Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Penjangkauan Jiwa Melalui Pelatihan Menanam Tanaman Hortikultura di Lingkungan GBI Cabang Berbek Wahyudi, Tri; Suseno, Aji
Philosophiamundi Vol. 3 No. 3 (2025): Philosophiamundi June 2025
Publisher : PT. Kreasi Karya Majakata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini menggambarkan hasil pelaksanaan program pengabdian masyarakat dalam bentuk Kuliah Nyata Praktik Terpimpin (KNPT) yang dilaksanakan di Gereja Baptis Indonesia (GBI) Genesaret Cabang Berbek, Nganjuk. Tujuan kegiatan ini adalah menjangkau jiwa melalui pelatihan budidaya tanaman hortikultura sebagai pendekatan kontekstual dalam pelayanan. Dengan memanfaatkan lahan kosong dan potensi warga sekitar, pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi sekaligus membuka ruang kesaksian iman secara praktis. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan teknis pembibitan, penanaman, hingga perawatan tanaman. Hasil pelatihan menunjukkan antusiasme tinggi dari peserta dan peningkatan relasi sosial-rohani antara gereja dan masyarakat. Meskipun menghadapi kendala seperti cuaca dan keterbatasan dana, program ini berhasil membentuk dasar kewirausahaan sederhana dan menumbuhkan semangat pekabaran Injil dalam bentuk karya nyata.
Integrasi Teologi Penginjilan dan Misi Digital dalam Kepemimpinan Gereja Era Teknologi Djajadi, Soewieto; Suseno, Aji; Rahayu, Yohana Fajar
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 5, No 2 (2025): Ritornera: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia - Agustus 2025
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v5i2.141

Abstract

The development of digital technology has changed the way people live. As a community of faith, the church faces the challenge of remaining relevant in reaching the digital generation that lives in a virtual culture. However, traditional evangelism approaches, which still dominate, often fail to adapt to the rapid changes of the times. The phenomenon of increasing digital activity among the younger generation, while the church lags behind in the use of digital media for evangelism, highlights a gap between ministry strategies and real-world needs. This study aims to examine how the integration of evangelistic theology and digital mission can be strategically applied in contemporary church leadership. Using qualitative methods, it can be concluded that the essence of evangelism theology is deeply rooted in biblical foundations, which serve as the primary basis for designing contextual mission strategies in the digital age. The concepts and practices of digital mission represent an actual expansion of the Great Commission, now carried out through media and virtual spaces. Church leadership in the technological era is required to be adaptive, innovative, and theological in order to guide the congregation in mission service. Therefore, the integration of evangelical theology and digital mission has become an urgent need, not only to address the challenges of the times but also to shape a strategic pattern of digital evangelical leadership for the future of the church. This approach will encourage the church to remain faithful to the Gospel call while being responsive to the changes of the times.
Meningkatkan Nilai IQ melalui Penerapan Story-telling dalam Pengajaran Kristen: Kajian Berbasis Daniel 1:8-20 Leiwakabessy, Tabita; Purwonugroho, Daniel Pesah; Suseno, Aji
Jurnal Lentera Nusantara Vol 3, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen (Juni 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jls.v3i2.277

Abstract

Intellectual intelligence is essential for the development of learners. Success in problem-solving, analysis, reasoning, and application demonstrates the competence of learners in enhancing aspects of IQ intelligence. IQ is highly dependent on the learning materials. The interaction in communicating learning materials varies greatly depending on the teacher's ability to choose appropriate teaching methods to achieve optimal learning outcomes. Storytelling is chosen as a teaching method to stimulate the IQ values of learners. The teaching materials in storytelling are also designed to bring benefits to learners. From a Christian perspective, the story of Daniel can lead learners to experience intellectual intelligence. Daniel's obedience to God gives him high intelligence because of God's grace. Through storytelling based on the story of Daniel, learners can emulate Daniel's obedience to God. With a descriptive qualitative approach, it can be concluded that storytelling of the Daniel 1:8-20 story can enhance the IQ scores of learners.AbstrakKecerdasan intelektual dibutuhkan untuk mengembangkan diri peserta didik. Keberhasilan memecahkan masalah, menganalisa, menalar dan mengaplikasikan membuktikan kompetensi peserta didik mampu meningkatkan aspek kecerdasan IQ. IQ sangat bergantung dengan mater pembelajaran. Interaksi dalam mengkomunikasikan materi pembelajaran sangat bervariasi tergantung kemampuan guru dalam memilih metode mengajar yang sesuai agar dapat meraih hasil belajar yang maksimal. Story-telling dipilih sebagai metode mengajar untuk merangsang nilai IQ peserta didik. Bahan ajar dalam story-telling juga di desain agar dapat membawa manfaat kepada peserta didik. Dalam perspektif Kristen, kisah tentang Daniel dapat membawa peserta didik mengalami kecerdasan intelektual. Ketaatan Daniel kepada Allah membuat Daniel memiliki kemampuan intelegensi yang tinggi karena anugerah Allah. Dengan story-telling berbasis kisah Daniel, maka peserta didik dapat meneladani ketaatan Daniel kepada Allah. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, dapat disimpulkan bahwa story-telling kisah Daniel 1:8-20 dapat meningkatkan nilai IQ peserta didik.
Konkritisasi Kepercayaan Keselamatan Kaum Baptis Dalam Kisah 4:12 Sebagai Landasan Misiologi Masa Kini Rusmanto, Ayub; Suseno, Aji
Jurnal Lentera Nusantara Vol 1, No 2 (2022): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.715 KB) | DOI: 10.59177/jls.v1i2.144

