Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pemikiran Filsafat Patristik: Implikasi Bagi Kehidupan Modern Wulandari, Astri; Simamora, Lira Zufika; Syahduhan, Aan; Syahputra, Heru
Mauriduna: Journal of Islamic Studies Vol 5 No 2 (2024): Mauriduna: Journal of Islamic Studies, November 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/mauriduna.v5i2.1353

Abstract

Penelitian ini mengkaji pemikiran filsafat patristik, yaitu filsafat yang berkembang pada era gereja awal yang memadukan ajaran Kristen dengan tradisi filsafat Yunani, seperti Platonisme dan Neo-Platonisme. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dengan analisis historis dan interpretatif terhadap karya-karya utama para filsuf patristik serta refleksi terhadap relevansinya dalam konteks kehidupan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat patristik menawarkan pandangan yang mendalam tentang harmoni antara spiritualitas dan intelektualitas, yang dapat menjadi solusi bagi tantangan modern seperti krisis moral, alienasi spiritual, dan konflik antara ilmu pengetahuan dan agama. This study examines the philosophy of patristics, a branch of philosophy developed during the early church era that integrates Christian teachings with Greek philosophical traditions such as Platonism and Neo-Platonism. The study employs a literature review method with historical and interpretative analysis of the primary works of patristic philosophers and reflections on their relevance in the context of contemporary life. The findings reveal that patristic philosophy offers profound insights into the harmony between spirituality and intellectuality, which can serve as solutions to modern challenges such as moral crises, spiritual alienation, and conflicts between science and religion.
Peran Pengalaman dalam Pembentukan Pengetahuan: Perspektif Filsafat Empirisme Muthia, Elza; Reynaldhi, Naufal; Margolang, Pikri Alparizi; Syahputra, Heru
Mauriduna: Journal of Islamic Studies Vol 5 No 2 (2024): Mauriduna: Journal of Islamic Studies, November 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/mauriduna.v5i2.1354

Abstract

Penelitian ini membahas peran pengalaman sebagai dasar pembentukan pengetahuan dalam perspektif filsafat empirisme, sebuah aliran filsafat yang menekankan bahwa pengalaman indrawi adalah sumber utama dan paling valid dalam memperoleh pengetahuan.Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dengan analisis kritis terhadap karya-karya utama dari para filsuf empiris tersebut serta interpretasi kontemporer terhadap gagasan mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empirisme menawarkan paradigma yang relevan dalam memahami perkembangan pengetahuan manusia, khususnya dalam konteks metodologi ilmiah dan pembelajaran berbasis pengalaman. Namun, empirisme juga menghadapi kritik, terutama dari kaum rasionalis yang berpendapat bahwa akal dan intuisi memiliki peran penting dalam pembentukan pengetahuan yang tidak dapat dijelaskan oleh pengalaman semata. This study examines the role of experience as the foundation for knowledge formation within the perspective of empiricism, a philosophical school that emphasizes sensory experience as the primary and most valid source of knowledge. The study employs a literature review method with critical analysis of the primary works of key empiricist philosophers and contemporary interpretations of their ideas. The findings reveal that empiricism offers a relevant paradigm for understanding the development of human knowledge, particularly in the context of scientific methodology and experiential learning. However, empiricism also faces criticism, especially from rationalists who argue that reason and intuition play a crucial role in the formation of knowledge, which cannot be fully explained by experience alone.
The Role of Scholastic Philosophy in the Western Intellectual Tradition in Medieval Education Salsa, Dela Widya; Intan Sari, Nur; Humala, Reza; Syahputra, Heru
The Future of Education Journal Vol 3 No 5 (2024)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v3i5.346

