Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Efek penggunaan ulang larutan fiksatif formalin pada kualitas preparat histopatologi dan jumlah limbah yang dihasilkan Hardi, Zon; Wiryanti, Wiwin; Durachim, Adang; Rahmat, Mamat
Current Biomedicine Vol. 2 No. 2 (2024): July
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/currbiomed.2.2.71-83

Abstract

Background: Neutral buffered formalin (NBF) 10% fixative solution is widely used in histopathological slides. The fixation process generates liquid waste of NBF 10% and solid waste of tissue remnants. Objective: The research aimed to assess the reuse of NBF 10% fixative solution on the quality of histopathological slides and calculate the amount of waste produced. Methods: Treatments included single-use of fixative solution (control), reuse for 1, 2, and 3 times. Ten sample slides were prepared for each treatment, consisting of intestinal tissue, uterine fibroids, prostate, uterus, ovarian cyst, portio vaginalis cervicis, thyroid, rectum, breast fibroadenoma, and gallbladder tissues. Tissues were fixed with NBF 10% and processed histologically with hematoxylin-eosin staining. Liquid waste of NBF 10% and solid waste of tissue remnants were quantified. Histopathological slide quality was measured under a microscope for nuclear and cytoplasmic clarity, staining intensity, and color uniformity. Results: Control slides exhibited good quality with clearly blue-stained nuclei, pink cytoplasm, no color accumulation, and uniform staining across fields of view. Reused NBF 10% slides experienced a decrease in quality compared to the control but were still usable for diagnosis. Slides reused 2 and 3 times showed poor quality, making diagnosis difficult. Fixation resulted in 299.0 liters of liquid waste of NBF 10% and 64.9 kilograms of solid tissue remnants. Conclusion: Reusing NBF 10% decreases histological slide quality, though reuse once still allows for diagnosis. Reusing 10% NBF for tissue fixation can reduce the liquid waste of fixative solution and solid tissue waste.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR TIDAK TERPENUHINYA KEBUTUHAN DARAH DI UNIT TRANSFUSI DARAH RUMAH SAKIT UMUM DR. SOEKARDJO KOTA TASIKMALAYA Suhartini, Rina; Kurniawan , Entuy; Noviar, Ganjar; Wiryanti, Wiwin
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 3 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i3.1902

