Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pelatihan Menulis Cerpen pada Siswa Sekolah Dasar di Desa Longkewang, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan Asep Jejen Jaelani; Ifah Hanifah; Sun Suntini
Pekodimas : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2, No 2 (2022): Pekodimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.69 KB)

Abstract

Pengabdian masyarkat ini bertajuk Pelatihan Menulis Cerpen pada Siswa SD di Desa Longkewang, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk meningkatkan minat siswa terhadap cerpen, meningkatkan pemahaman siswa tentang cerpen, dan meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis cerpen. Adapun metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah Pelatihan dengan partisipasi. Artinya, siswa berperan aktif dalam proses pelatihan. Setelah diberikan pelatihan ada perubahan yang signifikan dalam hal minat, pemahaman, dan kemampuan menulis siswa. Minat siswa terhadap cerpen meningkat dibuktikan dengan siswa yang mulai tertarik membaca cerpen, pemahaman mereka meningkat, dibuktikan dengan pengetahuan tentang unsur pembentuk cerpen, dan kemampuan juga meningkat. Hal itu terbukti dari 20 siswa 9 siswa dapat menyelsaikan cerpen dengan cukup baik. Sisanya belum selsai karena waktu selesai.Kata kunci: pelatihan, menulis cerpen, siswa SD
ANALISIS MUATAN NILAI KARAKTER DALAM BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KELAS X KURIKULUM 2013 Junaedi; Asep Jejen Jaelani Jaelani; Sun Suntini
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 2 No 2 (2022)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v2i2.14

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini dilatarbelakangi adanya indikasi bahwa tidak semua buku teks memuat nilai karakter, karena itu penulis meninjau bagaimana muatan nilai karakter peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Tujuan penelitian, untuk mendeskripsikan muatan nilai karakter peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kualitatif dengan teknik pemerolehan data berupa dokumentasi. Hasil penelitian, berdasarkan proses analisis tersebut menghasilkan simpulan bahwa terdapat  nilai karakter peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas X Kurikulum 2013. Dari dua puluh dua data yang dianalisis terdapat empat data yang merepresentasikan nilai karakter peduli lingkungan, sepuluh data nilai karakter peduli sosial, dan delapan data nilai karakter tanggung jawab. Dari empat data yang merepresentasikan nilai karakter peduli lingkungan mengarah pada pentingnya menjaga lingkungan alam, sepuluh data nilai karakter peduli sosial mengarah pada pentingnya membaca isyarat sosial serta bersikap empati, dan delapan data nilai karakter tanggung jawab mengarah pada pentingnya menjaga sesuatu, bekerja keras, dan membantu membuat dunia menjadi lebih baik. Adapun rekomendasi untuk pengembang buku teks perlu adanya muatan nilai karakter secara komprehensif, untuk guru karena tidak semua merepresentasikan nilai karakter secara rinci penulis menyarankan adanya penyampaian oleh guru kepada siswa secara mendalam, untuk penulis selanjutnya diharap membaca dapat menafsirkan secara komprehensif. KATA KUNCI: Buku teks, kurikulum, nilai karakter, pendidikan.   CHARACTER VALUE LOAD ANALYSIS IN INDONESIAN TEXTBOOKCLASS X CURRICULUM 2013   ABSTRACT: This research is motivated by indications that not all textbooks contain character values, therefore the author reviews how the character values ​​of environmental care, social care, and responsibility are charged. The purpose of this research is to describe the character values ​​of environmental care, social care, and responsibility. The research method used in this study is a qualitative method with data acquisition techniques in the form of documentation. The results of the study, based on the analysis process, resulted in the conclusion that there are character values ​​of caring for the environment, social care, and responsibility in the Indonesian Language Textbook Class X Curriculum 2013. Of the twenty-two data analyzed there are four data that represent the character values ​​of caring for the environment, ten data on social care character values, and eight data on responsibility character values. Of the four data that represent the value of caring for the environment character points to the importance of protecting the natural environment, ten data values ​​of the character of social care point to the importance of reading social cues and being empathetic, and eight data on the value of the character of responsibility pointing to the importance of taking care of something, working hard, and helping. make the world better. As for recommendations for textbook developers, it is necessary to have a comprehensive character value content, for teachers because not all of them represent character values ​​in detail, the author suggests that the teacher conveys to students in depth, for further researchers, it is hoped that reading can interpret comprehensively. KEYWORDS: Textbooks, curriculum, character values, education.
Simbol Mitologis Dilihat Dari Representasi Sistem Religi Masyarakat Jawa Dalam Novel "Bilangan Fu" Karya Ayu Utami (Kajian Antropologi Sastra) Saepudin Muhamad; Sun Suntini; Arip Hidayat
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 1 No 2 (2021)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v1i2.16

