Articles
Analisis Sedimen Urine Hasil Konsumsi Air Sumber Mata Air Pulejajar dan Air Galon Isi Ulang Pada Masyarakat Padukuhan Jepitu
Lathifah, Kholishatun;
Amalia, Arifiani Agustin;
Hadi, Wahid Syamsul
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Air merupakan salah satu komponen yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Air minum yang dapat dikonsumsi dapat berasal dari berbagai sumber, seperti air galon isi ulang, sumber mata air, dan air galian sumur. Sumber air yang dikonsumsi sedikit banyak mempengaruhi kesehatan tubuh kita. Cemaran yang ada pada air konsumsi dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti letak geografis, dan kondisi lingkungan. Salah satu kondisi geografis yang mempengaruhi sumber mata air adalah pegunungan karst. Kandungan mineral berlebih yang kemudian dikonsumsi akan menimbulkan efek negatif bagi tubuh, salah satunya batu ginjal dan batu saluran kemih. Adanya gangguan batu ginjal dan batu saluran kencing dapat diamati melalui sedimen urine. Ciri dari adanya gangguan tersebut adalah munculnya kristal kalsium oksalat abnormal pada urine. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kandungan dan jumlah sedimen urine masyarakat yang mengkonsumsi air sumber mata air Pulejajar dan air galon isi ulang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif menggunakan desain penelitian deskriptif analitik, kemudian dilakukan uji normalitas menggunakan uji Shapiro Wilk dan uji Friedman tes unttuk mengetahui perbedaan kandungan sedimen urine anara sumber mata air Pulejajar dan air galon isi uang. Pada uji normalitas yang telah dilakukan didapatkan hasil Asymp Sig sebesar 0.000 diaman hasil tersebut dikatakan bahwa data tidak terdistribusi normal. Sedangkan pada uji Friedman tes didapatkan hasil nilai p value sebesar 0.000 dimana nilai tersebut lebih kecil dari pada a yaitu sebesar 0.05 dimana 0.000 < 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara sedimen urine masyarakat padukuhan jepitu kelurahan jepitu yang mengkonsumsi sumber mata air Pulejajar.
Pengaruh Homogenisasi Sekunder Inversi 5 Kali dan 8 Kali terhadap Jumlah Eritrosit
Hadi, Tri Handoko Satrio;
Hadi, Wahid Syamsul;
Irfiani, Farida Noor
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Latar belakang penelitian ini adalah pemeriksaan eritrosit sebagai bagian dari skrining rutin untuk mendiagnosis gangguan hematologis. Tahap pra-analitik, khususnya homogenisasi, penting karena bisa terjadi kesalahan. Darah dalam tabung antikoagulan harus segera dicampur (homogenisasi primer) dengan membolak-balik tabung 8-12 kali menurut standar CLSI, BD Vacutainer, dan PerMenKes. Jika pemeriksaan tertunda, darah harus dihomogenisasi kembali (homogenisasi sekunder). Tujuan penelitian adalah melihat perbedaan hasil hitung eritrosit pada homogenisasi sekunder 5 dan 8 kali. Metode yang digunakan adalah pra-eksperimen dengan teknik Purposive Sampling. Hasil homogenisasi 5 kali memberikan nilai rata-rata eritrosit 4,8163 x106/µL, sedangkan 8 kali sebesar 4,8250 x106/µL. Analisis statistik menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (p = 0,970). Kesimpulannya tidak ada perbedaan jumlah eritrosit antara homogenisasi 5 dan 8 kali.
Hubungan Jumlah Leukosit dan Red-Cell Distribution Width (RDW) terhadap Tingkat Keparahan Pneumonia Pada Balita
Indrawati, Renita;
Hadi, Wahid Syamsul;
Mu’awanah, Isnin Aulia Ulfah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pneumonia adalah istilah yang mencakup setiap radang paru dimana alveloli terisi dengan cairan dan sel darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jumlah leukosit dan RDW terhadap tingkat keparahan pneumonia pada balita. Penelitian ini merupakan deskriptif analitik, dengan pendekatan cross-sectional, menggunakan 66 sampel data rekam medis serta hasil pemeriksaan laboratorium dari RS PKU Muhammdiyah Kota Yogyakrta tahun 2023. Hasil uji chi-square didapatkan 0,002 untuk jumlah leukosit serta 0,001 untuk nilai red-cell distribution width menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna, dan untuk uji phi didapatkan 0,416 untuk jumlah leukosit serta 0,456 untuk nilai red-cell distribution width menunjukan terdapat korelasi yang cukup kuat. Disimpulkan bahwa terdapat peningkatan jumlah leukosit dan peningkatan nilai RDW terhadap tingkat keparahan pneumonia pada balita yang dirawat di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2023.
