Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

ANALISIS HASIL QUALITY CONTROL PEMERIKSAAN ELEKTROLIT TUBUH MENGGUNAKAN GRAFIK LEVEY-JENNINGS Shinta, Shafira Dinanda; Amalia, Arifiani Agustin; Hadi, Wahid Syamsul
Jurnal Insan Cendekia Vol 12 No 2 (2025): Jurnal Insan Cendekia
Publisher : STIKES Insan Cendekia Medika Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35874/jic.v12i2.1487

Abstract

ABSTRAK Quality control dilakukan untuk memastikan proses pengujian berjalan baik sehingga hasil laboratorium tetap presisi dan akurat. Pendahuluan: RS X sering melakukan pemeriksaan natrium, kalium, dan klorida dengan satu alat, sehingga perlu dipastikan alat tidak rusak agar hasil pemeriksaan tetap akurat dan presisi. Tujuan : Penelitian bertujuan menganalisis hasil quality control pemeriksaan elektrolit menggunakan grafik levey-jennings. Metode : Penelitian deskriptif cross-sectional ini menggunakan data sekunder kontrol harian elektrolit (Agustus 2024–Januari 2025) dari Laboratorium RS X dengan total sampling. Hasil : Hasil evaluasi quality control Agustus 2024-Januari 2025 menggunakan grafik Levey-Jennings pada level satu, level dua dan level tiga menunjukkan bahwa pemeriksaan natrium mengalami kesalahan 12s, 13s, 22s dan R4s. Pemeriksaan kalium mengalami keslaahan 12s, 13s dan 22s. Sedangkan pemeriksaan klorida mengalami kesalahan 12s, 13s, 22s, 41s dan 10x. Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kesalahan acak yaitu 12s dan 13s serta kesalahan sistematik yaitu 22s, R4s, 41s dan 10x pada tiap parameter setiap bulannya. Evaluasi nilai presisi pemeriksaan elektrolit dinyatakan presisi. Evaluasi bias natrium tidak akurat kecuali Oktober yang akurat. Hasil bias kalium akurat. Sedangkan bias klorida semua tidak akurat. Kata Kunci: Quality Control, Elektrolit, Grafik Levey-Jennings ABSTRACT Quality control is performed to ensure that the testing process runs smoothly so that laboratory results remain precise and accurate. Introduction: X Hospital frequently conducts sodium, potassium, and chloride tests using a single device, so it is necessary to ensure that the device is not damaged in order to maintain accurate and precise test results. Objective: This study aims to analyze the results of electrolyte test quality control using a Levey-Jennings chart. Method: This descriptive cross-sectional study utilized secondary data from daily electrolyte quality control (August 2024–January 2025) from the Laboratory of RS X using total sampling. Results: The quality control evaluation results from August 2024 to January 2025 using the Levey-Jennings chart at levels one, two, and three showed that sodium testing had errors of 12s, 13s, 22s and R4s. Potassium tests had errors of 12s, 13s and 22s. Chloride tests had errors of 12s, 13s, 22s, 41s and 10x. Conclusion: Based on the research results, random errors of 12s, 13s and systematic errors of 22s, R4s, 41s and 10x were found in each parameter every month. The precision evaluation of the electrolyte tests was deemed precise. The sodium bias evaluation was inaccurate except for October, which was accurate. The potassium bias results were accurate. However, all chloride bias results were inaccurate. Keywords: Quality Control, Electrolyte, Levey-Jennings Graph
Analisis Sedimen Urine Hasil Konsumsi Air Sumber Mata Air Pulejajar dan Air Galon Isi Ulang Pada Masyarakat Padukuhan Jepitu Lathifah, Kholishatun; Amalia, Arifiani Agustin; Hadi, Wahid Syamsul
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air merupakan salah satu komponen yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Air minum yang dapat dikonsumsi dapat berasal dari berbagai sumber, seperti air galon isi ulang, sumber mata air, dan air galian sumur. Sumber air yang dikonsumsi sedikit banyak mempengaruhi kesehatan tubuh kita. Cemaran yang ada pada air konsumsi dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti letak geografis, dan kondisi lingkungan. Salah satu kondisi geografis yang mempengaruhi sumber mata air adalah pegunungan karst. Kandungan mineral berlebih yang kemudian dikonsumsi akan menimbulkan efek negatif bagi tubuh, salah satunya batu ginjal dan batu saluran kemih. Adanya gangguan batu ginjal dan batu saluran kencing dapat diamati melalui sedimen urine. Ciri dari adanya gangguan tersebut adalah munculnya kristal kalsium oksalat abnormal pada urine. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kandungan dan jumlah sedimen urine masyarakat yang mengkonsumsi air sumber mata air Pulejajar dan air galon isi ulang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif menggunakan desain penelitian deskriptif analitik, kemudian dilakukan uji normalitas menggunakan uji Shapiro Wilk dan uji Friedman tes unttuk mengetahui perbedaan kandungan sedimen urine anara sumber mata air Pulejajar dan air galon isi uang. Pada uji normalitas yang telah dilakukan didapatkan hasil Asymp Sig sebesar 0.000 diaman hasil tersebut dikatakan bahwa data tidak terdistribusi normal. Sedangkan pada uji Friedman tes didapatkan hasil nilai p value sebesar 0.000 dimana nilai tersebut lebih kecil dari pada a yaitu sebesar 0.05 dimana 0.000 < 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara sedimen urine masyarakat padukuhan jepitu kelurahan jepitu yang mengkonsumsi sumber mata air Pulejajar.