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini membahas tentang bentuk representasi sistem religi serta simbol mitologis yang dilihat dari sistem religi masyarakat Jawa dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mendeskripsikan representasi sistem religi masyarakat Jawa dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami; 2) Untuk mendeskripsikan simbol mitologis dilihat dari representasi sistem religi masyarakat Jawa melalui metode semiotika Roland Barthes dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka dan dokumentasi. Pendekatan penelitian yang digunakan dengan antropologi sastra dan semiotika Roland Barthes. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini ialah dengan cara membaca dan menandai setiap dialog atau peristiwa yang mengandung representasi sistem religi dan simbol-simbol mitologisnya. Analisis data menghasilkan penelitian bahwa dalam novel Bilangan Fu karya Ayu Utami terdapat tiga aspek representasi sistem religi di antaranya, sistem religi animisme Kejawen, sinkretisme Islam Kejawen, dan monoteisme Islam. Dalam sistem religi animisme Kejawen terdapat sembilan data, sinkretisme Islam Kejawen terdapat tiga data, dan monoteisme Islam terdapat tujuh data. Sementara dari ketiga sistem religi tersebut, dalam animisme terdapat tiga simbol mitologis. Namun dari sinkretisme Islam Kejawen dan monoteisme Islam tidak memuat simbol mitologis secara khusus, melainkan sekadar pandangan terhadap kepercayaan simbol mitologis tersebut. Di samping itu, problem dari representasi ketiga sistem religi mengarah pada satu titik permasalahan, yaitu pluralitas dalam keagamaan. Sedangkan, simbol mitologis mengarah pada kontrol sosial dalam kebudayaan terkait dengan kepentingan secara tradisional dan modern KATA KUNCI: Antropologi sastra, Bilangan Fu, , simbol mitologis, sistem religi.. >    ABSTRACT: This study discuses the from representation religious system as well mythological symbol which is seen from religious system Javanese society in the novel Bilangan Fu by Ayu Utami. Formulation of the problem in the research is: 1) How is the religious system Javanese society in the novel Bilangan Fu By Ayu Utami?; 2) How is the mytological symbol which is seen from religious system Javanese society in the novel Bilangan Fu by Ayu Utami?. The purpose of this research is: 1) To describe the religious system Javanese society in the novel Bilangan Fu By Ayu Utami; 2) To describe the mytological symbol which is seen from religious system Javanese society in the novel Bilangan Fu by Ayu Utami. This research uses qualitative descriptive method with the data collection technique in the form of library research and documentation. The research approach used with literary anthropological studies and semiotics Roland Barthes. The steps taken in this research is which reading, and mark every dialogue or event that contains representations of the religious system and its mytological symbols. Data analysis resulted in research that in the novel Bilangan Fu by Ayu Utami there are three aspects in the representation of the religious system in between, Kejawen animist, Kejawen Islamic syncretism, and the Islamic monotheism. In the Kejawen animist there are nine data, Kejawen Islamic syncretism there are three data, and Islamic monotheism there are seven data. While form of the three religious system, in animism there are three mythological symbols. However, Kejawen Islamic syncretism and Islamic monotheism nothing spesific mythological symbol. In addition, the problem of the representation of the three religious system leads to one problem, namely plurality in religion. Meanwhile, mythological symbol lead to social control in culture related to traditional and modern interest. KEYWORDS: literary anthropological studies, Bilangan Fu, mythological symbol, religious system.
PERBANDINGAN KEMAMPUAN MENYIMAK DONGENG DENGAN MEDIA BONEKA TANGAN DAN MEDIA GAMBAR PADA ANAK USIA DINI MAULINA SWASTIKA MAHARANI; Asep Jejen Jaelani; Sun Suntini
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 2 No 2 (2022)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v2i2.19