Abstract

This study discusses Scholastic Philosophy as one of the main intellectual legacies of the Middle Ages (5th to early 17th centuries) and its contribution to the philosophical tradition and the Western educational system. Scholastic Philosophy is an approach that integrates philosophical logic with theology, where major figures such as Thomas Aquinas, Anselm, and Albertus Magnus attempted to harmonize religious doctrine with rationality. Scholastic educational methods, such as disputatio (structured debate) and lectio (reading and commenting on texts), became the core of learning at major universities such as Paris, Oxford, and Bologna. In addition, the Middle Ages were also marked by the great influence of Islamic civilization which was at the peak of its intellectual glory. Muslim scholars such as Al-Farabi, Ibn Sina, and Ibn Rushd not only maintained and developed the Greek philosophical tradition but also transmitted this knowledge to Europe, which ultimately influenced Scholastic Philosophy. This study aims to explore how Scholastic Philosophy plays a role in shaping the Western intellectual tradition through education and philosophy, and its relevance in integrating faith and reason. This study shows that the educational elements in Scholasticism contribute significantly to training the ability to think logically and systematically, which is the basis of the modern intellectual tradition.
Sidartha Gautama Syahputra, Heru; Suriadi, Aldia; Alhaq, Dtm. Mhd. Imam; Nasution, Muhammad Andry Al Alif
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Siddhartha Gautama is a central figure in the spiritual and philosophical history of the world, known as the Buddha, the founder of Buddhism. The background of this study stems from a reflection on life, suffering, and the search for the meaning of human existence, as experienced by Siddhartha prior to his enlightenment. This paper addresses the issue of how Siddhartha Gautama's spiritual journey shaped the core teachings of Buddhism, particularly within the context of the Four Noble Truths. The objective of this research is to philosophically examine Siddhartha Gautama’s existential transformation and the relevance of his teachings to modern understandings of suffering and happiness. The method used is a qualitative-descriptive study with a historical-philosophical approach, based on literature review of classical texts and contemporary interpretations. The conclusion shows that Siddhartha Gautama’s path to enlightenment illustrates a liberation process from suffering through deep understanding of the Four Noble Truths.
TAOISME Solehudin, Muhammad Faqih; Ningsi, Tri Ustia; Syahputra, Heru
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2544

Abstract

Taoisme adalah tradisi filsafat dan keagamaan yang telah berkembang di Tiongkok sejak zaman kuno. Ajaran ini berlandaskan pada konsep Tao, yang berarti Jalan atau prinsip utama yang mengatur alam semesta. Jejak sejarah Taoisme dapat ditelusuri hingga Dinasti Zhou, dengan tokoh-tokoh berpengaruh seperti Laozi dan Zhuangzi, yang pemikirannya kemudian terdokumentasikan dalam kitab Dao De Jing dan Zhuangzi. Sebagai suatu sistem kepercayaan, Taoisme mengedepankan keseimbangan, keselarasan dengan alam, serta konsep Wu Wei, yaitu bertindak secara alami tanpa paksaan agar tetap sejalan dengan ritme alam. Taoisme berkembang menjadi agama yang terstruktur pada masa Dinasti Han, ditandai dengan pembentukan organisasi keagamaan serta praktik spiritual seperti meditasi, alkimia, dan ritual keagamaan. Seiring waktu, Taoisme terus beradaptasi dengan berbagai pengaruh budaya dan tetap menjadi bagian penting dalam spiritualitas masyarakat Tiongkok. Penelitian ini membahas sejarah, konsep utama, kitab suci, serta perkembangan Taoisme sebagai agama guna memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang ajaran dan praktiknya
PENGARUH NILAI-NILAI KEIMANAN ISLAM DI DESA NAMAN, KECAMATAN NAMAN TERAN, KABUPATEN KARO Sinulingga, Aldi Alfarel; Syahputra, Heru; Harahap, Salahuddin
Algebra : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Sains Vol 5 No 2 (2025): ALGEBRA : JURNAL PENDIDIKAN, SOSIAL DAN SAINS
Publisher : Yayasan Amanah Nur Aman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58432/algebra.v5i2.1446

