Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Peran Podcast dalam Penginjilan Digital, Upaya Gereja terhadap Misi dan Pembentukan Etis Teologis Jemaat di Era disrupsi Suseno, Aji; Arifianto, Yonatan Alex; Rahayu, Yohana Fajar
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 5, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - April 2025
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v5i1.123

Abstract

The development of internet of thoughts technology, in an era of increasingly massive digital disruption, the church faces new problems in delivering the message of the Great Commission. Where busyness and the internet that changes the culture of communication becomes a new opportunity in digital mission. One of the tools that is now increasingly popular is podcasts, a medium that allows evangelism to be carried out more flexibly and accessibly. The role of podcasts in digital evangelism is becoming increasingly relevant given the high internet penetration and people's preference for audio content consumption. This study aims to examine how churches utilise podcasts as a tool to support evangelistic missions and theological ethical formation of congregations in the midst of changing times. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach and content analysis of podcasts uploaded on digital platforms.  The conclusions of the findings of this study indicate that digital mission is actually in the order of the Great Commission. and the role of podcasts in digital evangelism provides new opportunities for wider and deeper evangelism, expanding the reach of the gospel message among all audiences. This is what educates the church in building a culture of mission and forming digital ethics. although there is an influence of digital evangelism on the mission of the church, the formation of digital ethics in evangelism. this is an opportunity and challenge in digital evangelism through podcasts. In addition, podcasts are also an important tool in shaping theological understanding and church ethics that are more relevant in this era of disruption.  Therefore, the church can utilise podcasts as a medium that is adaptive to cultural and technological changes, strengthening the relevance of evangelistic mission in a changing world.AbstrakPerkembangan teknologi internet of Thinks, di era disrupsi digital yang semakin massif, gereja menghadapi persoalan baru dalam menyampaikan pesan  Amanat Agung. Di mana kesibukan dan internet yang merubah budaya komunikasi menjadi peluang baru di misis digital. Salah satu sarana yang kini semakin populer adalah podcast, sebuah media yang memungkinkan penginjilan dilakukan secara lebih fleksibel dan aksesibel. Peran podcast dalam penginjilan digital menjadi semakin relevan mengingat penetrasi internet yang tinggi dan preferensi masyarakat terhadap konsumsi konten audio. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana gereja memanfaatkan podcast sebagai alat untuk mendukung misi penginjilan dan pembentukan etis teologis jemaat di tengah perubahan zaman. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka dan analisis konten podcast yang diupload di platform digital.  Adapaun kesimpulan dari temuan  penelitian ini menunjukkan bahwa sejatinya digital misi dalam perintah Amanat Agung. dan peran podcast dalam penginjilan digital memberikan peluang baru untuk penginjilan yang lebih luas dan mendalam, memperluas jangkauan pesan Injil di kalangan semua audiens. Hal inilah yang menjadi edukasi jemaat dalam membangun budaya misi dan membentuk etika digital. walaupun adanya pengaruh penginjilan digital terhadap misi gereja pembentukan etika digital dalam penginjilan. ini menjadi kesempatan dan tantangan dalam penginjilan digital melalui podcast. Selain itu, podcast juga menjadi sarana penting dalam membentuk pemahaman teologis dan etika gereja yang lebih relevan di era disrupsi ini.  Maka itu gereja dapat memanfaatkan podcast sebagai media yang adaptif terhadap perubahan budaya dan teknologi, memperkuat relevansi misi penginjilan dalam dunia yang terus berubah.
Pemberdayaan Ekonomi Lansia Dengan Pelatihan Pembuatan Minuman Herbal (Wedang Empon-Empon) Dalam Kemasan Sachet Surahman, Sukma Hendra Wahyudi; Suseno, Aji
Philosophiamundi Vol. 3 No. 3 (2025): Philosophiamundi June 2025