Abstract

Tidak tersedianya darah yang memadai di Unit Transfusi Darah RSU dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya menjadi masalah kritis dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang optimal. Tujuan: Melakukan analisis mendalam terhadap faktor-faktor utama yang menyebabkan tidak tersedianya kebutuhan darah di Unit Transfusi Darah (UTD) RSU dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Metode: Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif untuk menggambarkan secara rinci dan mendalam mengenai fenomena yang diteliti. Metode pengumpulan data menggunakan tehnik Wawancara Mendalam (Depth Interview), dan Focus Group Discussion (FGD), dengan tujuan mendapatkan data yang komprehensif. Hasil: Hasil Penelitian ini menunjukkan adanya ketidakpenuhan kebutuhan darah, dengan presentase Whole Blood (WB) 61.54%, Packed Red Cell (PRC) 6.54%, dan Trombocyte Concentrate (TC) 70.42%. Faktor-faktor utama yang teridentifikasi melibatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia), kondisi sarana dan prasarana, keuangan, efisiensi sistem pengelolaan darah, dan aspek lingkungan. Kesimpulan: Penelitian menyoroti bahwa faktor kebijakan dan manajemen, khususnya terkait dengan kebijakan pelayanan transfusi darah yang belum optimal dan manajemen internal yang tidak efektif di UTD RSU dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, dan anggaran menjadi pemicu utama ketidaktersedianya darah. Saran: Mencakup intensifikasi program sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan donor darah, evaluasi penerapan kebijakan dalam pelayanan transfusi darah, peningkatan manajemen pelayanan darah, dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya. Perbaikan sarana dan pemeliharaan peralatan di RSUD dengan dukungan peningkatan alokasi anggaran untuk UTD RSU dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya diharapkan dapat mendukung operasional dan pemeliharaan fasilitas transfusi darah. Kolaborasi dengan pihak eksternal, termasuk Instansi dan lembaga donor darah, dianggap penting untuk memperkuat kampanye sosialisasi dan meningkatkan partisipasi donor darah.
STUDY RETROSPEKTIF PENINGKATAN KADAR LOW DENSITY LIPOPROTEIN KOLESTEROL DAN TROPONIN I PADA KASUS PENYAKIT JANTUNG KORONER DI RSU PINDAD BANDUNG Suriadiharja, Angga; Riyani, Ani; Kurnaeni, Nani; Wiryanti, Wiwin
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 3 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyakit yang disebabkan oleh keadaan dyslipidemia, keadaan ini merupakan keadaan yang disebabkan oleh lipid yang tidak normal yang ada dalam darah penderitanya karena adanya kolestrol dalam darah yang meningkat dan tidak normal, terjadinya Low Density Lipoprotein (LDL) kolesterol dan trigliserida. Penelitian ini menggunakan studi retrospektif analitik dan trend kadar LDL kolesterol dengan kadar Troponin I pasien pada kasus penyakit jantung koroner di RSU Pindad Bandung. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari RSU PINDAD Bandung. Sebanyak 160 pasien PJK yang diteliti melakukan pemeriksaan troponin I, sebanyak 104 pasien (65%) adalah laki-laki dan sisanya 56 pasien (35%) perempuan, dimana sebanyak 116 pasien (72%) memiliki kadar Troponin I abnormal dan 44 pasien (23%) memiliki kadar troponin I normal. Hasil menunjukkan bahwa 45 pasien melakukan pemeriksaan LDL kolesterol, 25 pasien (56%) laki-laki dan 20 pasien (44%) perempuan, dimana 32 pasien (71%) memiliki kadar LDL-kolesterol abnormal dan 13 pasien (29%) memiliki kadar LDL- kolesterol normal. Trend kadar Troponin I berulang adalah rerata pertama 4,0 ng/mL dan rerata pada pemeriksaan Troponin I kedua 7,8 ng/mL, terjadi peningkatan rerata kadar Troponin I pertama dan kedua (95%). Trend kadar rerata dari pemeriksaan LDL kolesterol pertama 116 mg/dL dan rerata pada pemeriksaan LDL kolesterol kedua 110 mg/dL, terjadi penurunan rerata kadar LDL kolesterol pertama dan kedua (5%). Hasil kadar LDL kolesterol dan hasil troponin I hubungannya positif, dengan nilai correlation coefficient 0,274 derajat korelasi cukup.
Perbandingan Hasil Mikroskopis Preparat Jaringan dengan Minyak Daun Kayu Manis sebagai Agen Clearing pada Pematangan Jaringan Lamsudiansyah, Asrul Yudha Fadhiila; Durachim, Adang; Wiryanti, Wiwin; Riyani, Ani
JPP JURNAL KESEHATAN POLTEKKES PALEMBANG Vol 18 No 2 (2023): JPP (Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jpp.v18i2.1832

