Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Efektivitas Kuersetin Fraksinasi Daun Teh Hijau Sebagai Antioksidan dan Antiagregasi Platelet Terhadap Stabilitas Bahan Kontrol dan Darah Simpan Hayati, Eem; Durachim, Adang; Nurhayati, Betty; Juliastuti, Aditya
Jurnal Analis Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2021): JURNAL ANALIS KESEHATAN
Publisher : Department of Health Analyst, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jak.v10i2.2688

Abstract

Fungsi Puskesmas berorientasi kepada upaya kuratif dan rehabilitatif, saat ini bergeser kepada upaya preventif dan promotif tanpa mengabaikan orientasi sebelumnya. Untuk dapat melaksanakan fungsi pelayanan laboratorium di puskesmas dibutuhkan sumber daya manusia yang mencukupi baik jumlah maupun mutunya. Berdasarkan Permenkes Nomor 46 Tahun 2015 tentang Akreditasi Puskesmas dokumen yang harus terpenuhi sesuai kriteria persyaratan akreditasi yaitu terdapatnya SOP tentang Pemantapan Mutu Internal (PMI) dan Pemantapan Mutu Eksternal (PME).  Bahan kontrol komersial sangat baik digunakan untuk pelaksanaan PMI karena sangat stabil sampai masa expiry date nya, namun secara ekonomis relatif mahal sehingga  untuk penggunaan bahan kontrol komersial secara rutin di laboratorium terutama laboratorium puskesmas atau laboratorium institusi pendidikan kurang terjangkau dan cukup memberatkan. Bahan kontrol yang banyak digunakan di antaranya bahan kontrol darah lengkap komersial untuk  pemeriksaan hematologi.  Berdasarkan hal tersebut tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pembuatan bahan kontrol buatan dari Packed Red Cell sebagai alternatif penggunaan bahan kontrol komersial. Bahan tambahan yang akan digunakan  dalam penelitian adalah kuersetin yang diperoleh dari hasil fraksinasi daun teh hijau. Berdasarkan penelitian sebelumnya telah diketahui kuersetin dapat berfungsi sebagai antioksidan dan anti agregasi platelet. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratorium. Hasil penelitian setelah diuji secara statistik dengan uji GLM dapat disimpulkan bahan kontrol yang ditambah dengan kuersetin, jumlah eritrosit stabil selama 20 hari, lekosit stabil 15 hari dan trombosit disimpan selama 5 hari sudah tidak stabil, sedangkan bahan kontrol komersil disimpan selama 15 hari sudah terjadi penurunan jumlah sel.
PENGARUH PENUNDAAN DARAH SITRAT DAN VARIASI WAKTU SENTRIFUGASI TERHADAP HASIL PEMERIKSAAN PROTHROMBIN TIME (PT) HUTAPEA, BETARIA ANGGELINA; Hayati, Eem; Marliana , Nina; Noviar, Ganjar
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 3 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada banyak gangguan perdarahan dan trombotik, pemeriksaan hemostasis sangat penting karena dapat memberikan informasi penting untuk diagnosis, prognosis, dan pemantauan terapi. Prothrombin Time (PT) adalah pemeriksaan hemostasis yang digunakan untuk mengidentifikasi kelainan hemostasis pada jalur ekstrinsik yang mencakupfaktor pembekuan fibrinogen, prothrombin, V, VII, dan X, serta untuk memantau pemberian antikoagulan oral.Pemeriksaan Prothrombin Time (PT) menggunakan antikoagulan natrium sitrat 3,2% sebaiknya dilakukan segera, jika terjadi penundaan maka sampel harus dilakukan sentrifugasi terlebih dahulu dan plasma dibekukan. Bahan pemeriksaanadalah plasma sitrat sebanyak 5 bahan pemeriksaan dengan diberi penundaan darah sitrat pada 0 jam (segera), Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penundaan darah sitrat dan variasi waktu sentrifugasi terhadap hasil pemeriksaan Prothrombin Time (PT) selama dua jam dan empat jam setelah pemeriksaan Prothrombin Time (PT). Eksperimen semu adalah jenis penelitian yang digunakan. Uji General Linear Model untuk distribusi data normal dan Uji Friedman dan Wilcoxon untuk distribusi data tidak normal digunakan untuk menganalisis data. Hasil pemeriksaan nilai Prothrombin Time (PT) yang disentrifugasi selama 15 menit relatif lebih rendah dibandingkan dengan yang disentrifugasi selama 10 menit. Secara statistik hasil pemeriksaan Prothrombin Time (PT) didapatkan nilai Sig < 0.05 sehingga dapat dikatakan terdapat perbedaan yang signifikan pada darah sitrat yang disentrifugasi selama 15 menit dan 10 menit. Berdasarkan penundaan darah sitrat yang ditunda dua Jam, dan empat Jam, Kedua variabel menunjukkan perbedaan yang signifikan, dengan nilai Sig < 0.05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat Pengaruh Penundaan Darah Sitrat dan Variasi Waktu Sentrifugasi Terhadap Hasil Pemeriksaan Prothrombin Time (PT).