Abstract

This study aims to explore and analyze the influence of Islamic akidah (creed) values on various aspects of community life in Naman Village, Naman Teran District, Karo Regency. Islamic akidah, as the foundation of faith, not only shapes individual religious practices but also influences social interactions, economy, and education. Using a qualitative approach, this research examines how akidah values such as honesty, justice, mutual cooperation (gotong royong), and responsibility are reflected in the daily lives of Naman Village residents, who are predominantly Protestant Christians but live in harmony with the Muslim minority. The findings indicate that Islamic akidah promotes consistency in worship, fosters noble character, strengthens social bonds through mutual cooperation, and encourages ethical economic practices. Despite facing challenges such as differing religious understandings and the impact of modernization, opportunities to strengthen aqidah remain through the active role of religious leaders, formal and informal education, utilization of technology, and support from local government and institutions. This study provides a clear picture of the relationship between Islamic akidah and social practices at the village level, contributing to the development of socio-religious studies in Indonesia.
BATTERY LIFESPAN PREDICTION FOR MOTORCYCLES USING DOUBLE MOVING AVERAGE Syahputra, Heru; Jhonson Efendi Hutagalung; Suparmadi
JURTEKSI (jurnal Teknologi dan Sistem Informasi) Vol. 11 No. 4 (2025): September 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) STMIK Royal Kisaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33330/jurteksi.v11i4.3889

Abstract

Abstract: The inability to accurately monitor the lifespan of motorcycle batteries can lead to sudden failures, disrupt user activities, and increase maintenance costs. This issue is exacerbated by the absence of a predictive system that can assist users and workshops in planning maintenance and managing battery inventory effectively. This study aims to develop a battery lifespan prediction model for motorcycles using the Double Moving Average (DMA) method. The model is built based on historical data from 12 motorcycle units, including usage frequency, duration, terrain conditions, and maintenance habits. Forecasting is conducted through two stages of moving averages followed by trend parameter calculations. Evaluation results show that the model has a high level of accuracy, with MAPE = 0.10, MAD = 1.68, and RMSE = 2.14, indicating very low prediction errors. In addition, DMA is also used to forecast product demand at PT Anugerah Karya Abiwara Kisaran to prevent stock shortages. The system is developed using Visual Studio 2010 and Microsoft Access and has proven effective in supporting maintenance planning and inventory control. With its high accuracy and efficiency, the results of this study provide tangible contributions to decision-making in battery maintenance and inventory management. Keywords: battery; DMA; motorcycle; prediction. Abstrak: Ketidakmampuan dalam memantau usia pakai aki sepeda motor secara akurat dapat menyebabkan kerusakan mendadak, mengganggu aktivitas pengguna, serta meningkatkan biaya perawatan. Permasalahan ini diperburuk oleh tidak tersedianya sistem prediktif yang membantu pengguna dan bengkel dalam merencanakan perawatan serta mengelola persediaan aki secara efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model prediksi usia pemakaian aki sepeda motor dengan menggunakan metode Double Moving Average (DMA). Model dibangun berdasarkan data historis dari 12 unit sepeda motor yang mencakup frekuensi penggunaan, durasi, kondisi medan dan kebiasaan perawatan. Proses peramalan dilakukan melalui dua tahap perataan bergerak, yang kemudian diikuti dengan perhitungan parameter tren. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model ini memiliki tingkat akurasi yang tinggi, dengan nilai MAPE sebesar 0,10, MAD sebesar 1,68, dan RMSE sebesar 2,14, yang mengindikasikan tingkat kesalahan prediksi yang sangat rendah. Selain itu, metode DMA juga diterapkan untuk meramalkan permintaan produk pada PT Anugerah Karya Abiwara Kisaran guna mencegah terjadinya kekurangan stok. Sistem dikembangkan menggunakan Visual Studio 2010 dan Microsoft Access, serta terbukti efektif dalam mendukung perencanaan perawatan dan pengendalian persediaan. Dengan akurasi dan efisiensi yang tinggi, hasil penelitian ini memberikan kontribusi nyata dalam pengambilan keputusan terkait pemeliharaan aki dan manajemen inventori. Kata kunci: baterai; DMA; prediksi; sepeda motor.
Filsafat Yunani Kuno dan Klasik Novitri, Dea; Fikri, Abdul; Amalia, Fadillah Fitri; Syahputra, Heru
Indonesian Research Journal on Education Vol. 5 No. 1 (2025): Irje 2025
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v5i1.2170

