Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Terapi Oksigen High Flow Nasal Cannula (Kanula Hidung Arus Tinggi) pada Pasien Kritis Covid-19 Kurnia, Dedy; Effendi, Rinal; Syahrul, Muhammad Zulfadli
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.147 KB)

Abstract

Wabah novel coronavirus (SARS-CoV-2) yang pertama kali ditemukan di China telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Manifestasi klinis yang muncul pada pasien dimulai dari asimptomatik sampai simptomatik gejala ringan dan berat. Pasien yang awalnya memiliki gejala ringan dan sedang yang dirawat diruangan biasa dapat berlanjut menjadi berat dan harus dipindakan ke rawatan yang lebih internsif dengan intubasi dan ventilator. Peningkatan kasus Covid-19 yang sangat cepat menyebabkan berkurangnya sarana dan prasarana penunjang seperti alat intubasi dan ventilator sehingga diperlukan terapi non mekanis yang dapat menurunkan penggunaan terapi mekanis sehingga angka morbiditas dan mortalitas dapat ditekan. Salah satu terapi oksigen non mekanis adalah high flow nasal cannula (HFNC). Literature review ini bertujuan untuk mengetahui manfaat dari terapi oksigen HFNC pada pasien kritis Covid-19. Metode yang digunakan pada literature review ini yaitu dengan kata kunci Medical Subject Headings (yaitu acute respiratory distress syndrome, covid-19, critically ill, high flow nasal cannula, hypoxemia). Dari hasil pencarian literasi menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi, didapatkan 25 jurnal yang digunakan dalam karya ini. Pada banyak penelitian menunjukkan bahwa penggunaan terapi HFNC direkomendasikan sebagai terapi pasien kritis Covid-19 untuk mengurangi angka kejadian pasien dilakukan intubasi dan lama rawatan ICU. Terapi memiliki keuntungan fisiologis pada tubuh manusia. Keberhasilan penggunaan HFNC dapat diukur dengan indeks ROX. Indeks ROX > 4,88 menjadi ukuran untuk menentukan keberhasilan penggunaan HFNC pada pasien kritis Covid-19.
Tata Laksana Anestesi pada Sectio Caesar Pasien G4P3A0H3 gravid aterm 38-39 minggu dengan Hipertiroid Muhammad Zulfadli Syahrul; Nabila Jasmine
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i1.990

Abstract

Hipertiroidisme merupakan peningkatan abnormal konsentrasi serum dari hormon tiroid bebas. Kelainan tiroid merupakan abnormalitas endokrin kedua tersering dalam masa kehamilan dan telah diketahui bahwa disfungsi tiroid dapat mengakibatkan efek yang merugikan baik bagi ibu maupun janin. Pasien hipertiroid memiliki risiko khusus apabila menjalani operasi, yakni badai tiroid, yang dapat dieksaserbasi oleh beberapa kondisi termasuk anestesia, pembedahan, perdarahan, kehamilan dan melahirkan anak (baik kelahiran normal ataupun dengan operasi caesarean). Pada pasien yang diketahui mengidap hipertiroidisme, terdapat beberapa pertimbangan dan tindakan khusus yang harus dilakukan, baik pada fase preoperatif, intraoperatif maupun postoperatif. Laporan kasus ini akan membahas pelaksanaan anestesi dan pembedahan pada seorang pasien wanita (42 tahun) dengan kehamilan cukup bulan dan riwayat hipotiroidisme terkontrol yang menjalani sectio caesarea di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
RETRACTED: Perubahan fungsi kognitif dan psikomotor residen anestesiologi dan terapi intensif setelah 32 jam kerja Muhammad Zulfadli Syahrul; Muhammad Ruswan Dachlan; Arif Hari Martono Marsaban; Diatri Nari Lastri
Majalah Kedokteran Andalas Vol 40, No 1 (2017): Published in May 2017
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v40.i1.p19-30.2017

Abstract

RETRACTEDFollowing a rigorous, carefully concerns and considered review of the article published in Majalah Kedokteran Andalas to article entitled "Perubahan fungsi kognitif dan psikomotor residen anestesiologi dan terapi intensif setelah 32 jam kerja" Vol 40, No 1, pp. 19-30, May 2017, DOI: http://dx.doi.org/10.22338/mka.v40.i1.p19-30.2017.This paper has been found to be in violation of the Majalah Kedokteran's Publication Ethics and has been retracted.The reason: Not all authors approve journal submission for publication based on the report from one of co-author.The document and its content has been removed from Majalah Kedokteran Andalas, and reasonable effort should be made to remove all references to this article.
Gambaran Kecemasan Pasien Preoperatif Sectio Caesarea dengan anestesi spinal di RSIA Siti Hawa Padang Rani Ilma Imani; Muhammad Zulfadli Syahrul; Dedy Kurnia
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 1 No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1065.819 KB) | DOI: 10.25077/jikesi.v1i2.33

