Claim Missing Document
Check
Articles

TEKANAN KEPATUHAN, PERTIMBANGAN MORAL, DAN PENGALAMAN AUDITOR DALAM MEMPENGARUHI AUDIT JUDGMENT lasiyono, untung
Majalah Ekonomi Vol 15 No 2 (2011): Desember
Publisher : Fakultas Ekonomi Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Judgment audit sering dibutuhkan auditor dalam memberikan opini terhadap kelayakan laporan keuangan yang disajikan perusahaan. Beberapa faktor diprediksi mempengaruhi auditor dalam memberikan audit judgment yaitu tekanan kepatuhan dari atasan, pertimbangan moral, dan pengalaman auditor. Penelitian ini dilakukan terhadap 42 auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) Surabaya pada tahun 2010, sedangkan data diperoleh melalui angket. Penelitian ini memiliki tiga macam variabel bebas yaitu Tekanan Kepatuhan (X1), Pertimbangan Moral (X2), Pengalaman Auditor (X3), serta satu variabel terikat yaitu Audit Judgment (Y). Dengan teknik analisa Regresi Linier Berganda diperoleh kesimpulan bahwa secara parsial maupun simultan tekanan kepatuhan, pertimbangan moral, dan pengalaman auditor berpengaruh terhadap audit judgment. Nilai koefesien regresi masing-masing variabel sebesar 0.202 ; 0.310 ; dan 0.436 dengan nilai t yang memiliki tingkatr signifikansi < 0.05 dan nilai Uji F sebesar 21.403 berada pada tingkat signifikansi < 0.05. Variabel pengalaman auditor berpengaruh dominan terhadap audit judment.
PERSEPSI MANAJEMEN SENTRA INDUSTRI KECIL JAWA TIMUR DALAM MENYIKAPI KETIDAKPASTIAN PERILAKU KONSUMEN DAN SISTEM AKUNTANSI UNTUK MEMPEROLEH LABA lasiyono, untung
Majalah Ekonomi Vol 14 No 1 (2011): Juli
Publisher : Fakultas Ekonomi Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen yang melakukan penganalisisan atas Sistem Akuntansi Manajemen, Ketidakpastian Perilaku Konsumen pada Sentra Industri Kecil di Wilayah Jawa Timur. Penelitian yang dilakukan ini termasuk studi diskriptif kuantitatif yaitu penelitian yang ingin mengetahui bagaimana manajemen Sentra Industri Kecil menyikapi dan menerapkan sistem akuntansi manajemen dan perilaku konsumen. Sebagai populasi penelitian adalah Sentra Industri Kecil di Wilayah Jawa Timur sedangkan sample penelitianya adalah Sentra Industri Kecil di Wilayah Jombang dan Kediri, yang metode penentuan sample menggunakan stratified random sampling. Sedangkan metode pengumpulan data peneliti menggunakan kuesener dan dokumentasi dan analisis datanya menggunakan SPSS (Statistic Program for Social Sience). Berdasarkan basil analisis dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : (1) Hasil pengujian hipotesis pertama dengan menggunakan analisis regresi linier berganda diperoleh nilai R = 0.645 atau 64,5 %, menunjukkan hubungan yang cukup tinggi dan mempunyai hubungan yang search, secara simultan diperoleh nilai F hitting = 7.118 dan nilai F (law) = 2.58, berarti Fhitung > Mabel. Hal ini berarti 110 "ditolak" clan Ila "cliferima". (2) Hasil pengujian hipotesis kedua secara parsial yang dilakukan secara berturut-turut dimulai dari Pengendalian Akuntansi Harta (Xi) diperoleh nilai t muffle, = 4.209 dan t- label = 1.684 atau t hitting > t table. Hal ini berarti Ha "diterima", Pengendalian Akuntansi Hutang (X2) diperoleh nilai t hitung = 4.889 dan t- label = 1.684 atau t hitung > t table hal ini berarti Ha "diterima", Pengendalian Akuntansi Modal (X3) nilai t hitung = 3.479 dan t- Label = 1.684 atau t hitung > t Label. hal ini berarti Ha "diterima", Ketidakpastian Ketidakpastian Perilaku Konsumen (X4), diperoleh nilai t hitung = 3.024 dan t Label =1.684 atau t hitung > t label. hal ini berarti Ha "diterima" . (3) Dari hasil perhitungan nilai t hitung tertinggi uji regresi secara parsial didapat nilai t hitung secara berturut-turut dimulai dari Pengendalian Akuntansi Hutang sebesar t = 4.889, Pengendalian Akuntansi Harta sebesar t = 4.209, Pengendalian Akuntansi Modal sebesar 3.479, dan Ketidakpastian Perilaku Konsumen sebesar t = 3.024, Hal ini menunjukkan bahwa secara parsial berturut-turut factor yang paling "dominan" mempengaruhi Perolehan Laba Usaha adalah factor "Pengendalian Akuntansi Hutang".
PERILAKU INDIVIDU DAN KELOMPOK DALAM PEMBENTUKAN ETIKA PROFESI AKUNTAN lasiyono, untung
Majalah Ekonomi Vol 12 No 1 (2010): Juni
Publisher : Fakultas Ekonomi Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Timbul dan berkembangnya profesi akuntan publik di suatu negara adalah sejalan dengan berkembangnya perusahaan dan berbagai bentuk badan hukum perusahaan di negara tersebut. Jika perusahaan-perusahaan di suatu negara berkembang sedeniikian rupa sehingga tidak hanya memerlukan modal dan pemiliknya, namun memerlukan modal dari kreditur, dan jika timbul berbagai perusahaan berbentuk badan hukum perseroan terbatas yang modalnya berasal dari masyarakat, jasa akuntan publik niulai diperlukan dan berkembang. Dari profesi akuntan publik inilah masyarakat kreditur dan investor mengharapkan penilaian yang bebas tidak memihak terhadap informasi yang disajikan dalam laporan keuangan oleh manajemen perusahaan.
PERAN MODAL INTELEKTUAL DALAM PRAKTEK AKUNTANSI MANAJEMEN untung lasiyono
Majalah Ekonomi Vol 16 No 2 (2012): Desember
Publisher : Fakultas Ekonomi Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.54 KB)

