pelagicus) dalam Masa Pandemi Covid-19 di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau Wahyu Muzammil; Tri Apriadi; Winny Retna Melani; Adrian Damora
Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal of Tropical Fisheries Management) Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jppt.v5i2.34442

Abstract

Provinsi Kepulauan Riau memiliki potensi perikanan yang tinggi karena didominasi oleh wilayah perairan dibandingkan daratannya. Potensi perikanan yang tinggi tersebut diantaranya adalah komoditas rajungan. Pandemi covid-19 di seluruh dunia berpengaruh terhadap berbagai sektor, salah satunya sektor perikanan rajungan, sehingga informasi biologi (bioinformasi) dalam masa pandemi ini sangat bermanfaat untuk kegiatan perikanan rajungan berkelanjutan di Kabupaten Bintan. Tujuan penelitian ini untuk memberikan bioinformasi terkait rajungan dalam masa pandemi covid-19 di Kabupaten Bintan. Bioinformasi tersebut meliputi distribusi ukuran, pola pertumbuhan, nisbah kelamin jantan dan betina, serta tingkat kematangan gonad rajungan betina di perairan Kawal dan Pengujan. Ukuran lebar karapas rajungan di Kawal berkisar antara 102,2–187,9 mm dan ukuran lebar karapas rajungan di Pengujan berkisar antara 106,3–148,4 mm. Modus kelas lebar karapas ditemukan pada nilai tengah kelas 130 mm (di Kawal) dan 140 mm (di Pengujan). Pola pertumbuhan rajungan baik betina maupun jantan di Kawal dan Pengujan bersifat allometrik negatif. Berdasarkan uji chi square dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05), nisbah kelamin rajungan jantan-betina secara umum baik di Kawal maupun di Pengujan pada kondisi yang seimbang. Tingkat kematangan gonad (TKG) pada rajungan betina secara keseluruhan ditemukan mulai dari stadia TKG 1 sampai stadia TKG 4. Di perairan Kawal ditemukan sebesar 67% matang gonad, 22% belum matang gonad, dan 11% berried female. Di perairan Pengujan ditemukan sebesar 31% matang gonad, 63% belum matang gonad, dan 6% berried female.
Sebaran Spasial Konsentrasi Klorofil di Perairan Pesisir Utara Kota Tanjungpinang Alief Kurnianto; Winny Retna Melani; Tri Apriadi; Ahmad Zahid
Journal of Marine Research Vol 15, No 3 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i3.52576

Abstract

Perairan pesisir utara Kota Tanjungpinang terletak di wilayah pertemuan Kota Tanjungpinang dengan Kabupaten Bintan, meliputi Sebauk, Kampung Madong, Sei Nyirih, dan Air Raja. Konsentrasi klorofil merupakan indikator penting dalam menilai produktivitas primer perairan dan pengelolaan sumber daya laut. Aktivitas antropogenik seperti restoran, lalu lintas kapal nelayan, budidaya ikan keramba jaring apung, dan permukiman dapat memengaruhi kualitas perairan, yang berdampak pada konsentrasi klorofil. Penelitian ini bertujuan sebagai langkah awal pengelolaan sumber daya laut secara terpadu dan berkelanjutan, dengan pengumpulan data pada Juli 2024 dan Januari 2025 melalui metode survei. Data primer mencakup parameter fisika-kimia seperti suhu, kecerahan, arus, DO, pH, salinitas, nitrat, dan fosfat. Data biologis berupa klorofil diambil dari ke dalaman eufotik menggunakan van dorn water sampler. Penentuan 30 titik sampling dilakukan secara Systematic Random Sampling menggunakan QGIS 3.28.0. Pembuatan peta sebaran klorofil menggunakan software Qgis 3.28.0 menggunakan Inverse Distance Weighted (IDW). Konsentrasi klorofil di Perairan Pesisir Utara Kota Tanjungpinang bulan Juli 2024 klorofil-a sebesar 4,81 mg/m3, klorofil-b sebesar 4,76 mg/m3 dan klorofil-c sebesar 3,41 mg/m3. Sedangkan pada bulan Januari 2025 klorofil-a sebesar 7,30 mg/m3, klorofil-b sebesar 7,06 mg/m3 dan klorofil-c sebesar 6,67 mg/m3. Sebaran spasial klorofil pada daerah pesisir utara Kota Tanjungpinang pada bulan Juli 2024 dan Januari 2025 terdistribusi tinggi di kawasan perairan Kampung Madong dan Sei Nyirih. Sedangkan perairan terluar atau arah perairan laut merupakan wilayah yang terdistribusi rendah.