Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Perancangan Kebijakan Persediaan Pupuk Anorganik untuk Meminimasi Total Biaya Persediaan Menggunakan Metode Periodic Joint Replenishment pada PT XYZ Rahma Putri, Annisa; Yulianti, Femi; Artha Kusuma, Putu Giri
eProceedings of Engineering Vol. 12 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak — PT XYZ merupakan perusahaan industri budidaya terhadap tanaman kelapa sawit. Dalam menunjang aktifitas bisnisnya, PT XYZ memerlukan berbagai jenis unsur hara yang dapat meningkatkan kualitas buah sawit yang akan dihasilkan, salah satu unsur hara yang digunakan sebagai penujang utama tanaman sawit adalah pupuk dengan jenis anorganik. Terdapat empat produk pupuk anorganik yang digunakan yaitu NPK, Dolomit, Libero dan Mamigro. Proses pemesanan produk akan dipesan dari pemasok yang sama namun dilakukan secara terpisah antar tiap pupuk dan dengan kuantitas yang berlebih karena pemesanan dilakukan hanya berdasarkan intusi dari para pekerja yang menyebabkan ongkos pesan melebihi target yang telah ditetapkan perusahaan. Dengan menerapkan model periodic joint replenishment, pemesanan tiap jenis pupuk dapat dilakukan secara bersamaan dengan kuantitas pemesanan yang telah ditentukan. Model ini menghasilkan interval waktu antar pemesanan selama 43 hari sekali dalam satu tahun dengan frekuensi sebanyak 9 kali pemesanan, dan dihasilkan ukuran lot pemesanan optimum yang akan dipesan bagi tiap pupuknya. Total biaya persediaan yang dihasilkan dengan model periodic joint replenishment adalah sebanyak Rp 5.554.953.386/tahun dengan penghematan sebesar Rp 876.011.486 dari kondisi eksisting sehingga hasil perancangan optimal dalam meminimasi ongkos total biaya persediaan. Kata kunci— pupuk, kebijakan persediaan, periodic joint replenishment.
Perancangan Rute Pengambilan Garam Dengan Metode Saving Matrix Untuk Meminimasi Biaya BBM Pada Koperasi ABC Ayu Masturo, Ami; Bayu Setyawan, Erlangga; Yulianti, Femi
eProceedings of Engineering Vol. 12 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak — Koperasi ABC adalah produsen garam yang bekerjasama dengan beberapa petani garam yang berlokasi di wilayah kabupaten Indramayu. Koperasi ABC akan memasok hasil panen dari petani dan melakukan pengambilan garam dari 12 lokasi pengumpulan yang sudah ditetapkan. Saat proses pengambilan, kendaraan yang digunakan ada 3 unit dengan kapasitas yang sama (homogeneus fleet). Rute pengambilan saat ini, pihak koperasi hanya membagi lokasi pengambilan menjadi 3 wilayah bagian sehingga 1 kendaraan dapat menjangkau 4 lokasi tanpa mempertimbangkan jarak terdekat atau lainnya. Hal tersebut ternyata berpengaruh pada penggunaan biaya BBM. Terjadi peningkatan biaya BBM untuk proses pengambilan garam dengan peningkatan rata-rata 32% dari batas anggaran yang ditetapkan. Diperlukan solusi atas permasalahan tersebut yaitu berupa perancangan rute pengambilan garam yang efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk meminimasi total jarak tempuh selama proses pengambilan garam dengan metode saving matrix yang hasilnya akan mempengaruhi penggunaan biaya BBM. Saving matrix adalah salah satu metode heuristik yang dapat menyelesaikan permasalahan CVRP dengan hasil solusi yang mendekati optimal. Hasil yang diperoleh adalah rute usulan memiliki penurunan jarak tempuh sebesar 28,01% dan penurunan biaya BBM 96,4% dari rute aktualnya. Kata Kunci — Minimasi, Pengambilan, Optimasi Rute, CVRP, Saving Matrix
Penentuan Lokasi Optimal Gudang Bantuan Logistik Wilayah Jawa Barat Menggunakan Metode Maximal Covering Location Problem (MCLP) Zahra, Arifa Fadhillah; Yulianti, Femi; Kusuma, Putu Giri Artha