Abstract

  ABSTRAK: Kemampuan menyimak harus dikembangkan pada anak usia dini dalam kehidupan sehari-hari. Pada pendidikan pun dongeng merupakan hal yang tidak asing lagi. Karena dalam mendongeng anak mulai belajar dengan cara menyimak. Masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana kemampuan menyimak dongeng anak usia dini dengan menggunakan media boneka tangan? 2) Bagaimana kemampuan menyimak dongeng anak usia dini dengan menggunakan media gambar? 3) Bagaimana perbandingan kemampuan menyimak dongeng anak usia dini dengan menggunakan media boneka tangan dan media gambar?. Penelitian ini menggunakan Metode deskriptif komparatif, yaitu metode yang digunakan untuk menggambarkan perbandingan. Teknik pengumpulan data menggunakan tes. Populasi dalam penelitian ini adalah Anak Usia Dini usia 5-7 tahun yang berada dilingkungan kavling srimulya RT/RW:016/003 Desa Ancaran. Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan menyimak dongeng anak menggunakan media gambar dilihat dari rata-rata 78,6 termasuk pada kriteria baik, sedangkan kemampuan menyimak dongeng anak menggunakan media boneka tangan dilihat dari rata-rata 69,26 termasuk pada kriteria cukup. Hasil uji t diperoleh hasil   pada taraf signifikansi 0,05 yaitu (1,980) sedangkan  sebesar (2,061) dengan demikian  < . Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kemampuan menyimak dongeng dengan menggunakan media boneka tangan dan media gambar pada anak usia dini di Kavling Srimulya Desa Ancaran. Sedangkan pada taraf signifikansi 0,01 diperoleh hasil  (2,617) > (2,061), yang berarti ada perubahan signifikan dalam kemampuan menyimak dongeng dengan menggunakan media boneka tangan dan media gambar pada anak usia dini di Kavling Srimulya Desa Ancaran. KATA KUNCI : Dongeng;kemampuan menyimak;media boneka tangan;media gambar;perbandingan   COMPARISON OF THE ABILITY TO LISTENING TO FAIRY TALES WITH HAND PUPPET MEDIA AND IMAGE MEDIA IN CHILDREN EARLY AGE   ABSTRACT: Listening skills must be developed in early childhood in everyday life. Even in education, fairy tales are familiar. Because in storytelling, children begin to learn by listening. The problem in this research is 1) How is the ability to listen to fairy tales for early childhood using hand puppet media? 2) How is the ability to listen to fairy tales for early childhood using picture media? 3) How do you compare the ability to listen to fairy tales for early childhood using hand puppets and picture media?. This study uses a comparative descriptive method, which is the method used to describe the comparison. Data collection techniques using tests. The population in this study were early childhood children aged 5-7 years who were in the Srimulya plot of RT/RW: 016/003 Ancaran Village. The conclusion in this study shows that the ability to listen to children's fairy tales using picture media is seen from an average of 78.6 including the good criteria, while the ability to listen to children's fairy tales using hand puppet media is seen from an average of 69.26 including enough criteria. The results of the t-test obtained the results of t_tabel at a significance level of 0.05, namely (1.980) whilet_hitung is (2.061), thus t_tabel < t_hitung. This means that there is no significant difference in the ability to listen to fairy tales using hand puppets and picture media for early childhood in the Srimulya, Ancaran Village. While at the 0.01 significance level, the results showed t_tabel (2,617) > t_hitung(2,061), that there was a significant change in the ability to listen to fairy tales using hand puppets and pictures in early childhood in Srimulya, Ancaran Village. KEYWORS : Fairy tales;Listening Ability;Hand Puppet Media;Picture Media;Comparison
Tokoh dan Citra Perempuan Dalam Novel Cantik Itu Luka Karya Eka Kurniawan Sonia Apriani; Sun Suntini; Arip Hidayat
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 1 No 2 (2021)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v1i2.24

