Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN KECERDASAN SPIRITUAL SISWA PADA MATA PELAJARAN PAI (Studi kasus pada SMK Muara Indonesia) Ramadhan, Dhamir Rozan; Yasin, Hadi
Spektra: Jurnal Ilmu-ilmu Sosial Vol 6 No 2 (2024): Spektra : Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam As Syafi'iyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/spektra.v6i2.4201

Abstract

At this time, there is an increasing moral crisis in education experienced in Indonesia which started from the weak instillation of polite values ​​to early childhood, especially spiritual instillation of children. So here is the importance of instilling spiritual intelligence by taking a religious education approach based on the Qur'an. This study aims to determine the efforts of teachers in improving the spiritual intelligence of their students at SMK Muara Indonesia and to find out how the picture of the spiritual intelligence of their students is so that later what is done at SMK Muara Indonesia can be emulated by other schools in terms of improving spiritual intelligence.This study uses a qualitative research method with a descriptive approach, using data sources through observation and interviews with related informants including the principal, PAI teacher and vice principal, BK teacher and representatives of 2 students from SMK Muara Indonesia. The results of this study obtained that: 1) the teacher's efforts in improving spiritual intelligence are tadarus programs, congregational dhikr, sunnah prayers, congregational zuhur prayers, reading almatsurat, spiritual guidance, 2) these efforts can be concluded as successful because most students show changes and improvements in attitudes, behavior, and habits for worship although there are still a small number of students who have not shown any improvement. The difference with previous studies is that this study focuses more on programs created by schools.
PENANGGULANGAN KRISIS PANGAN DALAM AL-QUR'AN Salsabila, Nasywa Thurfah; Yasin, Hadi
Spektra: Jurnal Ilmu-ilmu Sosial Vol 7 No 1 (2025): Spektra : Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam As Syafi'iyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/spektra.v7i1.4546

Abstract

Hal yang paling dasar untuk kehidupan manusia disebut Kebutuhan pangan. Untuk mengatasi krisis pangan. Suatu negara harus memiliki sistem ketahanan pangan yang kuat. Ketahanan pangan merupakan jaminan kesejahteraan bagi suatu bangsa. Islam mencatat kontribusi gemilang mengenai krisis pangan yang tercantum dalam al-Qur’an surah Yusuf 43-49 yang mengisahkan tentang Nabi Yusuf dalam menangani krisis pangan di negara Mesir. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana penafsiran QS. Yusuf 43-49 dalam Tafsir Ibn Kathîr dan Tafsir al-Azhar ? dan Bagaimana relevansi penafsiran QS. Yusuf 43-49 terhadap krisis pangan ?. Data yang terdapat dalam penelitian ini diperoleh dari aktivitas penelitian pustaka (Library research) yaitu mengumpulkan data primer dan data sekunder yang berupa al-Qur’an, Tafsir Ibn Kathîr, Tafsir Al Azhar, buku, skripsi, serta jurnal yang berkaitan dengan penelitian ini dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Dalam QS. Yusuf ayat 43-49 terdapat solusi yang diberikan Nabi Yusuf agar masyarakat terhindar dari sifat berfoya-foya atau hedonis. Moment krisis dijadikan sebagai momentum untuk belajar menahan diri dan berhemat dalam pangan. Dalam mencapai ketahanan pangan yang kuat, Nabi Yusuf juga menerapkan tiga strategi pertama; produksi masal pangan kedua; penyimpanan sebagian besar hasil produksi pertanian, dan ketiga; kebijakan hidup hemat. Nabi Yusuf menerapkanya untuk menghadapi krisis tersebut.
Ayat -Ayat Akhlak Dalam Al-Quran Yasin, Hadi
Tahdzib Al-Akhlaq: Jurnal Pendidikan Islam Vol 2 No 2 (2019): Tahdzib Al-Akhlaq: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam As-Syafi'iyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/tahdzib.v2i2.509

