Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

MODEL KOMUNIKASI BENCANA “TABLE TOP EXERCISE” DENGAN KOLABORASI MULTI PIHAK DALAM PEMULIHAN PASCABENCANA Nugraheni, Dwi; Saragih, Herlina Juni Risma; Kusuma; Setiawibawa, Rachmat; Kurniadi, Anwar; Supriatna, Asep
Indonesian Journal of Environment and Disaster Vol. 4 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Environment and Disaster
Publisher : Disaster Research Center, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/ijed.v4i2.2308

Abstract

A “TABLE TOP EXERCISE” DISASTER COMMUNICATION MODEL WITH MULTI-PARTY COLLABORATION IN POST-DISASTERS RECOVERY This research aimed to discuss the disaster communication model through a table top exercise to analyse multi-stakeholder involvement in the implementation of post-disaster rehabilitation and reconstruction activities due to the earthquake in Cianjur in 2022. The disaster impact caused were casualties, damage to infrastructure and housing, as well as massive and significant social, economic and cross-sector losses. Effective disaster communication was a key factor in accelerating post-disaster rehabilitation and reconstruction efforts. This study used a descriptive qualitative method with data collection techniques through Focus Group Discussion (FGD), literature study, and direct observation. The results showed that pentahelix-based multi-stakeholder collaboration, involving the government, business world, academia, community, and media, was a strategic approach in disaster communication. Through the Table Top Exercise, stakeholders could collaborate, coordinate, share information, and play a role in post-disaster recovery. However, the efforts made had not been integrated and run optimally. This research recommended strengthening regulations and socialisation regarding the implementation of post-disaster rehabilitation and reconstruction through the preparation of R3P (Post-Disaster Rehabilitation and Reconstruction Plan) documents collaboratively involving multi-stakeholders, especially pentahelix elements. In addition, it recommended that the establishment of a multi-stakeholder coordination forum could increase the effectiveness of communication and synergy in sustainable post-disaster recovery.  
PENANGGULANGAN BENCANA DAN BELA NEGARA Cendikia Bhakti, Dahan; Syamsunasir, Syamsunasir; Kurniadi, Anwar; Widodo, Pujo; Wilopo, Wilopo
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 7 (2024): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i7.2024.2944-2949

Abstract

Artikel ini membahas tentang penanggulangan bencana dan bela negara dalam prespektif korelasi antara keduanya. Permasalahan penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan mengenai apakah penanggulangan bencana dapat dikatakan sebagai wujud bela negara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif guna mengupas gambaran serta devinisi kedua variabel sehingga dapat ditemukan korelasi serta pemahaman mendalam terhadap keduanya. Hasil penelitian menunjukkan adanya keterkaitan hubungan antara Penanggulangan Bencana dengan Bela Negara karena keduanya merupakan kegiatan yang berjalan beriringan tak terpisahkan antara satu sama lain. Sehingga dapat disimpulkan bahwa upaya penanggulangan bencana adalah salah satu wujud dari bela negara.
PETA DAERAH RAWAN BENCANA BANJIR DALAM UPAYA MITIGASI BENCANA KOTA BINJAI Aulia Utami, Nurul; Widodo, Pujo; Kurniadi, Anwar
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 5 (2024): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i5.2024.2025-2029

Abstract

Banjir adalah bencana alam yang dapat diprediksi karena sangat terkait dengan curah hujan. Tidak jarang, hujan adalah penyebab utama banjir. Kota Binjai merupakan wilayah yang memiliki resiko bencana banjir dalam kelas sedang. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang peta resiko daerah rawan bencana banjir dalam Upaya mitigasi bencana di Kota Binjai. Data fisik yang digunakan dalam penelitian ini adalah data curah hujan dan peta – peta resiko daerah rawan bencana. Pada penelitian menunjukan curah hujan bernilai minimunnya 841 mm3 dan nilai maksimum sebesar 1.131 mm3 dan kelas resiko sedang. Rekomendasi mitigasi pada penelitian meliputi pra bencana.
Potensi Konflik Sosial Akibat Dampak Perubahan Iklim di Kawasan Pesisir Indonesia Rahmadani, Dinda; Kurniadi, Anwar; Prakoso, Lukman Yudho; Setiawibawa, Rachmat; Uksan, Arifuddin
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 1: Desember 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i1.12518

