Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Development of Siganid (Siganus guttatus) larvae during the transition period Darsiani, Darsiani; Setiawati, Mia; Jusadi, Dedi; Suprayudi, Muhammad Agus; Laining, Asda
Depik Vol 11, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.11.1.22296

Abstract

Siganid is better known as rabbit fish. In hatcheries, constraint that is still faced is the low survival, which was assumed to occur because of the timing for initial feeding is not solidly known. This research aimed to examine the best initial feeding time for siganus, based on evaluation on eyes and yolk reserves during the transition. The research was conducted from 24-29 March 2021 in IPUW Barru, South Sulawesi. Larvae were obtained from the second progeny (G2) of domesticated Siganus guttatus. Larvae were reared for 5-6 days without feeding. Evaluated parameters include eyes diameter and yolk reserves. Samples were observed with microscope and will be explained descriptively. Water quality parameters were measured, namely DO, salinity, pH and temperature. Eyes diameter at 6 Hour After Hatching (HAH) ranges between 81.5-128.9 m, 13 HAH= 125.5-167.7 m, 24 HAH= 138.2-213.9 m, two days after hatching 2 Day After Hatching (DAH) = 113.6-193.1 m, 3 DAH= 163.1-219.2 m, 4 DAH= 190.4-212.6 m. Yolk reserves diameter ranged between 137-194m (6 HAH), 13 HAH= 152-191m, 24 HAH= 94.0-185m, 2 DAH= 75.3-99.63m, 3 DAH= 42.33-87.58m, 4 DAH= 38.17-55.59m. After age 5 DAH, there are no larvae found alive (dead). Eyes developed at age 6 HAH and experienced pigmentation at age 24 HAH. Conversely, yolk reserves diameters were getting smaller since age 24 HAH and completely disappear at age 4 DAH. It indicates that eyes effectively see feeds at age 2 DAH. Therefore, initial feeding should be started. The water quality parameters measured were still in normal conditions according to the life of S. guttatus larvae. From this research, it can be concluded that eyes have been well functioned at age 2 DAH and yolk reserves was finished at age 4 DAH. Therefore, the initial feeding should be done at the age of 2 DAH.Keywords:Development, Siganus guttatus larvae,Transition
The Effect of Stocking Density on the Growth and Survival of Jurung Fish Seed (Tor soro) in Flowing Water Systems in Tapanuli Selatan: Pengaruh Padat Tebar Terhadap Pertumbuhan dan Sintasan Benih Ikan Jurung (Tor soro) Pada Sistem Air Mengalir di Tapanuli Selatan Purba, Risky Arisdefen; Febri, Suri Purnama; Putriningtias, Andika; Darsiani, Darsiani
Jurnal Ilmiah AgriSains Vol. 27 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah AgriSains
Publisher : Fakultas Peternakan dan Perikanan, Universitas Tadulako, Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/jiagrisains.v27i1.2026.57-67

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memastikan populasi ideal untuk perkembangan dan keberadaan ikan jurung yang dibesarkan di keramba selama 40 hari dengan diberi pakan buatan dengan pemberian sekenyang-kenyangya menghabiskan pakan sebanyak 4 kg, ikan yang digunakan 200 ekor. Metodologi yang digunakan yaitu eksperimen, yang memiliki 4 perlakuan, dan diulangi 3 kali. P1 (5 ikan/0,5m3), P2 (10 ikan/0,5m3), P3 (15 ikan/0,5m3), dan P4 (20 ikan/0,5m3). Hasil dari perlakuan tersebut berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan panjang mutlak, pertumbuhan bobot mutlak, laju pertumbuhan panjang spesifik, dan laju pertumbuhan bobot spesifik. Sedangkan pada sintasan tidak ada perbedaan yang signifikan. Pertumbuhan panjang mutlak tertinggi pada P1 sebesar 0,57cm, sedangkan pertumbuhan panjang mutlak terendah pada P4 sebesar 0,37cm.  Pertumbuhan bobot mutlak tertinggi pada P1 sebesar 0,99g, sedangkan pertumbuhan bobot mutlak terendah pada P4 sebesar 0,85g, laju pertumbuhan panjang spesifik tertinggi pada P1 sebesar 0.014%, sedangkan laju pertumbuhan panjang spesifik terendah pada P4 sebesar 0,009%, dan laju pertumbuhan bobot spesifik tertinggi pada P1 sebesar 0,025%, sedangkan laju pertumbuhan bobot spesifik terendah pada P4 sebesar 0,021%. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin sedikit padat tebar ikan dalam satu wadah, semakin cepat pertumbuhan; begitu sebaliknya, semakin padat ikan dalam suatu wadah semakin lambat pertumbuhan.