Abstract

Abstrak tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan karakter tokoh dan citra perempuan yang terdapat dalam novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Jenis penelitian ini tergolong penelitian kepustakaan. Data dalam penelitian ini adalah data tertulis berupa teks novel yang memuat karakter tokoh utama wanita dan citra perempuan dalam Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua cara yakni teknik baca dan teknik catat. Data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan kritik sastra feminis. Hasil penelitian dalam novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan yaitu karkterisasi menggunakan metode langsung (telling) dan kedua, metode tidak langsung (showing); citra perempuan dikaji melalui citra diri dan citra sosial perempuan. Karakteristik tokoh utama wanita yang diantaranya Dewi ayu, Alamanda, Adinda, Maya Dewi, dan Si cantik, memiliki karakter yang saling bertentangan apabila di kaji melalui metode langsung (telling) dan metode tidak langsung (showing). Dapat disimpulkan hasil penelitian, citra perempuan yang mereka dapat baik secara citra diri dan citra sosial mereka dipandang sebagai perempuan cantik dan buruk rupa serta merupakan pelacur dan anak pelacur yang paling disegani di kota Halunda saat itu. Kata Kunci: Novel, Karakterisasi, Citra Perempuan, Feminis WOMEN'S FIGURE AND IMAGE IN THE BEAUTIFUL NOVEL EKA KURNIAWAN'S WOUND IS (REVIEW OF FEMINISM LITERATURE CRITICISM) Abstract The purpose of this study is to describe the characters and images of women in the novel Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan. The method used in this study is a qualitative descriptive method. This type of research is classified as library research. The data in this study is written data in the form of a novel text that contains the character of the main female character and the image of a woman in Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan. The data collection used in this study was carried out in two ways, namely reading and note-taking techniques. The data of this study were analyzed using feminist literary criticism. The results of the research in the novel Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan are characterization using the direct method (telling) and second, the indirect method (showing); the image of women is studied through the self-image and social image of women. The characteristics of the main female characters, including Dewi Ayu, Alamanda, Adinda, Maya Dewi, and Si Cantik, have conflicting characters when examined through the direct method (telling) and the indirect method (showing). It can be concluded from the results of the research, the image of women they got both in terms of self-image and social image was seen as beautiful and ugly women and were the most respected prostitutes and prostitutes in the city of Halunda at that time. Keyword: Novel, Characterization, Female Image, Feminist
ANALISIS KEMAMPUAN PELAFALAN KONSONAN PADA ANAK USIA 2-3 TAHUN DI DESA BANDORASA WETAN KECAMATAN CILIMUS KABUPATEN KUNINGAN Cindy Fitriantini; Sun Suntini; Ifah Hanifah
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 2 No 1 (2022)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v2i1.31

