Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Gambaran Tingkat Stres Berdasarkan Stressor pada Mahasiswa Kedokteran Tahun Pertama Program Studi Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Angkatan 2017 Rizkia Dwina Rahmayani; Rini Gusya Liza; Nur Afrainin Syah
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i1.977

Abstract

Penyebab stres pada mahasiswa kedokteran terdiri kedalam enam kelompok yaitu stressor terkait akademik, stressor terkait hubungan interpersonal dan intrapersonal, stressor terkait hubungan belajar mengajar, stressor terkait hubungan sosial, stressor terkait keinginan dan pengendalian, serta stres terkait aktivitas kelompok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat stres berdasarkan stressor pada mahasiswa profesi dokter tahun pertama Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Jenis penelitian ini adalah studi deskriptif dengan desain cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling untuk mendapatkan sampel sebanyak 188 responden. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner Medical Student Stressor Questionnaire yang telah di validasi. Hasil analisis univariat menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat stres sedang (48,4%). Tingkat stres terkait akademik yang terbanyak adalah tingkat stres berat (51,6%). Tingkat stres terkait hubungan intrapersonal dan interpersonal yang terbanyak adalah tingkat stres berat (42,6%). Tingkat stres terkait hubungan belajar-mengajar yang terbanyak adalah tingkat stres sedang (42%). Tingkat stres terkait hubungan sosial yang terbanyak adalah tingkat stres sedang (53,2%). Tingkat stres terkait keinginan dan pengendalian yang terbanyak adalah tingkat stres sedang (39,9%). Tingkat stres terkait aktivitas kelompok yang terbanyak adalah tingkat stres sedang (45,2%). Stressor yang paling menyebabkan stres adalah yang terkait hubungan intrapersonal dan interpersonal.
Gangguan Psikotik Akibat Stroke Iskemik Rini Gusya Liza; Bahagia Loebis
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i2.308

Abstract

AbstrakStroke atau yang disebut juga dengan penyakit serebrovaskuler berkontribusi terhadap timbulnya delusi dan halusinasi di kemudian hari.Pengobatan yang diberikan pada kondisi medis sering menghasilkan remisi dari psikosistetapi hal tersebut tidaklah selalu terjadi. Gejala psikosis dapat bertahan lama setelah kondisi medis yangmenyebabkannya sembuh. Dilaporkan seorang pasien yang mengalami gangguan psikotik setelah mengalami strokeiskemik. Gangguan psikotik akibat stroke iskemik merupakan suatu kasus dalam Consultation Liaison Psychiatry.Kata kunci: gangguan psikotik, stroke iskemik, delusi dan halusinasiAbstract Stroke or also called cerebrovascular disease contributed to the emergence of delusions and hallucinations inthe future. Treatment given to medical conditions often produce remission of psychosis but it is not always happen.Psychotic symptoms can persist longer after recovery.  Reported a patient who suffered a psychotic disorder afterischemic stroke. Psychotic disorders due to ischemic stroke is a case in Consultation Liaison PsychiatryKeywords: psychotic disorder, ischemic stroke, delusions and hallucinations
PERBEDAAN TINGKAT SIMTOM ANSIETAS DAN DEPRESI ANTARA PEKERJA SEKS KOMERSIAL YANG MENDERITA HIV/ AIDS DENGAN YANG TIDAK MENDERITA HIV/ AIDS Rini Gusya Liza; Elmeida Effendy; Freddy Subastian
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37, No 3 (2014): Published in December 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.034 KB) | DOI: 10.22338/mka.v37.i3.p198-204.2014