Hubungan Kadar Kolesterol dengan Usia Lanjut dan Jenis Kelamin Pada Pasien Hipertensi di RSUD Nyi Ageng Serang Kulon Progo
Pasadena, Renda;
Amalia, Arifiani Agustin;
Hadi, Wahid Syamsul
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kadar kolesterol darah yang tinggi dapat menyebabkan terbentuknya plak pada dinding pembuluh darah arteri kemudian lumen (ruang) pembuluh darah menyempit dan elastisitas dinding pembuluh darah menurun sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah atau hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya korelasi atau signifikasi hubungan antara kadar kolesterol dengan usia lanjut dan jenis kelamin pada pasien hipertensi di RSUD Nyi Ageng Serang Kulon Progo. Metode Penelitian menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan metode Cross Sectional. Populasi sampel penelitian ini ialah semua pasien hipertensi baik laki – laki maupun perempuan, usia 46 – 65 tahun berjumlah 2632 pasien. Sampel berjumlah 202 pasien yang digunakan diambil dari populasi dengan teknik Purposive Sampling. Data yang didapatkan kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan Uji Korelasi Spearman. Hasil Uji Korelasi Sepearman yang dilakukan didapatkan sig = 0,833 untuk variabel kadar kolesterol total dengan usia, sedangkan untuk variabel kadar kolesterol total dengan jenis kelamin didapatkan sig = 0,208. Berdasarkan hasil uji korelasi spearman didapatkan nilai sig > 0,05 yang berarti H1 ditolak dan H0 diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar kolesterol total dengan usia lanjut dan jenis kelamin pada pasien hipertensi.
PENGARUH PENDIAMAN PLASMA SITRAT SELAMA 2 JAM PADA SUHU 25°C TERHADAP HASIL ACTIVATED PARTIAL THROMBOPLASTIN TIME (APTT)
Munawaroh, Nisa;
Hadi, Wahid Syamsul;
Mu’awanah, Isnin Aulia Ulfah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jkt.v5i3.32288
Gangguan perdarahan merupakan kelainan perdarahan yang terjadi akibat ketidakmampuan pembuluh darah, trombosit, dan faktor pembekuan pada sistem hemostatik. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh pendiaman sampel plasma sitrat selama 2 jam pada suhu 25°C terhadap hasil APTT. Jenis penelitian ini adalah Pre-experimental dengan desain One-shot case study. Jumlah sampel penelitian ini yaitu sebanyak 15 sampel, yang dilakukan secara purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan rata-rata nilai APTT pada plasma sitrat yang segera diperiksa adalah 34,08 detik, sedangkan rata-rata nilai APTT pada plasma sitrat yang diakukan pendiaman selama 2 jam pada suhu 25°C adalah 38,98 detik. Hasil uji statistik Independent Sample T-Test didapat nilai signifikansi sebesar 0,046. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil yang signifikan secara statistik antara sampel plasma sitrat yang segera diperiksa dan sampel plasma sitrat yang dilakukan pendiaman selama 2 jam pada suhu 25°C terhadap nilai APTT.
GAMBARAN CROSSMATCH METODE COLUMN AGGLUTINATION TEST DENGAN INKUBASI DAN TANPA INKUBASI PADA PASIEN TALASEMIA
Sukma, Latifah;
Hadi, Wahid Syamsul;
Astuti, Tri Dyah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jkt.v5i4.37917
Talasemia merupakan penyakit langka yang memiliki kelainan pada darah dan membuat penderitanya mengalami anemia parah serta memiliki resiko pembengkakan hati juga limpa. Kabupaten Banyumas merupakan salah satu wilayah yang menyumbang angka penyandang talasemia yang cukup besar di Jawa Tengah, setidaknya ada sekitar 220 pasien talasemia. Sampai saat ini belum ditemukan obat untuk pasien talasemia yang dapat menyembuhkan secara total selain melakukan transfusi. Pemeriksaan pada crossmatch sampel pasien talasemia sering terjadinya inkompatibilitas yaitu antigen pada darah donor dan antibodi pada serum pasien tidak bereaksi dengan optimal sehingga terjadi aglutinasi, karena pasien talasemia sering mendapatkan transfusi berulang sehingga membentuk antibodi baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran crossmatch dengan inkubasi dan tanpa inkubasi pada pasien talasemia. Jenis penelitian ini adalah Deskriptif kuantitatif experimental dengan desain One-shot case study. Pengambilan sampel dilakukan secara random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 14 sampel. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan hasil crossmatch menggunakan sampel darah pasien talasemia dengan inkubasi dan tanpa inkubasi. hasil yang didapatkan yaitu kompatibel sebesar 64,3%, inkompatibel sebesar 35,7% dengan proses inkubasi begitupun juga proses tanpa inkubasi didapatkan hasil dengan besaran yang sama. Tidak didapatkan perbedaan yang signifikan antara hasil crossmatch metode column agglutination test dengan inkubasi dan tanpa inkubasi.
