Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

PERBANDINGAN PSIKOLOGI KEPRIBADIAN ISLAM DAN BARAT Abdul Hadi
Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam Vol 9 No 2 (2018): Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Islam As-Syafiiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.171 KB) | DOI: 10.34005/alrisalah.v8i2.372

Abstract

Tujuan utama dalam penelitian ini untuk menjelaskan dan mengkomparasikan Psikologi Kepribadian Barat dan Islam. Setelah menelaah terhadap beberapa referensi yang membahas tentang kepribadian baik yang bersumber dari khazanah keilmuan barat maupun Islam ditemukan: Keduanya ada titik persamaanya dan ada perbedaanya, dan ditemukan pula;bahwa Islam tidak menempa rumus atau teori tertentu mengenai kepribadian seperti yang telah eksis selama ini. Islam dalam menyoal kepribadian hanya menyajikan garis besarnya saja baik ketika berbicara mengenai krakter/typical manusia, maupun prilakuanya. Perlu diketahui pula Psikologi Kepribadian Islam memiliki banyak persamaan dengan Aliran Humanism dan Kognitif, namun memiliki banyak sekali perbedaan dengan Aliran Psikologi Analisis dan Behaviorsm, dan perlu digaris bawahi bahwa; Semua Aliran dalam Kepribadian ketika menganut pada dua dimensi dalam struktur manusia yaitu; Dimensi materi dan immateri tentunya akan lebih sejalan dengan pandangan Islam dalam menyoal Kepribadian.
DISKURSUS ISLAM NUSANTARA MENUJU INDONESIA BERKEMAJUAN Abdul Hadi
Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam Vol 10 No 1 (2019): Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Islam As-Syafiiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.285 KB) | DOI: 10.34005/alrisalah.v9i1.398

Abstract

Menjaga identitas diri ditengah derasnya arus globalisasi bukanlah hal yang mudah. Diperlukan keteguhan mental dan semangat patriotisme yang tinggi. Tujuan penulis dalam artikel ini untuk mendiskripsikan diskursus Islam Nusantara baik dalam konsep, metodologi, maupun implementasi. Islam Nusantara seringkali dipandang negative oleh sejumlah kalangan dan dituduh membawa ajaran agama baru. Dalam prakteknya model ini jauh telah dicontohkan oleh Wali Songo ketika mereka berdakwah ditengah-tengah masyarakat mayoritas Hindu pada saat itu. Islam Nusantara adalah identitas Muslim Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai Ukhuwah Islamiyah dan Wathaniyah, toleransi dalam perbedaan, dan mengedapankan kemaslahatan agama dan bangsa diatas kepentingan individu dan kelompok tertentu. Ajaran Islam diseluruh dunia sepakat sumber utamanya adalah Alquran dan Assunnah, Bagi Islam Nusantara kedudukan Ijma’ dan Qiyas, dan Maslahah Mursalah menjadi instrumen penting dalam menjelaskan kedua sumber tadi. Dalam masalah akidah berkiblat pada pemahaman Almaturidi dan Asya’ari, dalam masalah fiqih lebih mengedepankan Madzhab Asyafii, dalam maslah Tasawwuf dan Akhlak berkiblat pada Al Ghazali. Islam Nusantara dalam menetapkan pemahaman keagamaan adalahmensinergikan antara akal dan wahyu,antara teks yang tersirat dan tersurat, antara kemaslahatan individu dan umum, haantara kebutuhan dunia dan kebutuhan akhirat. Tujuan utama dari Islam Nusantara adalah mewujudkan tujuan utama Risalah Rasul yaitu: Islam Rahmatan Lil Alamin.
Membangun Pengetahuan dan Kreativitas Abdul Hadi
Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam Vol 10 No 2 (2019): Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Islam As-Syafiiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.2 KB) | DOI: 10.34005/alrisalah.v10i2.408

Abstract

Science and creativity are essential matter in Islam, because the last message from the sky is not longer physical form, like Prophet Moses’ stick and the Prophet Isa’s effective medicines, but the message has formed in faith and sciences values that embodied in the Quran, and it will be maintained until the end of the world even the prophet Mohammad has gone. In the message of our last Prophet Mohammad (Peace be upon him) put the sciences and creativity or ijtihad in Arabic term above of others, even both of them become the measure of someone devout to the Almighty. In Holey Qur’an verse of Fathir 28th Allah Said: “Verily the most afraid of Allah from His Servants are only scientists. According to Sir Najib Al Attas science divided into two parts: The first: The kind of science that is needed for the spiritual alive of Human Being, and studied it in Islamic law as personal compulsory ( Fardu Ain). The second: The kind of science that be asset of human life to embodied the thing that he wish to realize from his work. And studied it in Islamic law as personal complementary (Fardu Kifayah). In the view of Abraham Maslow: Creativity is the hidden common treasure, and every Human has potentials for get it. And It has become nature if the trees produce leaf, bird flies in the sky, and Human has capacity to create. We had known, that one of the characteristic of God is creator (albadi’). He is the most creator, this universe and all the contains are the results . So His glorious and greatness can be showed from His big creation. As same as creator, Human make creation or do ijtihad to produce beneficial things for goodness of human life , that make him the best servant of God. As Moslem who doesn’t have enough knowledge and creativities like body without soul, in the others main his existence in this world like nothings.
PSIKOLOGI ISLAM BAROMETER TERINTEGRASINYA ILMU DAN IMAN Abdul Hadi
Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam Vol 11 No 1 (2020): Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Islam As-Syafiiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/alrisalah.v11i1.658

