Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Analisis Wacana Kohesi Gramatikal dan Leksikal Pidato Presiden RI Bapak Joko Widodo dalam Sidang Umum PBB Bulan September 2020 Octaviani, Anggi Wuri; Masrur, Masrur; Purwanti, Purwanti
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 7, No 2 (2023): Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v7i2.7838

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya tanggapan positif dan negatif dari beberapa kepala negara, pakar, dan praktisi yang hadir dalam sidang virtual saat covid-19 mengalami peningkatan tahun 2020. Teori yang digunakan yaitu analisi wacana kohesi gramatikal dan leksikal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yang termasuk dalam jenis penelitian kepustakaan. Data dalam penelitian ini berupa kata, frasa, klausa, dan kalimat. Teknik analisis data menggunakan metode agih dan padan dengan teknik simak bebas libat cakap dan teknik catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pidato banyak mengalami unsur repetisi. Salah satunya terdapat kata ganti “kita” yang menunjuk diri dan seluruh perwakilan negara yang hadir pada sidang tersebut. Repetisi menjadi pengaruh dalam jalannya pidato karena memiliki poin dalam unsur penekanan terhadap pidato yang disampaikan. Analisis wacana kohesi gramatikal dan leksikal pada pidato tersebut sudah padu karena memiliki bentuk penyusunan kata yang sesuai dan isi pidato yang disampaikan sudah kompleks sesuai harapan dan tujuan seluruh kepala negara kedepannya. Tentu isi pidato memiliki korelasi dengan situasi yang terjadi seperti menurunnya perekonomian seluruh negara, terjangkitnya covid-19, masih terjadi konflik seperti Palestina dan Israel. Inilah yang menjadi sebab bahwa pidato tersebut terdapat unsur repetisi karena Presiden hanya menginginkan seluruh warga negara untuk terus bekerja sama dan menjunjung tinggi perdamaian dunia.  Kata kunci : analisis wacana, kohesi gramatikal dan leksikal, pidato Jokowi
THE ROLE OF BALINESE HINDU TRADITION IN PROMOTINGRELIGIOUS MODERATION IN SEMARANG Putrawan, I Nyoman Alit; Subagia, I Nyoman; Masrur, Masrur; Gunarta, I Ketut; Putra, I Gede Desi Diana
Socious Journal Vol. 2 No. 3 (2025): Socious Journal - June
Publisher : PT. Anagata Sembagi Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62872/ypw3ea19

Abstract

Religious moderation is a crucial element in maintaining social harmony in Indonesia, especially in cities with religious diversity such as Semarang. Balinese Hindu traditions play a significant role in strengthening the values of tolerance and mutual respect through various cultural and religious practices. This study analyzes how Balinese Hindu traditions, including the Melasti ceremony and the Nyepi celebration, contribute to religious moderation in Semarang. This study uses a narrative descriptive approach with the aim of understanding in depth how Balinese Hindu traditions contribute to promoting religious moderation in Semarang. The data collection method was carried out through direct observation,in-depth interview, And Documentation analysis. Observations were conducted by observing religious practices and cultural activities involving the Balinese Hindu community as well as the participation of non-Hindus in religious events. Interviews were conducted with religious leaders, community leaders, and individuals involved in interfaith activities to gain a broader perspective on social interactions and the application of religious moderation values. Documentation analysis included literature studies from academic journals, official reports, and relevant statistical data to strengthen the research findings. The results of the study indicate that interfaith interactions in the Balinese Hindu tradition can increase understanding and respect between religious communities, as well as strengthen social harmony. In addition, cultural festivals and interfaith activities play an important role in building dialogue and cooperation between communities. These findings confirm that the Balinese Hindu tradition not only functions as a cultural identity, but also as an effective means of promoting religious moderation in a multicultural environment.
The Application of Tengganai Permission in Traditional Marriage Processes: A Review of Al-‘Adah al-Muhakkamah Lubis, Yumna Sakinah; Yul, Widiya; Masrur, Masrur
International Journal of Multidisciplinary Research of Higher Education Vol 9 No 2 (2026): (April) Theme Education, Religion Studies, Social Sciences, STEM and Economic Dev
Publisher : Islamic Studies and Development Center in Collaboration With Students' Research Center Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memiliki keragaman hukum adat yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Namun, tidak seluruh praktik hukum adat dapat serta-merta dijadikan dasar hukum dalam perspektif hukum Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan kajian dengan menjelaskan bagaimana prinsip al-‘Adah al-Muhakkamah memandang penerapan hukum adat yang dipraktikkan dalam masyarakat, khususnya dalam konteks pernikahan adat. Penelitian ini menggunakan pendekatan grounded theory dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Lokasi penelitian berada di Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adat yang berlaku di Kota Sungai Penuh mewajibkan adanya surat izin tengganai sebagai salah satu syarat administratif untuk mengurus surat pengantar nikah di tingkat desa. Dari perspektif al-‘Adah al-Muhakkamah, praktik adat ini tidak bertentangan dengan hukum Islam, berlaku secara umum bagi masyarakat, diterapkan secara konsisten, dan telah berlangsung secara turun-temurun. Selain berfungsi sebagai kelengkapan administratif, kewajiban surat izin tengganai juga berperan sebagai mekanisme perlindungan terhadap perempuan dan anak kemenakan, serta sebagai kontrol sosial adat untuk memastikan tanggung jawab pihak laki-laki sebelum pernikahan dilangsungkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan izin tengganai dalam pernikahan adat di Kota Sungai Penuh merupakan bentuk integrasi antara hukum adat dan hukum Islam yang sejalan dengan prinsip-prinsip al-‘Adah al-Muhakkamah. Adat ini tidak hanya merepresentasikan kearifan lokal tetapi juga berfungsi menjaga kemaslahatan, kehormatan, dan perlindungan dalam institusi pernikahan dengan tetap berpegang pada tiga unsur utama pernikahan, yaitu ketentuan agama, peraturan perundang-undangan, dan adat istiadat setempat.