Abstract

Intellectual Capital (Modal Intelektual) merupakan aset berbasis pengetahuan yang menjadi basis kompetensi inti perusahaan yang dapat mempengaruhi daya tahan dan keunggulan bersaing. Intellectual Capital merupakan sumber daya perusahaan yang memegang peranan penting dalam penciptaan nilai tambah (value added), sama halnya seperti physical capital dan financial capital. Berdasarkan konteks tersebut, dapat dijelaskan bahwa performance dan sustainable suatu perusahaan didasarkan pada Intellectual Capital.Pengakuan terhadap modal intelektual sebagai penggerak nilai perusahaan dan keunggulan kompetitif makin meningkat, meskipun demikian pengukuran yang tepat atas modal intelektual masih terus dicari dan dikembangkan. Metode-metode pengukuran yang ada dapat memunculkan hasil di mana suatu organisasi atau masyarakat berada pada kondisi modal intelektual yang tinggi ataupun rendah. Secara eksplisit konsep pengukuran yang sering diangkat dan diukur justru konsep atau kondisi pengabaian (ignorance), yakni kondisi kurangnya pengetahuan, pendidikan, dan informasi tentang sesuatu atau ketidaksadaran (unawareness) akan sesuatu keadaan.Beberapa penelitian di dalam dan di luar negeri membuktikan hubungan positif antara rata - rata pertumbuhan Intellectual Capital (VAIC) dengan kinerja perusahaan berdasarkan jenis industrinya. Produk akuntansi manajemen berupa Informasi Akuntansi Manajemen (IAM) dan Teknik Akuntansi Manajemen (TAM) memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan. Intellectual Capital sangat diperlukan karena perusahaan selalu menghadapi perubahan lingkungan bisnis dengan ketidakpastian tinggi. Para ahli di bidang strategic management accounting telah melakukan berbagai studi mengenai target costing (cost design), quality costing,acticity-based costing, product life cycle costing dan value chain costing termasuk benchmarking dalam mendukung implementasi strategi agar perusahaan mampu meraih keunggulan bersaing.
RELEVANSI INTELLECTUAL CAPITAL SEBAGAI KOMPONEN PENGUKUR MARKET VALUE PERUSAHAAN Siti Istikhoroh; untung lasiyono
Majalah Ekonomi Vol 18 No 2 (2014): Desember
Publisher : Fakultas Ekonomi Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.314 KB)