Publisher : PT. Kreasi Karya Majakata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Community Service Program (PkM) is an effort to realize service aimed at improving the lives of the community. In this PkM activity, the aim is to empower the elderly through training in the production of herbal powder drinks in sachet packaging as a form of creativity and an effort to improve family economics. The activity was conducted at the BPW Kras Adult Sunday School in Kediri, with the main targets being the elderly and productive adults. The training includes socialization of the benefits of herbal ingredients such as ginger, turmeric, temulawak, and kencur, as well as practical sessions on making and packaging herbal products. The methods used were demonstrations, hands-on practice, and participatory evaluation. The results show an increase in participants' knowledge and skills in recognizing herbal ingredients and producing health drinks. This program shows that the elderly have the potential to actively contribute to productive activities if provided with appropriate training and support for their needs.
Membangun dan Memperkuat Tim Ibadah Gereja Melalui Disiplin dan Kekuatan Injil Yudha, Yosua Manggala; Suseno, Aji
Philosophiamundi Vol. 3 No. 3 (2025): Philosophiamundi June 2025
Publisher : PT. Kreasi Karya Majakata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dalam bentuk Kerja Nyata Praktik Terpimpin (KNPT) ini bertujuan untuk mengintegrasikan kompetensi teologis, keterampilan pelayanan, dan pendekatan pemuridan ke dalam kehidupan nyata pelayanan gereja lokal. Bertempat di Gereja Baptis Indonesia (GBI) Getsemani Kediri, proyek ini mengambil pendekatan transformatif berbasis Injil dalam membina dan memperkuat tim penatalayanan Ibadah dan Musik. Pendekatan ini didasarkan pada prinsip Alkitabiah yang menekankan kesatuan tubuh Kristus, pertumbuhan rohani yang berkelanjutan, dan pengembangan karakter pelayan sebagai duta kasih Kristus di tengah jemaat dan masyarakat. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi observasi, wawancara partisipatif, pengajaran tematik, diskusi kelompok kecil, dan pemuridan berbasis komunitas. Kegiatan dilaksanakan secara terstruktur dalam kurun waktu tiga bulan, dengan melibatkan berbagai elemen jemaat sebagai peserta aktif. Materi ajar diambil dari Alkitab dan buku 'Pelayanan Musik' karya Mike & Viv Hibbert, yang dikontekstualisasikan untuk kebutuhan lokal gereja. Hasil dari pelaksanaan PKM ini menunjukkan adanya pertumbuhan signifikan dalam kesadaran rohani, kedisiplinan pelayanan, dan keterbukaan relasional di antara para pelayan. Terbentuknya kelompok pemuridan yang berkelanjutan menjadi indikasi keberhasilan model yang diterapkan. Lebih jauh, kegiatan ini memberi kontribusi nyata bagi gereja dalam menata ulang strategi pelayanan musik agar lebih berbasis pada firman Tuhan dan misi gereja. Diharapkan program ini dapat direplikasi dan dijadikan sebagai pola pembinaan berkelanjutan di lingkup gereja Baptis lainnya.
Penjangkauan Jiwa Melalui Pelatihan Menanam Tanaman Hortikultura di Lingkungan GBI Cabang Berbek Wahyudi, Tri; Suseno, Aji
Philosophiamundi Vol. 3 No. 3 (2025): Philosophiamundi June 2025
Publisher : PT. Kreasi Karya Majakata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini menggambarkan hasil pelaksanaan program pengabdian masyarakat dalam bentuk Kuliah Nyata Praktik Terpimpin (KNPT) yang dilaksanakan di Gereja Baptis Indonesia (GBI) Genesaret Cabang Berbek, Nganjuk. Tujuan kegiatan ini adalah menjangkau jiwa melalui pelatihan budidaya tanaman hortikultura sebagai pendekatan kontekstual dalam pelayanan. Dengan memanfaatkan lahan kosong dan potensi warga sekitar, pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi sekaligus membuka ruang kesaksian iman secara praktis. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan teknis pembibitan, penanaman, hingga perawatan tanaman. Hasil pelatihan menunjukkan antusiasme tinggi dari peserta dan peningkatan relasi sosial-rohani antara gereja dan masyarakat. Meskipun menghadapi kendala seperti cuaca dan keterbatasan dana, program ini berhasil membentuk dasar kewirausahaan sederhana dan menumbuhkan semangat pekabaran Injil dalam bentuk karya nyata.
Integrasi Teologi Penginjilan dan Misi Digital dalam Kepemimpinan Gereja Era Teknologi Djajadi, Soewieto; Suseno, Aji; Rahayu, Yohana Fajar
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 5, No 2 (2025): Ritornera: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia - Agustus 2025
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v5i2.141

