Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Faktor Lingkungan Sebagai Determinan Dominan Burnout Syndrome pada Perawat Puskesmas Raihan, Moh Fadhil; Ernawati, Naya; Yuswanto, Tri Johan Agus; Nataliswati, Tri
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 4 (2025): Oktober-Desember 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16404

Abstract

Burnout syndrome often occurs in nurses due to prolonged stress, which impacts mental and physical well-being and the quality of healthcare services. The purpose of this study was to determine the dominant factors most influential in the incidence of burnout syndrome among nurses in community health centers. This study used a cross-sectional design, with 58 nurses as respondents. Data were collected through personal questionnaires adapted from Bortner, modified psychological questionnaires from Maslach & Leiter, environmental questionnaires from Nursalamet, spiritual questionnaires (SWBS) from Ellison and Paloutzia, and Burnout questionnaires (MBI-HSS-MP) from Maslach. The collected data were analyzed using the Spearman rank test and multiple linear regression. The results showed that psychological and spiritual factors had p-values greater than 0.05, while environmental factors (inadequate rewards) had a p-value of 0.000. Therefore, it can be concluded that the most dominant factor associated with the incidence of burnout syndrome among nurses in community health centers is environmental factors.Keywords: nurses; burnout syndrome; environment ABSTRAK Burnout syndrome sering terjadi pada perawat akibat stres berkepanjangan, yang dampat berdampak pada kesejahteraan mental dan fisik serta kualitas pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan yang paling berpengaruh dengan kejadian burnout syndrome pada perawat di puskesmas. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional, dengan jumlah responden 58 perawat. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuesioner personal yang diadaptasi dari Bortner, modifikasi kuesioner psikologis dari Maslach & Leiter, kuesioner lingkungan dari Nursalamet, kuesioner spiritual (SWBS) dari Ellison dan Paloutzia, dan kuesioner Burnout (MBI-HSS-MP) dari Maslach. Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan uji Spearman rank dan uji regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor psikologis dan faktor spiritual memiliki nilai p lebih besar darpada 0,05, sedangkan faktor lingkungan (penghargaan yang tidak memadai) memiliki nilai p 0,000. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian burnout syndrome pada perawat di puskesmas adalah faktor lingkungan.Kata kunci: perawat; burnout syndrome; lingkungan
Hubungan Eustress Distress Dan Mekanisme Koping Perawat Dengan Kepatuhan Pengisian Surgical Safety Checklist Di Instalasi Bedah Sentral RSUD Ngudi Waluyo Salsabila, Laily; Imam Subekti; Tri Anjaswarni; Ernawati, Naya
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.377

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara eustress, distress, dan mekanisme koping perawat dengan kepatuhan pengisian Surgical Safety Checklist (SSC) di Instalasi Bedah Sentral RSUD Ngudi Waluyo. Desain penelitian menggunakan kuantitatif cross-sectional dengan total sampling 34 perawat. Data dikumpulkan melalui Di-Eu-Stress State Scale (DESS), Ways of Coping Questionnaire (WCQ), dan lembar observasi SSC, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara distress dan kepatuhan SSC (r = 0,428; p = 0,012) serta mekanisme koping dan kepatuhan SSC (r = 0,388; p = 0,024), sedangkan eustress tidak berhubungan signifikan (r = 0,077; p = 0,665). Disarankan penelitian selanjutnya mengeksplorasi lebih lanjut peran eustress dan distress serta pengamatan kepatuhan SSC dalam jangka waktu lebih panjang.
Hubungan Burnout Syndrome Dengan Perilaku Caring Perawat Menurut Teori Watson Di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar Wulandari, Tri Lestari; Ernawati, Naya; Yuswanto, Tri Johan Agus
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i11.23102