Abstract

ABSTRAK : Permasalahan dalam penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penguasaan bahasa pada anak yang masih berusia 2-3 tahun; kajian fonologi. Penelitian ini adalah penelitian studi kasus yang menghasilkan data deskriptif. Data penelitian ini berupa kata-kata yang diucapkan oleh anak usia 2-3 tahun dalam berkomunikasi. Data diperoleh melalui wawancara, simak, rekam, dan catat. Analisis dilakukan selama pengumpulan data dan sesudah data terkumpul, menggunakan analisis deskriptif. Peneliti mengkaji hasil rekaman dengan seksama dengan langkah memutar hasil rekaman secara berulang-ulang sebelum menentukan bunyi apa saja yang dihasilkan oleh anak. Biasanya setelah anak usia 2-3 tahun, umumnya anak sudah menguasai semua jenis fonem vokal. Kaidah urutan pemerolehan bunyi bahasa pada anak yaitu dari bunyi yang mudah ke bunyi yang sukar. Sedangkan pada fonem konsonan terjadi kesulitan dalam melafalkannya. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan beberapa fonem konsonan yang masih sulit diucapkan oleh anak-anak yakni belum mampu mengucapkan fonem apikoalveolar (r). Dalam penelitian ini ditemukan adanya penggantian bunyi, penambahan bunyi, dan penghilangan bunyi. Penguasaan bahasa tidak hanya terikat pada kemampuan mengucapkan atau melafalkan suatu kata akan tetapi kemampuan mengucapkan atau melafalkan suatu kata akan tetapi kemampuan anak untuk mengaitkan jenis dan makna kata tersebut. Kriteria yang dipertimbangkan adalah anak telah dapat memproduksi bentuk yang dekat bunyinya dengan bentuk orang dewasa dan dapat mengaitkan bentuk dengan makna secara konsisten. KATA KUNCI : Kemampuan Pelafalan Konsonan, Fonologi. Analysis Of Consonant Pronunciation Ability in Children Ages 2-3 Years in Bandorasa Wetan Village Cilimus District Kunningan ABSTRACT : The problem in this study aims to describe the mastery of language in children aged 2-3 yers; phonological studies. This research is a case study research that produces descriptive data. The data of this research is in the from of words spoken by children aged 2-3 years in communicating. Data were obtained througt interviews, listening, recording, and taking notes. The analysis was carried out during data collection and after the data was collected, using descriptive analysis. Researchers examined the recordings carefully by playing the recordings repeatedly before determining what sounds were produced by the child. Usually after children aged 2-3 years, generally children have mastered all types of vowel phonemes. The rules four acquiring language sound in children are from easy sounds to difficult sounds. Meanwhile, consonant phonemes have difficulty in pronouncing them. Based on the results of the study, it was found that some consonant                        phonemes are still difficult to pronounce by children, namely they have not been able to pronounce apicoalveolar (r) phonemes. Language mastery is not only tied to the ability to pronounce or recite a word but the child’s ability to relate the type and meaning of the word. The criteria considered are that the chiold has been able to produce a from that is close in sound to the form of an adult and can associate form with meaning consistently. KEYWORD : Consonant, Pronunciation, Phonology.
PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA PADA ANAK USIA 2-3 TAHUN DI DESA CIHERANG BERDASARKAN SINTAKSIS Linda Amelia; Sun Suntini; Asep Jejen Jaelani
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v3i2.32

