Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pengaruh Kompres Jahe (Zingiber officinale var. amarum) dan Bawang Merah (Allium cepa L. var. aggregatum) pada Nyeri Sendi Syahwal, Muhammad; Aluddin, Aluddin
Journal of Medicine and Health Vol 6 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v6i2.8127

Abstract

Nyeri sebagai keluhan khas radang sendi menjadi masalah lansia sehingga menghambat aktivitas, dan gejalanya semakin memburuk seiring bertambahnya usia, penanganannya memerlukan waktu lama sehingga disarankan menggunakan terapi alami memanfaatkan aneka tumbuhan. Tanaman jahe (Zingiber officinale var. amarum) dan bawang merah (Allium cepa L. var. aggregatum) mengandung zat alami yang menghasilkan sensasi hangat dan efek anti nyeri. Beberapa penelitian terdahulu memisahkan penggunaan tanaman jahe dan bawang merah dalam mengontrol nyeri sehingga penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh terapi kompres jahe yang dicampurkan dengan bawang merah terhadap nyeri sendi non trauma. Metode penelitian pra eksperimental dengan rancangan one group pre-post test tanpa kelompok kontrol dengan jumlah sampel 22 orang lanjut usia. Komposisi bahan kompres berupa jahe mentah 100gr dan bawang merah 10gr yang dihaluskan. Hasil uji non parametric wilcoxon didapatkan perubahan skala nyeri sendi (p = 0,00) dengan rentang nyeri skala 5-9 (nyeri sedang-nyeri berat) menjadi skala 0-4 (tidak nyeri-nyeri ringan). Secara spesifik juga didapatkan gambaran sensasi hangat mulai dirasakan pada menit ke-5 setelah bahan kompres dibalurkan pada area nyeri, semakin hangat pada menit ke-10 dan mulai berkurang pada menit ke-20 (p=0,00). Kesimpulan penelitian bahwa terapi kompres dan bawang merah berpengaruh positif pada nyeri sendi non trauma.
Meningkatkan Kemandirian Masyarakat dalam mengatasi Nyeri Sendi Berbasis tanaman Herbal pada kader Kesehatan Syahwal, Muhammad; Aluddin, Aluddin; Uksim, Muhammad
CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2024): Agustus
Publisher : Ilin Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31960/caradde.v7i1.2511

Abstract

Penanganannya nyeri sendi memerlukan waktu lama sehingga dianjurkan memanfaatkan tumbuhan yang lazim disekitar masyarakat seperti serai merah. Pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan dalam memanfaatkan tanaman ini untuk keperluan terapi masih sangat terbatas sehingga diperlukan pelatihan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader mengatasi nyeri sendi berbasis tanaman herbal. Metode kegiatan berupa penyuluhan dan praktik terapi rendam kaki pada 36 kader lansia. Hasil kegiatan meningkatkan pengetahuan kader kesehatan berdasarkan hasil analisis nilai pre dan post test dimana 41,7% responden berada pada kategori pengetahuan Baik dan lebih dari setengah responden berada pada kategori pengetahuan Sangat Baik (58,3%), selanjutnya juga terjadi perubahan keterampilan responden dalam mengatasi nyeri sendi dimana kategori keterampilan baik pada 29 responden (80,6%) dan hanya 7 responden (19,4%) dengan kategori keterampilan cukup. Kesimpulan kegiatan, terjadi peningkatan pengetahuan dan perubahan keterampilan mengatasi nyeri sendi berbasis tanaman herbal semakin lebih baik.
PENDAMPINGAN KADER KESEHATAN DALAM UPAYA PENCEGAHAN INFERTILITAS PADA PASANGAN USIA SUBUR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RANOMEETO KABUPATEN KONAWE SELATAN Herman, Herman; Uksim, Muhammad; Syahwal, Muhammad; Jumatrin, Nur Fitriah; Wali, Risna; Niswati, Niswati
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v8i3.59389