UJI VALIDASI METODE IMUNOKROMATOGRAFI (RAPID TEST) TERHADAP METODE CHEMILUMINESCENCE ASSAY (CLIA) PADA PEMERIKSAN IMLTD HbsAg: UJI VALIDASI METODE IMUNOKROMATOGRAFI (RAPID TEST) TERHADAP METODE CHEMILUMINESCENCE ASSAY (CLIA) PADA PEMERIKSAN IMLTD HbsAg Aziz, Ahmad mahmudin Aziz; Rohayati; Rinaldi , Sonny Feisal; Hayati, Eem
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 3 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi menular lewat transfusi darah (IMLTD) adalah infeksi dapat ditularkan melalui transfusi darah. Salah satunya Hepatitis B (HBsAg). Pemeriksaan HBsAg harus sangat sensitif dan spesifik, Pada Permenkes No. 91 Tahun 2015 diatur skrining IMLTD HBsAg dapat dilakukan dengan metode Immunocomatography (ICT test), CLIA. Metode CLIA membutuhkan alat otomatis dan biaya cukup besar, sehingga beberapa UTD menggunakan ICT test sebagai metode skrining IMLTD HBsAg. Namun, efektivitas ICT test dalam mendeteksi HBsAg masih perlu divalidasi. Penelitian bertujuan untuk menvalidasi sensitivitas dan spesifisitas metode ICT test terhadap CLIA pada skrining IMLTD HBsAg. Penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dengan mengumpulkan data yang diperoleh dari pengukuran dua metode yang berbeda, desain berdasarkan CLSI EP 12 dengan sampel sebanyak 100 calon donor darah. yaitu 50 sampel reaktif dan 50 sampel non reaktif HBsAg. Hasil pemeriksaan dari kedua metode dibandingkan untuk menghitung sensitivitas dan spesifisitas ICT test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sensitivitas ICT test sebesar 80% dan spesifisitas sebesar 100%. Nilai sensitivitas ICT test masih dibawah kriteria yang dianjurkan oleh WHO (95- 100%) dan Permenkes No. 91 Tahun 2015. Dapat disimpilkan kinerja ICT test dalam mendeteksi HBsAg masih di bawah kriteria yang dianjurkan. Oleh karena itu, penggunaan ICT test sebagai metode skrining IMLTD HBsAg perlu dievaluasi ulang.
HUBUNGAN VIRAL LOAD TERHADAP NEUTROPHIL LYMPHOCYTE RATIO (NLR) DAN LIMFOSIT T CD4+ PADA ORANG DENGAN HIV/AIDS (ODHA) Suhartini, Anita; Marliana , Nina; Hayati, Eem; Durachim, Adang
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 3 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus infeksi yang menyerang sistem kekebalan tubuh, menjadikan tubuh rentan terhadap berbagai penyakit. Pemeriksaan viral load, yang mengukur kuantitas RNA dalam darah, digunakan untuk menentukan tingkat keberadaan virus HIV. RNA berperan selama proses replikasi virus, membentuk dasar pembentukan virus baru. Sebagai penanda peradangan untuk mendiagnosis HIV dan mengukur tingkat keparahan infeksi HIV dapat menggunakan Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR) sebagai marker berbagai penyakit. Cluster of Differentiation 4 (CD4) adalah penanda pada permukaan sel limfosit T yang menjadi tempat melekatnya virus HIV. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan viral load terhadap Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR) dan Limfosit T CD4+ pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasi dengan metode survey dengan pendekatan cross sectional. Populasi yang diperiksa merupakan penderita penyakit HIV yang melakukan pemeriksaan Viral load, NLR dan Limfosit T CD4+. Sampel diperoleh dari 30 orang penderita penyakit HIV yang melakukan pemeriksaan Viral load, NLR dan Limfosit T CD4+. Data statistik yang di gunakan yaitu uji korelasi Spearman. Hasil penelitian pada pasien ODHA menunjukkan rata - rata viral load adalah 34.432, NLR 3,18, dan CD4+ 229,4. Dapat disimpulkan terdapat hubungan antara Viral load dengan NLR dan CD4 dengan tingkat signifikansi < 0,05.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PEMANFAATAN BUAH TOMAT (Solanum lycopersium) DALAM UPAYA PENCEGAHAN RESIKO PENYUMBATAN PEMBULUH DARAH DI RW 16, KELURAHAN CIPAGERAN, KECAMATAN CIMAHI UTARA Noviar, Ganjar; Hayati, Eem; Ramadhani, Riski Nur; Nurhayati, Betty
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 1 (2024): Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan Indonesia
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jpmki.v3i1.1866