Abstract

Tulisan ini hendak mengungkap seputar ayat-ayat akhlak dalam Al-Quran, serta uraian perbedaanya dengan moral dan etika. Diskursus seputar ayat-ayat hukum dalam al quran, diperkirakan sudah muncul semenjak abad kedua hijriyah, setelah itu khazanah ilmu pengetahuan dan pendalaman terhadap ayat-ayat al-quran terus berkembang. Para ulama fikih telah banyak berbicara tentang tafsir ayat-ayat ahkam, untuk mengungkap isi kandungan dan hukum-hukum dalam al-quran, dan begitu seterusnya, hingga lahirnya para ulama periode kekinian seperti: Syaikh Ramadhan Al-Booty, Prof. Dr. Yusuf Al-Qaradhawy, dan Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaily, dalam karyanya Tafsir Al-Munir. Kini, pembahasan para ulama banyak yang hendak mengungkap sisi-sisi penting seputar akhlak dalam al Quran. Di dalam Al-Quran banyak ayat-ayat tersebut mengajarkan tentang akhlak. Pokok-pokok ajaran Islam sesungguhnya terdiri dari tiga hal penting yang ketiganya menjadi indikator utama keislaman seseorang, yaitu masalah akidah, Syariah dan Ihsan yaitu media komunikasi dan hiasan saat berkomunikasi dengan Allah selaku al-Khaliq (komunikasi vertikal) dan terhadap sesama makhluk baik manusia maupun makhluk-makhluk yang lain. Kemuliaan Peradaban haruslah dibangun dengan adab dan akhlak yang mulia, tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur. Kalau mental dan akhlak suatu bangsa bejat dan hancur, percayalah, bangsa dan negara itu berada di ambang kehancuran. Syaikh Musthafa Al-Ghilayini menulis dalam Idzatun Nasyi’in, menggubah sebuah syair;إنما الأمم الأخلاق ما بقيت # فإن همو ذهبت أخلاثهم ذاهبواMaju dan mundurnya suatu bangsa, Tegak dan runtuhnya suatu negara, tergantung kepada akhlaknya, apabila akhlak suatu bangsa baik, maka baik-lah bangsa dan negara itu, tapi apabila akhlak suatu bangsa jelek dan bobrok, maka hancur-lah bangsa dan negara itu. (Musthafa Al-Ghilayini, Idzatun Nasyi’in).
MENGENAL METODE PENAFSIRAN AL QURAN Yasin, Hadi
Tahdzib Al-Akhlaq: Jurnal Pendidikan Islam Vol 3 No 1 (2020): Tahdzib Al-Akhlaq: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam As-Syafi'iyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/tahdzib.v3i1.826

Abstract

Tulisan sederhana ini bertujuan untuk mengungkap metodologi penafsitan ayat-ayat al-Quran, sekaligus untuk menolak metode-metode lain yang hendak digunakan untuk menfasirkan ayat-ayat al-Quran seperti hermenetika, suatu metode penafsiran untuk al-kitab : kitab suci agama kristen, yang oleh sebagian orang dicoba untuk digunakan menafsirkan Al-Quran. Analogi sederhananya adalah, ketika kita punya kendaraan, katakanlah mobil sedan Mercedes Benz C 300, lalu mau dikemudikan dengan menggunakan cara-cara mengemudikan sebuah bajaj (misalnya), tentu sangat tidak pas, akan jauh panggang dari api. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba mengenalkan metode-metode tersebut pembaca.
SISI BALAGHAH DALAM TAFSIR AL-BAIDHAWY Yasin, Hadi
Tahdzib Al-Akhlaq: Jurnal Pendidikan Islam Vol 3 No 2 (2020): Tahdzib Al-Akhlaq: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam As-Syafi'iyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/tahdzib.v3i2.894

Abstract

Tulisan ini bermaksud mengungkap tentang sisi Balaghah dalam Tafsir Al-Baidhawy. Seperti kita maklum bahwa sebuah karya Tafsir, dapat dilihat dari beberapa segi, misalnya dari sisi kebahasaannya, sisi penjelasan tentang hukum-hukum atau fikihnya, dari sisi metode penjelasannya apakah tahlily atau Maudhu’i dan lain sebagainya. Bahkan dari kebahasaan-nya saja juga masih bisa dilihat dan dirinci pada beberapa sisi, seperti sisi Nahwu dan Sharf nya, atau dari sisi Balaghahnya. Penelitian dari sisi Balaghah sebuah karya Tafsir menjadi menarik karena di antara kemukjizatan Al-Quran yang sangat menonjol adalah sisi Balaghah dari Al-Qur an itu sendiri yang tidak dapat ditandingi oleh siapapun dan oleh manusia manapun. Inilah makna I’jaz Al-Qur an, atau “kemampuan untuk mengalahkan dan melemahkan yang tidak dapat dilawan” dari Al-Quran.
KONSEP AKHLAK DALAM KITAB TANBIHUL MUGHTARRIN KARYA IMAM AS-SYA’RONI DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN Yasin, Hadi
Tahdzib Al-Akhlaq: Jurnal Pendidikan Islam Vol 5 No 2 (2022): Tahdzib Al-Akhlaq: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam As-Syafi'iyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/tahdzib.v5i2.2653