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat simtom ansietas dan depresi antara pekerja seks komersial (PSK) yang menderita HIV/ AIDS dengan yang tidak menderita HIV/ AIDS. Penelitian potong lintang, dengan nonprobability sampling, jenis cluster sampling. Tempat penelitian adalah di lokalisasi Kabupaten Bengkalis dan di klinik VCT RSUD Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. Subjek penelitian adalah wanita yang bekerja sebagai PSK di lokalisasi PSK, kooperatif, bersedia diwawancara. Subjek berjumlah 96 orang PSK; 48 orang menderita HIV/ AIDS dan 48 tidak menderita HIV/ AIDS. Data tentang status HIV/ AIDS diambil dari laporan klinik VCT RSUD Kecamatan Mandau. Alat ukur yang digunakan adalah Hospital Anxiety and Depression Scale. Analisis data yang digunakan adalah uji Kolmogorov-Smirnov. Didapatkan proporsi ansietas pada seluruh PSK adalah 22.9%, pada PSK yang menderita HIV/ AIDS 31.2% dan PSK tidak menderita HIV/ AIDS 14.6%, sedangkan proporsi depresi pada seluruh PSK adalah 25%, pada PSK yang menderita HIV/ AIDS 27.1% dan PSK yang tidak menderita HIV/ AIDS 22.9%. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna tingkat simtom ansietas dan depresi antara pekerja seks komersial yang menderita HIV/ AIDS dengan yang tidak menderita HIV/ AIDS. Simpulan, didapatkan tingginya ansietas dan depresi pada keseluruhan PSK itu sendiri. Disamping menjadi seorang PSK ditambah lagi dengan menderita HIV/ AIDS akan menambah beratnya simtom ansietas dan depresinya.AbstractThe aims of this study is to determine the differences of anxiety and depression symptoms level between commercial sex workers who suffer HIV/AIDS with not suffer HIV/AIDS.Cross sectional study, using nonprobability sampling technique, the type is cluster sampling. Location is in red light district of commercial sex workers in Kabupaten Bengkalis and in VCT clinic of general hospital of Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis. Subjects were women who worked as prostitutes in red light district, cooperative, willing to be interviewed. Sample size were 96 women, 48 suffer HIV/ AIDS and 48 not suffer HIV/AIDS. Data on HIV/ AIDS status are collected from the report of VCT clinic of general hospital of Kecamatan Mandau. Measuring instruments is the Hospital Anxiety and Depression Scale. Data analysis by using the Kolmogorov-Smirnov test. It was found the proportion of anxiety in all sex workers is 22.9%, in sex workers who suffer HIV/ AIDS is 31.2% and in sex workers who not suffer HIV/ AIDS is 14.6%. While the proportion of depression in all sex workers is 25%, in sex workers who suffer HIV/ AIDS is 27.1% and in sex workers who not suffer HIV/ AIDS is 22.9%. There was no significant differences the level of anxiety and depression symptoms between commercial sex workers who suffer HIV/ AIDS with not suffer HIV/ AIDS. In conclusion, we get the high proportion of anxiety and depression symptoms among commercial sex workers themselves. Beside to being a prostitute in addition to having HIV / AIDS will increase the severity of symptoms of anxiety and depression.
Gambaran Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi di SMAN 1 Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya Ariska Feradilla; Abdiana Abdiana; Rini Gusya Liza
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 2 No 3 (2021): September 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v2i3.379

Abstract

Latar Belakang: Kesehatan reproduksi merupakan keadaan kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi, dan proses-prosesnya. Penting bagi remaja untuk mendapatkan pengetahuan dan akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi di SMAN 1 Pulau Punjung. Metode: Penelitian yang digunakan berupa penelitian deskriptif dengan metode cross sectional. Subjek penelitian merupakan siswa SMAN 1 Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya. Jumlah sampel penelitian sebanyak 179 orang yang diperoleh melalui teknik Simple Random Sampling dengan menggunakan Microsoft Excel. Pengambilan data dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner kepada sampel yang terpilih. Hasil: Hasil menunjukan bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik tentang kesehatan reproduksi sebanyak 58,7%, dan yang pengetahuan kurang sebanyak 41,3%. Berdasarkan usia, pengetahuan baik paling banyak diperoleh oleh usia 17-18 tahun (40,8%), sedangkan berdasarkan jenis kelamin diperoleh oleh perempuan sebanyak 45,8%. Kesimpulan: Dari penelitian dapat disimpulakan bahwa sebagian besar siswa memiliki pengetahuan yang baik tentang kesehatan reproduksi remaja.
Analysis of perception and emotional condition from distance learning among undergraduate student during Covid-19 pandemic Liza, Rini Gusya; Fasrini, Ulya Uti; Wati, Westi Permata
International Journal of Research in Counseling and Education Vol 5, No 2 (2021): International Journal of Research in Counseling and Education
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.844 KB) | DOI: 10.24036/00451za0002