Abstract

ABSTRAK: Bahasa merupakan sarana komunikasi utama dalam kehidupan manusia di dunia ini, baik dalam bentuk tulisan, lisan, maupun yang berupa simbol tertentu. Tanpa bahasa manusia tidak bisa berkomunikasi karena manusia adalah makhluk sosial yang harus saling berintraksi. Penelitian dibidang pemerolehan bahasa ini dilatar belakangi keingintahuan peneliti mengenai struktur kalimat dan jenis kalimat pada anak usia 2-3 tahun. Yang dituangkan dalam judul “Pemerolehan Bahasa Anak Pada Usia 2- 3 Tahun di Desa Ciherang Berdasarkan Analisis Sintaksis”. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana pemerolehan bahasa pertama pada anak usia 2-3 tahun di Desa Ciherang berdasarkan analisis sintaksis? Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemerolehan bahasa pertama pada anak usia 2-3 tahun di Desa Ciherang berdasarkan analisis sintaksis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, teknik yang digunakan untuk pemerolehan data dalam penelitian ini adalah teknik wawancara. Berdasarkan data yang telah dianalisis yaitu Anak usia dua tahun dalam pemerolehan bahasa sintaksis sudah mampu menghasilkan kalimat deklaratif, imperatif, introgatif dan negatif. Namun mereka belum mampu berimprovisasi dengan kalimat yang mereka hasilkan. Sedangkan anak usia tiga tahun sudah mampu menghasilkam berbagai kalimat dengan baik dan sudah mampu berimprovisasi dengan kalimat yang mereka hasilkan.       KATA KUNCI: Pemerolehan Bahasa, Anak usia 2-3 tahun, Sintaksis.. >  PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA PADA ANAK USIA 2-3 TAHUN DI DESA CIHERANG BERDASARKAN SINTAKSIS.   ABSTRACT: Language is the main means of communication in the human life in tis world, both in the written, spoken, and in the form of certain symbols. Without languge, the humans can not communicate because the humans are social beings who must inter act with each other. This research in the field of language acquisition is motivated by the curiosity of researhers about sentence structure and types sentence in the children age two until three years. Which is written in the title “Children‟s Language Acquisition Of Two Until Three Years In Ciherang City Based On Syntactic Analysis”. The purpose of this study is to describe the acquisition of the first languge in the children of two until three years in ciherang city based on syntactic analysis. The method used this study is a qualitative method, the technique used for data acquisitionin this study is an interview technique. Based on the data that has been analyzed is two years old in syntactic language acquisition have been able to produce declarative, imperative, introgative and negatife sentences, but they have not beer able to I‟m proved with the sentences they produce. While the children of three years old are able to produce various sentences they produce KEYWORDS: Acquisition Language, The Childern Two Until Three Years Old, Syntax.
KETERBACAAN WACANA DALAM SOAL UJIAN SEKOLAH TINGKAT SMA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KABUPATEN KUNINGAN DENGAN MENGGUNAKAN GRAFIK FRY Paryati; Sun Suntini; IDA HAMIDAH
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 2 No 2 (2022)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v2i2.35

Abstract