Abstract

The development of digital technology has changed the way people live. As a community of faith, the church faces the challenge of remaining relevant in reaching the digital generation that lives in a virtual culture. However, traditional evangelism approaches, which still dominate, often fail to adapt to the rapid changes of the times. The phenomenon of increasing digital activity among the younger generation, while the church lags behind in the use of digital media for evangelism, highlights a gap between ministry strategies and real-world needs. This study aims to examine how the integration of evangelistic theology and digital mission can be strategically applied in contemporary church leadership. Using qualitative methods, it can be concluded that the essence of evangelism theology is deeply rooted in biblical foundations, which serve as the primary basis for designing contextual mission strategies in the digital age. The concepts and practices of digital mission represent an actual expansion of the Great Commission, now carried out through media and virtual spaces. Church leadership in the technological era is required to be adaptive, innovative, and theological in order to guide the congregation in mission service. Therefore, the integration of evangelical theology and digital mission has become an urgent need, not only to address the challenges of the times but also to shape a strategic pattern of digital evangelical leadership for the future of the church. This approach will encourage the church to remain faithful to the Gospel call while being responsive to the changes of the times.
Spiritualitas Kristen di Era Overstimulasi Digital: Tantangan Iman dan Kesehatan Mental Jemaat Suseno, Aji; Arifianto, Yonatan Alex; Sumual, Elisa Nimbo
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i2.484

Abstract

The digital age is characterised by a constant and massive flow of information, causing humans to experience overstimulation that affects various aspects of life, including spirituality, faith, and mental health. Christianity faces difficulties in maintaining the depth of faith, as spiritual practices that should be contemplative and reflective are displaced by instant culture and religious digitalisation, or addiction to the internet and gadgets. Spirituality, which was once built on a deep relationship with God, now tends to be shallow and routine, lacking focus. The purpose of this study is to analyze the urgency of the church's role in shaping a genuine Christian spirituality amidst digital overstimulation. This study employed a descriptive qualitative method with a literature review approach. The study concluded that digital overstimulation contributes to an unconscious spiritual crisis, necessitating an understanding of the nature of digital overstimulation and the disorientation of Christian spirituality. Likewise, Christian mental health and spirituality are situated between the depth of tradition and the challenges of the digital context. Therefore, the church's role in faith formation in an era of overstimulation is crucial for building a contextual and contemplative model of spirituality. Contextual Christian spirituality must guide people to live consciously, be fully present before God, and remain firmly rooted in the Christian faith.AbstrakEra digital ditandai oleh deras dan masifnya arus informasi yang terus-menerus, menyebabkan manusia mengalami overstimulus sehingga memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk spiritualitas, iman dan kesehatan mental. Kekristenan menghadapi kesulitan mempertahankan kedalaman iman, karena praktik-praktik rohani yang seharusnya kontemplatif dan reflektif tergeser oleh budaya instan dan digitalisasi religius ataupun kecanduan internet maupun gadget. Spiritualitas yang dulunya dibangun dalam relasi mendalam dengan Allah kini cenderung dangkal dan rutinitas yang tidak fokus. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis urgensi peran gereja dalam membentuk spiritualitas Kristen yang nyata di tengah kondisi overstimulus digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka. Penelitian menyimpulkan bahwa overstimulus digital berkontribusi terhadap krisis spiritual yang tidak disadari dan karenanya perlu memahami hakikat overstimulus digital dan disorientasi spiritualitas Kristen. Demikian pula dengan kesehatan mental dan spiritualitas Kristen yang berada diantara kedalaman tradisi dan tantangan konteks digital. Oleh karena itu, peran gereja dalam pembentukan iman di era overstimulus menjadi sangat penting untuk membangun model spiritualitas kontekstual dan kontemplatif. Spiritualitas Kristen yang kontekstual harus menuntun umat untuk hidup secara sadar, hadir secara utuh di hadapan Allah, serta tetap berakar kuat dalam iman Kristen.
Meningkatkan Nilai IQ melalui Penerapan Story-telling dalam Pengajaran Kristen: Kajian Berbasis Daniel 1:8-20 Leiwakabessy, Tabita; Purwonugroho, Daniel Pesah; Suseno, Aji
Jurnal Lentera Nusantara Vol 3, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen (Juni 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jls.v3i2.277