Abstract

ABSTRACT Nurses play a vital role in healthcare services, but the high workload makes them vulnerable to burnout, which can lead to a decline in caring behavior. According to Watson's theory, caring encompasses physical, emotional, and spiritual aspects; however, burnout can hinder its optimal implementation. This study aims to determine the relationship between burnout syndrome and caring behavior of nurses based on Watson's theory in operating room nurses and Dahlia ward inpatient nurses at Mardi Waluyo Regional General Hospital in Blitar City. This study used a cross-sectional design. The population included all operating room and inpatient nurses in the Dahlia ward at Mardi Waluyo Regional Public Hospital, Blitar City. A total of 52 respondents were selected using a total sampling technique. Data were analyzed using the Spearman rank correlation test. The findings showed a significant relationship between burnout syndrome and caring behavior among operating room and Dahlia ward inpatient nurses at Mardi Waluyo Hospital, with a p-value of 0.000 < 0.05. Nearly half of the respondents (38.5%) experienced a low level of burnout syndrome, and almost half (28.8%) demonstrated good caring behavior. The correlation coefficient showed an r-value of 0.894, indicating a very strong correlation between burnout syndrome and nurses’ caring behavior. The positive correlation result suggests that the lower the level of burnout syndrome, the better the caring behavior demonstrated by the nurses. Hospital management is expected to pay greater attention to efforts in preventing burnout syndrome among nurses, as this condition has been proven to significantly affect nurses’ caring behavior. Considering that Watson’s theory emphasizes that true caring arises from the nurse’s full presence and emotional balance, strategies are needed to support nurses’ psychological stability, such as excellent service training and work rotation. Keywords: Burnout Syndrome, Caring Behavior, Nurse.     ABSTRAK Perawat berperan penting dalam pelayanan kesehatan, namun tingginya beban kerja membuat mereka rentan mengalami burnout, yang berdampak pada menurunnya perilaku caring. Menurut teori Watson, caring mencakup aspek fisik, emosional, dan spiritual, namun burnout dapat menghambat penerapannya secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara burnout syndrome dengan perilaku caring perawat berdasarkan teori Watson pada perawat kamar operasi dan rawat inap ruang Dahlia di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar. Metode penelitian yang digunakan cross sectional. Populasi penelitian yakni seluruh perawat kamar operasi dan rawat inap ruang Dahlia RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar dengan jumlah sampel 52 orang menggunakan teknik total sampling. Analisis data penelitian menggunakan uji spearman rank correlation. Menunjukkan ada hubungan antara burnout syndrome dengan perilaku caring pada perawat kamar operasi dan rawat inap ruang Dahlia di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar, nilai p=0,000<0,05 hampir setengah responden (385%) mengalami burnout syndrome rendah dan hampir setengah responden (28,8%) memiliki perilaku caring baik. Koefisien korelasi menunjukkan nilai r=0,894 bahwa ada hubungan antara burnout syndrome dengan perilaku caring perawat mendapatkan hasil korelasi sangat kuat. Hasil korelasi menunjukkan nilai positif semakin rendah burnout syndrome maka semakin baik perilaku caring yang dimiliki perawat.Diharapkan agar pihak manajemen rumah sakit lebih memperhatikan upaya pencegahan burnout syndrome pada perawat, karena kondisi ini terbukti berpengaruh signifikan terhadap perilaku caring perawat. Mengingat teori Watson menekankan bahwa caring sejati lahir dari kehadiran penuh dan keseimbangan emosional perawat, maka dibutuhkan strategi untuk mendukung stabilitas psikologis perawat, seperti pelatihan excellent service dan rotasi ruang kerja. Kata Kunci: Burnout Syndrome, Perilaku Caring, Perawat
TAPIS BAHAYA RISIKO STUNTING MELALUI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN PENDAMPINGAN KELUARGA DI KELURAHAN MULYOREJO KOTA MALANG: TACKLING THE DANGERS OF STUNTING THROUGH COMMUNITY EMPOWERMENT AND FAMILY ASSISTANCE IN MULYOREJO SUB-DISTRICT MALANG CITY Dwipajati, Dwipajati; Astuti, Erlina; Tyas, Maria Ciptaning; Ernawati, Naya; Kurniasari, Fitriana; Pertami, Sumirah Budi; Jayadi, Lukky; Trisnanto, Puguh Yudho
GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2025): GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/gemakes.v5i3.2739