ABSTRAK: Keterbacaan yaitu terbaca atau tidaknya suatu bacaan oleh pembaca. Dalam ujian sekolah terdapat soal yang menjadi tolak ukur kemampuan siswa siswinya salah satunya mata pelajaran bahasa Indonesia, banyak sekolah kurang memperhatikan antara soal dengan wacana apakah sudah sesuai dengan tingkatan sekolah atau tidak. Ada kalanya wacana yang terdapat pada soal tidak sesuai dengan tingkatan, contoh: Untuk tingkat sekolah menengah atas terdapat beberapa wacana yang seharusnya di peruntukan sekolah dasar..Penelitian ini mendeskripsikan wacana dalam soal ujian sekolah tingkat SMA mata pelajaran Bahasa Indonesia di Kabupaten Kuningan, penelitian ini menentukan tingkat keterbacaan setiap wacana dalam soal ujian sekolah. Soal ujian sekolah yang dijadikan sampel yaitu: SMAN 1 Kuningan, SMAN 1 Garawangi, dan SMAN 1 Cilimus yang berada di Kabupaten Kuningan; Bagaimana keterbacaan wacana dalam soal ujian sekolah tingkat SMA mata pelajaran Bahasa Indonesia di Kabupaten Kuningan dengan menggunakan grafik fry?; Tujuan penelitian: Untuk mendeskripsikan keterbacaan wacana dalam soal ujian sekolah tingkat SMA mata pelajaran Bahasa Indonesia di Kabupaten Kuningan dengan menggunakan grafik fry; dengan metode: Deskriptif kualitatif; teknik pemerolehan data (studi pustaka, dokumentasi) dan teknik pengolahan data (analisis); Objek penelitian: Soal wacana (pilihan ganda) ujian sekolah tingkat SMA di Kabupaten Kuningan Tahun 2020. Hasil dari penelitian ini keterbacaan wacana dalam soal ujian sekolah di Kabupaten Kuningan  keterbacaan wacana dalam soal ujian sekolah tingkat SMA mata pelajaran bahasa Indonesia di kabupaten Kuningan dengan  menggunakan grafik fry ialah wacana dalam soal tersebut yakni total dari keseluruhan soal wacana yang dianalisis terdapat 90 soal dan untuk soal ujian sekolah tingkat SMA mata pelajaran bahasa Indonesia di kabupaten Kuningan layak digunakan pada tingkat SMP dan SD dengan demikian wacana yang sesuai untk tingkat SMA hanya 13 wacana dari keseluruhan wacana yang sudah di analisis.   KATA KUNCI: Keterbacaan; Wacana; Soal Ujian sekolah tingkat SMA >  ABSTRACT: Readability is whether or not a reading is read by the reader. In school exams, there are questions that become a benchmark for students' abilities, one of which is Indonesian language subjects, many schools pay less attention to whether the questions and the discourse are in accordance with the school level or not. There are times when the discourse contained in the questions does not match the level, for example: For the high school level there are several discourses that should be designated for elementary schools. determine the level of readability of each discourse in school exam questions. The school exam questions that were sampled were: SMAN 1 Kuningan, SMAN 1 Garawangi, and SMAN 1 Cilimus in Kuningan Regency; How is the readability of discourse in high school exam questions for Indonesian subjects in Kuningan Regency using the fry chart?; Research objectives: To describe the readability of discourse in high school exam questions for Indonesian language subjects in Kuningan Regency using the fry chart; with the method: qualitative descriptive; data acquisition techniques (literature study, documentation) and data processing techniques (analysis); Object of research: Discourse questions (multiple choice) for high school exams in Kuningan Regency in 2020. The results of this research are readability of discourse in school exam questions in Kuningan Regency, discourse readability in high school exam questions for Indonesian language subjects in Kuningan Regency by using graphs fry is the discourse in the matter, namely the total of all the discourse questions analyzed there are 90 questions and for the high school level exam questions the Indonesian language subject in Kuningan district is suitable for use at the junior high and elementary levels, thus the appropriate discourse for the high school level is only 13 discourses from the whole discourse that has been analyzed KEYWORDS: Readability, Discourse, High School Exam QuestionssQuestions
ANALISIS WACANA KRITIS PERSPEKTIF SARA MILLS DALAM KUMPULAN CERPEN AAR PULE KARYA OKA RUSMINI Nurhamidah; Sun Suntini; Figiati Indra Dewi
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v3i1.46

