Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

The Behavior of Aggressive Inmates: A Case Study of Robbery Offenders in Surabaya: Gambaran Perilaku Agresif Pada Narapidana Pelaku Perampokan di Surabaya Deby Indah Aristasari; Taufik Akbar Rizqi Yunanto
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 8 No 2 (2024): SANTHET: (JURNAL SEJARAH, PENDIDIKAN DAN HUMANIORA) 
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/santhet.v8i2.4525

Abstract

Crime that has been occurring frequently lately in society is the criminal act of theft, which is highly disturbing. Violent theft is commonly known as robbery. It differs from regular theft in that it involves intentionally causing physical harm. Behavior that deliberately harms others can be termed as aggressive behavior. Aggressive behavior involves intentionally causing physical or psychological harm to someone, with potentially detrimental effects. This research aims to understand the description of aggressive behavior among robbery perpetrators in Surabaya. The researcher utilized Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) and validated the data through triangulation, data validation, member check, and rechecking of themes. The methods employed included observation, interviews, and documentation, with thematic analysis used as the data analysis technique. During the interviews, the researcher identified three major themes: understanding specific terms, experiences behind bars, and comprehending from a comparative perspective. Additionally, a unique theme emerged related to the concept of power. The findings of this research reveal a depiction of aggressive behavior among robbery perpetrators.
Menggali Perspektif Lintas Budaya: Analisis Perbandingan Perilaku Memilah Sampah di Indonesia dan Jerman Marbun, Yovita Ramos; Yunanto, Taufik Akbar Rizqi
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol. 9 No. 2 (2024): Januari
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v9i2.48970

Abstract

Studi ini menganalisis perbedaan perilaku memilah sampah antara Indonesia dan Jerman menggunakan dimensi budaya Hofstede yaitu jarak kekuasaan, individualisme-kolektivisme, dan penghindaran ketidakpastian. Meskipun telah ada upaya untuk mengelola sampah, penelitian ini membantu menjelaskan mengapa negara berkembang, termasuk Indonesia, menemui tantangan dalam menerapkan perilaku pro-lingkungan, terutama dalam memilah sampah. Kajian literatur digunakan dengan pendekatan psikologi lintas budaya yang merupakan studi perbandingan kritis tentang bagaimana budaya memengaruhi psikologi. Melalui kajian literatur dengan pendekatan psikologi lintas budaya, studi ini membandingkan tentang bagaimana budaya mempengaruhi psikologi. Pada budaya jarak kekuasaan, Indonesia memerlukan teladan dalam implementasi kebijakan lingkungan, sedangkan Jerman memiliki partisipasi masyarakat tinggi dalam pemilahan sampah. Indonesia termasuk kolektivis cenderung memilah sampah bersama dalam komunitas, sementara Jerman yang individualis menekankan tanggung jawab individu. Pada budaya penghindaran ketidakpastian, Indonesia memerlukan standarisasi aturan dan fasilitas bank sampah, sementara Jerman memberlakukan aturan dan sanksi jelas untuk memperkuat perilaku memilah sampah. Kesimpulannya, terdapat perbedaan perilaku memilah sampah antara Indonesia dan Jerman yang terkait faktor kebijakan. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk melakukan studi yang lebih eksploratif dan komprehensif dalam setiap dimensi budaya, dengan mempertimbangkan faktor internal dan eksternal lainnya.  This study analyzes the differences in waste sorting behavior between Indonesia and Germany using Hofstede's cultural dimensions: power distance, individualism-collectivism, and uncertainty avoidance. Despite efforts to manage waste, this research helps explain why developing countries, including Indonesia, face challenges in implementing pro-environmental behavior, particularly in waste sorting. A literature review is used with a cross-cultural psychology approach, which critically examines how culture influences psychology. Within the power distance culture, Indonesia requires role models in environmental policy implementation, while Germany exhibits high public participation in waste sorting. Indonesia, as a collectivist society, tends to sort waste jointly in communities, whereas Germany, an individualistic society, emphasizes individual responsibility. In the uncertainty avoidance culture, Indonesia needs standardized rules and waste bank facilities, while Germany enforces clear regulations and sanctions to strengthen waste sorting behavior. In conclusion, there are differences in waste sorting behavior between Indonesia and Germany related to policy factors. Also, several efforts can be considered to improve waste sorting behavior in Indonesia. Further research is recommended to conduct more exploratory and comprehensive studies in each cultural dimension, considering other internal and external factors.
Keseimbangan Peran Purusha dan Pradana: Kajian Teoritis Kesetaraan Gender di Bali Wardani, Kadek Putri Lestari; Yunanto, Taufik Akbar Rizqi
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology) Vol. 10 No. 1 (2024): Juli
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/antro.v10i1.55904

