Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Analisis Implementasi Koefisien Produktivitas Tenaga Kerja Pekerjaan Struktur Bangunan Gedung Berbasis Permen PUPR No. 1 Tahun 2022. Girsang, Hamonangan; Lutfyansyah, Yopi
Rekayasa Sipil Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/jrs.2025.v14.i1.01

Abstract

Kemajuan pelaksanaan proyek konstruksi ditentukan oleh sumber daya, baik sumber daya manusia maupun peralatan, tentu sumber daya yang digunakan harus terukur kompetensi meliputi kemampuan, kecepatan dan ketepatan, hal ini mencerminkan produktivitas sumber daya. Produktivitas tenaga kerja pada pekerjaan konstruksi adalah faktor berpengaruh terhadap kelancaran proyek konstruksi khusus segi waktu, sehingga diperlukan pengelolaan tenaga kerja yang baik untuk menghasilkan produktivitas yang optimal.Metode observasi pada penelitian ini dilakukan lewat pengambilan data kuantitatif di lapangan berdasarkan produksi yang dihasilkan tenaga kerja selama periode pengamatan yang fokus pekerjaan pembesian dan bekisting khusus pada struktur balok, kolom dan pelat lantai. Data hasil observasi dilakukan analisis sehingga mendapatkan koefisien produktivitas pekerjaan.Penelitian ini menghasilkan koefisien produktivitas tenaga kerja di lapangan adalah 0.0033 OH untuk kolom, 0.0025 OH untuk balok dan pelat lantai adalah 0.0019 OH pada pekerjaan pembesian, sedangkan untuk pekerjaan bekisting pada kolom 0.0983 OH, balok 0.1079 OH dan pelat lantai 0.0165 OH, lebih kecil dibandingkan dengan Permen PUPR No. 1 tahun 2022, hal ini berarti hasil pekerjaan yang dihasilkan tenaga kerja di lapangan lebih besar dari pada PUPR yaitu pekerjaan pembesian 0.066 OH pada struktur kolom, 0.066 OH pada struktur balok dan 0.033 OH pada pelat lantai sedangkan pekerjaan bekisting 0.1815 OH pada struktur kolom, 0.198 OH pada struktur balok dan 0.033 OH pada pelat lantai
Kendali Mutu Produksi Concrete Tunnel Segment Berbasis Metode Six Sigma Proyek Pembangunan Mass Rapid Transit Girsang, Hamonangan; Chamami , Ichsan
Jurnal Teknik Sipil Vol 20 No 1 (2024): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jts.v20i1.6391

Abstract

Development infrastructure construction of MRT Jakarta Project Phase 2A with length is 5.8 kilometers consist of seven underground stations, production concrete tunnel segment done by XY company as the ability to meet the quality of Japanese Industrial Standard provides added value to the company. However during the production process concrete tunnel segment products often defects. This is in line with production report within 4 weeks which found defects. This study aims to determine the percentage of defects in the production of concrete tunnel segment and determine the factors causing occurrence of defects than improvements can be made to control production quality. The six sigma analysis method was used in this study by carrying out five stages of analysis are define, measure, analyze, improve, and control. This study result is average percentage of defects occurred is 5.80% with a total chipped defect of 54.21%, cracks 30%, chipped and cracks 15.26%, and rejects 0.53% with an average sigma level of 3.07. Factors are very decisive in controlling the production quality of the concrete tunnel segment are work methods, people management and tools, where are three factors a direct role during the production work process.
KAJIAN PENERAPAN ASPEK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA PROYEK JALAN TOL XYZ Girsang, Hamonangan; Amalia, Hani
Jurnal Ilmiah MITSU (Media Informasi Teknik Sipil Universitas Wiraraja) Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Ilmiah MITSU
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wiraraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24929/ft.v13i2.4213

Abstract

The simultaneous implementation of occupational safety and health (OSH) has a positive and significant impact on accident rates. The higher the level of safety and OSH in the workplace, the lower the rate of workplace accidents. This study is related to the XYZ (Elevated) Toll Road Project, a toll road construction project that connects the Inner City Toll Road. During the execution of this project, an incident occurred in which an excavator operator made an error while operating heavy equipment and touched the MCB in the work area. This incident resulted in material damage and the potential for minor injuries to workers. To identify the key factors influencing OSH implementation in the XYZ (Elevated) Toll Road Project, a survey was conducted using questionnaires provided to staff and workers on the project. The collected data were then analyzed using SPSS software. The results of the research showed that OSH planning factors have a dominant influence on OSH implementation in the XYZ (Elevated) Toll Road Project, with a percentage of 41%.
Pengetahuan Teknik Pelaksanaan Renovasi Rumah Sederhana Pasca Gempa Untuk Warga Masyarakat Cihikeu, Cianjur, Jawa Barat. Girsang, Hamonangan; Djawu, Patricia Kanicia; Waseso, Arga Probo
ABDI MOESTOPO: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 7, No 1 (2024): Januari 2024
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/abdimoestopo.v7i1.3417