Abstract

The principle of salvation according to the Baptists is a very basic principle or doctrine in the life of a believer, which must be interpreted correctly and inventively in proportion to the prescriptions of God's Word. Therefore, analyzing, investigating and reviewing and researching it comprehensively is something that is very significant. Salvation is the urgency, interest and hope of all mankind, because humans have fallen into sin both individually and communally. The research method used is a qualitative type through library research and this research stage is carried out by mobilizing and collecting several library sources, both basic and subordinate. This study aims to comprehensively investigate the beliefs of the Baptists: the concretization of the belief in salvation in Acts 4:12 as the foundation of contemporary missiology. Through this research, it is found that the understanding of salvation as the foundation of the present mission given to Baptists has a definite impact on efficiency and effectiveness for the lives of Christians in the present and in the future.AbstrakPrinsip keselamatan menurut kaum Baptis suatu prinsip atau doktrin yang sangat mendasar dalam kehidupan orang percaya, yang harus dinterpretasikan dengan benar dan inventif proposional dengan preskripsi Firman Tuhan. Karena itu, menganalisis, meneyelidiki dan mengkaji serta menelitinya secara komprehensif merupakan sesuatu yang sangat signifikan. Keselamatan merupakan urgensi, interes dan harapan semua umat manusia, karena manusia telah jatuh ke dalam dosa baik secara perorangan maupun komunal. Metode penelitian ini yang digunakan adalah jenis kualitatif melalui metode studi pustaka (library research) dan tahapan penelitian ini dikerjakan dengan upaya mengerahkan dan menghimpun beberapa sumber kepustakaan, baik yang bersifat mendasar maupun subordinat. Penelitian ini bertujuan menyelidiki secara komprehensif kepercayaan kaum Baptis:    konkritisasi kepercayaan keselamatan dalam Kisah Para Rasul 4:12 sebagai landasan misiologi masa kini. Melalui penelitian ini ditemukan pemahaman keselamatan sebagai landasan misi masa kini yang diberikan kepada umat Baptis  berdampak definit bagi efisiensi dan berdaya guna bagi hidup orang Kristen di masa kini dan mendatang.
Kemurahan Hati Jemaat sebagai Praktik Iman dalam Pelayanan Sosial di Gereja Baptis Indonesia Candi Semarang Pudjiastuti, Hendi; Suseno, Aji
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 1 (2025): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i1.453

Abstract

Social service is a tangible manifestation of Christian faith that requires the active involvement of the congregation in responding to social needs in their community. In the context of the local church, the generosity of the congregation is often understood in a limited sense as an act of giving, without sufficient reflection on its theological meaning and pastoral implications. This condition raises problems when the church's social service practices develop, but the congregation's awareness of generosity as an expression of faith has not been fully internalised. The phenomenon of the involvement of the congregation of the Indonesian Baptist Church of Candi Semarang in various social service programmes shows that there are various dynamics of faith in the practice of generosity. This study aims to examine how the congregation's generosity is interpreted as a practice of faith and manifested in the church's social services. This study uses a qualitative approach with in-depth interviews and participatory observation methods. The results show that the congregation's generosity is understood as a response of faith to God's love that encourages social involvement. This practice contributes to the formation of an integrative spirituality among the congregation between faith and social action. In addition, social services rooted in generosity strengthen the church's witness in the community and broaden the understanding of practical theology in the context of the local church.AbstrakPelayanan sosial merupakan salah satu wujud nyata dari iman Kristen yang menuntut keterlibatan aktif jemaat dalam menjawab kebutuhan sosial di sekitarnya. Dalam konteks gereja lokal, kemurahan hati jemaat sering kali dipahami secara terbatas sebagai tindakan memberi, tanpa refleksi iman yang memadai mengenai makna teologis dan implikasi pastoralnya. Kondisi ini menimbulkan persoalan ketika praktik pelayanan sosial gereja berkembang, namun kesadaran jemaat terhadap kemurahan hati sebagai ekspresi iman belum sepenuhnya terinternalisasi secara mendalam. Fenomena keterlibatan jemaat Gereja Baptis Indonesia Candi Semarang dalam berbagai program pelayanan sosial menunjukkan adanya dinamika pemaknaan iman yang beragam dalam praktik kemurahan hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana kemurahan hati jemaat dimaknai sebagai praktik iman dan diwujudkan dalam pelayanan sosial gereja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam, observasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemurahan hati jemaat dipahami sebagai respons iman atas kasih Allah yang mendorong keterlibatan sosial. Praktik tersebut berkontribusi pada pembentukan spiritualitas jemaat yang integratif antara iman dan tindakan sosial. Selain itu, pelayanan sosial yang berakar pada kemurahan hati memperkuat kesaksian gereja di tengah masyarakat dan memperluas pemahaman teologi praktis dalam konteks gereja lokal.
Patterns of Enculturation of Keroncong Music in Worship (Case Study at Gereja Sidang Jemaat Allah Malang) Susanti, Lidia; Suseno, Aji; Hamzah, Amir
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 6, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v6i1.469