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang peran intellectual capital dalam menentukan market value perusahaan. Perekonomian global menuntut perusahaan supaya mengubah arah bisnis yang pada awalnya didasarkan pada labor based business menjadi knowledge based business. Implikasinya, identifikasi dan pengelolaan knowledge dalam bentuk intangible asset menjadi sangat penting untuk dipublikasikan. Masyarakat perlu memahami kemampuan manajemen dalam mengintegrasikan pengetahuan dan inovasi yang dimiliki dan segera mengapresiasikan persepsinya dalam bentuk penilaian market value.Sebagai satu-satunya alat penilai kinerja financial yang dipublikasikan, ternyata laporan keuangan belum mampu memberikan informasi detail tentang nilai intangible asset. Beberapa penelitian justru menyebutkan bahwa nilai intangible asset bisa dijelaskan melalui pendekatan intellectual capital. International Federation of Accountants (IFAC) bahkan mengestimasi bahwa di masa yang akan datang kesuksesan perusahaan akan lebih ditentukan oleh intellectual capital bukan oleh laba maupun jumlah asset yang dimiliki.Menyikapi fenomena tersebut, maka para pengembang teori akuntansi maupun pemangku kebijakan akuntansi perlu merumuskan standar pelaporan intellectual capital dalam pelaporan keuangan. Nilai intellectual capital bisa dilaporkan sebagai disclosure atas laporan keuangan maupun sebagai salah satu akun intangible asset sehingga kualitas laporan keuangan sebagai penentu nilai perusahaan bisa ditingkatkan.
Pertimbangan moral dan Relevansinya terhadapPersepsi Etis dilakukannya Praktek manajemen Laba Siti Istikhoroh; untung lasiyono
Majalah Ekonomi Vol 17 No 1 (2013): Juli
Publisher : Fakultas Ekonomi Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1298.392 KB)

Abstract

Kecurangan akuntansi dalam pelaporan keuangan menjadi pusat perhatian dunia terkait dengan banyaknya perusahaan besar yang runtuh karena manipulasi laporan keuangan. Beberapa penelitian membuktikan bahwa pemicu tindakan tidak terpuji tersebut antara lain adalah praktik manajemen laba yang didalamnya terdapat proses creative accounting di mana beberapa pihak secara bersama-sama memanipulasi data keuangan demi mendapatkan keuntungan manajerial. Dilema etika selalu muncul dalam praktik manajemen laba. Mesktpun ada yang menganggap bahwa manajemen laba cenderung menyesatkan stakeholder, namun pada sisi lain dianggap sebagai tindakan yang wajar dalam memanfaatkan .fleksibilitas aturan pelaporan keuangan. Dilema etika inilah yang sering dimanfaalkan oleh akuntan kurang bermoral untuk melegalkan tindakan tersebut. Artikel ini bertujuan memberikan masukan tentang perlunya pertimbangan moral dalam praktik manajemen laba kepada penentu kebijakan pelaporan keuangan. Pertimbangan tersebut mengarah pada sensitivitas dan motivasi moral untuk membantu memecahkan dilema etis praktik manajemen laba dalam perspektif profesionalitas akuntan.
PENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR KEWIRAUSAHAAN MELALUI METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK STAD SMKN 1 SINGOSARI Ririn Trijanawaty; Untung Lasiyono
WAHANA Vol 69 No 2 (2017)
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.605 KB) | DOI: 10.36456/wahana.v69i2.1069

