Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI ETIL ASETAT DAUN KEMANGI (Ocimum basilicum L) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli Putri, Inayati Diana; Marfuati, Sri; Weni, Mustika
InaBHS (Indonesian Journal of Biomedicine and Health Science) Vol 3 No 2 (2024): Indonesian Journal of Biomedicine and Health Science
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/inabhs.v3i2.10523

Abstract

Latar Belakang : Escherichia coli merupakan bakteri penyebab diare. Banyak yang melaporkan terjadinya resistensi antibiotik terhadap Escherichia coli. Oleh karena itu dibutuhkan alternatif pengobatan. Beberapa penelitian mengatakan Daun Kemangi mengandung zat metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin yang berfungsi sebagai antibakteri. Tujuan : Mengetahui Daya Hambat Fraksi Etil Asetat Daun Kemangi (Ocimum basilicum L) Terhadap Pertumbuhan Escherichia coli. Metode : Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium dengan rancangan penelitian post-test only control grup design. Penelitian ini menggunakan 5 kelompok, yaitu 2 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan terdiri dari fraksi etil asetat dari daun kemangi konsentrasi 12,5%, 25% , 50% . Kelompok kontrol yaitu kontrol positif (K(+)) dengan cotrimoxazole dan kontrol negatif (K(-)) yaitu Dimetil Sulfoksida (DMSO) 10%. Data diuji menggunakan uji Kruskal wallis dan dilanjutkan dengan uji beda Mann Whitney Hasil : Pada uji Kruskal walls terdapat perbedaan yang signifikan (p-value < 0,050), terhadap pemberian perlakuan fraksi etil asetat daun kemangi. Didapat rerata terbesar yaitu pada fraksi etil asetat konsentrasi 12,5% 28960000000. Dilanjutkan dengan uji Mann whitney untuk mengetahui perbedaan antar kelompok, didapatkan perbedaan daya hambat pada masing-masing konsentrasi Kesimpulan : Kadar hambat minimum dari fraksi etil asetat daun kemangi terhadap pertumbuhan Escherichia coli konsentrasi 12,5% dengan nilai TPC sebesar 28960000000, dan terdapat perbedaan yang bermakna setiap konsentrasi fraksi etil asetat daun kemangi terhadap pertumbuhan Escherichia coli Kata Kunci : Daun Kemangi, Fraksi, Escherichia coli
Potential of Kersen Leaf Extract (Muntingia calabura L) and Basil Leaf Extract (Ocimum basilicum L.) as Natural Antibacterial Candidates against Salmonella typhi Weni, Mustika; Marfuati, Sri; Fitriani, Hikmah
Indonesian Journal of Applied Research (IJAR) Vol. 6 No. 3 (2025): Indonesian Journal of Applied Research (IJAR)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/ijar.v6i3.771

Abstract

Salmonella typhi remains a global health issue with rising antibiotic resistance, necessitating alternative natural therapies. Kersen (Muntingia calabura L.) and basil (Ocimum basilicum L.) leaves contain bioactive compounds with antibacterial potential. The purpose of this research was to examine the antibacterial activity of kersen and basil leaf ethanol extracts against Salmonella typhi at various concentrations. The research applied an experimental Post-Test Only Control Group Design. Antibacterial activity assessment was performed using the well diffusion method with varying extract concentrations of 20%, 35%, 45%, 50%, and 75%. Data analysis was performed using the Shapiro–Wilk test was used to examine data normality, while group differences were evaluated with the Kruskal–Wallis non-parametric test. Kersen extract contained saponins, tannins, alkaloids, flavonoids; basil extract contained phenolics, saponins, tannins, alkaloids, steroids, flavonoids. Both showed concentration-dependent inhibition. At 75%, inhibition zones reached 13.15 mm (strong), while the lowest were 4.70 mm (kersen, weak) and 7.30 mm (basil, moderate). Negative control showed no activity. Statistical test p=0.005 confirmed significant differences between groups. Ethanol extracts of kersen and basil leaves possess significant antibacterial activity against S. typhi, supporting their potential as natural phytotherapeutics for typhoid.
The Antibacterial Activity Test using Ethyl Acetate Fraction from Kersen Leaves (Muntingia calabura L.) against the Staphylococcus aureus Fadilah, Mutiara; Weni, Mustika; Marfuati, Sri
GHMJ (Global Health Management Journal) Vol. 9 No. 1 (2026)
Publisher : Yayasan Aliansi Cendekiawan Indonesia Thailand (Indonesian Scholars' Alliance)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35898/ghmj-911232