Abstract

Perkembangan budaya Bali dilandasi oleh nilai-nilai agama Hindu, yang seharusnya menciptakan keselarasan antara tradisi dan ajaran keagamaan. Kenyataan budaya patriarki di Bali, terutama dalam hal sistem waris dan struktur kekerabatan, menunjukkan ketidaksetaraan gender yang masih berlangsung. Penelitian ini menggunakan metode literature review untuk menggali perbedaan antara ajaran agama Hindu yang menekankan kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan dengan realitas budaya patriarki di Bali. Analisis difokuskan pada aspek hukum waris, peluang karir, partisipasi dalam pengambilan keputusan, dan akses pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, meskipun ada peningkatan kesetaraan dalam pendidikan, ketidaksetaraan gender masih terasa dalam aspek-aspek lainnya. Perempuan Bali mengalami keterbatasan dalam mengambil bagian dalam pengambilan keputusan, terutama dalam konteks adat istiadat. Pada sektor karir, upah perempuan masih jauh dari setara dengan laki-laki. Kesenjangan ini menciptakan ketidakcocokan antara ajaran agama Hindu yang menegaskan kesetaraan gender dan realitas budaya Bali yang masih dipengaruhi oleh pola pikir patriarki. Penelitian ini menekankan pentingnya perubahan norma-norma budaya Bali untuk sejalan dengan ajaran agama Hindu yang menganjurkan kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan. The development of Bali's culture is grounded in the values of Hinduism, which ideally should create harmony between tradition and religious teachings. The reality of patriarchal culture in Bali, particularly in terms of inheritance systems and kinship structures, indicates gender inequality that still persists. This research employs a literature review method to explore the disparities between Hindu teachings emphasizing gender equality and the patriarchal cultural reality in Bali. The analysis focuses on aspects of inheritance laws, career opportunities, participation in decision-making, and access to education. The research findings indicate that, despite improvements in educational equality, gender disparities are still evident in other aspects. Balinese women face limitations in participating in decision-making, particularly in customary contexts. In the career sector, women's wages still lag far behind those of men. This gap creates a mismatch between Hindu teachings that emphasize gender equality and the cultural reality in Bali that remains influenced by patriarchal attitudes. The study underscores the importance of changing Bali's cultural norms to align with Hindu teachings advocating for gender equality.
Konsep Penerimaan diri Orang Jawa Ditinjau dari konsep Narima ing pandum: Pendekatan Indigenous Psikologi Pratama, Daniel Yoga; Yunanto, Taufik Akbar Rizqi
Jurnal Diversita Vol. 10 No. 1 (2024): JURNAL DIVERSITA JUNI
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v10i1.8902

Abstract

Narima ing pandum merupakan istilah populer yang dikenal dalam adat Jawa. Narima ing pandum berisi mengenai nilai sabar, bersyukur, dan menerima. Penelitian ini bertujuan untuk memahami konsep penerimaan diri orang Jawa melalui konsep Narima ing pandum. Pendekatan dalam penelitian ini adalah indegenous psychology. Metode sampling dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan kriteria 1) Orang Jawa tulen (tidak campur), dan 2) Tinggal di Jawa. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah thematic analysis. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 41 orang. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini terbagi menjadi lima tema 1) Pengalaman dan Kondisi yang dimaknai sebagai narimo ing pandum; bersyukur (29,3%) dan mengambil hikmah (14,6%), 2) Perasaaan yang dirasakan ketika menerapkan narimo ing pandum; bersyukur (46,3%) dan merasa lega (26,8%), 3) Dampak yang dirasakan setelah menerapkan narimo ing pandum; menerima keadaan yang mereka hadapi (34,1%) dan merasa lebih kuat dalam menghadapi situasi (29,3%), 4) Konsep penerimaan diri; menerima kondisi (29,3%) dan dapat mengenal diri (24,3%), 5) Proses penerimaan diri; belajar dari pengalaman (31,1%) dan menerima situasi yang dihadapi (29,3%). Implikasi dalam penelitian ini adalah memberikan pemahaman bahwa konsep narima ing pandum lebih dari sedar penerimaan diri, namun juga melibatkan rasa syukur terhadap apa yang sudah dialami.