Abstract

Tujuan utama dalam makalah ini untuk mendiskripsikan konsep Islam mengenai krakteristik manusia yang diyakini sebagai komponen penting dalam pendidikan dan filosofi pendidikan, dan bahkan hal itu menjadi sumber pokok melalui proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang diharapkan, semua filosofi pendidikan yang implementatif tidak dapat dikonseptualisasikan tanpa diawali dengan konsep yang jelas mengenai dimensi manusia utamanya menyangkut krakter dan tabiat penting lainya.Pendidikan Islam meskipun telah berkembang dengan cepat, namun dalam faktanya disadari atau tidak masih berkiblat pada psikologi Barat dalam menyoal sifat maupun prilaku manusia, dimana pandangan mereka banyak memiliki perbedaan dengan pandangan psikologi Islm. Dengan demikian Institusi pendidikan di Negara-negara Islam pada umumnya. baru saja menghasilkan generasi dengan identitas Islam namun pemikiran dan sikapnya masih cendrung mengadopsi Barat. Dengan cara menerapkan konsep Islam mengenai sifat manusia dalam pendidikan, diharapkan orang tua, guru, masyarakat, pemerintah dapat menyadari dan mengaktualisasikan sabda nabi: “Bahwa setiap anak dilahirkan dalam sifat primordial kerohanian Tuhan, namun lingkungan pendidikan yang membuatnya menjadi Yahudi, kristiani, dan Majusi. The main aim of this article to explan the concept of human nature which was regarded as an essential part of education and the philosophy of education, it also being the main source to achieve the positive out come through the proses of education, no effective philosophy of education can be conceptualized without clear concept of human nature.Islamic education even though has grow up speedly,but unwittingly still base on Western psychology that huge different of Islmic psychology in human nature approach. So Educational institution in Islamic countries just produced Islamic generation of identity with westen’s minded and attitude. By applying Islamic concept on human nature in education, parents, teachers, society, government are made to understand that child has born in primordial nature that has God conciusnes, and the educational environment that create them being Judism, Christian,and Magian.
KONSEP DAN PRAKTEK KESEHATAN BERBASIS AJARAN ISLAM Abdul Hadi
Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam Vol 11 No 2 (2020): Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Islam As-Syafiiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/alrisalah.v11i2.822

Abstract

Quran’s Position Health is a state of complete physical, mental, spiritual and social wellbeing, which must be safeguarded not only through the maintenance of a health preserving regime at the personal/individual level, but also through the establishment of a health-protective and promoting family system and a health-protective and promoting social system.In the light of Quranic verses, present Islamic principles of health and healing. Quran’s injunctions regarding Health: Fundamental Duties and Fundamental Prohibitions Islam’s strategy for health and healing Prevention 1. Primary . Tahara . Nutrition .Exercise. 2- Secondary Treatment of Diseases Mental Health, spiritual Health Therapeutic Sociology . In Islam, health is not a separate entity but one of the essential constituents of peace, which comprise peace at the individual, family and social level. There are three tiers of society: individual, family and society. All three have equal importance and none can be sacrificed through the sword of the other. Health therefore too has to involve all the three. Alquran memandang kesehatan adalah suatu kondisi sehat secara menyeluruh, baik secara fisik, mental, spiritual, dan sosial. Hal tersebut harus terjaga tidak hanya dengan menjaga masalah kesehatan secara individu, tapi juga perlu menjaga sistem menjaga kesehatan keluarga dan menjaga sistem kesehatan masyarakat.Dalam isyarat ayat-ayat Alquran mengetengahkan prinsip-prinsip menjaga kesehatan dan penyembuhan, prinsip ini terkait dengan perintah dan larangan yang harus dipatuhi agar kesehatan tetap terjaga. Pertama terkait dengan masalah kebersihan, nutrisi, dan olah raga. Kedua terkait dengan diagnosa terhadap masalah ganguan mental, spiritual, dan terapi sosial.Dalam Islam, kesehatan bukanlah entitas yang terpisah tetapi salah satu unsur penting dalam mewujudkan kedamaian, Kesehatan individu, keluarga dan sosial sangat terkait satu sama lain, dan ketiganya harus diperlakukan dengan adil dan berkesinambungan. Tidak dibenarkan mengorbankan salah satu komponen untuk kepentingan komponen lainya, ketiganya memiliki kepentingan sama dan harus diperlakukan sesuai dengan prinsip kebutuhan dan urgensinya.
THE CRITICAL CONCEPT OF NORMAL PERSONALITY IN ISLAM Abdul Hadi; Badrah Uyuni
Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam Vol 12 No 1 (2021): Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Islam As-Syafiiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/alrisalah.v12i1.1192