Abstract

Anxiety is a response to a threat that comes nowhere, internally, indistinctly or conflictually. One common cause of the anxiety in the world is a patient that will experience an operation. The incidence is about 11-80% in the world. There are some risk factors that impact the anxiety of pre-operative patient like ages, education levels, operation histories, information resources, and etc. This study aimed to give the incidence of the anxiety of cesarean section pre-operative patients with spinal anaesthesia at Siti Hawa’s Mother and Child Hospital Padang. Specifically, cesarean section is chosen to be observed because this surgery is the most common operation in the world and spinal anesthesia is the main choice because of its rapid onset and low failure. This study was an observational-descriptive with cross-sectional design done from July until August 2018. Data were collected by direct interview with eighty-three respondents using The Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS) questionnaire. This result of this study based on APAIS questionnaire were (51,8%) patients does not feel anxiety and the most need for information was low (48,2%). The highest frequency of preoperative anxiety were patients twenty to thirty-five years old (54%), based on education levels (62,9%) patients graduated from college, based on operation histories (63%) patients that hadn’t experience the operation yet, and based on the information resources (53,3%) patients who had known the operation procedure.
Gambaran Kecemasan Praoperasi pada Pasien yang akan Menjalani Operasi Elektif di RSUP Dr. M. Djamil Padang Ayudita Silvia Hasibuan; Muhammad Zulfadli Syahrul; Gusti Revilla
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 1 No 3 (2020): November 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1226.771 KB) | DOI: 10.25077/jikesi.v1i3.124

Abstract

Background: Most patients who will undergo surgery, experience preoperative anxiety. This can affect the patient's condition in various perioperative phases. Even so, preoperative anxiety has not been systematically managed also the information about preoperative anxiety. Objective: This study aims to determine the description of anxiety in patients who will undergo elective surgery at RSUP Dr. M. Djamil padang. Methode: The design of this research is descriptive with cross sectional study. The number of samples in this study were 54 patients who would undergo elective surgery, and were taken using consecutive sampling techniques. Data were collected using The Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS) questionnaire. Results: We found 44,4% of patients experienced preoperative anxiety according to the results of the APAIS. Conclusion: Based on the results of the study concluded that the majority of patients did not experience preoperative anxiety, both based on the results obtained from the APAIS questionnaire. However, it is hoped that a systematic evaluation and good management of this preoperative anxiety, as part of improving the quality of patient care, especially in the perioperative phase.
FAKTOR YANG MENYEBABKAN KETERLAMBATAN MULAI OPERASI PERTAMA PASIEN ELEKTIF: LITERATUR REVIEW muhammad zulfadli syahrul; Muthia Sukma
HUMAN CARE JOURNAL Vol 8, No 1 (2023): Human Care Journal
Publisher : Universitas Fort De Kock