Abstract

Perubahan iklim membawa dampak signifikan bagi wilayah pesisir Indonesia yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia. Kenaikan muka air laut, banjir rob, intrusi air asin, degradasi mangrove, dan pemutihan terumbu karang memperparah kerentanan masyarakat yang sebagian besar bergantung pada perikanan, pertanian pesisir, dan aktivitas ekonomi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi konflik sosial yang timbul akibat dampak perubahan iklim di kawasan pesisir Indonesia dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur. Analisis dilakukan dengan mengintegrasikan Teori Kelangkaan Lingkungan dan Konflik Kekerasan Homer-Dixon serta perspektif Ekologi Politik. Hasil kajian menunjukkan bahwa degradasi lingkungan memicu tiga bentuk kelangkaan, yaitu kelangkaan pasokan, kelangkaan permintaan, dan kelangkaan struktural, yang berpotensi menimbulkan ketegangan sosial hingga konflik terbuka. Di sisi lain, ekologi politik menyoroti peran ketimpangan akses, relasi kuasa, dan kebijakan pembangunan yang seringkali meminggirkan masyarakat pesisir. Kedua perspektif ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan hanya isu ekologis, melainkan juga persoalan sosial-politik dan keamanan. Dengan demikian, solusi adaptasi harus bersifat inklusif, adil, dan berbasis masyarakat agar dapat meminimalkan risiko konflik serta memperkuat ketahanan sosial-ekologis pesisir Indonesia.
Keamanan Maritim: Strategi untuk Mengatasi Ancaman di Laut Nusantara Oktaviandra, Yosyea; Soemantri, Asep Iwa; Kurniadi, Anwar
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 1: Desember 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i1.12686

Abstract

Penelitian ini mengkaji kerangka kerja keamanan maritim yang diterapkan Indonesia dalam menanggapi berbagai ancaman di Laut Nusantara. Dengan menggunakan metodologi kualitatif melalui analisis studi kasus di tiga wilayah kritis Indonesia, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ancaman utama yang dihadapi dan mengevaluasi efektivitas strategi yang telah diterapkan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan pejabat keamanan maritim, Teknik pengamatan langsung, dan analisis dokumen kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ancaman utama meliputi pembajakan, penyelundupan, dan aktivita kejahatan siber yang menargetkan infrastruktur maritim. Strategi yang efektif melupitu peningkatan kompetensi personel keamanan, penerapan teknologi canggih untuk pemantauan dan pengawasan, serta promosi kerja sama internasional. Studi ini menyimpulkan bahwa efektivitas keamanan maritim Indonesia sangat bergantung pada harmonisasi kebijakan nasional dengan kerja sama regional, serta kemampuan beradaptasi terhadap inovasi teknologi dan dinamika ancaman yang terus berubah.
Network-Based Equity Evaluation of Tsunami Evacuation Access for a Megathrust Scenario in Palabuhanratu: English Sudibyo, Reno; Kurniadi, Anwar; Subiyanto, Adi; Ramadhan, Fajar Gilang
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 26 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v26i2.1196

Abstract

We present a network-based equity evaluation of tsunami evacuation access for a megathrust scenario in Palabuhanratu, quantifying both individual safety attainment and the spatial distribution of access. By overlaying physics-based inundation data with a road graph, we compute multimodal time-to-safety and isochrones, summarizing village-level access through overall reachability (RR), Gini, and hazard-weighted Gini (Gini*) indices. Evacuation time allowances (ETAs) are set at 22, 18, and 15 minutes—validated against site-specific arrival modeling and real-world departure observations from the 2024 Noto event—revealing a critical temporal tipping point. While an ETA of 22 minutes ensures total reachability (RR=1.00) with low inequality, tightening the window to 18 and 15 minutes sharply reduces RR and increases Gini* scores. Furthermore, the addition of an alternative Tsunami Evacuation Area (TEA) at Smile Hill yields localized time savings and minor gains in specific clusters at 22 minutes, yet provides no systemwide benefit at shorter ETAs, indicating that time scarcity dominates access during tight windows. Methodologically, this study employs "beat-the-wave" logic and least-cost routing on OSMnx/NetworkX graphs, offering a reproducible screening tool that integrates access, fairness, and hazard emphasis for TEA design under time-critical evacuation constraints.
Analisis Risiko Bencana dan Strategi Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengembangan Geowisata Berkelanjutan di Kawasan Borobudur Rahmawati, Irena; Kurniadi, Anwar; Syamsunasir, Syamsunasir
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol 4, No 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7301

Abstract

Borobudur sebagai ikon pariwisata budaya Indonesia dan World Heritage Site UNESCO ditetapkan sebagai Destinasi Super Prioritas (DSP) dalam RPJMN 2020–2024. Berada di antara Pegunungan Menoreh dan Gunung Merapi, kawasan ini rentan terhadap gempa bumi, tanah longsor, dan paparan abu vulkanik. Kondisi tersebut menuntut pengelolaan wisata yang tidak hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga berbasis mitigasi risiko dan pemberdayaan masyarakat lokal. Penelitian ini menelaah Kajian Risiko Bencana Kawasan Wisata Borobudur (2020) dan Rencana Penanggulangan Bencana KSPN Borobudur 2022–2027 untuk menganalisis integrasi strategi mitigasi dan partisipasi masyarakat dalam perencanaan geowisata tangguh dan berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui analisis dokumen dan spasial dengan overlay indeks bahaya, kerentanan, dan kapasitas mengacu pada Perka BNPB No. 2 Tahun 2012. Hasil menunjukkan sebagian besar destinasi memiliki risiko sedang hingga tinggi, terutama di lereng Menoreh. Upaya mitigasi telah dilakukan namun belum terintegrasi sepenuhnya dan minim pelibatan masyarakat. Penelitian ini merekomendasikan penguatan sistem peringatan dini, pelatihan kesiapsiagaan, serta pemberdayaan masyarakat melalui program Desa Wisata Tangguh Bencana untuk mewujudkan geowisata Borobudur yang aman, tangguh, dan berkelanjutan.
Program Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai Instrumen Pemberdayaan Masyarakat dan Penguatan Kesiapsiagaan Bencana Susilastuti, Susilastuti; Maarif, Syamsul; Kusuma, Kusuma; Kurniadi, Anwar
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol 4, No 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7302