Abstract

Education minister changes learning methodby distance learning to prevent the spread of Covid-19. This change has an impact on the mentality of students. This research aims to analysis perception and emotional mental health of undergraduate students at the Faculty of Medicine, Universitas Andalas during the Covid-19 pandemic. This research is cross-sectional study and obtained 344 respondents using simple random sampling from May to December 2020. The distance learning evaluation use questionnaire in google form and the results are quantitative data; the emotional mental health condition use SRQ-20 and Microsoft Excel. This result show that all respondents experienced mental emotional disorders. The most frequently is cognitive symptoms, but some students still enjoy because closed to their family and cost saving although they have some obstacles observed, both in terms of devices, signal, and lack of interaction. All of students have mental health disorder but distance learning has been running well.
Gambaran Risiko Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) pada Penyintas COVID-19 di Rumah Sakit Universitas Andalas Wahyuni, Sri; Widya Murni, Arina; Indra, Beni; Gusya Liza, Rini; Koerniati, Isnindiah; Sauma, Eldi
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 10, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction. The COVID-19 pandemic has a negative impact on life where sufferers can experience emotional problems such as despair, deep sadness, helplessness, anxiety, and depressive symptoms. Especially in hospitalized COVID-19 survivors, there are sequelae in the form of anxiety, depression, and Post-traumatic Stress Disorder (PTSD). PTSD experienced by COVID-19 survivors will affect the patient’s quality of life in the future. This study aimed to assess the risk of PTSD in COVID-19 survivors who had been hospitalized at Andalas University Hospital. Methods. A cross-sectional descriptive study was conducted among COVID-19 survivors aged ≥15 years who had been hospitalized at Andalas University Hospital. Samples were selected by using total sampling method with inclusion criteria included experiencing mild, severe, or critical clinical symptoms during COVID-19 infection, being discharged from Andalas University Hospital for six months or more, and willing to participate in the study by signing an informed consent. Samples who have met the inclusion criteria completed the Bahasa Indonesia version of PCL-5 (PTSD Checklist for DSM-5) questionnaire which has been tested for its validity and reliability. Respondents were categorized as having PTSD risk if the questionnaire results showed a score of ≥23. The collected data were subsequently analyzed using univariate analysis. Results. A total of 75 respondents were included in the study, of which 9.3% (7) were found to be potentially or at risk of PTSD. The group of respondents who were at risk of PTSD was mostly comprised of females, and all of them experienced the four PTSD symptoms (intrusion/re-experiencing, avoidance, negative alterations in cognition and mood, and hyperarousal). The most common trigger that causes PTSD among respondents was the experience of a previous life-threatening traumatic event (71.43%). In addition, the most frequent clinical symptoms of COVID-19 in the PTSD risk group were severe clinical symptoms (71.43%). Conclusions. COVID-19 survivors who have the potential to experience PTSD are predominantly female survivors with severe clinical symptoms, experiencing all four PTSD symptoms, and having a traumatic life-threatening experience during COVID-19 hospitalization. Keywords: COVID-19 survivors, hospitalization, risk of PTSD
Gambaran Psikopatologi Adiksi Game Online pada Remaja di Kota Padang, Indonesia Adila, Maulida; Gusya Liza, Rini; Afdal, Afdal
Scientific Journal Vol. 2 No. 6 (2023): SCIENA Volume II No 6, November 2023
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v2i6.108

Abstract

Pendahuluan: Psikopatologi merupakan istilah yang berasal dari dua kata, yaitu “psiko” dan “patologi” dan didefinisikan sebagai ketidaknormalan, penyimpangan atau disfungsi dari proses berpikir dan perilaku seseorang. Psikopatologi dapat terjadi disebabkan berbagai hal salah satunya ialah adiksi game online. Hal ini dikarenakan penggunaan game online yang berlebihan dan tidak terkendali dapat menyebabkan dampak negatif pada pembelajaran, bersosialisasi, dan kehidupan kerja ataupun sekolah. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui gambaran psikopatologi adiksi game online pada remaja di kota Padang, Indonesia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan pada 390 remaja di kota Padang dengan melihat tingkat adiksi game online menggunakan Indonesian Online Game Addiction Questionnaire (IOGAQ) dan menilai psikopatologi pada remaja yang kecanduan game online dengan kuesioner Minnesota Multiphasic Personality Inventory-180 (MMPI-180). Hasil: Hasil didapatkan sebesar 18% remaja berada pada kategori adiksi game online dan gambaran psikopatologi menunjukkan persentase tertinggi pada skala disfungsi emosi negatif (87,7%), skala anger proneness (66,15%) dan psychoticism (69,2%). Kesimpulan: Disfungsi emosi negatif, kecenderungan marah dan psikotik merupakan psikopatologi terbanyak yang ditemukan pada remaja dengan adiksi game online.
Stres dan Kelulusan Blok Mahasiswa Perantau dan Nonperantau Tingkat Pertama Kedokteran Universitas Andalas Putri, Aulia; Ashal, Taufik; Windasari, Noverika; Yulistini; Gusya Liza, Rini; Abdiana
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia (JKMI) Vol. 2 No. 2 (2025): Januari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jkmi.v2i2.3801