Abstract

Masalah makan pada balita seringkali menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya balita stunting. Ibu balita menjadi penentu keberhasilan praktek pemberian makan balita. Sedangkan kader posyandu merupakan penggerak masyarakat yang turut ambil bagian dalam mentransfer informasi terkait gizi dan kesehatan dalam mendukung tumbuh kembang balita. Sehingga pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kemampuan kader dalam mendeteksi gangguan tumbuh kembang pada balita yang mengarah pada kondisi stunting dan juga peningkatan kemampuan ibu balita dalam menyiapkan makanan balita stunting sehingga berdampak pada pertambahan tinggi dan berat badan. Hasil kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader posyandu yang masuk kategori baik dalam mendeteksi gangguan tumbuh kembang baik dari segi antropometri atau penggunaan form skrining (KPSP). Selain itu terjadi peningkatan peningkatan keterampilan Ibu balita dalam menyiapkan makan sehingga nafsu makan anak membaik. Nafsu makan yang membaik menyebabkan peningkatan berat badan dan tinggi badan balita dengan rerata peningkatan berat badan selama 1 bulan sebesar 420 gram dan pertambahan tinggi badan sebesar 1,88 cm. Program  pengabdian masyarakat pendampingan pada keluarga balita stunting yaitu menjadi salah satu terobosan baru  dalam  penentuan strategi  yang  efektif  dan  terintegrasi,  berbasis  masyarakat  untuk menurunkan  resiko  stunting.
Self-Efficacy as a Predictor of Interdialytic Weight Gain (IDWG) in End Stage Renal Disease Patients Sari, Noviantika; Mugianti , Sri; Ernawati, Naya; Supono, Supono
JURNAL INFO KESEHATAN Vol 23 No 1 (2025): JURNAL INFO KESEHATAN
Publisher : Research and Community Service Unit, Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/infokes.Vol23.Iss1.1882

Abstract

Excessive interdialytic weight gain in End Stage Renal Disease (ESRD) patients may reduce their quality of life well-being. High self-efficacy (belief in one's own ability) can increase the patient's readiness to live a better quality of life. The purpose of this study is to ascertain how interdialytic weight gain (IDWG) and self-efficacy relate to each other in patients with end-stage renal disease. This study uses a correlational quantitative design type with a cross-sectional method approach. The sampling method used purposive sampling with a total of 107 respondents. Univariate data analysis test to determine the characteristics of respondents. The Spearman Rank correlation test is used in bivariate analysis to determine the relationship between two variables, while the cross sectional design is to analyze the relationship between variables that have been collected at one time simultaneously. The results of this study were 69 patients (64.5%) had low self-efficacy and a moderate IDWG category of 56 patients (52.3%). The Rank-Spearman test results obtained a p-value of 0.000 and a positive Spearman correlation value (r) of 0.565. The conclusion that can be drawn is that there is a strong and significant relationship between self-efficacy and IDWG in patients with end stage renal disease. The suggestion from this study is that hospital managers consider making policies related to the service and care of ESRD patients by providing regular education related to fluid restriction compliance by applying media in the form of educational videos or leaflets or posters in the waiting room.
Potensi Berat Badan Lahir Rendah Sebagai Faktor Risiko Gangguan Pertumbuhan Bayi Berusia 0-12 Bulan Syahida, Alimatul Izza; Astuti, Erlina Suci; Ernawati, Naya; Solikhah, Fitriana Kurniasari
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 2 (2025): April-Juni 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16228