Abstract

This study come to high light the normal personality in Islam in regarding to human nature and behaviors. human in the perception of Islam is composed of the body and spirit, and behavior. Is the outcome of the interaction of these two components, to understand that interaction and those relationships must be aware of the first part of the human, and the other part of God. Human behavior mostly belongs to two different systems, starting to work and influence since the creation of the fetus in the mother's womb, this creation has two aspects, one body and the other breathed the soul. The Islamic point of view in interpreting human behavior on several levels, each level is suitable for understanding a specific knowledge source and a specific research methodology: There is a reflexive level of behavior and could be understood by way of behavior theory. And there is a physiological level and is understood by the physiological path., and there is a social level and is understood by sociology and anthropology, and there is spiritual level and is understood by divine science (revelation). Studi ini menyoroti kepribadian normal dalam Islam dan kaitannya dengan sifat dan perilaku manusia. Manusia dalam persepsi Islam terdiri atas badan, roh, dan tingkah laku. Apakah interaksi dan hubungan komponen-komponen tersebut harus menyadari bagian pertama dari manusia, dan bagian lain dari Tuhan. Tingkah laku manusia sebagian besar termasuk dalam dua sistem yang berbeda, mulai dari bekerja dan terpengaruh sejak lahirnya janin dari kandungan ibu, ciptaan ini memiliki dua aspek, satunya adalah jasad dan satunya lagi adalah bernafas. Sudut pandang Islam dalam memaknai tingkah laku manusia terdiri dari beberapa tingkatan, masing-masing tingkatan cukup untuk memahami sumber pengetahuan tertentu dan metodologi penelitian tertentu: Ada tingkah laku yang bersifat refleksif dan dapat dipahami melalui teori tingkah laku. Dan ada tingkat fisiologis dan dipahami oleh jalur fisiologis., Dan ada tingkat sosial dan dipahami oleh ilmu sosiologi dan ilmu antropologi, dan ada tingkat spiritual dan dipahami oleh ilmu ketuhanan (wahyu).
HAPPY LIFE STYLE (HAYATAN TAYYIBAH) FROM THE QUR'ANIC PERSPECTIVE Abdul Hadi
Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam Vol 12 No 2 (2021): Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Islam As-Syafiiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/alrisalah.v11i1.1239

Abstract

Islamic lifestyle mean is amount of topics and issues that satisfies Islam in human life, if we want to see that our lifestyle Islamic or not, we have to put some standart to evaluate it. But beside that, we must know rightly the concept and reality of the Islamic way of life. The standard of behavior in the Muslim community should be based on the principles of Islamic teachings, and the most important criteria for Islamic lifestyle based on the hole submission of God and the rule of Islamic values ​​in life. So we should be base on Islamic and Quranic teaching in personal life and social ones, and in this case we can be assured that Islam being our life style. Yang dimaksud dengan gaya hidup islami adalah banyaknya topik dan isu yang memuaskan Islam dalam kehidupan manusia, jika kita ingin melihat apakah gaya hidup islami atau tidak, kita harus menempatkan suatu standart untuk mengevaluasinya. Namun disamping itu, kita harus mengetahui dengan benar konsep dan realita jalan hidup Islam. Standar perilaku dalam masyarakat Muslim harus didasarkan pada prinsip-prinsip ajaran Islam, dan kriteria terpenting gaya hidup Islami berdasarkan lubang ketaatan Tuhan dan kaidah nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Jadi kita harus mendasarkan pada ajaran Islam dan Alquran dalam kehidupan pribadi dan sosial, dan dalam hal ini kita dapat yakin bahwa Islam menjadi gaya hidup kita.
CRITICAL REVIEW OF AL-GHAZALI'S SUFFICIENT THINKING AND ITS EXISTENCE IN INDONESIA Abdul Hadi
Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam Vol 14 No 1 (2023): Al-Risalah : Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Islam As-Syafiiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34005/alrisalah.v14i1.2275