Abstract

Latar Belakang Clearing adalah salah satu tahapan pada prosessing jaringan. Clearing memiliki tujuan untuk menghilangkan alkohol dan juga larutan dehidran lain dari dalam jaringan. Xylol adalah senyawa kimia yang biasa digunakan sebagai agen clearing, namun xylol memiliki kekurangan yaitu bersifat toksik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengganti xylol dengan reagen alternatif pada proses clearing. Metode Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan desain penelitian yakni deskriptif komparatif. Sampel yang digunakan adalah jaringan ginjal tikus Rattus norvegicus. Uji statistik yang digunakan adalah uji Independent T-Test pada saat data berdistribusi normal dan uji Mann-Whitney U pada data yang tidak berdistribusi normal. Hasil Berdasarkan hasil nilai uji Independent T-Test yaitu nilai intensitas warna inti sel Sig 0.55 dan nilai intensitas warna sitoplasma Sig 0.582 yang mana keduanya bernilai > 0.05 artinya tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara penggunaan xylol dan minyak daun kayu manis sebagai agen clearing. Kesimpulan Pada penelitian ini, minyak daun kayu manis dapat digunakan sebagai agen clearing pengganti xylol.
ANALISIS PELAPORAN NILAI KRITIS HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM DI RUMAH SAKIT MAYJEND HM RYACUDU KABUPATEN LAMPUNG UTARA Hidayat, Rahmat; Kurniawan, Entuy; Rahayu, Ira Gustira; Wiryanti, Wiwin
Jurnal ARSI : Administrasi Rumah Sakit Indonesia Vol. 10, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Critical values are abnormal values indicating high-risk/pathophysiological conditions that threaten the patient's life and require immediate medical intervention. Reporting critical laboratory values must be done quickly and accurately to the patient's responsible physician (DPJP) to ensure prompt and appropriate treatment. The aim of this study is to understand the reporting of critical laboratory values and its impact on the clinical decisions of doctors. This research uses both quantitative and qualitative methods with a descriptive analysis approach. Data collection was conducted through in-depth interviews, documentation, and observation. Informants were 15 DPJP. The results of this study show that the reporting system for critical laboratory values is functioning well/appropriately, with an average reporting time of 14.6 minutes, the fastest being 9 minutes, and the longest being 22 minutes. However, some DPJPs desire faster reporting times because the current system still uses manual methods, such as mobile phone calls or direct delivery of critical lab results to the ward by staff. Consequently, if there are disruptions in mobile phone service or a shortage of staff, it can take longer. Meanwhile, the timeliness of reporting and the accuracy of critical laboratory values in relation to the doctor's clinical decisions have been satisfactory/appropriate.
PENGARUH PENYIMPANAN ARSIP BLOK PARAFIN TERHADAP KUALITAS PREPARAT JARINGAN Nurdianti, Dinda; Wiryanti, Wiwin; Durachim, Adang; Gustira Rahayu, Ira
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 5 No. 2 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paraffin block archive storage is the process of maintaining and managing used paraffin blocks. "A standardized paraffin block archive storage system will facilitate access for diagnostic purposes and help maintain the quality of the paraffin blocks over the long term. If the storage system is not standardized, it can cause several problems, such as delaying diagnostic services and reducing the quality of tissue preparations. Most paraffin blocks can be stored at temperatures of 20-27°C. Paraffin blocks should not be exposed to temperatures exceeding 27°C, as improper storage can cause the paraffin to soften and damage the tissue, reducing the quality of tissue preparations. This study aims to determine the effect of paraffin block archive storage on tissue preparation quality. The research samples used paraffin block archives stored in cabinets for 5 and 6 years, and paraffin block archives stored in plastic for 5 and 6 years. The quality of tissue preparations was assessed based on the clarity of the arrangement of bile duct cell walls, namely mucosa, lamina propria, muscularis and serosa microscopically and the color contrast of nuclei and cytoplasm using ImageJ software. The results of the study showed that there was no significant effect of paraffin block archive storage on tissue preparation quality. Further research needs to be conducted on the storage duration of paraffin block archives in wooden and plastic cabinets over a period of 10 years, as well as obtaining information related to the initial condition of the paraffin blocks, including color, texture, shape,and tissue authenticity.
PERBANDINGAN HASIL PEWARNAAN PREPARAT HISTOLOGI MENGGUNAKAN XYLOL DAN MINYAK JAGUNG YANG DIPANASKAN PADA PROSES DEPARAFINISASI Mufidah, Zahra; Wiryanti, Wiwin; Durachim, Adang; Rahmat, Mamat
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 5 No. 2 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Deparaffinization removes residual paraffin from tissue, enabling optimal dye absorption in histological preparations. While xylol is commonly used, its high exposure risks necessitate exploring safer alternatives. The research compares the efficacy of corn oil 60°C to xylol as a deparaffinization agent. Heated corn oil is necessary to reduce viscosity and increase solubility. Corn oil can also be used as an environmentally friendly and cost-effective alternative. The research employed a descriptive approach, comparing staining results of kidney tissue preparations from control and experimental groups. Assessment criteria included color uniformity and contrast, determined by the difference in Optical Density values between nuclear and cytoplasmic staining. Due to non-normal data distribution and the comparison of two unpaired means, the Mann-Whitney U test was utilized for statistical analysis. The results obtained an Asymp sig value of 0.002 where the value is included <0.05 which explains that there is a significant different on the staining results of tissue preparations deparaffinized using xylol and corn oil 60°C with the percentage of staining results in the good category deparaffinized using corn oil only reached 26.67%. The results showed that there were differences in the staining results of kidney tissue preparations deparaffinized using xylol and 60°C corn oil so that 60°C corn oil has less effective to be an alternative deparaffinization agent to replace xylol.
PERBEDAAN KADAR BILIRUBIN TOTAL SERUM LIPEMIK SEBELUM DAN SESUDAH PENAMBAHAN POLYETHYLENE GLYCOL Alifah Nuraini, Syifa; Riyani, Ani; Kurnaeni, Nani; Wiryanti, Wiwin
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 5 No. 2 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lipemic serum is characterized by its turbid appearance, resulting from elevated concentrations of lipoproteins, particularly chylomicrons and very low-density lipoproteins (VLDL). This turbidity can interfere with the accuracy of total bilirubin measurements, leading to potentially inaccurate results. To mitigate this issue, polyethylene glycol (PEG) is often used as a clarifying agent. This study aims to evaluate the differences in total bilirubin levels in lipemic serum before and afterthe addition of 10% polyethylene glycol 6000. This quasi-experimental research uses a one group pretest-posttest design. conducted in May 2024 at the Clinical Chemistry Laboratory, Department of Medical Laboratory Technology, Bandung Health Polytechnic. A total of 30 serum samples from hospitals in Bandung were combined to make pooled sera, then modified to be lipemic using egg yolk until the triglyceride level reached 991.5; 1002.8; and 1067.8 mg/dL.Total bilirubin levelswere measured both before and after the addition of polyethylene glycol, with initial levels recorded at 1.62, 2.64, and 3.58 mg/dL, and post-PEG levels at 2.40, 3.30, and 4.35 mg/dL. Statistical analysis using a paired sample t-test revealed a significance level of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant difference in total bilirubin levels before and after the application of polyethylene glycol in lipemic serum.
Pengaruh Lama Simpan dan Konsentrasi Antikoagulan Natrium Sitrat terhadap Nilai Laju Endap Darah Fitriani, Ishma Dwi; Hayati, Eem; Durachim, Adang; Wiryanti, Wiwin
Jurnal Analis Kesehatan Vol. 13 No. 2 (2024): JURNAL ANALIS KESEHATAN
Publisher : Department of Health Analyst, Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jak.v13i2.4536