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/hcj.v8i1.2334

Abstract

AbstractDue to the high cost of operating room, hospitals should optimized operating room (OR) efficiency. One parameter that has been used to predict OR efficiency is First Case On-Time Start (FCOTS). Delayed of FCOTS causes disruption to patient flow, waste of resources, reduces hospital performance and patient satisfaction. Objective: To determined associated factors of delayed of FCOTS in elective surgery Methods: Article searches were carried out through the PubMed and ScienceDirect databases using keywords (delay) AND (first case on time start) AND (elective surgery OR surgical OR case) AND (Factor associated OR reason OR cause). 265 articles were found, but only 13 articles and 2 book fit the review. Result: There are multiples factors in delayed of surgery. This literature review demonstrates health care provider related factor (e.g lack of discipline of the surgeon and anesthesiologist), hospital-related causes (e.g. unavailable operation room, inappropriate scheduling policy, and lack of beds), followed by work-up related causes (e.g. medically unfit and changes in the treatment plan), and patient-related causes (e.g. financial problem and patient refusal).Conclusion: Delayed FCOTS of elective surgery are influenced by three essential factors: health care provider related factors, hospital system related factors, and patient related factors.Keywords: delay, elective surgery, start time Abstrak Akibat tingginya biaya pengelolaan kamar operasi, rumah sakit dituntut mengoptimalkan efisiensi kamar operasi. Salah satu parameter yang digunakan untuk memprediksi efisiensi kamar operasi adalah waktu mulai operasi elektif pasien pertama. Keterlambatan ini  menyebabkan penumpukan pasien bedah elektif, pemborosan sumber daya, serta mengurangi kinerja rumah sakit dan kepuasan pasien. Tujuan: Mengetahui faktor penyebab keterlambatan dimulainya operasi pasien elektif pertama. Metode: Penelusuran artikel dilakukan melalui database PubMed dan Sciencedirect, menggunakan kata kunci  (delay) AND (first case on time start) AND (elective surgery OR surgical OR case) AND (Factor associated OR reason OR cause).  Total temuan artikel sebanyak 265, tetapi hanya 13 artikel dan 2 buku yang sesuai untuk dimasukkan dalam ulasan ini. Hasil: Ada berbagai faktor yang menyebabkan keterlambatan mulai operasi pertama pasien elektif. Literatur review ini menunjukkan adanya faktor terkait penyedia layanan kesehatan (misalnya kurangnya disiplin dokter bedah dan anestesi) merupakan alasan utama penundaan operasi, diikuti oleh faktor sistem rumah sakit (misalnya tidak tersedia ruang operasi, penjadwalan yang tidak baik, dan kurangnya tempat tidur), lalu ada faktor terkait pasien (misalnya masalah finansial dan penolakan pasien). Simpulan: Keterlambatan mulai operasi pertama pasien elektif dipengaruhi oleh 3 faktor penting yaitu faktor terkait penyedia layanan kesehatan,, faktor sistem rumah sakit, dan faktor pasien.Kata kunci: keterlambatan, operasi elektif, waktu mulai
Gambaran Pengetahuan, Sikap, Pasien Covid-19 Mengenai Covid-19 di Puskesmas Ambacang 2020-2021 Azura Darmawan; Netti Suharti; Muhammad Zulfadli Syahrul; Yulistini Yulistini; Taufik Ashal; Elmatris Elmatris
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 3 No 4 (2022): Desember 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v3i4.1006

Abstract

Latar Belakang: Kemunculan virus COVID-19 diakhir bulan Desember 2019 telah berdampak besar pada dunia. Badan Kesehatan Dunia telah mendeklarasikan status pandemi yang mengkhawatirkan dunia, pada Maret 2020. Virus COVID-19 dapat ditularkan oleh pasien bergejala maupun tanpa gejala. Minimnya pengetahuan dan sikap terhadap COVID-19 mengakibatkan kasus COVID-19 terus meningkat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap pasien COVID-19 di Puskesmas Ambacang periode 2020-2021. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap pasien COVID-19 terhadap COVID-19 di Puskesmas Ambacang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Sampel penelitian adalah 212 orang pasien terkonfirmasi COVID-19 di puskesmas Ambacang yang ditentukan dengan metode Systematic Random Sampling. Hasil: Hasil penelitian didapatkan bahwa sebanyak 67,5% sudah memiliki pengetahuan cukup baik tentang COVID-19. Sebanyak 97,2% responden memiliki sikap yang baik dalam pencegahan dan penularan COVID-19. Kesimpulan: Lebih dari separuh responden sudah cukup baik dalam mengetahui pencegahan dan penularan COVID-19. Pada umumnya responden memiliki sikap yang baik dalam pencegahan dan penularan COVID-19.
Hubungan Rasio Neutrofil-Limfosit dengan Derajat Keparahan COVID-19 pada Pasien Diabetes Zahara Findi; Beni Indra; Netti Suharti; Muhammad Zulfadli Syahrul; Roza Mulyana; Elfira Yusri
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 4 No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v4i2.1072

Abstract

Latar Belakang: Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus 2). Peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia cukup cepat dan menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Diabetes Melitus merupakan salah satu komorbiditas yang berkaitan dengan infeksi berat COVID-19, gagal napas akut, dan peningkatan mortalitas pasien COVID-19. Oleh karena itu, diperlukan penanda klinis yang ekonomis, cepat, dan bersifat sensitif dan spesifik. Peningkatan rasio neutrofil-limfosit merupakan biomarker peradangan yang mudah dianalisis untuk memprediksi risiko COVID-19 dan menilai keparahan COVID-19. Objektif: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara rasio neutrofil-limfosit dengan derajat keparahan COVID-19 pada pasien diabetes. Metode: Jenis penelitian adalah kohort retrospektif dengan teknik convenience sampling. Sampel pada penelitian ini adalah 84 pasien diabetes yang terkonfirmasi COVID-19 pada bulan April 2020 hingga Agustus 2021 di RS Universitas Andalas. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square dan Independent group t-test. Hasil: Hasil penelitian didapatkan derajat keparahan COVID-19 paling banyak pada derajat berat (32,1%). Terdapat hubungan yang signifikan antara rasio neutrofil-limfosit dengan derajat keparahan COVID-19 (p = 0,00). Gula darah sewaktu pada kasus severe (291.82 mg/dL) lebih tinggi dibandingkan dengan kasus non severe (272.33 mg/dL), tetapi secara statistik tidak signifikan (p = 0,389). Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara rasio neutrofil-limfosit dengan derajat keparahan COVID-19 pada pasien diabetes. Peningkatan rasio neutrofil-limfosit ini dapat digunakan sebagai penanda awal yang mempengaruhi derajat keparahan COVID-19 pada pasien diabetes.
Original Research The Effect of Yoga or Nonpharmacotherapy on Dysmenorrhore in Medical Students of Andalas University, Indonesia Rifqah Wardah Astarini; Muhammad Zulfadli Syahrul; Mustafa Nour; Beni Indra; Aladin Aladin; Miftah Irramah
Jurnal sosial dan sains Vol. 4 No. 9 (2024): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v4i9.1522