Abstract

Background: Staphylococcus aureus is a common cause of skin and soft tissue infections (pyoderma) and has developed resistance to multiple antibiotics. Kersen (Muntingia calabura L.) leaves contain bioactive compounds such as flavonoids, triterpenoids, steroids, tannins, and saponins, which have been reported to possess antibacterial properties. Aim: This study aimed to evaluate the in vitro antibacterial activity of the ethyl acetate fraction of M. calabura leaves against S. aureus. Methods: An experimental study with a post-test-only control group design was conducted. Phytochemical screening was performed to identify the secondary metabolites present in the fraction. Antibacterial testing was done using the well diffusion method on Mueller-Hinton Agar (MHA). Five treatment groups (ethyl acetate fractions at concentrations of 100%, 60%, 20%, 10%, and 1%) were compared to a negative control (10% DMSO) and a positive control (doxycycline). Inhibition zones were measured manually in millimeters and analyzed using one-way ANOVA (p < 0.05). Results: The ethyl acetate fraction demonstrated a concentration-dependent antibacterial effect. Mean ± SD inhibition zones were 17.20 ± 1.92 mm (100%), 12.94 ± 1.13 mm (60%), 7.99 ± 0.70 mm (20%), 7.34 ± 0.35 mm (10%), and 6.71 ± 0.85 mm (1%). The positive control showed a significantly higher inhibition zone (33.82 ± 1.62 mm), while the negative control showed no inhibition. Phytochemical screening of the kersen leaf ethyl acetate fraction includes tannins, saponins, steroids, triterpenoids, and phenolics. Conclusion: The ethyl acetate fraction of M. calabura leaves exhibited antibacterial activity against S. aureus. These findings support its potential development as a plant-based antibacterial agent, although further in vivo studies are needed.
HUBUNGAN POLA ASUH DAN PEMBERIAN MAKAN DENGAN STUNTING DI PUSKESMAS NELAYAN CIREBON Rahadian, Zulfikar; Afandi, Thysa Thysmelia; Weni, Mustika
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55562

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis pada balita yang berdampak jangka panjang terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta kualitas sumber daya manusia. Prevalensi stunting di Indonesia masih relatif tinggi, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Nelayan Kota Cirebon. Berbagai faktor berperan dalam terjadinya stunting, di antaranya pola asuh dan praktik pemberian makan yang tidak optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh dan pemberian makan dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Nelayan Kota Cirebon. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah ibu yang memiliki balita di wilayah kerja Puskesmas Nelayan Kota Cirebon, dengan jumlah sampel sebanyak 81 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah pola asuh dan pemberian makan, sedangkan variabel dependen adalah kejadian stunting. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pola asuh dan pemberian makan, serta data status stunting yang diperoleh dari catatan antropometri balita. Data dianalisis secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square dan Spearman, serta multivariat dengan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian makan dengan kejadian stunting (p = 0,000; r = -0,663) serta antara pola asuh dengan kejadian stunting (p = 0,001). Analisis multivariat menunjukkan bahwa pemberian makan memiliki pengaruh yang lebih dominan terhadap kejadian stunting dibandingkan pola asuh. Simpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan bermakna antara pola asuh dan pemberian makan dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Nelayan Kota Cirebon, dengan pemberian makan sebagai faktor yang paling berpengaruh.