Abstract

In hypertensive patients, platelet hyperaggregation occurs. Platelet hyperaggregation will have a bad outcome in acute infarction stroke, in the form of death or neurologic deficits. One plant species that can play a role in preventing hyperaggregation complications is tomato fruit (Solanum lycopersicum) which is a horticultural plant cultivated in Indonesia. The compound content in Tomato Fruit (Solanum lycopersicum) includes solanine (0.007%), saponin, folic acid, malic acid, citric acid, bioflavonoids (including lycopene, α, and ß-carotene), protein, fat, vitamins, minerals, and histamine which function as antiaggregation. This research uses 2 methods, namely survey and sampling methods to determine the scope of empowerment and education in the form of counseling and mentoring. Apart from that, another method used is an educational method in the form of counseling and assistance to provide an understanding of the use of tomatoes to prevent the risk of blood vessel blockages. The results of the research were 20 cadres with a presentation increase of 51.67%, while the results from 20 residents had a presentation increase of 75.06%. Wilcoxon test results with p value (Sig) < 0.05. This shows that there is a significant difference in scores between the pre-test scores and the post-test scores of cadres and residents of RW. 16, Cipageran Village, North Cimahi District, Cimahi City.
Correlation of polymerase chain reaction results with hematocrit levels and platelet counts in dengue patients in Batam City Simangunsong, Kristina; Nurhayati, Betty; Hayati, Eem; Merdekawati, Fusvita
Current Biomedicine Vol. 3 No. 1 (2025): January
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/currbiomed.3.1.1

Abstract

Background Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a viral disease transmitted by Aedes aegypti mosquitoes, posing global public health challenge. The Riau Islands Province has the highest incidence of DHF in Indonesia. Objective This study aimed to investigate the relationship between hematocrit and platelet levels with the cycle threshold (Ct) values of polymerase chain reaction (PCR) results in DHF cases in Batam City, Riau Islands Province. Methods A descriptive correlation study was conducted using data from 102 patients infected with the dengue virus. Hematocrit and platelet counts were measured using a hematology analyzer, while Ct values for DENV1, DENV2, DENV3, and DENV4 were obtained through real-time qRT-PCR. Pearson's correlation test was employed to analyze the relationship between these variables. Results The study found no significant gender difference in DHF incidence (males: 50%, females: 50%). The highest prevalence was observed in the 6–11 years age group (44.1%), followed by the 12–18 years group (25.5%), the >18 years group (24.5%), and the 1–5 years group (11.8%). DENV3 was identified as the dominant serotype. No statistically significant correlation was found between Ct values and hematocrit (p = 0.607) or platelet counts (p = 0.323). Conclusion DHF cases in this study showed no gender disparity, with the most affected group being children aged 6–11 years, and DENV3 was the prevalent serotype. Ct values did not show a statistically significant correlation with hematocrit levels or platelet counts, suggesting that these hematological parameters may not predict viral load in DHF cases.
Effect of Variation Natrium Sitrat Concentration and Centrifugation Time on Prothrombin Time (PT) Value Najiyyah, Amalia Nur; Marliana, Nina; Hayati, Eem; Rahmat, Mamat
Mukhtabar Journal of Medical Laboratory Technology Vol 2 No 2 (2024): Mukhtabar: Journal of Medical Laboratory Technology (October 2024)
Publisher : LPPM STIKes Muhammadiyah Ciamis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52221/mjmlt.v2i2.694