Abstract

Wilayah geografis Indonesia yang berada di kawasan lempeng bumi yang terus bergerak yaitu  Indo-Australia dari selatan, Eurasia dari utara, serta Pasifik dari timur. Itulah alasan mengapa Indonesia rawan terjadi gempa bumi.  Seperti gempa bumi Cianjur yang terjadi 21 November 2022 dengan kekuatan 5,6 Magnitudo berdampak merusak,  ratusan orang meninggal dan ribuan bangunan hancur. Pengetahuan masyarakat terkait gempa sangat terbatas yang menyangkut potensi, antisipasi,  dampak serta perbaikan bangunan.  Dengan keterbatasan tersebut maka perlu ditingkatkan pemahaman, pengetahuan kegempaan melalui sosialisasi dan penyuluhan. Melalui penyuluhan teknik cara merenovasi rumah tahan gempa secara berkelanjutan diharapkan para masyarakat memiliki kesadaran serta antisipatif dari ancaman bencana gempa. Perguruan Tinggi yang merupakan insan civitas akademik  bagian dari masyarakat yang cepat tanggap, peduli dan terpanggil menyebarkan pengetahuannya dalam mengantisipatif serta pemecahan masalah rendahnya pengetahuan masyarakat pemakai jasa konstruksi bangunan rumah sederhana. Penyuluhan yang dilakukan kepada warga masyarakat kampung Cihikeu, Desa Sarampad kabupaten Cianjur lewat paparan serta pengisian kuisioner yang mana dari hasil olah data kuisioner  masyarakat setempat memahami zonasi kegempaan daerah tinggal mereka, serta dapat menerapkan bahkan mengawasi serta mengantisipasi bencana gempa melalui keilmuan dan pengetahuan yang dimiliki dengan kekhususan pada renovasi konstruksi rumah yang terdampak gempa dengan menerapkan kaidah dan ketentuan yang berlaku yang dituangkan dalam Standard Nasional Indonesia.
Analysis of Cost and Time Implementation of Red Brick, Light Brick, and Precast Panel Wall Work in Housing Project Sukma, Diah Alifah Sukma; Girsang, Hamonangan
Jurnal Tekno Global Vol. 12 No. 02
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v12i02.3334

