Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

RITUAL DAN MAKNA SIMBOLIK PENGOBATAN PENYAKIT KETUMUH PADA SUKU MELAYU DESA LOKA JAYA KENUAL II KECAMATAN TANAH PINOH KABUPATEN MELAWI Herpanus, Herpanus; Oktaviani, Ursula Dwi; Hendro Riberu, Evensius Dimas; Dahlia, Dahlia
Jurnal Kansasi: Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia Vol 9, No 2 (2024): Jurnal Kansasi: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : PBSI STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpbs.v9i2.4438

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripkan ritual dan makna simbolik pengobatan penyakit Ketumuh pada suku Melayu di desa Loka Jaya Kenual II. Penyakit ketumuh adalah suatu penyakit yang menyerang organ penglihatan yaitu mata. Penyakit ini seperti penyakit katarak. Menurut masyrakat setempat penyakit ketumuh berbeda dengan penyakit katarak. Perbedaannya terlihat dari cara pengobatan. Jika pengobatan penyakit katarak bisa diobati dengan melakukan operasi, lain halnya dengan pengobatan penyakit ketumuh yaitu dengan cara tradisional, jika terlambat diobati penderita akan mengalami kebutaan seumur hidup. penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan bentuknya deskriptif. Proses ritual pada pengobatan penyakit ketumuh ini terdiri dari tiga tahapan   yaitu:   tahap  pertama menawar racun yang ada pada bola mata hitam, tahap yang kedua memutuskan saraf yang ada pada bagian bola mata hitam, pada tahap ketiga memutuskan saraf pada bagian mata putih. Makna simbolik yang terdapat pada pengobatan penyakit ketumuh terlihat pada masing-masing benda yang digunakan dalam setiap proses dan tahap pengobatan. Benda yang digunakan untuk pengobatan penyakit ketumuh ini memiliki makna yang sangat tersirat dan mengandung kekuatan yang luar biasa, untuk menunjang kesembuhan yang menderita penyakit tersebut.Kata Kunci: Ritual dan Makna Simbolik Penyakit Ketumuh
PENGARUH MODEL NUMBERED HEAD TOGETHER TERHADAP KETERAMPILAN MEMBACA NYARING PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 4 PUTUSSIBAU KECAMATAN PUTUSSIBAU UTARA KABUPATEN KAPUAS HULU Herpanus, Herpanus; Olang, Yusuf
Jurnal Kansasi: Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Kansasi: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : PBSI STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpbs.v10i2.6129

Abstract

Keterampilan membaca nyaring sangat penting dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan berbahasa, meningkatkan pemahaman dan menumbuhkan minat baca. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) penerapan Model Numbered Head Together terhadap keterampilan membaca nyaring; (2) menganalisis pengaruh model Numbered Head Together; (3) mengeksplorasi respon siswa dalam penggunaan model Numbered Head Together terhadap keterampilan membaca nyaring pada siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Putussibau Kecamatan Putussibau Utara Kabupaten Kapuas Hulu. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuantitatif dengan bentuk penelitian quasi eksperimental design ( eksperimen semu) dan teknik pengumpulan data menggunakan; (1) teknik pengukuran; (2) teknik komunikasi tidak langsung. Analisis data menggunakan; (1)observasi; (2)soal tes; (4) angket. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa; (1) Proses pembelajaran melalui penerapan Model Numbered Head Together pada materi membaca nyaring di kelas eksperimen berjalan dengan baik hasil observasi siswa kelas eksperimen pada pertemuan pertama 95,23% dan kedua 96,18% berkriteria sangat baik. (2)Terdapat perbedaan yang signifikan antara keterampilan membaca nyaring siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan uji hipotesis menggunakan uji parametrik yaitu uji t-2 sampel. Oleh karena Thitung > Ttabel yaitu – 2,14 > 2,000247 maka Ha diterima dan Ho ditolak (3) Respon siswa setelah proses model Numbered Head Together pada materi membaca nyaring di kelas VIII SMP Negeri 4 Putussibau Kecamatan Putussibau Utara Kabupaten Kapuas Hulu. dengan kategori kuat yaitu 13,33% persentase 61% - 80% sehingga respon siswa baik Penelitian ini diharapkan meningkatkan kemampuan analisis, berfikir kritis, memecahkan masalah, menambah pengetahuan, semua pihak, baik siswa, guru, maupu sekolah. Penelitian ini dapat menjadi pijakan awal bagi penelitian selanjutnya yang ingin mendalami dunia pendidikan. Kata kunci: Model Numbered Head Togethe Keterampilan Membaca Nyaring
Menelusuri Variasi Bahasa Dayak di Kapuas Hulu: Kajian Dialektometri Atas Delapan Isolek Abdulmalik, Irmayani; Asfar, Dedy Ari; Irawan, Yusup; Setiawan, Foni Agus; Herpanus, Herpanus; Pramulya, Muhammad
Aksara Vol 37, No 2 (2025): AKSARA, EDISI DESEMBER 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i2.4920.242-256