Abstract

Low birth weight remains a health problem in Indonesia because it impacts subsequent growth. The purpose of this study was to analyze the correlation between a history of low birth weight and the growth of infants aged 0-12 months. The study used a cross-sectional design. A total of 48 infants were included in the study, selected using a total sampling technique. Data on birth weight were collected through documentation studies in community health center medical records, while infant growth was determined through weight and length measurements, then referenced to growth standards for weight-for-age, length-for-age, and length-for-weight. The data were then analyzed using the Spearman correlation test. The results showed a p-value of 0.1094, indicating no correlation between a history of low birth weight and the growth of infants aged 0-12 months. Furthermore, it was concluded that there was a tendency for low birth weight to increase the risk of malnutrition, but this was not significant enough. Therefore, a history of low birth weight can still be considered a potential risk factor for malnutrition in infancy, which requires further in-depth research.Keywords: infant; low birth weight; infant growth ABSTRAK Setiap bayi dengan yang berat badan lahir rendah masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, karena berdampak pada pertumbuhan selanjutnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis korelasi antara riwayat berat badan lahir rendah dengan pertumbuhan bayi berusia 0-12 bulan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi adalah rancangan cross-sectional. Sejumlah 48 bayi dilibatkan dalam penelitian, yang dipilih dengan teknik total sampling. Data tentang berat badan lahir dikumpulkan melalui studi dokumentasi pada rekam medis puskesmas, sedangkan pertumbuhan bayi diketahui melalui pengukuran berat badan dan panjang badan, lalu dirujuk pada ketentuan pertumbuhan berat badan menurut umur, panjang badan menurut umur dan panjang badan menurut berat badan. Selanjutnya dilakukan analisis data dengan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p adalah 0,1094, sehingga dapat ditafsirkan bahwa tidak ada korelasi antara riwayat berat badan lahir rendah dengan pertumbuhan bayi berusia 0-12 bulan. Selanjutnya disimpulkan bahwa ada kecenderungan bahwa BBLSR lebih besar untuk potensi terjadinya kekurangan gizi namun belum cukup signifikan, sehingga bisa dikatakan bahwa riwayat BBLR masih bisa dianggap sebagai potensi risiko terjadinya masalah kekurangan gizi pada masa bayi, yang memerlukan penelitian lebih mendalam.Kata kunci: bayi; berat badan lahir rendah; pertumbuhan bayi
Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Quality Nursing Work Life Pada Perawat Intensive Care Unit Thobari, Tsabitah; Ernawati, Naya; Wahyuni, Eko Sari
Jurnal Keperawatan Florence Nightingale Vol 8 No 2 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Stella Maris Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52774/jkfn.v8i2.424

Abstract

The Intensive Care Unit (ICU) is a critical care setting characterized by high work demands that may adversely affect nurses’ Quality of Nursing Work Life (QNWL). Low QNWL has been associated with increased work-related stress, burnout, reduced job satisfaction, and decreased quality of nursing care. Therefore, a comprehensive analysis of the factors influencing ICU nurses’ QNWL using a multidimensional approach is essential. This study aimed to analyze factors associated with QNWL among ICU nurses at RSUD Haji, East Java Province, Surabaya. A quantitative correlational study with a cross-sectional design was conducted, involving 64 ICU nurses selected through total sampling. Data were collected using structured questionnaires assessing individual, social-contextual environment, operational, and administrative factors and were analyzed using Spearman rank correlation, Chi-square tests, and linear regression analysis. The results revealed significant associations between QNWL and social-contextual environment (p = 0.000), operational (p = 0.047), and administrative factors (p = 0.034). Among individual factors, only income showed a significant correlation with QNWL (p = 0.005). Multivariate analysis identified administrative factors as the dominant predictor of QNWL (β = 0.402; p = 0.001). These findings indicate that QNWL among ICU nurses is primarily influenced by social-contextual environment, operational, and administrative factors, with income being the only significant individual determinant. This study underscores the importance of organizational and managerial policies in enhancing nurses’ well-being and quality of work life.
Analysis of Nurses' Caring Behavior Based on Watson's Theory related to the Anxiety of Chronic Kidney Disease Patients Wati, Nurahma; Anjaswarni, Tri; Ernawati, Naya; Nataliswati, Tri
Jambura Nursing Journal Vol 8, No 1: January 2026
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37311/jnj.v8i1.26892

Abstract

Nurse caring behavior is a nurse's action based on empathy, compassion, skills and responsibility that has benefits for patient recovery. Lack of nurse caring behavior can cause psychosocial problems (anxiety) during treatment and certain medical procedures. The purpose of this study was to analyze nurse caring behavior based on Watson's theory in relation to the level of anxiety in chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis. The research method was observational with a cross-sectional design. The population of all chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis at Kanjuruhan Hospital was 313 patients. The sample was taken using a purposive sampling technique with a sample size of 75 patients based on the Slovin formula calculation. The instrument used the nurse caring behavior questionnaire (KPCP) and the Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS Anxiety). Data analysis used the Spearman rank correlation hypothesis test. The results show that the caring behavior of nurses based on Watson's theory is sufficient, the level of anxiety of patients with chronic kidney disease is mild, the value (p = 0.000