Abstract

ABSTRACT Residential facilities as suit people's purchasing power requires at this moment although to achieve that’s target shall do innovation, one of innovation is the use of efficient and effective materials. Material choices are increasing in the current era of technological advances. The ease of doing a job will speed up the implementation time which affects the cost of project implementation. One of the technological innovations in the construction sector is the emergence of new innovations for walls are lightweight bricks and precast panels which can be an option for wall work other than red brick. This research was conducted to analyze the cost and time of work on the ImpresaHaus BSD housing project specifically for wall work by comparing wall materials are red brick, light brick and precast panels. The method used is quantitative with a case study in the ImpresaHaus BSD Cluster. Data collection uses primary data in the interviews with related parties in the project. Meanwhile, the secondary data used is RAB data, Time Schedule, Work Drawings. Cost and time implementation calculations use observation data from contractors for red brick work, while walls from light brick and precast panels use AHSP PUPR Cipta Karya 2022 calculations and previous research. It was found that the cost using red brick material was IDR 68, 516,498,-  lightweight brick IDR 74, 446,694, and precast panels IDR 350,535,962,-, while the time for carrying out red brick wall work required 60 days, lightweight brick 50 days, and precast panels 26 days.  Keywords :Cost, brick, housing, precast, time.   ABSTRAK Fasilitas hunian yang sesuai daya beli masyarakat sangat dibutuhkan jaman sekarang ini, tentu untuk mencapai hal tersebut perlu dilakukan inovasi, salah satu bentuk inovasi yang dilakukan penggunaan material yang efisien dan efektif, dimana pilihan material semakin banyak di era kemajuan teknologi saat ini. Kemudahan mengerjakan suatu pekerjaan akan mempercepat waktu pelaksanaan yang berpengaruh terhadap biaya pelaksanaan proyek. Salah satu inovasi teknologi pada bidang konstruksi yaitu munculnya inovasi baru untuk dinding berupa bata ringan dan panel precast yang dapat menjadi pilihan pekerjaan dinding selain bata merah. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis biaya dan waktu pekerjaan proyek perumahan ImpresaHaus BSD khusus pada pekerjaan dinding dengan membandingkan material dinding bahan bata merah, bata ringan, dan panel precast. Metode yang dilakukan adalah kuantitatif dengan studi kasus di Cluster ImpresaHaus BSD. Pengumpulan data menggunakan data primer berupa hasil wawancara bersama pihak-pihak terkait di proyek. Sedangkan data sekunder yang digunakan adalah berupa data RAB, Time Schedule, Gambar Kerja. Perhitungan biaya dan waktu pelaksanaan menggunakan data pengamatan dari kontraktor untuk pekerjaan bata merah, sedangkan dinding berbahan material bata ringan dan panel precast menggunakan perhitungan AHSP Cipta Karya 2022 dan penelitian terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan biaya menggunakan material bata merah adalah Rp 68, 516,498,- bata ringan Rp 74, 446,694,- dan panel precast Rp.350,535,962,-, sedangkan waktu pelaksanaan pekerjaan dinding bata merah memerlukan 60 hari, bata ringan 50 hari, dan panel precast 26 hari.  Kata Kunci : Biaya, bata, perumahan, precast, waktu.
Analisis Metode Percepatan Pekerjaan Pondasi Borepile Berbasis Time Cost Trade off Proyek Tower Merial Jakarta Wahyudi, Eko; Girsang, Hamonangan
Jurnal Tekno Global Vol. 14 No. 01
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v14i01.5342

Abstract

ABSTRACT Construction project delays are common and often stem from various factors. Early detection and evaluation methods, such as Earned Value Management, can help mitigate these delays. This study focuses on the borepile foundation work for the Merial Tower Building, executed by PT. Adhi Karya, Tbk. and PT. Adhi Persada Gedung, which experienced a 1.090% deviation from its initial schedule.. So, it is necessary to accelerate so that the borepile foundation work can be completed according to plan. The purpose of this study is to determine the magnitude of the change in time and cost of the borepile foundation work for the acceleration alternative by adding working hours and the number of heavy equipment. The method used in this study is analysis and evaluation using the Time Cost Trade Off method, where the data collection process begins with the implementation of field observations to determine the project overview, work methods, and heavy equipment time cycles. In addition, secondary data related to the project was collected, including schedules, RAB, unit price analysis, number of workers, and number of heavy equipment. The analysis carried out using the Time Cost Trade Off method will compare costs and time, as normal, according to the initial plan and after acceleration. Under normal conditions, the required implementation duration is 132 days with a total cost of Rp 37,819,634,071.25. After an acceleration analysis with additional working hours, the implementation duration is 107 days with a total cost of Rp 38,064,956,631.98. In the acceleration with the addition of heavy equipment, the implementation duration is 126 days with a total cost of Rp 39,737,437,364.44. In the acceleration with the addition of working hours and heavy equipment, the duration is 87 days with a total cost of Rp 38,990,904,620.72. Based on the results of the Time Cost Trade Off analysis, the acceleration that produces optimum costs and time is acceleration by increasing working hours. However, if based on the completion target with a duration of 104 days, the most appropriate acceleration analysis is a combination of adding working hours and adding work equipment with a set of drilling equipment. Keywords : Acceleration, Cost, Time, Trade Off, Project   ABSTRAK Keterlambatan dalam proyek konstruksi sering terjadi dan dapat dideteksi lebih awal menggunakan metode Earned Value Management. Salah satu kasusnya adalah proyek pondasi borepile Gedung Merial Tower oleh PT. Adhi Karya, Tbk. dan PT. Adhi Persada Gedung yang mengalami deviasi waktu sebesar 1,090% dari rencana awal. Hal ini memerlukan adanya percepatan sehingga pekerjaan pondasi borepile dapat selesai sesuai dengan rencana. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui besarnya perubahan waktu dan biaya pekerjaan pondasi borepile atas alternatif percepatan dengan penambahan jam kerja dan  jumlah alat berat. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis dan evaluasi dengan menggunakan metode Time Cost Trade Off dimana proses pengumpulan data diawali dengan pelaksanaan observasi di lapangan untuk mengetahui overview proyek, metode pekerjaan dan time cycle alat berat. Selain itu dilakukan pengumpulan data sekunder terkait proyek antara lain schedule, RAB, analisis harga satuan, jumlah tenaga kerja, jumlah alat berat. Analisis yang dilakukan  dengan menggunakan metode Time Cost Trade Off  akan dilakukan  membandingkan  biaya dan waktu, normal sesuai rencana awal maupun setelah dilakukan percepatan. Pada kondisi normal, durasi pelaksanaan yang diperlukan selama 132 hari dengan total biaya sebesar Rp 37.819.634.071,25. Setelah dilakukan analisis percepatan dengan penambahan jam kerja, diperoleh durasi pelaksanaan sebesar 107 hari dengan total biaya sebesar Rp 38.064.956.631,98. Pada percepatan dengan penambahan alat berat diperoleh durasi pelaksanaan sebesar 126 hari dengan total biaya  sebesar Rp 39.737.437.364,44. Pada percepatan dengan penambahan jam kerja dan alat berat diperoleh durasi 87 hari dengan total biaya sebesar Rp 38.990.904.620,72. Berdasarkan hasil analisis Time Cost Trade Off, percepatan yang menghasilkan biaya dan waktu optimum adalah percepatan dengan menambah waktu kerja. Namun, jika berdasarkan target penyelesaian dengan durasi 104 hari, analisis percepatan yang paling sesuai adalah kombinasi penambahan jam kerja dan penambahan peralatan kerja dengan satu set peralatan pengeboran. Kata Kunci : Percepatan, Waktu, Biaya, Trade Off, Proyek.
Faktor Dominan Penyebab keterlambatan Pekerjaan Konstruksi Pembangunan West Village Tahap-2 Aji , Abdillah Bambang Seno; Girsang, Hamonangan; Nusantara, Zakky Wasthon
Jurnal Tekno Global Vol. 14 No. 02
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jtg.v14i02.5938