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 4 (2024): Agustus 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Responsiveness merupakan indikator utama penilaian tingkat kinerja humanitarian logistics. Salah satu strategi yang memiliki kontribusi besar terhadap pencapaian responsiveness adalah pre-positioning fasilitas logistik. Sebagai provinsi yang paling sering mengalami kejadian bencana, Jawa Barat menghadapi masalah mulurnya response time pendistribusian bantuan logistik ke 70,37% titik demand di wilayah kabupaten/kota. Kemuluran ini terjadi akibat penerapan kebijakan persediaan yang tidak tepat. Proses distribusi yang selama ini berlangsung dalam pola singleechelon membuat jangkauan pelayanan kabur seiring persebaran titik demand yang melebar. Sebagai upaya menekan response time agar berada pada batas 60 menit, diusulkan solusi penempatan gudang penyangga yang difungsikan sebagai penengah distribusi bantuan logistik antara BPBD Jawa Barat dan BPBD/Damkar kabupaten/kota. Adapun penetapan lokasi gudang penyangga dilakukan menggunakan pendekatan MCLP, yaitu sebuah metode untuk menentukan lokasi optimal fasilitas dengan fungsi tujuan memaksimasi pemenuhan kebutuhan dalam jangkauan yang telah ditetapkan. Metode MCLP yang digunakan dalam penelitian ini menyertakan beberapa parameter tambahan yang relevan dengan kiteria lokasi gudang bantuan bencana. Setelah dilakukan proses penyelesaian ditetapkan Kota Bekasi, Kota Cimahi, Kota Cirebon, Kota Bogor, Kota Tasikmalaya, dan Kota Sukabumisebagai lokasi dimana gudang penyangga akan dibuka. Kata kunci— Humanitarian Logistics, Gudang Bantuan Logistik, Kebijakan Multi-Echelon, MCLP
Perancangan Lokasi Fasilitas Gudang Sementara Menggunakan Metode Location Set Covering (Studi Kasus Gempa Cianjur 2022) Rizkiansyah, Muhammad Nabil; Yulianti, Femi; Kusuma, Putu Giri Artha
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 4 (2024): Agustus 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

—Pada tanggal 21 November 2022 telah terjadi gempa bumi di Kabupaten Cianjur sebesar 5,6 magnitudo, dari laporan BPBD Cianjur terdapat 16 kecamatan terdampak dari total 32 kecamatan di Kabupaten Cianjur. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cianjur (BPBD Kabupaten Cianjur) memiliki peran penting saat pra bencana, darurat bencana, dan pasca bencana, salah satu tugas BPBD Cianjur adalah pelaksanaan penanggulangan bencana yang mencakup melancarkan alur distribusi bantuan logistik kepada daerah atau wilayah yang terdampak. Kecepatan dan ketetapan menjadi indikator utama dalam humanitarian logistics, kemudian untuk waktu tempuh pendistribusian maksimal pada 60 menit. Pada pendistribusian bantuan Gempa Cianjur 2022 mengalami permasalahan kenaikan total biaya transportasi yang melebihi Rp53.040.000 selama 65 hari. Lokasi gudang yang tidak tepat menjadi permasalahan utama karena penempatannya hanya pada satu kecamatan saja, yakni di Kecamatan Cianjur saja. Perancangan lokasi gudang sementara digunakan untuk mengantisipasi kesalahan dalam penentuan lokasi tersebut. Pendekatan metode yang digunakan ialah metode Location Set Covering Problem (LSCP) dengan menentukan jumlah fasilitas namun dapat mencakup seluruh wilayah yang ada dengan parameter biaya transportasi sebagai biaya fasilitas dan waktu tempuh di bawah 60 menit. Hasil dari penggunaan metode tersebut adalah lokasi gudang sementara yang dapat mencakup kecamatan yang terdampak dan mengakibatkan penurunan total biaya transportasi menjadi Rp42.896.100. Kata kunci— Humanitarian Logistics, Gudang Sementara, Bencana Alam, LSCP, Gempa Cianjur 2022