Abstract

Background & Objective: Prothrombin Time (PT) test is one of the hemostasis tests used to determine whether there is a deficiency of extrinsic clotting factors and co-pathway clotting factors, namely factors I, II, V, VII, and X. The pre-analytical stage that must be considered in the hemostasis examination is the concentration of anticoagulant used and the centrifugation process. This study was conducted to determine the effect of variations in sodium citrate anticoagulant concentration and centrifugation time on Prothrombin Time (PT) values.  Method: The anticoagulants used in this study were 3.2% and 3.8% sodium citrate. Centrifugation is the process of separating cells from plasma. The effect of improper centrifugation is to increase the number of platelets, so that platelet factors contained in platelets will accelerate the formation of fibrin. The research conducted is a pseudo-experimental study by giving treatment to blood specimens that will be added with anticoagulant Sodium Citrate concentrations of 3.2% and 3.8% with a blood ratio of 9:1, then centrifuged at 3000 rpm and given a variation of time for 15 minutes, 10 minutes, and 5 minutes. The results were tested using Saphiro Wilk and Friedman Test. Result : Based on the research that has been done, the Asymp. Sig. value obtained in the Friedman Test is >0.05. This indicates that the treatment that has been given to the sample has no effect on the value of Prothrombin Time. Conclusion: It can be concluded that there is no significant difference between the variation of sodium citrate concentrations of 3.2% and 3.8%, as well as in the variation of 3000 rpm centrifugation time of 15 minutes, 10 minutes, and 5 minutes on the value of Prothrombin Time (PT).
Pengaruh Variasi Konsentrasi Suspensi Darah Talasemia dan Waktu Sentrifugasi terhadap Pemeriksaan Direct Coombs Test Metode Tabung Salsabella Yan Putri, Hanna Zhafira; Novia, Ganjar; Hayati, Eem; Marliana, Nina
Jurnal Analis Kesehatan Vol. 13 No. 2 (2024): Jurnal Analis Kesehatan
Publisher : Department of Health Analyst, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jak.v13i2.4535

Abstract

Talasemia merupakan penyakit kelainan darah yang membutuhkan transfusi darah sebagai pengobatan. Transfusi darah secara berulang berpotensi membentuk alloantibodi atau antibodi ireguler. Tahapan uji pratransfusi untuk mendeteksi adanya antibodi yang melekat pada eritrosit dilakukan pemeriksaan Direct Coombs Test . Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi suspensi darah Talasemia dan waktu sentrifugasi terhadap pemeriksaan Direct Coombs Test metode tabung. Desain penelitian ini adalah quasi eksperimen , dalam penelitian ini sebanyak 6 sampel inkompatibel darah Talasemia dilakukan pemeriksaan Direct Coombs Test metode tabung dengan variasi konsentrasi suspensi 1%, 3%, 5% dan waktu sentrifugasi pembacaan selama 1 menit, 2 menit dan 3 menit dengan suspensi 5% dan waktu sentrifugasi 1 menit sebagai kontrol. Hasil penelitian pemeriksaan Direct Coombs Test menggunakan konsentrasi suspensi darah Talasemia 1%, 3% dan 5% dengan waktu sentrifugasi selama 1 menit, 2 menit dan 3 menit menunjukkan hasil positif bervariasi dengan terbentuknya derajat aglutinasi +1 dan +2. Data hasil penelitian ini diperoleh dengan uji statistika Friedman, diperoleh nilai sig 0,000 < 0,05. Penelitian dapat menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh variasi konsentrasi suspensi darah Talasemia yaitu semakin rendah konsentrasi, semakin menurun derajat aglutinasi. Sedangkan pada waktu sentrifugasi semakin lama waktu sentrifugasi, semakin meningkat derajat aglutinasi terhadap pemeriksaan Direct Coombs Test metode tabung.
Pengaruh Lama Simpan dan Konsentrasi Antikoagulan Natrium Sitrat terhadap Nilai Laju Endap Darah Fitriani, Ishma Dwi; Hayati, Eem; Durachim, Adang; Wiryanti, Wiwin
Jurnal Analis Kesehatan Vol. 13 No. 2 (2024): Jurnal Analis Kesehatan
Publisher : Department of Health Analyst, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jak.v13i2.4536