Abstract

Background: Dysmenorrhea is a menstrual pain that is often experienced by young women, with a global prevalence of 16.8-81%. In Indonesia, the prevalence reaches 54.89%, with adolescent girls being the largest group. Treatment generally uses analgesics, but it has side effects. Yoga as a non-pharmacological therapy can reduce pain through muscle relaxation. Purpose: Analyzing the effect of yoga therapy on the intensity of the degree of dysmenorrhea in female students of the Class of 2018 Undergraduate Medical Education Study Program, Faculty of Medicine, Andalas University. Methods: This research uses a pure experimental design with a pre-test, post-test, and only group design, with a sample size of 32 people. The research instrument used in the study was a pre-test and post-test questionnaire, which contained VAS scores and guidelines regarding yoga movements. The questionnaire contains a Visual Analog Scale (VAS), which consists of a vertical scale from 0 to 10 cm. Results:  The results showed there were no differences related to age. As many as 18% of respondents usually took analgesics, while 81.3% did not take analgesics to treat dysmenorrhea before yoga therapy. Meanwhile, after yoga therapy, 5 out of 6 respondents who usually consumed analgesics in previous menstrual cycles no longer consumed analgesics, and one respondent still consumed analgesics. Bivariate analysis showed a value of p=0.00 (p<0.05), which means there is a relationship between the provision of yoga therapy and the degree of dysmenorrhea. Where providing yoga therapy can reduce the intensity of pain in respondents who experience dysmenorrhea. Conclusion: This research concludes that there is a significant relationship between the provision of yoga therapy and the degree of dysmenorrhea.
Terapi Oksigen High Flow Nasal Cannula (Kanula Hidung Arus Tinggi) pada Pasien Kritis Covid-19 Kurnia, Dedy; Effendi, Rinal; Syahrul, Muhammad Zulfadli
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v6i1.2829

Abstract

Wabah novel coronavirus (SARS-CoV-2) yang pertama kali ditemukan di China telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Manifestasi klinis yang muncul pada pasien dimulai dari asimptomatik sampai simptomatik gejala ringan dan berat. Pasien yang awalnya memiliki gejala ringan dan sedang yang dirawat diruangan biasa dapat berlanjut menjadi berat dan harus dipindakan ke rawatan yang lebih internsif dengan intubasi dan ventilator. Peningkatan kasus Covid-19 yang sangat cepat menyebabkan berkurangnya sarana dan prasarana penunjang seperti alat intubasi dan ventilator sehingga diperlukan terapi non mekanis yang dapat menurunkan penggunaan terapi mekanis sehingga angka morbiditas dan mortalitas dapat ditekan. Salah satu terapi oksigen non mekanis adalah high flow nasal cannula (HFNC). Literature review ini bertujuan untuk mengetahui manfaat dari terapi oksigen HFNC pada pasien kritis Covid-19. Metode yang digunakan pada literature review ini yaitu dengan kata kunci Medical Subject Headings (yaitu acute respiratory distress syndrome, covid-19, critically ill, high flow nasal cannula, hypoxemia). Dari hasil pencarian literasi menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi, didapatkan 25 jurnal yang digunakan dalam karya ini. Pada banyak penelitian menunjukkan bahwa penggunaan terapi HFNC direkomendasikan sebagai terapi pasien kritis Covid-19 untuk mengurangi angka kejadian pasien dilakukan intubasi dan lama rawatan ICU. Terapi memiliki keuntungan fisiologis pada tubuh manusia. Keberhasilan penggunaan HFNC dapat diukur dengan indeks ROX. Indeks ROX > 4,88 menjadi ukuran untuk menentukan keberhasilan penggunaan HFNC pada pasien kritis Covid-19.