Perancangan Sistem Pengukuran Kinerja Rantai Pasok Pada Bpbd Provinsi Jawa Barat Dengan Model Supply Chain Operation Reference (Scor) Salsabila, Tiara Rizky; Kusuma , Putu Giri Artha; Yulianti, Femi
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 4 (2024): Agustus 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meningkatkan pemenuhan kebutuhan logistik dan peralatan saat terjadi bencana darurat adalah fokus utama dalam usaha penanggulangan bencana. Dalam konteks ini, didirikannya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat memiliki tujuan untuk memastikan bahwa penanggulangan bencana dapat terlaksana secara terencana, terpadu, dan terkoordinasi di wilayah yang rawan bencana ini. Tujuan dari studi ini adalah untuk merancang sistem pengukuran kinerja yang sesuai. Metode penelitian melibatkan observasi terhadap BPBD Provinsi Jawa Barat dan analisis berbagai dokumen terkait, dengan mengacu pada peraturan, literatur terkait, dan hasil penelitian sebelumnya. Hasil observasi menunjukkan bahwa BPBD Provinsi Jawa Barat menggunakan Cascading Kinerja sebagai kerangka kerja untuk mengukur kinerja rantai pasok, dengan sasaran utama meningkatkan pemenuhan kebutuhan logistik dan peralatan saat terjadi bencana darurat. Meskipun terdapat satu indikator utama dan delapan sub-indikator dalam kerangka kerja tersebut, namun pengukuran kinerja saat ini hanya berfokus pada kriteria keandalan (reliability). Oleh karena itu, penelitian ini merancang KPI tambahan dengan Model Supply Chain Operation Reference (SCOR) yang mencakup kriteria daya tanggap (responsiveness), kelincahan (agility), dan biaya (cost), yang telah diverifikasi melalui kuesioner kepada pihak terkait. Sistem pengukuran kinerja rantai pasok yang diusulkan mencakup proses perencanaan, pengadaan, distribusi, dan penyimpanan. Kata Kunci : Pengukuran Kinerja, Key Performance Indicator (KPI), Kriteria, BPBD Provinsi Jawa Barat, Supply Chain Operation Reference (SCOR).
Perancangan Sistem Pemilihan Vendor Penyedia Jasa Telekomunikasi Menggunakan Metode AHP dan TOPSIS Pada PT XYZ Rofifah , Atikah; Pambudi , Hardian Kokoh; Yulianti , Femi
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 4 (2024): Agustus 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak—PT XYZ merupakan perusahaan yangberoperasional di kota Bekasi untuk memenuhi kebutuhan jasalayanan jaringan telekomunikasi. Dalam memberikan jasalayanan tersebut, PT XYZ melakukan pekerjaan jaringan fiberoptik dalam kegiatan pengadaan perusahaan. Namun, PT XYZmengalami masalah dalam mencapai target kinerja pengadaanpada indikator persentase jumlah pekerjaan terlambat. Targetyang ingin dicapai yaitu sebesar 0%, sedangkan total persentasejumlah pekerjaan terlambat dari bulan September hinggaDesember 2022 sebesar 17,19%.Berdasarkan masalah yang terjadi, dilakukan perancangansistem pemilihan vendor untuk menyelesaikan masalah denganmengusulkan perancangan sistem pemilihan vendormenggunakan metode AHP untuk memperoleh bobot kriteriadan subkriteria pemilihan vendor dan TOPSIS untukmendapatkan urutan alternatif vendor. Selain itu, dirancangsistem pendukung keputusan menggunakan metode RAD yangbertujuan untuk membantu pengambilan keputusan.Hasil yang diperoleh yaitu didapatkan 6 kriteria dan 17subkriteria untuk memilih vendor dengan urutan subkriteriatertinggi merupakan kualitas hasil pekerjaan dengan bobot14,79%. Selain itu, didapatkan tiga peringkat teratas yaituVendor 4, Vendor 8, dan Vendor 14. Hasil pengolahan datakemudian dirancang sistem pendukung keputusan (SPK)dengan hasil sistem dapat dijalankan dengan baik memenuhiperencanaan kebutuhan setelah melalui mekanisme uji coba. Kata kunci — Pemilihan Vendor, Telekomunikasi, AHP, TOPSIS, SPK