Abstract

The first year of college presents various challenges, particularly for out-of-town students adapting to independent living without direct family support. Medical students, especially first-years, often face high stress levels. This study examines the relationship between stress levels and module completion rates among out-of-town and local students. An observational analytic method with a cross-sectional design was used, involving 251 first-year Medical Study Program students at Universitas Andalas for the 2023 Academic Year. A total of 162 students met the inclusion criteria, with data collected from June to October 2024. Stress levels were measured using the Medical Student Stressor Questionnaire (MSSQ), and module completion rates for Modules 1.1–1.6 were obtained from academic records. Data were analyzed using the chi-square test. The results showed that 73.5% of respondents were out-of-town students, with severe stress reported by 45.4% of out-of-town and 44.2% of local students. Academic Related Stressors (ARS) were the dominant stress factor. Module completion rates were 68.1% for out-of-town and 69.8% for local students. Bivariate analysis indicated a significant relationship between stress levels and module completion rates (p = 0.002). The study concludes that stress levels significantly affect module completion rates. Students are encouraged to improve time management skills to reduce stress and enhance academic outcomes.
Hubungan antara Stres Akademik dengan Kecenderungan Gejala Somatisasi pada Mahasiswa Program Studi Kedokteran Tingkat Akhir Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Angkatan 2015 Irlaks, Viton Surya; Murni, Arina Widya; Liza, Rini Gusya
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i3.1366

Abstract

 Stres akademik merupakan suatu keadaan emosional yang paling umum dialami oleh mahasiswa selama masa studi. Stres yang tidak dikontrol dengan baik dapat mempengaruhi terjadinya gejala somatisasi. Tujuan: Menentukan hubungan antara stres akademik dengan kecenderungan gejala somatisasi pada mahasiswa program studi kedokteran tingkat akhir Fakultas Kedokteran Universitas Andalas angkatan 2015. Metode: Penelitian ini adalah analitik dengan desain cross sectional. Responden penelitian adalah 100 orang mahasiswa program studi kedokteran tingkat akhir Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Angkatan 2015. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik random sampling berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner Medical Student Stress Questionnaire (MSSQ) dan The Somatic Symptom Scale - 8 (SSS-8). Data dianalisis menggunakan uji bivariat Fisher’s exact. Hasil: Penelitian menunjukkan 43 orang (43%) adalah laki - laki dan 57 orang (57%) adalah perempuan. Usia terbanyak adalah 21 tahun (74%) dan paling sedikit 20 tahun (9%). Tingkat stres akademik 56 orang sedang (56%) dan 4 orang sangat berat (4%). Tingkat kecenderungan gejala somatisasi 26 orang sedang (26%) dan 11 orang sangat ringan (11%). Sebanyak 24 orang yang mengalami stres akademik memiliki kecenderungan gejala somatisasi sedang (27,9%). Analisis bivariat menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05). Simpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara stres akademik dengan kecenderungan gejala somatisasi pada mahasiswa program studi kedokteran tingkat akhir Fakultas Kedokteran Universitas Andalas angkatan 2015.Kata kunci: stres akademik, gejala somatisasi, mahasiswa tingkat akhir
Hubungan Tingkat Keparahan Pasien COVID-19 dengan Distres Psikologis Pada Periode 1 Maret 2020 sampai 31 Desember 2021 di Rumah Sakit Universitas Andalas Liandhu Hakim, Sonya; Widya Murni, Arina; Yulistini, Yulistini; Gusya Liza, Rini; Ermayanti, Sabrina; Ashal, Taufik
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v6i1.1102

Abstract

Latar Belakang: Wabah COVID-19 (Coronavirus Disease 19) menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental. Studi menilai kesehatan mental akibat keparahan COVID-19 masih belum dijadikan sebagai prioritas utama penatalaksanaan COVID-19. Objektif: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara tingkat keparahan COVID-19 dengan stres pasien COVID-19. Metode: Penelitian potong lintang ini dilakukan pada periode 1 Maret 2020 Sampai 31 Desember 2021 di Rumah Sakit Universitas Andalas. Penelitian menggunakan data rekam medis pasien terkonfirmasi COVID-19 yang telah dinilai tingkat stres menggunakan DASS-21 (Depression, Anxiety, Stress Scale 21). Sebanyak 55 responden di ambil dengan teknik pengambilan sampel acak sederhana yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil: Lebih dari setengah pasien COVID-19 (54,5%) memiliki tingkat keparahan penyakit sedang dan 56,3% mengalami tingkat stres sedang. Uji Chi–square menunjukkan hasil yang signifikan dengan nilai p sebesar 0,000. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara tingkat keparahan COVID-19 dengan tingkat stres pada pasien terkonfirmasi COVID-19. Oleh sebab itu, pendekatan psikologis diperlukan untuk tata laksana pasien COVID-19 untuk mengurangi pengaruh psikis terhadap keparahan penyakit.