GAMBARAN JUMLAH LEUKOSIT DAN NILAI LED PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI RS PARU RESPIRA YOGYAKARTA
Elfany, Vivi;
Astuti, Tri Dyah;
Hadi, Wahid Syamsul
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jkt.v5i4.38879
Tuberkulosis merupakan suatu penyakit yang sebagian besar disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dimana penularan dapat melalui udara dan dapat terjadi melalui batuk dan juga bisa berupa bersin yang melepaskan basil tuberkulosis ke udara dalam bentuk aerosol atau butiran kecil. Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit infeksius yang menyerang parankim paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jumlah dari leukosit dan nilai dari laju endap darah (LED) pada cakupan berupa penderita tuberkulosis paru di Rumah Sakit Paru Respira Yogyakarta. jenis dari penelitian ini adalah berupa deskriptif kuantitatif dengan suatu pendekatan cross-sectional, melibatkan 22 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data sekunder diperoleh dari rekam medis pada rentang bulan Januari-Desember 2023. Data dianalisis menggunakan uji Spearman menunjukkan hubungan yang bermakna antara jumlah dari leukosit dan juga nilai dari laju endap darah (LED) pada penderita sebelum melaksanakan suatu pengobatan (P=0,016), setelah tahap intensif (P=0,012), dan setelah tahap lanjutan (P=0,004). Uji Friedman menunjukkan perbedaan signifikan dalam kadar leukosit dan LED sebelum dan setelah pengobatan (P=0,000). Analisis Post-Hoc dengan uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan signifikan pada jumlah leukosit setelah tahap intensif dan lanjutan (P=0,013) serta pada nilai LED sebelum dan setelah tahap intensif (P=0,009) dan antara tahap intensif dan lanjutan (P=0,000), yang menunjukkan pengobatan lanjutan efektif dalam mengurangi inflamasi. Terdapat hubungan bermakna dan perbedaan signifikan antara jumlah dari leukosit dan juga nilai dari laju endap darah (LED) pada penderita tuberkulosis paru pada sebelum dan juga ketika sesudah melakukan suatu pengobatan.
PERBANDINGAN PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN METODE POINT OF CARE TESTING (POCT) DAN HEMATOLOGY ANALYZER DI PUSKESMAS X
Al Ghassani, Esty Badzlina;
Anwar, Chairil;
Hadi, Wahid Syamsul
Jurnal Analis Laboratorium Medik Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Analis Laboratorium Medik
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51544/jalm.v10i2.6341
Latar belakang: Laboratorium merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang sangat penting untuk membantu dokter sebagai penunjang diagnosis. Pemeriksaan hemoglobin (Hb) merupakan indikator penting masalah kesehatan. Metode POCT sering digunakan di fasilitas kesehatan primer karena kecepatan dan portabilitasnya, ideal untuk area pedesaan namun, POCT memiliki keterbatasan dalam jenis pemeriksaan serta akurasi dan presisi dibandingkan Hematology Analyzer yang merupakan gold standard Tujuan: mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan hemoglobin menggunakan metode POCT dan Hematology Analyzer. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik menggunakan objek penelitian berupa eksperimen yang dilakukan di Puskesmas X pada bulam Juni 2025 dengan total sampel 44 Hasil: penelitian ini menjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan dengan antara pemeriksaan hemoglobin menggunakan metode POCT dan Hematology Analyzer dengan nilai sig 0.083 (<0,05) Kesimpulan: POCT dapat digunakan sebagai alternatif atau pengganti Hematology Analyzer dalam pemeriksaan kadar hemoglobin.