Abstract

In the digital information era such as today, where everyone can express their ideas, it is like a double-edged sword with a contradictory angle between positive and negative. Among the negative ones is the rampant doctrine of "truth and safety claims" that always appear amid society due to fanaticism for specific thoughts and sure scientists. This research seeks to reveal Ghazali's thoughts on alternatives in building Islamic epistemology with an "intuitive" method. Ghazali cannot fully accept the courage that is obtained through the way of "empiricism" and "rationalism" because he considers both of them deceptive. To reach the truth, he offers an integrative approach that unites reason and revelation on the one hand and between Sufism and Shari'a on the other. Ihya Ulum al-Din, the most significant work, Ghazali, is a concrete manifestation of this integrative thought, especially between fiqh and tasawuf (shari'a and essence). This work received a large audience and was widely accepted in the Islamic world, especially in Indonesia. Di era digital informasi sekarang ini dimana semua orang dapat mengepresikan gagasanya laksana pisau bermata dua dengan engle yang kontradiktif antara positiv dan negatif. Diantara sekian yang negatif adalah maraknya doktrin “klaim kebenaran dan keselamatan” selalu muncul ditengah-tengah masyarakat, karena kefantikan pada pemikiran tertentu dan ilmuwan tertentu pula. Penelitian ini berupaya untuk mengungkap pemikiran Ghazali dalam membangun epistemologi Islam dengan metode “intuisi” . Ghazali tidak dapat menerima sepenuhnya keberan yang diperoleh melalui pancaindera “empirisme”, juga akal “rasionalisme”, karena keduanya dianggapnya suka menipu. Dalam upaya meraih kebenaran, beliau menawarkan alternative pendekatan “integrative” yang menyatukan antara akal dan wahyu di satu pihak, dan antara tasawuf dan syariat di lain pihak. Karya tebesar Ghazali, Ihya Ulum al-Din, merupakan wujud nyata dari pemikiran integrative itu, khususnya antara fiqih dan tasawuf (syariat dan hakkekat). Karya ini mendapat aundiensi besar dan diterima secara luas di dunia Islam khususnya di Indonesia.
Strengthening Moderation of Islamic Education to Overcome Terrorism Abdul Hadi; Khalis Kohari; Ifham Choli
International Journal of Emerging Issues in Islamic Studies Vol. 3 No. 1 (2023): July 2023
Publisher : Research Synergy Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31098/ijeiis.v3i1.1237

Abstract

This research aims to explain the moderation of Islamic education in the component of curriculum objectives. The global Covid-19 pandemic, which has made the world community damage their economic resources and life, has not reduced the series of attacks committed by terrorist groups in various parts of the world. On March 20, 2020, ISIS attacked seven countries; Egypt, Niger, Nigeria, Philippines, Somalia, and Yemen. The new paradigms of Islamic educational moderate curriculum will prevent the fundamentalism and terrorism which are increasingly prevalent in some Islamic educational institutions today. Because the weapon of security forces in counter-terrorism only kills terrorists but could not change their minds and behavior typically. In some schools, as reported by Islamic Research and Societies Centre Jakarta Islamic State University (2020) about the religious attitude of students towards intern and extern minorities group, noted: That 1 in 3 students of university Students was intolerant of religious practice. This research uses the qualitative method in a phenomenological variant to get the actual data from the informer's consciousness through observation and interviews with some structural employees and all religious teachers of Al- Azhar Islamic High School. The data analysis used Miles and Hiberman's approach, and its validation was technical triangulation. The researcher found the applied curriculum objectives at Al-Azhar Islamic High School either in educational objectives or its learning process as follows: 1. Mindset of integration 2. Religious and Smart attitude 3. Acting in good relations with others.
The Role of Technology in Promoting Collaborative Learning: Case Studies from Multicultural Classrooms Mansori, Mansori; Hadi, Abdul; Turmudzi, Imam; Jumriah, Jumriah; Anggraheni, Dini
International Journal of Educational Research Excellence (IJERE) Vol. 3 No. 2 (2024): July-December
Publisher : PT Inovasi Pratama Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55299/ijere.v3i2.1131

Abstract

The objective of this research is to examine the potential of technology in facilitating collaborative learning in a multicultural classroom setting at SMP 11 Jakarta. Given the culturally diverse student backgrounds, this research is concerned with the ways in which technology can facilitate enhanced interaction and collaboration among students from different cultural backgrounds. This research employs a qualitative approach utilising a case study methodology to gain comprehensive insights into the experiences and perceptions of students and teachers regarding the utilisation of technology in collaborative learning. The data were gathered via in-depth interviews, classroom observations, and the examination of pertinent documents. The findings demonstrate that technology not only facilitates communication between students but also fosters a more inclusive and collaborative learning environment. However, there are certain challenges associated with the implementation of technology, particularly with regard to students' digital literacy and the disparity in technology infrastructure across different settings.