Abstract

Pemeriksaan LED harus dilakukan maksimal 2 jam setelah pengambilan darah, jika dilakukan setelah lebih dari 2 jam bentuk eritrosit akan menjadi lebih bulat dan menyebabkan nilai LED menjadi rendah.. Pada pemeriksaan LED konsentrasi dari antikoagulan Natrium Sitrat dapat mempengaruhi hasil, penurunan konsentrasi akan menyebabkan larutan hipotonik sehingga hasil LED menjadi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh lama simpan dan konsentrasi antikoagulan Natrium Sitrat terhadap nilai Laju Endap Darah. Metode penelitian yang dilakukan adalah secara quasi eksperimen dengan subjek penelitian yaitu spesimen darah normal. Data hasil penelitian di uji secara statistik dengan uji General Linear Model (GLM) – repeated measure. Hasil statistik pada lama simpan didapatkan nilai sig 0,000 < 0,05 disimpulkan bahwa terdapat pengaruh lama simpan darah 3 jam terhadap nilai LED, sedangkan pada konsentrasi antikoagulan Natrium Sitrat didapatkan nilai sig 0.099 > 0,05. Dapat disimpulkan tidak ada pengaruh konsentrasi antikoagulan Natrium Sitrat 3,8% dan 3,0% terhadap nilai LED.
Pengaruh Jenis Antikoagulan dan Variasi Konsentrasi Suspensi Tes Sel ABO terhadap Hasil Pemeriksaan Serum Grouping Metode Tabung Wardhani, Azkya Zhahira; Noviar, Ganjar; Nurhayati, Betty; Hayati, Eem
Jurnal Analis Kesehatan Vol. 13 No. 2 (2024): Jurnal Analis Kesehatan
Publisher : Department of Health Analyst, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jak.v13i2.4574

Abstract

Pemeriksaan golongan darah adalah rangkaian yang dilakukan sebelum transfusi untuk menguji kecocokan darah pasien dan donor. Pemeriksaan golongan darah ABO mencakup cell grouping dan serum grouping dengan gold standarnya adalah metode tabung. EDTA adalah antikoagulan yang biasa digunakan, tetapi sitrat juga bisa digunakan untuk pemeriksaan golongan darah. Salah satu faktor yang bisa memengaruhi pemeriksaan serum grouping adalah konsentrasi sel uji.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis antikoagulan K2EDTA dan Na Sitrat 3,8% dan variasi konsentrasi supensi tes sel ABO 1%, 3%, dan 5% terhadap hasil pemeriksaan serum grouping metode tabung. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu dengan 5 kali pengulangan. Data hasil penelitian diolah menggunakan uji Friedman dan dilanjutkan dengan uji Wilcoxon. Hasil uji Friedman terhadap pengaruh jenis antikoagulan diperoleh nilai signifikan 0,002 yang berarti terdapat pengaruh jenis antikoagulan K2EDTA dan Na Sitrat 3,8% terhadap hasil pemeriksaan serum grouping metode tabung. Hasil uji Friedman dan uji Wilcoxon terhadap variasi konsentrasi diperoleh nilai signifikan 0,002 dan 0,004 yang berarti terdapat pengaruh variasi konsentrasi suspensi tes sel ABO 1%, 3%, dan 5% terhadap hasil pemeriksaan serum grouping metode tabung. Derajat aglutinasi pada sel uji 1% dengan hasil positif 2, sedangkan 3% dan 5% pada aglutinasi positif 3 atau positif 4.