Abstract

Filsafat Yunani Kuno dan Klasik merupakan salah satu periode penting dalam sejarah peradaban manusia yang memengaruhi perkembangan pemikiran, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan hingga saat ini. Secara etimologis, filsafat berasal dari bahasa Yunani "philos" yang berarti cinta atau kecenderungan terhadap sesuatu, dan "sophia" yang berarti kebijaksanaan. Dengan demikian, filsafat dapat dipahami sebagai cinta terhadap kebijaksanaan. Pada masa Yunani Kuno, pemikiran manusia mengalami pergeseran besar dari paham mitosentris ke logosentris, yang mengarah pada pemahaman gejala alam semesta berdasarkan hubungan kausalitas, bukan hanya melalui mitos atau dewa-dewa. Filsafat Yunani Kuno mempengaruhi paradigma berpikir manusia tentang alam semesta dan kehidupan, yang berujung pada lahirnya berbagai ilmu pengetahuan. Dalam perjalanan sejarah, perkembangan filsafat tidak hanya terhubung dengan pemikiran rasional, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor politik, sosial, dan budaya pada masa itu. Perkembangan ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari filsafat, karena filsafat memberi dasar-dasar teoritis yang kuat bagi ilmu pengetahuan. Pemikiran-pemikiran besar di Yunani Kuno memberikan kontribusi penting dalam membentuk cara pandang manusia terhadap dunia dan menjadi landasan bagi perkembangan ilmu pengetahuan di masa depan.
Hellenisme Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Suryani, Lili; Hartina, Siti; Gultom, Ummi A; Syahputra, Heru
Indonesian Research Journal on Education Vol. 5 No. 1 (2025): Irje 2025
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v5i1.2171

Abstract

Hellenisme merupakan periode sejarah yang berpengaruh besar terhadap perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan, berlangsung dari wafatnya Alexander Agung (323 SM) hingga awal Kekaisaran Romawi. Periode ini tidak hanya mencerminkan penyebaran budaya Yunani ke berbagai wilayah, tetapi juga menghasilkan asimilasi budaya yang kompleks dengan tradisi lokal, menciptakan identitas baru dalam pemikiran dan ilmu pengetahuan. Dalam ranah filsafat, muncul berbagai aliran seperti Stoisisme, Epikureanisme, dan Skeptisisme yang berusaha menjawab tantangan eksistensial manusia serta menawarkan panduan etis dalam menjalani kehidupan. Para filsuf Hellenistik menekankan hubungan antara teori dan praktik, menghadirkan pemikiran yang aplikatif bagi masyarakat. Selain itu, Hellenisme juga memainkan peran penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dengan kemunculan berbagai inovasi dalam matematika, astronomi, dan kedokteran. Tokoh-tokoh seperti Euclid, Archimedes, dan Hippocrates berkontribusi dalam membentuk dasar keilmuan modern melalui pendekatan yang lebih sistematis dan berbasis observasi serta eksperimen. Pergeseran dari pemikiran filosofis spekulatif ke metode ilmiah yang lebih empiris menandai awal perkembangan ilmu pengetahuan yang terus berlanjut hingga saat ini. Dengan demikian, Hellenisme bukan sekadar fase sejarah, tetapi juga fondasi penting bagi evolusi pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan di dunia Barat dan sekitarnya.
Analisis Metode dan Struktur serta Tujuan Pembahasan Filsafat Rais, Muhammad Zaki; Rizal, Taufik; Pratama, Fikri Kholis; Syahputra, Heru
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 1 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i1.18171

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis metode, struktur, dan tujuan dalam pembahasan filsafat, dengan fokus pada bagaimana ketiga elemen tersebut saling berinteraksi untuk membentuk pemahaman yang komprehensif tentang konsep-konsep filosofis. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka dengan pendekatan kualitatif, yang melibatkan analisis kritis terhadap berbagai teks filsafat klasik dan kontemporer. Struktur pembahasan filsafat dianalisis melalui pengidentifikasian kerangka logis yang digunakan dalam argumen-argumen filosofis, termasuk deduksi, induksi, dan dialektika. Tujuan pembahasan filsafat dikaji dengan menelusuri berbagai tujuan filsuf, seperti pencarian kebenaran, pemahaman eksistensial, dan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan serta etika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode, struktur, dan tujuan dalam filsafat berperan penting dalam membangun argumen yang koheren dan relevan dengan konteks zaman. Temuan ini memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang bagaimana pendekatan filosofis dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang kehidupan, pengetahuan, dan moralitas.