Abstract

Research on improving entrepreneurship learning achievement through cooperative learning methodof stad technique is done with research population Student of SMK Negeri 1 Singosari, while the sampleof the research is Student of Class XII AB 2 in 2016-2016. In this research, the data were collected intwo stages before the experiment (pre test) and after the experiment (post test). For the respondent stilluse one class that is, the students of class XII AB 2 SMK Negeri 1 Singosari in 2015-2016 with the samebasic competence of preparing business establishment. The result of the research shows that there areincreasing of students 'learning responses and the increase of learners' activity in learning withcontextual approach in the form of group cooperation both in cycle I, II and III. Likewise, learners'responses to learning with a contextual approach also increased both in cycles I, II and III. Alsofollowed with increased learning results consumer protection law. Thus (1) STAD cooperative learningapproach problem posing approach aims to develop students' reasoning and creativity in expressingideas or ideas to integrate the real life of learners. (2) In the first cycle learning is done by conventionallearning method, achievement of student of class XII AB 2 does not have significant difference in resultof pre test and post test. (3) Students' achievement after doing the exercises in the second and thirdcycles using learning approach with problem posing teish shows a significant difference, it is provedand the achievement of pre test result and post test of the participant is known to difference significantly.
Menumbuhkan Nilai Kewirausahaan Dan Daya Saing Pelaku Usaha Mikro Kecil Di Desa Pengulu, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik Sutama Wisnu Dyatmika; Tony Susilo Wibowo; Subakir; Untung Lasiyono
Ekobis Abdimas Vol 1 No 1 (2020): Juni
Publisher : Fakultas Ekonomi, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/ekobisabdimas.1.1.2342

Abstract

Kewirausahaan dapat menyerap banyak tenaga kerja sehingga mampu menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran. Saat ini semua negara terus memperhatikan perkembangan dunia wirausaha mulai dari sektor agraris hingga sektor financial technology. Semua berupaya agar segala sektor yang ada dapat saling berkaitan dan membentuk sebuah pola ekosistem kuat guna menopang perekonomian negara. Demikian halnya yang terjadi di Desa Pengulu Kabupaten Gresik, di desa ini usia produktif lebih memilih untuk bekerja di kota besar terdekatnya yaitu Surabaya. Maka yang terjadi adalah tidak ada penggerak kewirausahaan yang potensial di desa ini. Padahal desa memiliki potensi olahan ikan yang sangat baik mengingat lokasi desa ini relatif dekat dengan pesisir. Untuk itu dilakukanlah program pengabdian masyarakat di Desa Pengulu, Sidayu, Gresik. Program ini dilakukan dengan rangkaian proses: Penyampaian Materi Mindset Kewirausahaan, Pemberian Contoh Sederhana, Nyata, dan Bisa Diduplikasi, dan Konsultasi Teknis dan Optimalisasi Aktivitas. Setelah dilakukan kegiatan ini, masyarakat menjadi sadar dan mnegrti pentingnya kewirausahaan. Bagi masyarakat yang telah melakukan aktivitas kewirausahaan ditemukan beberapa kendala yang akan dicari solusinya agar kedepannya mendapatkan hasil yang lebih baik
Pemberdayaan Masyarakat Desa Banjarsari Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik Melalui Usaha Mikro Kecil Dan Menengah Di Era New Normal Ferry Hariawan; Ch. Menuk Sri Handayani; Untung Lasiyono; Widiar Onny Kurniawan; Yuli Kurnia Firdausia
Ekobis Abdimas Vol 1 No 2 (2020): Desember
Publisher : Fakultas Ekonomi, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/ekobisabdimas.1.2.3037