Abstract

ABSTRACT Construction projects are highly restrictive in terms of time, cost, and quality. Therefore, careful planning is required from all aspects to ensure smooth implementation. However, in practice, delays are often found, causing additional time and costs. As in a study conducted on the West Village Phase 2 Development Work in Bumi Serpong Damai, there was a cumulative deviation of 8.629% in the 14th week, where actual progress was only 39.958% compared to the planned 48.587%. This study aims to analyze the dominant factors causing project delays. The delay variables reviewed are occupational safety, occupational health, and worker performance sourced from previous research articles and other references. The method used is a quantitative approach by distributing questionnaires to 50 project stakeholders. From the results of the data obtained through the respondent questionnaire, data analysis was then continued using the SPSS version 27 application program. The results showed that the dominant factor influencing delays was the lack of construction materials with a factor test value of 99.4%. The shortage of construction materials on site during the installation schedule underscores the need for thorough supply chain and logistics management to ensure the availability of materials on site during the project. This can minimize the risk of delays and potential disputes. The results of this study are expected to provide practical benefits for construction actors in planning construction material management and alternatives to mitigate potential risks. It also enriches academic studies on factors contributing to construction project delays and provides lessons learned through mitigation measures during the planning process.  Keywords : Delay; Dominant; Factor; Construction; Project   ABSTRAK Proyek konstruksi  yang sangat ketat terhadap  batasan waktu, biaya, serta mutu yang telah ditetapkan. Sehingga  diperlukan perencanaan yang matang dari semua aspek untuk menjamin kelancaran dalam pelaksanaan. Namun dalam praktiknya sering ditemukan keterlambatan  yang menyebabkan penambahan waktu maupun biaya. Seperti pada penelitian yang dilakukan   pada Pekerjaan Pembangunan West Village Tahap 2 di Bumi Serpong Damai,  mengalami deviasi kumulatif keterlambatan sebesar 8,629% pada minggu ke-14, di mana progres aktual hanya 39,958% dibandingkan rencana 48,587%.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor dominan penyebab keterlambatan proyek dengan variabel keterlambatan yang ditinjau adalah keselamatan kerja, kesehatan kerja dan kinerja pekerja yang bersumber dari artikel penelitian terdahulu serta refensi lainnya. Metode yang digunakan adalah  menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melakukan penyebaran kuesioner kepada stake holder proyek yang berjumlah 30 responden. Dari hasil data yang diperoleh lewat kuisioner responden kemudian dilanjutkan dengan  analisis data melalui program aplikasi SPSS versi 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor dominan yang memengaruhi keterlambatan adalah kekurangan material konstruksi dengan nilai uji faktor sebesar  99,4%. Kekurangan material konstruksi dilapangan pada saat jadwal pemasangan  menggarisbawahi perlunya dilakukan pengelolaan terhadap rantai pasok dan manajemen logistik yang matang agar dalam pelaksanaan pekerjaan ketersediaan material ada di lapangan. Hal ini dapat meminimalis  risiko keterlambatan serta potensi sengketa yang mungkin terjadi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis bagi pelaku konstruksi untuk merencanakan dengan baik pengelolaan material konstruksi serta alternatif lain yang akan diambil dengan memitigasi risiko yang terjadi. Dan sekaligus memperkaya kajian akademis mengenai faktor keterlambatan proyek konstruksi serta menjadi pembelajaran dengan melakukan mitigasi di saat perencanaan berlangsung.  Kata Kunci : Dominan; Faktor; Konstruksi; Proyek; Terlambat
Comparative Analysis of Building X's Fiber Polymer Composite and Conventional Method Beam Reinforcement Time Performance lutfiansyah, Yopi; Girsang, Hamonangan; Novika Candra F; Agus Supiyat
Rekayasa Sipil Vol. 20 No. 1 (2026): Rekayasa Sipil Vol. 20 No. 1
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rekayasasipil.2026.020.01.9