Abstract

Indonesia yakni negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang amat besar, sehingga penguatan kapasitas masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan ketangguhan komunitas. Pemerintah telah meluncurkan program Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai strategi nasional untuk meningkatkan kesiapsiagaan melalui pemberdayaan, pengorganisasian kelembagaan lokal, dan kolaborasi multipihak. Artikel ini bertujuan menganalisis konsep pemberdayaan masyarakat dan kesiapsiagaan komunitas dalam implementasi Destana di Indonesia. Penelitian mempergunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi literatur serta analisis dokumen kebijakan nasional, standar nasional, publikasi ilmiah, serta laporan lembaga internasional. Hasil kajian menunjukkan Destana berperan penting sebagai model pemberdayaan masyarakat yang terstruktur dan terstandar, didukung oleh kebijakan nasional dan Standar Nasional Indonesia (SNI) Desa Tangguh Bencana. Sinergi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan kebijakan nasional menjadi faktor utama keberlanjutan program. Temuan ini memberikan kontribusi konseptual dalam memperkuat hubungan antara pemberdayaan masyarakat dan kesiapsiagaan komunitas sebagai dasar kebijakan ketangguhan desa di Indonesia.
Bridging Theory and Risk Reality: Gap Analysis of Disaster Mitigation Competencies in Indonesian Civil Engineering Education Curriculum Budiana, Ida Bagus Putra; Kurniadi, Anwar; Prihantoro, Mitro; Setiawibawa, Rachmat
International Journal of Education, Vocational and Social Science Vol. 5 No. 01 (2026): International Journal of Education, Vocational and Social Science( IJVESS)
Publisher : Cita konsultindo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63922/ijevss.v5i01.2751

Abstract

Amidst the increasing intensity of natural disasters in Indonesia, the role of civil engineers has evolved from merely designing physical structures to becoming crucial agents in disaster resilience. However, there is a clear discrepancy between the technical-static nature of civil engineering higher education curricula and the dynamic and multidisciplinary needs of disaster mitigation in the field. This study aims to diagnose this competency gap through a Systematic Literature Review (SLR) method using the PRISMA 2020 protocol. Data were collected from the Dimensions, Scopus, and Web of Science databases, resulting in 10 selected articles that were analyzed thematically. The results revealed that the main gap lies not in structural calculation abilities (hard engineering), but in deficits in “soft” competencies such as risk communication, policy advocacy, and post-disaster management. This study also identified that conventional (didactic) teaching methods are ineffective and recommended the adoption of new pedagogical strategies such as Forensic Engineering and humanitarian project-based learning. This research offers a curriculum mapping framework as a strategic solution to integrate disaster management competencies without overburdening the existing curriculum, in order to produce civil engineers who are resilient and responsive to risks.
Kolaboratif Pengelolaan Candi Borobudur dalam Penanggulangan Bencana Gunung Merapi Pratikno, Hendro; Kurniadi, Anwar
Edukasi IPS Vol. 5 No. 1 (2021): EDUKASI IPS
Publisher : Program Studi Pendidikan IPS Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/EIPS.005.1.01

Abstract

Mount   Merapi   is   one   of   the   most   active   volcanoes   in   Indonesia,   which   is administratively located in Sleman Regency and Magelang Regency in the Central Java Province. The Borobudur Heritage Conservation Center in Magelang Regency does not yet have a  tandard Operating  Procedure  (SOP)  for  cleaning  the  temple  from  volcanic  ash, and  not  clear  who  is  the responsibe for it. If the condition is allowed, I could be bad impact on the safety and preservation aspects. The  purpose  of  this  study  was  to  know  how  far  the  collaboration  among  stakeholder  in managing of the Borobudur temple. This study usedqualitative research methods withdescriptive design. The  results  showed; 1)   dialog among stakeholders didn’t find the solution; 2) buliding trust  with  making  program  Twin  Villages  espescially  among  villages  that  impacted  by  Merapi Mount eruption; 3) commitment to made program of structural anda non structural mitigation and also  preparedness;  4)  sharing  understanding  with  making  communication and  collaboration  and synergizing  well  patterned  ;  5)  temporary  result  of  the  distribution  of  authority  was  still  not optimal  so  that  it  was  impotant  to  make  new  official  regulation.   Theconclusian  showed thecollaboration  among  stakeholders  were  still  not  optimal  so  it  needed  to  make  new  offiscial regulation. Recomendation was to among manager stakeholders make it round table to determine new regulation on ministeri level as well as field level (Standard Operational Procedure/SOP).