Usulan Perancangan Rute Distribusi Baterai Menggunakan Capacitated Vehicle Routing Problem (CVRP) Dengan Metode Saving Matrix Guna Meminimasi Biaya Bakar Minyak (BBM) (Studi Kasus: PT. XYZ) Khoirunnisa, Alifa; Yulianti, Femi; Pratiwi, Gisti Ayu
eProceedings of Engineering Vol. 12 No. 4 (2025): Agustus 2025
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. XYZ adalah perusahaan logistik yang menangani distribusi produk baterai. Masalah utama yang dihadapi adalah perencanaan rute pengiriman yang belum tepat, menyebabkan tingginya biaya bahan bakar (BBM). Pengiriman dilakukan ke 10 pelanggan di Jabodetabek menggunakan tiga kendaraan bersifat homogen dengan kapasitas 5 ton. Pada periode 4–8 November 2024, total biaya BBM tercatat Rp5.249.600, melebihi anggaran Rp4.500.000 dengan GAP sebesar 16,66%. Penelitian ini menggunakan pendekatan Capacitated Vehicle Routing Problem (CVRP) yang dipadukan dengan metode Saving Matrix. CVRP memperhitungkan kapasitas kendaraan, sedangkan Saving Matrix membantu menggabungkan rute berdasarkan penghematan jarak. Hasil perhitungan menunjukkan minimasi biaya BBM menjadi Rp3.950.800. Nilai ini lebih rendah dari anggaran, dengan GAP baru sebesar 12,2%, dan penghematan sebesar Rp1.298.800 atau 24,74%. Metode ini terbukti membantu perusahaan merancang rute yang lebih hemat dan menurunkan penggunaan bahan bakar. Kata kunci— Optimasi Rute Pengiriman, VRP, CVRP, Saving Matrix, Minimasi Biaya, Minimasi Jarak
PERANCANGAN MITIGASI RISIKO PADA GUDANG BAHAN BAKU KEMASAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS DAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS Hariyono, Rizky Alif Oktaviani; Ridwan, Ari Yanuar; Yulianti, Femi
Telkatika: Jurnal Telekomunikasi Elektro Komputasi & Informatika Vol. 1 No. 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Perpustakaan Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gudang merupakan bagian penting dalam rantai pasok. Pada industri manufaktur saat ini terdapat beberapa jenis gudang antara lain, gudang bahan baku, gudang bahan baku kemasan, gudang produk setengah jadi, dan gudang produk jadi. PT. X merupakan industri manufaktur yang memproduksi makanan ringan. PT. X memiliki variasi produk yang sering berganti kemasan dan adanya penghentian produksi makanan ringan yang mengakibatkan adanya penumpukan bahan baku kemasan yang tidak terpakai di gudang. Penumpukan bahan baku tidak terpakai memberi dampak bertambahnya biaya sewa gudang dan gangguan aliran pergerakan barang. PT. X belum memiliki rancangan mitigasi risiko terkait aktivitas gudang bahan baku kemasan. Oleh karena itu, dibutuhkannya rancangan mitigasi pada aktivitas gudang bahan baku kemasan. Penelitian ini diawali dengan mengidentifikasikan aktivitas gudang, memetakannya kedalam SCOR, mengidentifikasi risiko, penilaian risiko dengan metode FMEA dan merancang mitigasi terbaik risiko dengan AHP. Hasil dari penelitian ini, teridentifikasi total 17 kejadian risiko dan 29 sumber risiko pada aktivitas gudang bahan baku kemasan PT. X. Hasil alternatif mitigasi terpilih aktivitas source pada risiko adanya dead stock memiliki bobot 0,596, sedangkan aktivitas deliver pada risiko ketidaksesuaian stok sistem gudang dengan aktual memiliki bobot 0,512, dan aktivitas return pada risiko tidak hadirnya salah satu pihak terkait pada pemasukan barang memiliki bobot 0,682.Kata Kunci : Gudang, Rantai Pasok, Risiko, SCOR, FMEA, AHP