Abstract

Initially, Building X in Jakarta functioned as a typical office building. Reinforcement was necessary because the building's purpose had changed to a bank office, which required a space for archives that necessitated a relatively large storage area. As is well known, if a structure bears too heavy a load or is not built properly, it will bend beyond its strength and split or break. The main factor is the change in buildings or other structures. The strength of a building's structure must be considered when it undergoes changes or additional loads, such as the addition of floors, increased loads, changes in the building's purpose, or alterations in its layout. The purpose of this study is to compare the performance time of beam reinforcement using the conventional method (jacketing) with Fiber Polymer composites in Building X. By examining the duration of each task specified in the detailed work structure, this methodology is based on empirical research and field observations. Based on the time study, it took 6 days to reinforce the beam structure using fiber polymer composites, compared to 17 days when using a jacketing system with concrete. Therefore, the use of fiber polymer composites resulted in a time efficiency of 64.7%.
ANALISIS IMPLEMENTASI KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA PROYEK KONSTRUKSI BERBASIS HIRADC Sampurna, Ryan Muhammad; Girsang, Hamonangan
axial : jurnal rekayasa dan manajemen konstruksi Volume 13, Nomor 2, Agustus Tahun 2025
Publisher : Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/axial.v13i2.4655

Abstract

Hazard Identification, Risk Assessment, And Determining Control atau disingkat HIRADC merupakan salah satu program K3 yang terdiri dari serangkaian kegiatan untuk mengidentifikasi bahaya yang mungkin terjadi di lokasi proyek konstruksi. Metode penelitian diawali dengan menyusun dan mengidentifikasi variabel berdasarkan tinjauan literasi dan penelitian sebelumnya kemudian melakukan pengambilan data lewat  kuesioner. Dengan menggunakan aplikasi statistik khusus yaitu SPSS versi 27, lalu dilanjutkan dengan analisis data dengan melakukan penilaian terhadap tingkatan risiko dan menentukan pengendalian risiko berbasis HIRADC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor dominan yang paling berpengaruh adalah faktor pengecoran dengan indikator terciprat adonan beton. Untuk meminimalisir kecelakaan kerja pada faktor dominan, tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah setiap pekerja diwajibkan menggunakan Alat Pelindung Diri  standard seperti Helm Safety, sepatu Safety, dan masker. Selain itu, kontrol tambahan dapat dilakukan dengan memasang rambu-rambu K3. Selanjutnya setelah dilakukan pengelolaan risiko dihasilkan perubahan tingkat risiko ekstrim dari 25,71 persen menjadi 0 persen dan perubahan tingkat risiko tinggi dari 25,71 persen menjadi 0 persen, Tingkat risiko sedang kisaran bahaya 25,71 persen menjadi 31,42 persen dan tingkat risiko rendah berkisar antara 22,87 persen hingga 68,58 persen.