Pengaruh Homogenisasi Sekunder Inversi 5 Kali dan 8 Kali terhadap Jumlah Eritrosit Hadi, Tri Handoko Satrio; Hadi, Wahid Syamsul; Irfiani, Farida Noor
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah pemeriksaan eritrosit sebagai bagian dari skrining rutin untuk mendiagnosis gangguan hematologis. Tahap pra-analitik, khususnya homogenisasi, penting karena bisa terjadi kesalahan. Darah dalam tabung antikoagulan harus segera dicampur (homogenisasi primer) dengan membolak-balik tabung 8-12 kali menurut standar CLSI, BD Vacutainer, dan PerMenKes. Jika pemeriksaan tertunda, darah harus dihomogenisasi kembali (homogenisasi sekunder). Tujuan penelitian adalah melihat perbedaan hasil hitung eritrosit pada homogenisasi sekunder 5 dan 8 kali. Metode yang digunakan adalah pra-eksperimen dengan teknik Purposive Sampling. Hasil homogenisasi 5 kali memberikan nilai rata-rata eritrosit 4,8163 x106/µL, sedangkan 8 kali sebesar 4,8250 x106/µL. Analisis statistik menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (p = 0,970). Kesimpulannya tidak ada perbedaan jumlah eritrosit antara homogenisasi 5 dan 8 kali.
Hubungan Jumlah Leukosit dan Red-Cell Distribution Width (RDW) terhadap Tingkat Keparahan Pneumonia Pada Balita Indrawati, Renita; Hadi, Wahid Syamsul; Mu’awanah, Isnin Aulia Ulfah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pneumonia adalah istilah yang mencakup setiap radang paru dimana alveloli terisi dengan cairan dan sel darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jumlah leukosit dan RDW terhadap tingkat keparahan pneumonia pada balita. Penelitian ini merupakan deskriptif analitik, dengan pendekatan cross-sectional, menggunakan 66 sampel data rekam medis serta hasil pemeriksaan laboratorium dari RS PKU Muhammdiyah Kota Yogyakrta tahun 2023. Hasil uji chi-square didapatkan 0,002 untuk jumlah leukosit serta 0,001 untuk nilai red-cell distribution width menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna, dan untuk uji phi didapatkan 0,416 untuk jumlah leukosit serta 0,456 untuk nilai red-cell distribution width menunjukan terdapat korelasi yang cukup kuat. Disimpulkan bahwa terdapat peningkatan jumlah leukosit dan peningkatan nilai RDW terhadap tingkat keparahan pneumonia pada balita yang dirawat di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2023.
Hubungan Kadar Kolesterol dengan Usia Lanjut dan Jenis Kelamin Pada Pasien Hipertensi di RSUD Nyi Ageng Serang Kulon Progo Pasadena, Renda; Amalia, Arifiani Agustin; Hadi, Wahid Syamsul
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kadar kolesterol darah yang tinggi dapat menyebabkan terbentuknya plak pada dinding pembuluh darah arteri kemudian lumen (ruang) pembuluh darah menyempit dan elastisitas dinding pembuluh darah menurun sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah atau hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya korelasi atau signifikasi hubungan antara kadar kolesterol dengan usia lanjut dan jenis kelamin pada pasien hipertensi di RSUD Nyi Ageng Serang Kulon Progo. Metode Penelitian menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan metode Cross Sectional. Populasi sampel penelitian ini ialah semua pasien hipertensi baik laki – laki maupun perempuan, usia 46 – 65 tahun berjumlah 2632 pasien. Sampel berjumlah 202 pasien yang digunakan diambil dari populasi dengan teknik Purposive Sampling. Data yang didapatkan kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan Uji Korelasi Spearman. Hasil Uji Korelasi Sepearman yang dilakukan didapatkan sig = 0,833 untuk variabel kadar kolesterol total dengan usia, sedangkan untuk variabel kadar kolesterol total dengan jenis kelamin didapatkan sig = 0,208. Berdasarkan hasil uji korelasi spearman didapatkan nilai sig > 0,05 yang berarti H1 ditolak dan H0 diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar kolesterol total dengan usia lanjut dan jenis kelamin pada pasien hipertensi.
PENGARUH PENDIAMAN PLASMA SITRAT SELAMA 2 JAM PADA SUHU 25°C TERHADAP HASIL ACTIVATED PARTIAL THROMBOPLASTIN TIME (APTT) Munawaroh, Nisa; Hadi, Wahid Syamsul; Mu’awanah, Isnin Aulia Ulfah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.32288