Abstract

Intellectual intelligence is essential for the development of learners. Success in problem-solving, analysis, reasoning, and application demonstrates the competence of learners in enhancing aspects of IQ intelligence. IQ is highly dependent on the learning materials. The interaction in communicating learning materials varies greatly depending on the teacher's ability to choose appropriate teaching methods to achieve optimal learning outcomes. Storytelling is chosen as a teaching method to stimulate the IQ values of learners. The teaching materials in storytelling are also designed to bring benefits to learners. From a Christian perspective, the story of Daniel can lead learners to experience intellectual intelligence. Daniel's obedience to God gives him high intelligence because of God's grace. Through storytelling based on the story of Daniel, learners can emulate Daniel's obedience to God. With a descriptive qualitative approach, it can be concluded that storytelling of the Daniel 1:8-20 story can enhance the IQ scores of learners.AbstrakKecerdasan intelektual dibutuhkan untuk mengembangkan diri peserta didik. Keberhasilan memecahkan masalah, menganalisa, menalar dan mengaplikasikan membuktikan kompetensi peserta didik mampu meningkatkan aspek kecerdasan IQ. IQ sangat bergantung dengan mater pembelajaran. Interaksi dalam mengkomunikasikan materi pembelajaran sangat bervariasi tergantung kemampuan guru dalam memilih metode mengajar yang sesuai agar dapat meraih hasil belajar yang maksimal. Story-telling dipilih sebagai metode mengajar untuk merangsang nilai IQ peserta didik. Bahan ajar dalam story-telling juga di desain agar dapat membawa manfaat kepada peserta didik. Dalam perspektif Kristen, kisah tentang Daniel dapat membawa peserta didik mengalami kecerdasan intelektual. Ketaatan Daniel kepada Allah membuat Daniel memiliki kemampuan intelegensi yang tinggi karena anugerah Allah. Dengan story-telling berbasis kisah Daniel, maka peserta didik dapat meneladani ketaatan Daniel kepada Allah. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, dapat disimpulkan bahwa story-telling kisah Daniel 1:8-20 dapat meningkatkan nilai IQ peserta didik.
Konkritisasi Kepercayaan Keselamatan Kaum Baptis Dalam Kisah 4:12 Sebagai Landasan Misiologi Masa Kini Rusmanto, Ayub; Suseno, Aji
Jurnal Lentera Nusantara Vol 1, No 2 (2022): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.715 KB) | DOI: 10.59177/jls.v1i2.144

Abstract

The principle of salvation according to the Baptists is a very basic principle or doctrine in the life of a believer, which must be interpreted correctly and inventively in proportion to the prescriptions of God's Word. Therefore, analyzing, investigating and reviewing and researching it comprehensively is something that is very significant. Salvation is the urgency, interest and hope of all mankind, because humans have fallen into sin both individually and communally. The research method used is a qualitative type through library research and this research stage is carried out by mobilizing and collecting several library sources, both basic and subordinate. This study aims to comprehensively investigate the beliefs of the Baptists: the concretization of the belief in salvation in Acts 4:12 as the foundation of contemporary missiology. Through this research, it is found that the understanding of salvation as the foundation of the present mission given to Baptists has a definite impact on efficiency and effectiveness for the lives of Christians in the present and in the future.AbstrakPrinsip keselamatan menurut kaum Baptis suatu prinsip atau doktrin yang sangat mendasar dalam kehidupan orang percaya, yang harus dinterpretasikan dengan benar dan inventif proposional dengan preskripsi Firman Tuhan. Karena itu, menganalisis, meneyelidiki dan mengkaji serta menelitinya secara komprehensif merupakan sesuatu yang sangat signifikan. Keselamatan merupakan urgensi, interes dan harapan semua umat manusia, karena manusia telah jatuh ke dalam dosa baik secara perorangan maupun komunal. Metode penelitian ini yang digunakan adalah jenis kualitatif melalui metode studi pustaka (library research) dan tahapan penelitian ini dikerjakan dengan upaya mengerahkan dan menghimpun beberapa sumber kepustakaan, baik yang bersifat mendasar maupun subordinat. Penelitian ini bertujuan menyelidiki secara komprehensif kepercayaan kaum Baptis:    konkritisasi kepercayaan keselamatan dalam Kisah Para Rasul 4:12 sebagai landasan misiologi masa kini. Melalui penelitian ini ditemukan pemahaman keselamatan sebagai landasan misi masa kini yang diberikan kepada umat Baptis  berdampak definit bagi efisiensi dan berdaya guna bagi hidup orang Kristen di masa kini dan mendatang.
TEOLOGI DIGITAL DAN RELEVANSI MISI GEREJA DI ERA VIRTUAL: STUDI KRITIS EVANGELISASI ONLINE DI KALANGAN GENERASI MILENIAL DAN GEN Z Sriyanto, Bambang; Suseno, Aji
Manna Rafflesia Vol. 12 No. 1 (2025): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v12i1.623

