Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

THE ROLE OF BALINESE HINDU TRADITION IN PROMOTINGRELIGIOUS MODERATION IN SEMARANG Putrawan, I Nyoman Alit; Subagia, I Nyoman; Masrur, Masrur; Gunarta, I Ketut; Putra, I Gede Desi Diana
Socious Journal Vol. 2 No. 3 (2025): Socious Journal - June
Publisher : PT. Anagata Sembagi Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62872/ypw3ea19

Abstract

Religious moderation is a crucial element in maintaining social harmony in Indonesia, especially in cities with religious diversity such as Semarang. Balinese Hindu traditions play a significant role in strengthening the values of tolerance and mutual respect through various cultural and religious practices. This study analyzes how Balinese Hindu traditions, including the Melasti ceremony and the Nyepi celebration, contribute to religious moderation in Semarang. This study uses a narrative descriptive approach with the aim of understanding in depth how Balinese Hindu traditions contribute to promoting religious moderation in Semarang. The data collection method was carried out through direct observation,in-depth interview, And Documentation analysis. Observations were conducted by observing religious practices and cultural activities involving the Balinese Hindu community as well as the participation of non-Hindus in religious events. Interviews were conducted with religious leaders, community leaders, and individuals involved in interfaith activities to gain a broader perspective on social interactions and the application of religious moderation values. Documentation analysis included literature studies from academic journals, official reports, and relevant statistical data to strengthen the research findings. The results of the study indicate that interfaith interactions in the Balinese Hindu tradition can increase understanding and respect between religious communities, as well as strengthen social harmony. In addition, cultural festivals and interfaith activities play an important role in building dialogue and cooperation between communities. These findings confirm that the Balinese Hindu tradition not only functions as a cultural identity, but also as an effective means of promoting religious moderation in a multicultural environment.
KONTAK BAHASA DAN DINAMIKA PENGGUNAAN BAHASA JAWA DALAM INTERAKSI GURU MATA PELAJARAN UMUM DI SMKN 1 BALIKPAPAN Listiyowardany, Yunia Hardiani; Rizal, Syamsul; Masrur, Masrur
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 9 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v9i1.1288

Abstract

Penelitian ini membahas dinamika kontak bahasa antara bahasa Jawa dan bahasa Indonesia pada sekelompok guru mata pelajaran umum di SMKN 1 Balikpapan. Kota Balikpapan merupakan daerah urban dengan mobilitas penduduk tinggi serta jumlah penduduk lebih dari 700 ribu jiwa pada tahun 2022, sehingga menjadi ruang pertemuan berbagai etnis dan bahasa daerah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan: (1) pola penggunaan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia oleh guru mata pelajaran umum di SMKN 1 Balikpapan dalam interaksi formal dan nonformal; (2) bentuk-bentuk kontak bahasa (campur kode, alih kode, dan interferensi) yang muncul; dan (3) faktor-faktor sosio-kultural yang memengaruhi pilihan bahasa para guru. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipan, perekaman tuturan, dan wawancara mendalam. Data dianalisis melalui tahap transkripsi, pengkodean, kategorisasi, dan interpretasi berdasarkan teori kontak bahasa dan sosiolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya kecenderungan meningkatnya penggunaan bahasa Indonesia pada ranah resmi sekolah, tetapi bahasa Jawa tetap kuat dipertahankan dalam interaksi informal antarguru. Kontak bahasa tampak melalui campur kode leksikal serta interferensi struktur bahasa Jawa dalam tuturan bahasa Indonesia. Faktor penentu penggunaan bahasa meliputi kedekatan etnis, tujuan interaksi, usia, serta norma institusional tidak tertulis di kalangan guru. Temuan ini mengindikasikan bahwa penggunaan bahasa Jawa di lingkungan sekolah kejuruan bukan hanya persoalan kebiasaan, melainkan juga simbol kedekatan sosial. Pada saat yang sama, kondisi tersebut menuntut pengelolaan penggunaan bahasa Indonesia ragam baku secara konsisten dalam ranah formal.