Abstract

Gangguan perdarahan merupakan kelainan perdarahan yang terjadi akibat ketidakmampuan pembuluh darah, trombosit, dan faktor pembekuan pada sistem hemostatik. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh pendiaman sampel plasma sitrat selama 2 jam pada suhu 25°C terhadap hasil APTT. Jenis penelitian ini adalah Pre-experimental dengan desain One-shot case study. Jumlah sampel penelitian ini yaitu sebanyak 15 sampel, yang dilakukan secara purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan rata-rata nilai APTT pada plasma sitrat yang segera diperiksa adalah 34,08 detik, sedangkan rata-rata nilai APTT pada plasma sitrat yang diakukan pendiaman selama 2 jam pada suhu 25°C adalah 38,98 detik. Hasil uji statistik Independent Sample T-Test didapat nilai signifikansi sebesar 0,046. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil yang signifikan secara statistik antara sampel plasma sitrat yang segera diperiksa dan sampel plasma sitrat yang dilakukan pendiaman selama 2 jam pada suhu 25°C terhadap nilai APTT.
GAMBARAN CROSSMATCH METODE COLUMN AGGLUTINATION TEST DENGAN INKUBASI DAN TANPA INKUBASI PADA PASIEN TALASEMIA Sukma, Latifah; Hadi, Wahid Syamsul; Astuti, Tri Dyah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.37917

Abstract

Talasemia merupakan penyakit langka yang memiliki kelainan pada darah dan membuat penderitanya mengalami anemia parah serta memiliki resiko pembengkakan hati juga limpa. Kabupaten Banyumas merupakan salah satu wilayah yang menyumbang angka penyandang talasemia yang cukup besar di Jawa Tengah, setidaknya ada sekitar 220 pasien talasemia. Sampai saat ini belum ditemukan obat untuk pasien talasemia yang dapat menyembuhkan secara total selain melakukan transfusi. Pemeriksaan pada crossmatch sampel pasien talasemia sering terjadinya inkompatibilitas yaitu antigen pada darah donor dan antibodi pada serum pasien tidak bereaksi dengan optimal sehingga terjadi aglutinasi, karena pasien talasemia sering mendapatkan transfusi berulang sehingga membentuk antibodi baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran crossmatch dengan inkubasi dan tanpa inkubasi pada pasien talasemia. Jenis penelitian ini adalah Deskriptif kuantitatif experimental dengan desain One-shot case study. Pengambilan sampel dilakukan secara random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 14 sampel. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan hasil crossmatch menggunakan sampel darah pasien talasemia dengan inkubasi dan tanpa inkubasi. hasil yang didapatkan yaitu kompatibel sebesar 64,3%, inkompatibel sebesar 35,7% dengan proses inkubasi begitupun juga proses tanpa inkubasi didapatkan hasil dengan besaran yang sama. Tidak didapatkan perbedaan yang signifikan antara hasil crossmatch metode column agglutination test dengan inkubasi dan tanpa inkubasi.
GAMBARAN JUMLAH LEUKOSIT DAN NILAI LED PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI RS PARU RESPIRA YOGYAKARTA Elfany, Vivi; Astuti, Tri Dyah; Hadi, Wahid Syamsul
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 4 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i4.38879