PERANCANGAN KEBIJAKAN PERSEDIAAN PRODUK HARD TOOLS UNTUK MENGATASI OVERSTOCK DENGAN METODE PERIODIC REVIEW (R, s, S) DI PT SINGA MAS MANDIRI Simatupang, Michael Samuel; Andrawin, Luciana; Yulianti, Femi
Telkatika: Jurnal Telekomunikasi Elektro Komputasi & Informatika Vol. 1 No. 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Perpustakaan Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT Singa Mas Mandiri merupakan perusahaan importir yang bergerak dalam bidang penjualan hard tools yang termasuk ke dalam kategori durable goods. Perusahan tersebut mendistribusikan produk-produk ke beberapa daerah di Indonesia seperti Sumatra, Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Salah satu merek yang dikelola yaitu Linz, dimana merk tersebut mengalami overstock. Permasalahan overstock yang ada menyebabkan tingginya biaya persediaan pada perusahaan.  Melalui penelitian ini dilakukan perancangan terintegrasi berupa kebijakan persediaan periodic review (R, s, S). Pada kebijakan ini terdapat parameter yang ditentukan seperti review interval (R), reorder point (s) dan maksimum persediaan (S). Penentuan tersebut didapat melalui perhitungan dimana (R) dengan menggunakan metode Hadley-Within dan (s,S) dengan menggunakan metode Power Approximation. Melalui kedua perhitungan tersebut maka didapatkan parameter yang optimal yang menghasilkan biaya persediaan paling minimum. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan persediaan usulan  periodic review (R, s, S) dapat mengatasi kondisi overstock yang dialami PT Singa Mas Mandiri.Kata kunci : Durable Goods, Periodic Review, Persediaan, Reorder Point, Overstock
Inventory Policy Design of FMCG Products to Minimize Total Inventory Cost Using Continuous Review (r, Q) at PT ABC Dhea Trullyani Savitri; Femi Yulianti; Hardian Kokoh Pambudi
Jurnal Rekayasa Sistem & Industri Vol 9 No 02 (2022): Jurnal Rekayasa Sistem & Industri
Publisher : School of Industrial and System Engineering, Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/jrsi.v9i02.584

Abstract

T ABC is a start-up company that provides an online shopping platform with a variety of daily necessities,one of products offered is Fast Moving Consumer Goods (FMCG). The main problem faced by PT ABCwas the total inventory cost that exceeded the budget by 82%. This was caused by the lack of standardinventory policy calculation. To overcome this problem, a proposed inventory policy needs to be designedto obtain the optimal value of reorder point, order quantity, and safety stock. Before designing the inventorypolicy, inventory classification was conducted using ABC analysis. Then proceed with designing inventorypolicy using the continuous review method (r, Q) to minimize total inventory cost. After that, a DecisionSupport System (DSS) was designed based on the results of the proposed inventory policy using MicrosoftExcel-VBA. This research resulted the optimal value of reorder point, order quantity, and safety stock wereobtained for 42 products in category A with diverse values. Based on the proposed inventory policy, the totalinventory cost decreased by 11% or Rp281.770.103/year from the existing total cost. Then, the DSS wassuccessfully designed to assist decision makers in implementing the proposed inventory policy. Although ithad been successfully minimized, the total cost of the proposed inventory still exceeded the budget. Thiswas because the current budget had not considered all components of inventory costs, even the budget forpurchasing costs with an order quantity of as much as the number of demands was not sufficient.