Abstract

The sophistication of digital-based technology and communication has shaped a new culture that fundamentally changes the way humans relate to and understand reality, including in their spiritual lives. The Church, as a community of faith, is challenged to redefine its mission of proclaiming the Gospel to align with the dynamic and complex communication patterns of the digital generation. Unfortunately, many online evangelisation practices remain technical in nature and lack deep theological reflection. Millennials and Gen Z, as digital natives, show an interest in spirituality but feel disconnected from church institutions perceived as irrelevant. This study aims to develop a theology of mission to address the dynamics of digital evangelisation among these younger generations. Through a qualitative approach based on literature review, the conclusion of this study states that digital theology becomes a new foundation for relevant Gospel proclamation in the virtual era, especially in reaching Millennials and Gen Z who live in a digital culture. Online evangelism practices require the development of contextual, ethical, and authentic message-based digital missiology. Therefore, the church needs to reformulate its mission theology as a form of incarnational, dialogical, and transformative witness in the midst of an ever-evolving virtual world.
Kemurahan Hati Jemaat sebagai Praktik Iman dalam Pelayanan Sosial di Gereja Baptis Indonesia Candi Semarang Pudjiastuti, Hendi; Suseno, Aji
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 1 (2025): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i1.453

Abstract

Social service is a tangible manifestation of Christian faith that requires the active involvement of the congregation in responding to social needs in their community. In the context of the local church, the generosity of the congregation is often understood in a limited sense as an act of giving, without sufficient reflection on its theological meaning and pastoral implications. This condition raises problems when the church's social service practices develop, but the congregation's awareness of generosity as an expression of faith has not been fully internalised. The phenomenon of the involvement of the congregation of the Indonesian Baptist Church of Candi Semarang in various social service programmes shows that there are various dynamics of faith in the practice of generosity. This study aims to examine how the congregation's generosity is interpreted as a practice of faith and manifested in the church's social services. This study uses a qualitative approach with in-depth interviews and participatory observation methods. The results show that the congregation's generosity is understood as a response of faith to God's love that encourages social involvement. This practice contributes to the formation of an integrative spirituality among the congregation between faith and social action. In addition, social services rooted in generosity strengthen the church's witness in the community and broaden the understanding of practical theology in the context of the local church.AbstrakPelayanan sosial merupakan salah satu wujud nyata dari iman Kristen yang menuntut keterlibatan aktif jemaat dalam menjawab kebutuhan sosial di sekitarnya. Dalam konteks gereja lokal, kemurahan hati jemaat sering kali dipahami secara terbatas sebagai tindakan memberi, tanpa refleksi iman yang memadai mengenai makna teologis dan implikasi pastoralnya. Kondisi ini menimbulkan persoalan ketika praktik pelayanan sosial gereja berkembang, namun kesadaran jemaat terhadap kemurahan hati sebagai ekspresi iman belum sepenuhnya terinternalisasi secara mendalam. Fenomena keterlibatan jemaat Gereja Baptis Indonesia Candi Semarang dalam berbagai program pelayanan sosial menunjukkan adanya dinamika pemaknaan iman yang beragam dalam praktik kemurahan hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana kemurahan hati jemaat dimaknai sebagai praktik iman dan diwujudkan dalam pelayanan sosial gereja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam, observasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemurahan hati jemaat dipahami sebagai respons iman atas kasih Allah yang mendorong keterlibatan sosial. Praktik tersebut berkontribusi pada pembentukan spiritualitas jemaat yang integratif antara iman dan tindakan sosial. Selain itu, pelayanan sosial yang berakar pada kemurahan hati memperkuat kesaksian gereja di tengah masyarakat dan memperluas pemahaman teologi praktis dalam konteks gereja lokal.