Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

EKOPEDAGOGI DALAM CERITA RAKYAT WANDIUNDIU SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN IPA SMP Dyah Pramesthi Isyana Ardyati; S. Hafidhawati Andaris; Sri Gustina; Iin Nur Awatif
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i1.8340

Abstract

Science learning in the Merdeka Curriculum emphasizes the relevance of scientific concepts to students’ real-life contexts. Folklore, as part of local wisdom, contains ecological knowledge that can support science learning, particularly in coastal areas. This study aims to analyze the potential of the Buton folklore Wandiundiu as an ecopedagogy-based science learning resource and to map it to the Science Learning Outcomes of Phase D. This study employed a descriptive qualitative approach using content analysis. The primary data were obtained from the documented text of Wandiundiu, while supporting data were collected through interviews with a cultural expert, science teachers, and junior high school students. The analysis focused on narrative segments representing human-environment interactions and the use of marine resources, excluding fantastical elements to avoid scientific misconceptions. The results show that Wandiundiu represents ecological concepts such as marine ecosystems, energy flow in food chains, human dependence on ecosystems, and system balance. These findings indicate that Wandiundiu has strong potential as a contextual science learning resource when accompanied by appropriate scientific explanations.. ABSTRAK Pembelajaran IPA dalam Kurikulum Merdeka menekankan keterkaitan antara konsep ilmiah dan konteks kehidupan peserta didik. Cerita rakyat sebagai bagian dari kearifan lokal menyimpan potensi pengetahuan ekologis yang relevan untuk pembelajaran IPA, khususnya di wilayah pesisir. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi cerita rakyat Buton Wandiundiu sebagai sumber pembelajaran IPA berbasis ekopedagogi serta memetakan keterkaitannya dengan Capaian Pembelajaran (CP) IPA Fase D. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis isi. Data utama berupa teks cerita Wandiundiu yang terdokumentasi dalam kumpulan cerita rakyat Buton-Muna, sedangkan data pendukung diperoleh melalui wawancara dengan budayawan, guru IPA SMP, dan peserta didik. Analisis difokuskan pada segmen cerita yang merepresentasikan interaksi manusia dengan lingkungan pesisir dan pemanfaatan sumber daya laut, sementara unsur cerita yang bersifat fantastis tidak dianalisis guna menghindari miskonsepsi ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita Wandiundiu memuat konsep ekologi seperti ekosistem laut, aliran energi dalam rantai makanan, ketergantungan manusia terhadap ekosistem, dan keseimbangan sistem kehidupan. Temuan ini menunjukkan bahwa cerita rakyat Wandiundiu berpotensi digunakan sebagai konteks pembelajaran IPA yang bermakna dan kontekstual apabila disertai klarifikasi ilmiah oleh guru..    
PEMETAAN LITERASI SAINS DAN PENGENALAN PEMBELAJARAN IPA KONTEKSTUAL BAGI SANTRI PESANTREN S. Hafidhawati Andarias; Dyah Pramesthi Isyana Ardyati; Jumiati Jumiati; Arlin Syahrul; Iin Nur Awatip
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.40578

Abstract

Abstrak: Terbatasnya pengalaman pembelajaran IPA di pesantren menyebabkan perlunya pemetaan kemampuan awal literasi sains sebagai dasar penyusunan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memetakan literasi sains dan memperkenalkan pembelajaran IPA kontekstual kepada delapan santri di salah satu lembaga pendidikan Islam. Kegiatan dilaksanakan melalui pemetaan literasi sains, analisis hasil pemetaan sebagai needs assessment, perancangan dan pelaksanaan praktikum osmosis serta emulsifikasi, kemudian dievaluasi melalui observasi dan refleksi. Hasil pemetaan menunjukkan skor rata-rata kemampuan menjelaskan fenomena ilmiah sebesar 2,88 (sedang), mengevaluasi dan merancang penyelidikan sebesar 3,25 (baik), menafsirkan data dan bukti ilmiah sebesar 3,00 (sedang), serta literasi sains konseptual sebesar 4,25 (sangat baik). Berdasarkan hasil pemetaan tersebut, disusun pembelajaran IPA kontekstual yang sesuai dengan kebutuhan peserta. Hasil evaluasi menunjukkan sebagian besar santri berpartisipasi aktif selama pembelajaran dan mampu menghubungkan hasil pengamatan praktikum dengan konsep IPA yang dipelajari. Luaran kegiatan berupa tersusunnya profil literasi sains peserta sebagai dasar penyusunan pembelajaran IPA kontekstual yang sesuai dengan kebutuhan belajar santri.Abstract: Limited exposure to science learning in Islamic boarding schools highlights the need to assess participants’ initial scientific literacy as a basis for designing learning activities that address their learning needs. This community service program aimed to map scientific literacy and introduce contextual science learning to eight students at an Islamic educational institution. The program was conducted through scientific literacy assessment, analysis of the assessment results as a needs assessment, the design and implementation of contextual science learning through osmosis and emulsification experiments, followed by evaluation using observation and reflective discussion. The assessment revealed mean scores of 2.88 (moderate) for explaining scientific phenomena, 3.25 (good) for evaluating and designing scientific investigations, 3.00 (moderate) for interpreting data and scientific evidence, and 4.25 (very good) for conceptual scientific literacy. Based on these findings, a contextual science learning program was designed to address the participants’ learning needs. The evaluation indicated that most participants actively engaged in the learning activities and were able to relate their practical observations to the scientific concepts being learned. The primary outcome of the program was the development of a scientific literacy profile that served as the basis for designing contextual science learning tailored to the participants’ learning needs.