Abstract

ABSTRAK: Rumusan Masalah dalam penelitian ini diantaranya: 1) Bagaimana posisi subjek-objek dalam kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini dalam kajian analisis wacana kritis Sara Mills?; 2) Bagaimana posisi pembaca dalam kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini dalam kajian analisis wacana kritis Sara Mills?; Tujuan Penelitian: 1) Untuk mengetahui posisi subjek-objek dalam kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini dalam kajian analisis wacana kritis Sara Mills; 2) Untuk Untuk mengetahui posisi pembaca dalam kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini dalam kajian analisis wacana kritis Sara Mills. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik penelitian yang digunakan adalah teknik dokumentasi dan studi pustaka. Objek penelitian ini yaitu kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini yang berjumlah sepuluh cerita pendek. Simpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut, 1) posisi subjek melihat sebagai pihak menceritakan memiliki tolak ukur dari sudut pandang penceritaannya bertumpu pada dirinya. Memenuhi empat kriteria posisi subjek menurut Sara Mills, yakni: mampu mendefinisikan dirinya sendiri, menceritakan peristiwa, menceritakan realitas, dan menceritakan tokoh lain dalam cerpen berdasarkan sudut pandangnya sendiri. 2) Oka Rusmini sebagai penulis menempatkan tokoh utama perempuan yaitu Pudak, Biang Regina, Sipleg, seorang perempuan, Dayu Cenana, Grubug, Bunga, Saring diposisi objek. Posisi objek menjelaskan bahwa jati diri peempuan sekalipun sebagai subjek tidak terlepas sebagai yag diceritakan. Kemudian kehadiran aktor melihat gagasannya memiliki kesempatan untuk menampilkan dirinya sendiri atau ditampilkan oleh orang lain. 3) posisi pembaca dapat dilihat dengan penyapaan langsung dan penyapaan tidak langsung yang digunakan oleh pengarang, sehingga dalam hal ini dapat melihat bagaimana pembaca memposisikan dirinya dalam teks yang ditampilkan. Maka dari itu, keseluruhan jalainan teks yang diuraikan pengarang dapat mengidentifikasi posisi penulis selaku peneliti memposisikan dirinya sebagai perempuan. Dalam kumpulan cerita pendek Akar Pule dikisahkan dengan sudut pandang orang ketiga tahu segalanya yang menceritakan kehidupan tokoh perempuan. Maka pembaca akan mengidentifikasi atau mensejajarkan karakter tokoh yang mendapat banyak perlakuan kekerasan dan ketidakadilan namun tetap kuat dan tegar, secara tidak sadar menempatkan pembaca pada karakter tokoh perempuan dan turut merasakan kesedihan-kesedihan yang dialaminya. KATA KUNCI: analisis wacana kritis, sara mills, cerpen akar pule karya Oka Rusmini COMPARISON OF THE ABILITY TO LISTENING TO FAIRY TALES WITH HAND PUPPET MEDIA AND IMAGE MEDIA IN CHILDREN EARLY AGE ABSTRACT: The formulation of the problems in this study include: 1) What is the position of the subject-object in the short story collection Akar Pule by Oka Rusmini in Sara Mills' critical discourse analysis study?; 2) What is the position of the reader in the collection of short stories Akar Pule by Oka Rusmini in Sara Mills' critical discourse analysis study?; Research Objectives: 1) To determine the position of the subject-object in the collection of short stories Akar Pule by Oka Rusmini in the study of critical discourse analysis by Sara Mills; 2) To find out the position of the reader in the collection of short stories Akar Pule by Oka Rusmini in Sara Mills' critical discourse analysis study. The research method used is descriptive qualitative method. The research technique used is the technique of documentation and literature study. The object of this research is a collection of ten short stories by Oka Rusmini Akar Pule. The conclusions in this study are as follows, 1) the position of the subject sees as the party telling the story has a benchmark from the point of view of the story that rests on him. Fulfilling the four criteria for subject position according to Sara Mills, namely: being able to define himself, telling events, telling reality, and telling other characters in short stories based on his own point of view. 2) Oka Rusmini as a writer places the main female characters namely Pudak, Biang Regina, Sipleg, a woman, Dayu Cenana, Grubug, Bunga, Saring in the object position. The position of the object explains that a woman's identity, even as a subject, cannot be separated from what is told. Then the presence of the actor sees his ideas have the opportunity to present himself or be displayed by others. 3) the position of the reader can be seen by the direct greeting and indirect greeting used by the author, so that in this case one can see how the reader positions himself in the text displayed. Therefore, the overall structure of the text described by the author can identify the position of the author as a researcher to position himself as a woman. In a collection of short stories, Akar Pule is told from a third-person, know-it-all point of view, which tells the story of the life of a female character. Then the reader will identify or align the characters who have received a lot of violence and injustice but are still strong and tough, unconsciously placing the reader in the shoes of female characters and sharing the sorrows they experience. KEYWORDS: critical discourse analysis, sara mills, short akar pule by Oka Rusmini
PENYULUHAN TENTANG BAHAN AJAR LITERASI BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI SDN 2 TUGU MULYA Ifah, Ifah Hanifah; Asep Jejen Jaelani; Sun Suntini
INTEGRATIF: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 No 1 (2023): INTEGRATIF: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Kilau Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60041/integratif.v1i1.15

Abstract

This community service is an extension and training for elementary school teachers at SDN 2 Tugumulya Kecamtan Darma, Kuningan Regency, on the preparation of literacy teaching materials based on local wisdom. This is based on the fact that students' literacy skills are still low, and one of the factors is the lack of teaching materials. This service uses the method of counseling and training with the following stages; 1) planning, 2) implementation, 3) evaluation, 4) mentoring and consultation. After being given material on literacy concepts and teaching materials, the teacher's understanding is getting better. This can be seen from the question and answer activities carried out. In addition, the teacher's ability to compile simple teaching materials is good. They can choose the right material, and evaluate it according to the specified literacy criteria.