Abstract

Era modern merupakan era dimana marak sekali yang namanya perkembangan, baik itu perkembangan kebudayaan, perkembangan pendidikan maupun teknologi. Masyarakat Indonesia masih menjunjung tinggi tata krama dalam pergaulan sebagaimana anak bersikap kepada orang yang lebih tua maupun hubungan antar teman. Namun seiring laju perkembangan zaman dan perubahan cepat dalam teknologi informasi telah merubah sebagian besar masyarakat dunia terutama remaja. Untuk mendapatkan atau mencapai akhlak karimah yang sesuai dengan tuntunan agama, maka semua orang harus melalui sebuah proses yang dinamakan proses pendidikan akhlak. Konsep yang berkaitan dengan pendidikan akhlak dalam Islam terdapat dalam salah satu kitab yang berjudul kitab Tanbihul Mughtarrin. Bertitik tolak dari latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimana konsep akhlak dalam kitab Tanbihul Mughtarrin karya Imam Asy-Sya’roni? dan Bagaimana relevansi kitab Tanbihul Mughtarrin dengan pendidikan? Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah library research (penelitian kepustakaan) yakni: Penelitian yang dilakukan mengumpulkan data dan informasi menggunakan kitab Tanbihul Mughtarrin karya Imam Asy-Sya’roni, terjemahan kitab Tanbihul Mughtarrin, buku akhlak (ciri manusia paripurna), dan juga jurnal serta karya-karya ilmiah dari tokoh lain yang terkait langsung dengan pembahasan dalam penelitian ini. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif, yaitu penelitian dengan langkah kerja untuk mendeskripsikan suatu objek, fenomena, latar sosial, dan sasaran penelian terjawablah dalam tulisan naratif. Artinya, data maupun fakta yang telah dikumpulkan oleh peneliti kualitatif berbentuk kata atau gambar. Setelah itu untuk mendapatkan kesimpulan penulis menggunakan pola penalaran induktif, yaitu pola pemikiran yang berangkat dari suatu pemikiran khusus kemudian ditarik generalisasi yang bersifat umum. Inti dari Konsep Akhlak Dalam Kitab Tanbihul Mughtarrin Karya Imam Asy-Sya’roni dan Relevansinya Dengan Pendidikan. Dalam kitab Tanbihul Mughtarrin mengandung suatu ajakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, mengulas etika-etika mulia para ulama salaf yang sholih, dengan mengutip maqolah-maqolah mereka dan juga mengutip sabda-sabda Nabi-Nabi terdahulu yang berkaitan dengan etika yang luhur. Dan dalam relevansinya dengan pendidikan akhlak itu segalanya dan posisi akhlak diatas pendidikan, bahkan Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak.
KONSEP AKHLAK DALAM KITAB TANBIHUL MUGHTARRIN KARYA IMAM AS-SYA’RONI DAN RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN Besari, Ahiel Ahdi; Yasin, Hadi; Kohari, Khalis
Tahdzib Al-Akhlaq: Jurnal Pendidikan Islam Vol 6 No 1 (2023): Tahdzib Al-Akhlaq: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam As-Syafi'iyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/tahdzib.v6i1.2785

Abstract

The modern era is an era where there is a lot of development, be it cultural development, educational development or technology. Indonesian society still upholds manners in relationships as children behave to their elders and relationships between friends. But along with the pace of development of the times and rapid changes in information technology have changed most of the world's people, especially teenagers. To get or achieve good morals in accordance with religious guidance, everyone must go through a process called the process of moral education. The concept related to moral education in Islam is contained in one of the books entitled Tanbihul Mughtarrin. Starting from the above background, the author formulates the problem as follows: How is the concept of morals in the book of Tanbihul Mughtarrin by Imam Ash-Shafi'roni? and How is the relevance of the book of Tanbihul Mughtarrin to education? The type of research that the author uses is library research, namely: The research collected data and information using the book of Tanbihul Mughtarrin by Imam Ash-Shafi'roni, the translation of Tanbihul Mughtarrin, the book of morals (the characteristics of a perfect human being), as well as journals and scientific works from other figures directly related to the discussion in this study. Data analysis in this research is carried out using descriptive analysis, which is research with work steps to describe an object, phenomenon, social setting, and the target of the research is answered in narrative writing. This means that the data and facts that have been collected by qualitative researchers are in the form of words or pictures. After that, to get a conclusion, the author uses an inductive reasoning pattern, which is a pattern of thought that departs from a specific thought and then draws general generalizations. The essence of the concept of morality in the book of Tanbihul Mughtarrin by Imam Ash-Shafi'roni and its relevance to education. The book of Tanbihul Mughtarrin contains an invitation to get closer to Allah SWT, reviewing the noble ethics of the righteous salaf scholars, by quoting their maqolah-maqolah and also quoting the words of previous Prophets related to noble ethics. And in its relevance to moral education is everything and the position of morals above education, even the Prophet Muhammad was sent to perfect morals.
Moderate Islamic Education: A Comparative Study of Indonesia’s Insan Cendekia and Turkey’s Imam Hatip Schools Hadi, Abdul; Anim, Sarbini; Yasin, Hadi; Sutiono, Sutiono
International Journal of Emerging Issues in Islamic Studies Vol. 5 No. 1 (2025): July 2025
Publisher : Research Synergy Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31098/ijeiis.v5i1.2864