HUBUNGAN ANTARA KADAR HEMOGLOBIN DAN HEMATOKRIT DENGAN FREKUENSI DAN LAMA HEMODIALISA PADA GAGAL GINJAL KRONIS
Liato, Priska Tri Utami;
Hadi, Wahid Syamsul;
Ratih, Woro Umi
Jurnal Analis Laboratorium Medik Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Analis Laboratorium Medik
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51544/jalm.v10i2.6351
Latar belakang: Gagal ginjal kronis adalah kerusakan ginjal dengan karakteristik progresif dan tidak dapat sembuh kembali. Penyakit ini menyebabkan berkurangnya produksi eritropoetin yang berdampak pada menurunnya hemoglobin dan hematokrit. Tujuan: mengetahui hubungan antara hemoglobin dan hematokrit dengan frekuensi terapi dan lama hemodialisa pasien gagal ginjal kronis. Metode: kuantitatif korelasional dan pendekatan cross-sectional. Jenis data sekunder dengan total sampel 198 sampel. Data berupa hemoglobin dan hematokrit, frekuensi terapi dan lama hemodialisa. Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji rank spearman. Hasil: rata-rata hemoglobin laki-laki yaitu 9.57 g/dL sedangkan perempuan yaitu 9.56 g/dL, rata-rata hematokrit yaitu 27, 6%. Sebanyak 97.5% pasien dengan frekuensi hemodialisa 2 kali seminggu. Lama hemodialisa >24 bulan didapatkan pada 46.0% pasien. Hasil analis uji korelasi rank spearman menunjukkan p = 0.832 (p > 0,05) dengan nilai (R) 0.015 antara hemoglobin dengan lama hemodialisa, nilai p=0.826 (p > 0,05) dengan nilai (R) 0.016 antara hemoglobin dengan frekuensi terapi, nilai p=0.909 (p > 0,05) dengan nilai (R) -0.008 antara hematokrit dengan lama hemodialisa, nilai p=0.869 (p > 0,05) dengan nilai (R) 0.012 antara hematokrit dengan frekuensi. Kesimpulan: tidak terdapat hubungan yang signifikan antara hemoglobin dengan frekuensi terapi dan lama hemodialisa serta tidak terdapat hubungan yang signifikan antara hematokrit dengan frekuensi terapi dan lama hemodialisa.
PERBANDINGAN KADAR HEMOGLOBIN PEMERIKSAAN LANGSUNG DAN PENUNDAAN 96 JAM PADA SUHU 20-25°C METODE HEMATOLOGY ANALYZER
Bustam, Lusiana;
Anwar, Chairil;
Hadi, Wahid Syamsul
Jurnal Analis Laboratorium Medik Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Analis Laboratorium Medik
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51544/jalm.v10i2.6358
Latar belakang: Anemia merupakan masalah kesehatan yang sering dijumpai di Indonesia dan menjadi fokus perhatian utama dalam layanan kesehatan, karena anemia dapat mempengaruhi kualitas hidup dan produktivitas masyarakat sehingga pemeriksaan kadar hemoglobin sangat penting untuk diagnosis dan pemantauan terapi. Tujuan: untuk menganalisis perbedaan kadar hemoglobin yang terukur antara pemeriksaan langsung dan pemeriksaan setelah penundaan selama 96 jam pada suhu ruang 20–25°C menggunakan metode hematology analyzer di RS PKU Muhammadiyah Wonosobo. Metode: digunakan, yaitu true eksperimen dengan pendekatan pre-post test only control group pada 31 sampel darah vena yang dikumpulkan secara purposive sampling, kemudian diperiksa kadar hemoglobin secara langsung dan setelah penyimpanan selama 96 jam pada suhu 20-25°C. Hasil: diperoleh nilai rata-rata kadar hemoglobin pada pemeriksaan langsung sebesar 13,8 g/dL dan meningkat menjadi 13,9 g/dL setelah penundaan. Analisis statistik paired t-test menunjukkan terdapat perbedaan signifikan secara statistik antara kedua pemeriksaan (p = 0,006), meskipun perubahan tersebut kecil secara klinis. Faktor jenis kelamin dan usia juga memengaruhi kadar hemoglobin, dimana laki-laki dan kelompok usia dewasa memiliki kadar lebih tinggi dibandingkan perempuan dan anak-anak. Kesimpulan: bahwa terdapat perbedaan signifikan terhadap penyimpanan sampel darah EDTA pada suhu 20-25°C selama 96 jam meskipun kadar hemoglobin yang diperoleh relatif stabil, namun pemeriksaan hemoglobin sebaiknya tetap dilakukan sesegera mungkin untuk memperoleh hasil yang lebih akurat.