Abstract

This article aims to present the distribution of eight Dayak isolects in Kapuas Hulu Regency from a dialectometric perspective. Based on dialectometric calculations, primary data consisting of a number of vocabulary items in the target language obtained through fieldwork were analyzed using Séguy's formulation, then grouped according to Guiter's scale and compared with Lauder's scale. The results show that language classification referring to Guiter's scale produces four language groups, namely Kayaan, Tamanik, Ibanik, and Buket-Punan. Within the Tamanik language, there is a subdivision at the level of subdialect differences, namely Taman and Tamambaloh. Furthermore, the Taman subdialect itself is further divided into two variants that are at the level of no difference, namely Taman Kapuas and Taman Sibau. The other language group is Ibanik. According to Guiter's scale, this language group is divided into the Kantuk and Iban variants, both of which are at the subdialect difference level. The last language group is Buket-Punan. Interestingly, this last language group shows different results from the perspectives of Guiter and Lauder. Based on Guiter's scale, this language group is considered a single language but with different dialects. Conversely, according to Lauder's scale, Buket and Punan are regarded as two distinct languages. This demonstrates differing interpretations of language grouping between Guiter and Lauder. In other words, if based on Guiter's scale, the eight isolects can be grouped into four languages. However, according to Lauder, the eight isolects can be grouped into five languages. AbstrakTulisan ini bertujuan memaparkan distribusi delapan isolek Dayak di Kabupaten Kapuas Hulu dalam perspektif dialektometri. Dengan berlandaskan pada penghitungan dialektometri, data primer berupa sejumlah kosakata dalam bahasa target yang diperoleh melalui pupuan lapangan dianalisis menggunakan formulasi Séguy yang kemudian dikelompokkan berdasarkan skala Guiter dan diperbandingkan dengan skala Lauder. Hasilnya menunjukkan bahwa klasifikasi bahasa yang merujuk pada skala Guiter menghasilkan empat kelompok bahasa, yaitu, Kayaan, Tamanik, Ibanik, dan Buket-Punan. Pada bahasa Tamanik, terdapat turunan pengelompokan pada taraf beda subdialek, yaitu Taman dan Tamambaloh. Selanjutnya, pada subdialek Taman sendiri terbagi lagi menjadi dua varian yang berada pada level tidak ada beda, yaitu Taman Kapuas dan Taman Sibau.  Kelompok bahasa lainnya adalah Ibanik. Berdasarkan skala Guiter, kelompok bahasa ini terbagi menjadi varian Kantuk dan Iban yang keduanya berada pada level beda subdialek. Kelompok bahasa terakhir adalah Buket-Punan. Uniknya, kelompok bahasa terakhir ini memperlihatkan hasil yang berbeda dari sudut pandang Guiter dan Lauder. Berdasarkan skala Guiter, kelompok bahasa ini adalah satu bahasa yang sama tetapi dialek yang berbeda. Sebaliknya, jika merujuk pada skala Lauder, Buket dan Punan dianggap sebagai dua bahasa yang berbeda. Ini memperlihatkan interpretasi pengelompok bahasa yang berbeda antara Guiter dan Lauder. Artinya, jika didasarkan pada skala Guiter, delapan isolek itu dapat dikelompokkan menjadi empat bahasa. Namun, menurut Lauder, delapan isolek tersebut dapat dikelompokkan menjadi lima bahasa.