Abstract

Potensi di pedasaan merupakan sumber daya utama pembangunan desa. Kehadiran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu jalan untuk memfasilitasi warga desa menyalurkan potensinya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga. Warga Desa Banjarsari Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik berharap agar potensi desa ini dapat dikelola dengan baik dan memanfaatkan desa wisata sebagai mata pencaharian baru bagi warganya. Peluang yang ada saat ini adalah dengan membuka Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di sekitar tempat wisata tersebut. Banyak diantara warga yang bingung untuk memulai usaha terlebih di era new normal. Kondisi tersebut menunjukkan potensi yang menarik sekaligus terdapat tantangan didalamnya. Dimana kondisi masyarakat Desa Banjarsari Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik masih membutuhkan penguatan di bidang (1) pengetahuan dan ketrampilan (skill) dalam menguasai teknologi, (2) produktivitas masyarakat dan (3) terbatasnya sarana dan prasarana. Hal ini berakibat pada rendahnya kesejahteraan masyarakat dan partisipasinya dalam pembangunan perekonomian desa. Mendapati kondisi yang seperti itu, tim pengabdian pada masyarakat fakultas ekonomi dan bisnis universitas PGRI adi buana Surabaya memberikan penyuluhan dan pendampingan pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Desa Banjarsari Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik. Pendampingan tersebut di tujukan untuk penggerak UMKM dengan memberdayakan hasil alam sekitar dan membuat produk baru/tambahan yang relevan dengan kondisi kebutuhan dan perilaku pasar di masa new normal ini. Kata Kunci: Pengabdian pada masyarakat, UMKM, New Normal
Digitalisasi Pengajuan Izin Usaha UMKM di Desa Banjarkemantren, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo Nashrudin Latif; Suharyanto; Bayu Adi; Untung Lasiyono; Mohamad Afrizal Miradji
Ekobis Abdimas Vol 2 No 1 (2021): Juni
Publisher : Fakultas Ekonomi, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/ekobisabdimas.2.1.3911

Abstract

Pemerintah berupaya membangun ekosistem percepatan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM). Kemudahan pengajuan izin usaha ditekankan pada mudahnya persyaratan yang harus dipenuhi pelaku UMKM secara digital. Program digitalisasi diharapkan mampu meningkatkan kecepatan layanan Pemerintah mendorong terciptanya pola baru penerapan teknologi informasi. Penggunaan aplikasi teknologi informasi mengubah pola lama dalam penanganan administrasi izin usaha secara manual, sehingga dibutuhkan sosialisasi terhadap pelaku usaha Desa Banjarkemantren dalam menerapkannya. Sosialisasi melalui pemberian materi prosedur pendaftaran izin usaha di laman Online Single Submission (OSS). Sistem OSS merupakan pusat layanan yang terintegrasi pada seluruh upaya pelaku usaha mendapatkan izin dengan mudah dan cepat. Portal nasional OSS sebagai upaya menerapkan layanan terpadu satu pintu, diharapkan mampu meminimalisir alur birokrasi sehingga memudahkan pelaku usaha memenuhi hak dan kewajibannya. Potensi strategis Pemerintah tersebut memberikan peluang dan pijakan penting landasan hukum perizinan bidang usaha perseorangan, non perseorangan, mikro & perseorangan dan usaha lainnya. Legalitas hukum mengarah pada hak pelaku usaha atas didapatnya Nomor Induk Berusaha (NIB) dan Izin Usaha Mikro Kecil (IUMK) atas kegiatan usaha yang dijalankannya. Maka sosialisasi pengurusan NIB dan IUMK dilakukan di Desa Banjarkemantren untuk memudahkan pegiat usaha kecil melegalisasi usahanya. Upaya legalitas formal diharapkan memudahkan akses pengembangan usaha dari instansi terkait dalam pemenuhan kebutuhan modal dan pemasaran produk.