Abstract

Tuberkulosis merupakan suatu penyakit yang sebagian besar disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dimana penularan dapat melalui udara dan dapat terjadi melalui batuk dan juga bisa berupa bersin yang melepaskan basil tuberkulosis ke udara dalam bentuk aerosol atau butiran kecil. Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit infeksius yang menyerang parankim paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jumlah dari leukosit dan nilai dari laju endap darah (LED) pada cakupan berupa penderita tuberkulosis paru di Rumah Sakit Paru Respira Yogyakarta. jenis dari penelitian ini adalah berupa deskriptif kuantitatif dengan suatu pendekatan cross-sectional, melibatkan 22 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data sekunder diperoleh dari rekam medis pada rentang bulan Januari-Desember 2023. Data dianalisis menggunakan uji Spearman menunjukkan hubungan yang bermakna antara jumlah dari leukosit dan juga nilai dari laju endap darah (LED) pada penderita sebelum melaksanakan suatu pengobatan (P=0,016), setelah tahap intensif (P=0,012), dan setelah tahap lanjutan (P=0,004). Uji Friedman menunjukkan perbedaan signifikan dalam kadar leukosit dan LED sebelum dan setelah pengobatan (P=0,000). Analisis Post-Hoc dengan uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan signifikan pada jumlah leukosit setelah tahap intensif dan lanjutan (P=0,013) serta pada nilai LED sebelum dan setelah tahap intensif (P=0,009) dan antara tahap intensif dan lanjutan (P=0,000), yang menunjukkan pengobatan lanjutan efektif dalam mengurangi inflamasi. Terdapat hubungan bermakna dan perbedaan signifikan antara jumlah dari leukosit dan juga nilai dari laju endap darah (LED) pada penderita tuberkulosis paru pada sebelum dan juga ketika sesudah melakukan suatu pengobatan.
PERBANDINGAN PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN METODE POINT OF CARE TESTING (POCT) DAN HEMATOLOGY ANALYZER DI PUSKESMAS X Al Ghassani, Esty Badzlina; Anwar, Chairil; Hadi, Wahid Syamsul
Jurnal Analis Laboratorium Medik Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Analis Laboratorium Medik
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jalm.v10i2.6341

Abstract

Latar belakang: Laboratorium merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang sangat penting untuk membantu dokter sebagai penunjang diagnosis. Pemeriksaan hemoglobin (Hb) merupakan indikator penting masalah kesehatan. Metode POCT sering digunakan di fasilitas kesehatan primer karena kecepatan dan portabilitasnya, ideal untuk area pedesaan namun, POCT memiliki keterbatasan dalam jenis pemeriksaan serta akurasi dan presisi dibandingkan Hematology Analyzer yang merupakan gold standard Tujuan: mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan hemoglobin menggunakan metode POCT dan Hematology Analyzer. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik menggunakan objek penelitian berupa eksperimen yang dilakukan di Puskesmas X pada bulam Juni 2025 dengan total sampel 44 Hasil: penelitian ini menjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan dengan antara pemeriksaan hemoglobin menggunakan metode POCT dan Hematology Analyzer dengan nilai sig 0.083 (<0,05) Kesimpulan: POCT dapat digunakan sebagai alternatif atau pengganti Hematology Analyzer dalam pemeriksaan kadar hemoglobin.
HUBUNGAN ANTARA KADAR HEMOGLOBIN DAN HEMATOKRIT DENGAN FREKUENSI DAN LAMA HEMODIALISA PADA GAGAL GINJAL KRONIS Liato, Priska Tri Utami; Hadi, Wahid Syamsul; Ratih, Woro Umi
Jurnal Analis Laboratorium Medik Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Analis Laboratorium Medik
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jalm.v10i2.6351

Abstract

Latar belakang: Gagal ginjal kronis adalah kerusakan ginjal dengan karakteristik progresif dan tidak dapat sembuh  kembali. Penyakit ini menyebabkan berkurangnya produksi eritropoetin yang berdampak pada menurunnya hemoglobin dan hematokrit. Tujuan: mengetahui hubungan antara hemoglobin dan hematokrit dengan frekuensi terapi dan lama hemodialisa pasien gagal ginjal kronis. Metode: kuantitatif korelasional dan pendekatan cross-sectional. Jenis data sekunder dengan total sampel 198 sampel. Data berupa hemoglobin dan hematokrit, frekuensi terapi dan lama hemodialisa. Analisis  statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji rank spearman.   Hasil: rata-rata hemoglobin laki-laki yaitu 9.57 g/dL sedangkan perempuan yaitu 9.56 g/dL, rata-rata hematokrit yaitu 27, 6%. Sebanyak 97.5% pasien dengan  frekuensi  hemodialisa  2 kali seminggu. Lama hemodialisa  >24 bulan didapatkan pada  46.0% pasien.  Hasil analis uji korelasi rank spearman menunjukkan  p = 0.832 (p > 0,05) dengan nilai (R) 0.015 antara hemoglobin dengan lama hemodialisa, nilai p=0.826 (p > 0,05)  dengan nilai (R) 0.016 antara hemoglobin dengan frekuensi terapi, nilai p=0.909 (p > 0,05)  dengan nilai (R) -0.008 antara hematokrit dengan lama hemodialisa, nilai p=0.869 (p > 0,05)  dengan nilai (R) 0.012 antara hematokrit dengan frekuensi. Kesimpulan: tidak terdapat hubungan yang signifikan antara hemoglobin dengan frekuensi terapi dan lama hemodialisa serta tidak terdapat hubungan yang signifikan antara hematokrit dengan frekuensi terapi dan lama hemodialisa.