Abstract

The idea of a "Clash of Civilizations" between Islam and the West has gained traction since the events of September 11, 2001. This has created a divide between two extreme viewpoints of the world, which leads to truth claims and terrorist action. Countries like Indonesia and Turkey, with large Muslim populations, play a significant role in Islamic moderate education to counter terrorism, so recently many Muslim students from various parts of the world have started going to Istanbul and Jakarta as destinations for studying Islam and are no longer only to Cairo and Medina. This is due to the relatively safe political and security conditions, and these cities' welcoming and inclusive atmosphere makes them attractive destinations for seeking a well-rounded academic experience. This research aims to compare the values of moderation in the Islamic education curricula of IHS Fatih Sultan Mehmet (Turkey) and MAN Insan Cendekia  (Indonesia), as the most excellent Islamic high school lately. Qualitative methods were used in variants of case studies, from documents, books, and interviews, and data were collected, using component analysis, and theory triangulation was used for validation. The findings reveal that both educational systems emphasize moderation, but their cultural contexts differ. In Indonesia, moderation is linked to Pancasila values, while Turkey combines secular principles with Islamic values. The result of the study shows that Islamic education in Indonesia and Turkey is classified as moderate education with different parameters. The first must adapt to local wisdom, and the second must adapt to Islamic-secular identity.
ANALYSIS OF THE MEANING OF 'LAA ILAAHA ILLALLAH' AND THE URGENCY OF TAUḤĪD EDUCATION IN THE LIFE OF MUSLIMS Yasin, Hadi
Tahdzib Al-Akhlaq: Jurnal Pendidikan Islam Vol 8 No 1 (2025): Tahdzib Al-Akhlaq: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam As-Syafi'iyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/tahdzib.v8i1.5092

Abstract

This article examines the significance of Lā ilāha illallāh (“There is no god but Allah”) and the importance of tawḥīd education in the lives of Muslims. As the theological foundation of Islam, the testimony of divine unity holds profound significance not only as a verbal statement but also as a transformative paradigm shaping belief, ethics, and education. The study employs a qualitative approach with descriptive-analytical methods, examining classical Islamic sources, Qur’anic and Hadith evidence, and contemporary scholarship from national and international journals, including Scopus-indexed publications. The findings indicate that Lā ilāha illallāh is characterized by dual aspects: negation (nafy) of all false deities and affirmation (ithbāt) of God’s sole divinity. Classical scholars such as Ibn Taymiyyah, al-Ghazālī, and Ibn Qayyim emphasize that the testimony requires both internal conviction and external practice, encompassing sincerity, certainty, and ethical obedience. Modern studies expand this framework by linking monotheism to contemporary challenges such as secularism, moral relativism, and technological ethics. In the Indonesian context, research demonstrates a gap between cognitive understanding of tawḥīd and its practical application in everyday life, especially among students exposed to globalization and digital culture. This study concludes that tawḥīd education must be re-centered as the axis of Islamic pedagogy. By integrating classical wisdom and modern realities, Lā ilāha illallāh can function as both a theological creed and an educational strategy, fostering intellectual coherence, spiritual resilience, and ethical clarity in Muslim identity formation.
Integration of Islamic Principles and Modern Educational Theories in Islamic Education Hadi, Abdul; Anim, Sarbini; Yasin, Hadi
QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Vol. 16 No. 2 (2024): Qalamuna - Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Program Pascasarjana IAI Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/qalamuna.v16i2.6105

Abstract

This research explores the integration of Islamic principles with modern educational theories to develop an understanding of Islamic education as a transformative platform to achieve human perfection. Based on the principles of Maqasid al-Sharia, which includes basic human rights such as Faith, Life, Intelligence, Heredity, and Wealth, Islamic education focuses on a holistic approach that includes spiritual, moral, and intellectual dimensions. The method used in this study is qualitative, with literature review as the main approach to analyzing diverse sources from Islamic teachings, Muslim philosophers, and Western thinkers. This research identifies trends and commonalities of concepts related to human development and perfection through different philosophical and religious perspectives. The study results show that Islamic education not only aims to provide knowledge but also to encourage spiritual, moral, and intellectual development that is in harmony with the universal principles of human dignity and perfection. The conclusion of this study suggests that Islamic education with a holistic approach can empower individuals to contribute meaningfully to society while achieving personal fulfillment. The implications of this research can enrich educational practices by integrating Islamic values into human development toward perfection, both at the individual and community levels.