Abstract

Infertility is a reproductive health problem with a prevalence of 8–12% worldwide. Infertility treatment is still inadequate, and the cost of treatment is so high that it cannot be accessed by all infertile couples. Infertility problems need to be prioritized because they can affect the quality of life of fertile couples and help individuals obtain basic reproductive rights. Health education can be an initial response in preventing infertility in the community. Health education needs to involve health services, educational institutions, and the community so that knowledge can be optimally provided to the public. The use of health cadres is expected to help identify and provide knowledge to infertile couples and couples at risk of infertility so that immediate treatment and care can be given. Community service activities aim to provide health education to cadres and an introduction to complementary cupping therapy in addressing infertility problems in fertile couples, as well as to enable cadres to become an extension of the healthcare team in identifying and recording infertile couples in the Ranomeeto Health Center working area. The activity was carried out by lecturers of the Diploma III Nursing Program of the Karya Kesehatan College of Health Sciences (STIKes Karkes) in collaboration with the Ranomeeto Health Center. The method of implementing the activity was in the form of health education and cupping therapy training, including an introduction to cupping therapy for cadres. The results of the activity showed an increase in cadres’ knowledge about infertility before and after the health education, which was tested using a t-test with a p-value = 0.00. Cadres also gained detailed knowledge about cupping therapy and its uses. Community service activities increased cadre knowledge about infertility and cupping therapy, as well as their ability to identify infertile couples in the workplace. Infertilitas merupakan masalah kesehatan sistem reproduksi dengan prevalensi 8-12% di dunia. Penanganan infertilitas yang masih belum memadai dan biaya perawatan yang begitu besar sehingga tidak dapat diakses oleh semua pasangan infertilitas. Masalah infertilitas perlu diperioritaskan karena dapat mempengaruhi kualitas hidup pasangan usia subur dan membantu individu mendapatkan hak asasi dalam bereproduksi. Pendidkan kesehatan dapat menjadi penangan awal dalam mencegah infertilitas di masyarakat. Pendidikan kesehatan perlu melibatkan pelayanan kesehatan, institusi pendidikan dan masyarakat sehingga pengetahuan dapat optimal diberikan kepada masyarakat. Pemanfaatan kader kesehatan diharapkan dapat membantu dalam mengidentifikasi dan memberi pengetahuan d terhadap pasangan infertilitas dan pasangan beresiko infertilitas sehingga dapat diberikan penanganan dan perawatan segera. Kegiatan pengabdian masyarakat bertujuan untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada kader dan pengenalan terapi komplementer bekam dalam mengatasi masalah infertilitas pada pasangan usia subur serta mampu menjadi perpajangan tangan mitra dalam megidentifikasi dan mencatat pasangan infertilitas wilayah kerja puskesmas Ranomeeto. Kegiatan dilakukan oleh dosen Diploma III Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Kesehatan (STIKes Karkes) yang berkejasama Puskesmas Ranomeeto. Metode pelaksanaan kegiatan dalam bentuk pendidikan kesehata dan pelatihan terapi bekam yang bentuk pengenalan terapi bekam pada kader. Hasil kegiatan didapatkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan kader mengenai infertilitas sebelum dan setelah dilakukan pendidikan kesehatan yang diuji menggunakan uji-t dengan hasil p-value=0,00. Kader juga mengetahui secara detail mengenai terapi bekam dan pengunaan terapi bekam. Kegiatan pengabdian masyarakat meningkatkan pengetahuan kader mengenai infertilitas dan terapi bekam serta cara mengidentifikasi pasangan infertilitas dilikungan tepat kerja.
Gap Analysis of Spiritual Education Provision for Hospitalized Patients: Integrating Health Promotion in Hospital Settings Muhammad Syahwal; Arfiyan Sukmadi
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 9 No. 3 (2026): March 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v9i3.9048

Abstract

Introduction: Spiritual health is an important component of holistic healthcare that influences clinical outcomes and patient recovery processes. In the PRECEDE–PROCEED health promotion model, the fulfillment of spiritual needs is influenced by predisposing, facilitating, and reinforcing factors. There is still a significant gap between patients' spiritual needs and the services provided, especially in relation to worship guidance and strengthening relationships with God during treatment. To analyze the discrepancy between expected and provided spiritual education interventions for inpatients through the lens of health promotion. Methods: We conducted a quantitative descriptive study in a private hospital in Kendari City in June-July 2025. The participants were 76 inpatients (aged ?18 years with a minimum stay of 2 days) and 15 nurses (clinical experience ?6 months), who were recruited through purposive sampling. Data collection used a validated structured questionnaire with acceptable internal consistency (Cronbach's Alpha ?0.70). Descriptive analysis was performed using jamovi software, while the gap between expected and provided education was analyzed through percentage comparisons and unmet need ratio calculations. Results: A significant discrepancy was found between patients' expectations of spiritual education and nursing practices. Only 9.2% of patients received education on strengthening spiritual connections, while 31.5% reported needing this support. Guidance on adjusting worship practices was provided to only 3.4% of patients, even though 12.7% expressed this need. Interestingly, 67.1% of patients continued their worship during illness, yet 88.2% of nurses did not offer guidance on worship adjustments. Conversely, over 85.5% of nurses provided education on patience, while only 29.8% of patients needed it. Major barriers included sensitivity to spiritual topics, limited time, and inadequate spiritual knowledge. Conclusion: The significant gap between expectations and services indicates systemic weaknesses in competency, support, and care orientation. Comprehensive and multilevel interventions are essential to ensure the accommodation of spiritual care in nursing services.