Abstract

Abstract: This study attempts to identify patterns of enculturation of keroncong music in Malang's Maranatha Congregational Church. Utilizing exploratory exposure patterns and instrumental case studies, the research method employs case studies as a research tool. The research identified three patterns of enculturation of keroncong music in Malang's Maranatha Assembly Church: conservative, moderate, and transformative. These three patterns can be utilized effectively and potentially if the following conditions are met: (1) Keroncong music can make a church more authentic if it can serve as a unifying force for the congregation; however, it can also be used to incite conflict. (2) Good arrangement skills are required to combine popular church music with keroncong music, and (3) In addition to the completeness of digital musical instruments, the completeness of instruments and scores of original keroncong music is required to accommodate the playing style of teenagers. (4) There is a need for mutual understanding and respect for the opinions of different groups within the church, as well as the ability to find solutions that are conducive to solving each problem; and (5) An adequate and balanced management plan is required to accommodate every thought and need of each group within the church so that they can exercise their rights and responsibilities in a reasonable manner. Keywords: Enculturation, keroncong music, worship
Frase Kasih Tidak Melakukan yang Tidak Sopan Berdasarkan 1 Korintus 13:5 Implementasinya Bagi Karakter Hamba Tuhan Masa Kini Hendarto, Lianasari; Suseno, Aji
Basileus Eirene: Jurnal Agama dan Pendidikan Vol 4 No 2 (2025)
Publisher : Basilius Eirene Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63436/bejap.v4i2.162

Abstract

Penelitian ini membahas frasa “kasih tidak melakukan yang tidak sopan” dalam 1 Korintus 13:5 serta implementasinya bagi karakter hamba Tuhan masa kini. Fokus kajian diarahkan pada pemahaman biblis mengenai makna kasih sebagai dasar etika Kristen yang menekankan kesopanan, penghormatan, dan penghargaan terhadap martabat sesama. Melalui kajian teologis dan literatur, ditemukan bahwa istilah Yunani aschemoneo menegaskan kasih sejati tidak pernah mendorong perilaku yang tidak pantas, melainkan selalu menjaga kepantasan dan kehormatan di hadapan Allah dan manusia. Dalam konteks pelayanan, hamba Tuhan dituntut tidak hanya memiliki kemampuan rohani, tetapi juga membangun karakter kasih yang sopan melalui sikap lemah lembut, empati, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap perbedaan jemaat. Kesopanan dalam kasih bukan sekadar norma sosial, melainkan manifestasi nyata iman yang hidup, sehingga pelayanan menjadi lebih efektif, membangun, dan mencerminkan teladan Kristus. Dengan demikian, frasa “kasih tidak melakukan yang tidak sopan” relevan sebagai fondasi karakter hamba Tuhan masa kini agar pelayanan mampu menghadirkan kasih Kristus secara nyata di tengah masyarakat yang cenderung menoleransi kekasaran.
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN SEBAGAI STRATEGI MISIOLOGIS: PERAN GEMBALA DALAM MEMBENTUK NALAR TEOLOGIS JEMAAT BERMISI DAN TANGGUH TERHADAP INTOLERANSI Suseno, Aji; Rahayu, Yohana Fajar; Arifianto, Yonatan Alex
Metanoia Vol 8 No 1 (2026): Metanoia Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/metanoia.v8i1.218

Abstract

Dalam era globalisasi yang sarat dengan perpindahan budaya dan ideologi membawa ketegangan sosial dan keberagaman identitas, gereja menghadapi tantangan serius dalam membentuk jemaat yang tangguh secara teologis. Intoleransi yang berkembang baik secara terselubung maupun terang-terangan menjadi ancaman bagi masyarakat sosial dan kesaksian iman Kristen. Namun banyak jemaat mengalami krisis nalar teologis yang membuat mereka mudah terjebak dalam fanatisme sempit atau pasif terhadap realitas sosial. Fenomena meningkatnya polarisasi dan radikalisme berbasis agama di ruang publik dan digital mempertegas urgensi pembentukan daya tangkal iman yang kokoh dan kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Pendidikan Agama Kristen dapat digunakan sebagai strategi misiologis oleh gembala dalam membentuk nalar teologis jemaat yang tangguh menghadapi intoleransi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa perlunya reaktualisasi peran gembala dalam konteks misiologis gereja masa kini maka pendidikan agama kristen sebagai strategi pembentukan nalar teologis dan juga nalar teologis sebagai daya tahan jemaat terhadap intoleransi. Sehingga gembala dapat mengintegrasi pendidikan Kristen, misiolog, tentunya gembala berperan penting sebagai pendidik iman yang membekali jemaat untuk memahami, merespons, dan menyikapi intoleransi secara teologis dan misioner