Abstract

Pemeriksaan LED harus dilakukan maksimal 2 jam setelah pengambilan darah, jika dilakukan setelah lebih dari 2 jam bentuk eritrosit akan menjadi lebih bulat dan menyebabkan nilai LED menjadi rendah.. Pada pemeriksaan LED konsentrasi dari antikoagulan Natrium Sitrat dapat mempengaruhi hasil, penurunan konsentrasi akan menyebabkan larutan hipotonik sehingga hasil LED menjadi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh lama simpan dan konsentrasi antikoagulan Natrium Sitrat terhadap nilai Laju Endap Darah. Metode penelitian yang dilakukan adalah secara quasi eksperimen dengan subjek penelitian yaitu spesimen darah normal. Data hasil penelitian di uji secara statistik dengan uji General Linear Model (GLM) – repeated measure. Hasil statistik pada lama simpan didapatkan nilai sig 0,000 < 0,05 disimpulkan bahwa terdapat pengaruh lama simpan darah 3 jam terhadap nilai LED, sedangkan pada konsentrasi antikoagulan Natrium Sitrat didapatkan nilai sig 0.099 > 0,05. Dapat disimpulkan tidak ada pengaruh konsentrasi antikoagulan Natrium Sitrat 3,8% dan 3,0% terhadap nilai LED.
Pengaruh Waktu Dekalsifikasi Jaringan Tulang Menggunakan Larutan Asam Nitrat 5% terhadap Tingkat Kelunakan dan Kualitas Preparat Widiawati, Widi; Durachim, Adang; Wiryanti, Wiwin; Solihat, Mohamad Firman
Jimmi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Multidisiplin Vol. 2 No. 1 (2025): JIMMI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Multidisiplin
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/jimmi.v2i1.222

Abstract

Dekalsifikasi merupakan proses penghilangan garam kalsium dan mineral dari jaringan keras seperti tulang agar menjadi lunak, sehingga dapat dipotong menggunakan mikrotom dan diproses lebih lanjut menjadi preparat histologi. Salah satu agen dekalsifikasi yang banyak digunakan adalah asam nitrat 5%, yang dikenal efektif dalam menjaga integritas jaringan serta meminimalkan kerusakan struktur seluler jika digunakan dengan kontrol waktu yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh waktu dekalsifikasi menggunakan asam nitrat 5% terhadap tingkat kelunakan dan kualitas preparat jaringan tulang. Sampel yang digunakan berupa tulang femur marmut yang didekalsifikasi dalam waktu 6, 12, 18, dan 24 jam. Parameter yang diukur mencakup tingkat kelunakan jaringan, keberadaan artefak, serta kejelasan struktur seluler. Analisis statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa dekalsifikasi selama 24 jam menghasilkan tingkat kelunakan tertinggi (skor 3), lebih tinggi dibandingkan dengan waktu 6, 12, dan 18 jam (skor 2). Nilai Asymp.Sig sebesar 0,000 menunjukkan pengaruh signifikan waktu dekalsifikasi terhadap kelunakan tulang. Namun, analisis terhadap kualitas preparat tidak menunjukkan perbedaan signifikan dengan nilai Asymp.Sig sebesar 0,773. Secara keseluruhan, kualitas preparat yang dihasilkan tergolong baik dengan skor rata-rata 3, menunjukkan bahwa asam nitrat 5% tetap mempertahankan struktur jaringan dengan baik dan dapat digunakan sebagai agen dekalsifikasi yang efektif.